
"Sekarang hanya ada kita berdua. Tolong kamu jelasin sama Om, apa sebenarnya yang ada dalam pikiran kamu itu? kenapa kamu harus balas dendam dengan cara kotor seperti itu?" tanya Egi, setelah semua rekan bisnisnya sudah pergi.
"Yang namanya balas dendam, mana ada caranya bersih Om. Semua yang namanya balas dendam, pasti caranya akan kotor. Dengan melakukan balas dendam aja, itu sudah kotor. Masa aku harus diam aja kalau ada orang yang menginjak-nginjak harga diri aku? yang dilakukan oleh Olivia itu sudah kelewatan Om. Aku nggak bisa menerimanya."
"Om tahu sendiri kan kalau dulu aku sangat cinta mati sama dia? aku berikan apapun yang dia minta. Uang, barang, bahkan butikpun aku bangun atas nama dia. Tapi itu dulu ya Om, itu sebelum aku tahu kalau dia menghianati aku dan sebelum aku tahu kalau dia sudah berkonspirasi dengan pria lain untuk menghancurkan aku," sambung Decky.
"Harusnya kamu bicarakan itu dengan keluargamu sebelum kamu menikahinya. Banyak solusi yang bisa dilakukan, kamu tidak harus merusak statusmu dua kali," ujar Egi sembari menyesap kopi dari bibir gelas.
"Merusak status dua kali? maksud Om?" tanya Decky.
"Duda dua kali. Kamu duda setahun sekali. Kalau kamu nikah lagi dan duda lagi ditahun depan, aku akan hadiahkan mobil rolls royce phantom keluaran terbaru buat kamu." Jawab Egi dengan santai.
Decky terdiam. Terkadang dia juga lupa, kalau dirimya sudah berstatus duda sebelumnya.
"Kamu beruntung Olivia tidak melaporkan kamu ke polisi," ujar Egi.
"Aku juga bisa melaporkan dia dengan tuduhan penipuan," sangkal Decky.
"Apa yang dia tipu dari kamu?" tanya Egi.
"Dia minta materi sama aku, padahal dia sudah punya pacar. Dia juga yang menyebabkan papa kecelakaan dan menjadikan papa otaknya lemot." Jawaban Decky membuat Egi jadi terkekeh.
"Apa yang kamu berikan saat berpacaran, itu bukan penipuan namanya. Meskipun dia punya pacar lain. Kecuali kamu melakukan bisnis dengan Olivia, dan membawa kabur uang bisnis, itu baru penipuan. Soal papa kamu, apa kamu punya bukti? mungkin memang benar Olivia yang menyebabkan papamu kecelakaan, tapi dia cuma menggunakan kesempatan saat dia tahu kamu anak orang kaya. Itu berarti salahmu sendiri, karena mencintai orang yang salah,"
"Lagipula kamu sangat aneh, dimana-mana orang mau cari daun muda, ini daun nangka kamu pacarin. Jadi lengket kan kena getahnya?" sambung Egi.
"Iya-Iya yang hoby sama daun muda," sindir Decky.
__ADS_1
"Behh...rugi banget kamu nggak icip daun muda," ujar Egi.
"Udah deh Om. Nggak usah manas-manasin aku," ujar Decky dengan bibir mengerucut.
"Aku nggak manas-manasin. Nggak dipanasin, cuaca emang udah panas. Sekarang apa yang mau kamu lakukan dengan uang harammu itu? itu kalau kamu jadikan bisnis, pasti nggak berkah loh. Sama seperti kamu makan le*dir istri kamu sendiri, kotor, jorok," tanya Egi.
"Jadi aku harus apakan? aku hanyutkan dipantai Kute?" tanya Decky.
"Daripada nggak bermanfaat, kamu berikan saja pada orang yang membutuhkan. Ya meski nggak dapat pahala sama sekali." Jawab Egi.
"Kok nggak dapat pahala? jadi percuma dong sedekah? mending aku nikmati sendiri," ujar Decky.
"Ya itu tadi kamu seperti makan le*dir istri kamu. Sedangkan disana nanti, perut kamu akan dimasukan bara api karena makan uang haram. Mau?" tanya Egi.
"Widih...mendadak ustad nih si Om. Terus kenapa bisa nggak jadi pahala duitnya pak ustad?" tanya Decky.
"Nggak." Jawab Decky.
"Nah begitu juga dengan sedekah pakai uang haram. Jangan berharap menghapus dosa, pahalapun nggak didapat. Dengerin omongan pak ustad Egi," ujar Egi sembari terkekeh sementara Decky jadi murung.
Egi menghela nafas panjang dan menepuk bahu keponakkannya itu.
"Jadilah orang yang lebih baik lagi. Kita ini satu keluarga, Om nggak mungkin membiarkan keponakkan Om menderita dan kekurangan. Tapi Om mau melihat kesungguhan hati kamu. Bersihkan hati kamu, Om sudah menyiapkan perusahaan cabang di Surabaya buat kamu," ucapan Egi membuat Decky terkejut.
Greppppp
"Makasih ya Om. Aku minta maaf, karena selama ini aku selalu jahat sama Om. Tapi Om malah baik banget sama aku," ucap Decky dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sama-Sama. Itulah gunanya keluarga. Sekarang lebih baik kita pulang ke Jakarta. Om sudah kangen sama Deva. Terus kamu segera urus perceraian kamu dengan Olivia,"
"Nanti kalau perceraian kamu sudah selesai, kamu bisa langsung terbang ke Surabaya," sambung Egi.
"Oke Om. Aku janji nggak akan mengecewakan Om, Kakek, Papa dan mama lagi. Aku janji akan menebus semuanya dan bekerja dengan sungguh-sungguh," ujar Decky.
"Bagus. Ayo Om temani kamu ambil pakaian, dimana kamu nginap?" tanya Egi.
"Guest house dekat kute." Jawab Decky.
"Oke kita kesana sekarang," ujar Egi.
Egi dan Decky pun pergi mengambil pakaian Decky di penginapan. Setelah itu mereka pergi ke rumah Egi. Decky berdecak kagum melihat rumah mewah yang Egi hasilkan dengan jerih payahnya sendiri.
"Dia benar-benar membuatku termotivasi. Dan banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dari riwayat hidupnya," batin Decky saat melihat Egi yang tengah terlelap di kursi pesawat.
"Om Egi benar. Aku harus jadi manusia yang lebih baik lagi. Agar aku mendapatkan semua hal baik seperti dia," Decky memejamkan mata, dan ikut tertidur disamping Egi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, merekapun akhirya tiba di bandara soekarno hatta. Egi begitu tidak sabar ingin bertemu Deva sang pujaan hati.
"Senang banget yang mau ketemu istri, sampai senyum-senyum sendiri gitu," ujar Decky saat melihat Egi yang senyum-senyum sendiri saat melihat keluar jendela taksi.
"Kamu akan tahu saat memiliki istri yang benar-benar belahan jiwa kamu. Saat kamu merasa sehari tidak bertemu dengannya, terasa nggak bertemu selama puluhan tahun," ujar Egi.
"Kalau itu mah bilang aja Om yang bucin. Buktinya dulu waktu aku pacaran sama Olivia juga gitu," ujar Decky.
"Alah...kalau cinta kamu mah beda. Dengan Olivia bukan belahan jiwa, tapi belah duren tiap hari. Iya kan?" tanya Egi yang dijawab kekehan oleh Decky.
__ADS_1
Banyak hal yang Egi perbincangkan dengan Decky, hingga tanpa sadar mereka sudah tiba dikediaman utama Hanggono. Deva yang tengah berada di ruang tamu membuka pintu rumah, saat mendengar suara bell rumah berbunyi. Mata Deva langsung berkaca-kaca dan berhambur kepelukkan Egi.