
"Waw...selamat ya kak. Aku do'akan hubungan kalian langgeng selamanya. Aku sangat bahagia, kalau melihat kakak bahagia dan tidak sedih lagi atas kepergian Kayla," ucap Deva sembari menyeka air matanya yang terlanjur tumpah.
Grepppp
Leony tiba-tiba memeluk Deva dengan erat sembari tersenyum.
"Yah...kakak juga mau lupain rasa kecewa kakak yang sempat salah sasaran. Kakak percaya kamu nggak mungkin berbuat jahat pada kakak. Kamu kan sayang sama kakak," ucap Leony yang dijawab senyum kepahitan di bibir Deva.
Egi bisa melihat air mata Deva yang tumpah ruah dibalik punggung Leony.
"Jangankan cuma harta, dan nyawa kak. Suamiku pun kalau kakak mau, akan aku kasih buat kakak. Itu karena bagi aku, kakak itu segalanya. Cuma saudara yang tidak akan tega menyakiti saudaranya sendiri. Kalau suami aku bisa cari lagi, tapi kalau saudara seperti kakak aku nggak bisa nemu dimanapun," sindir Deva sembari melirik tajam kearah Egi.
"Ogah ah...kakak kan udah punya ayang Egi," ucap Leony sembari melepaskan pelukkannya dari Deva.
Deva bergegas menyapu air matanya, dan kembali memperlihatkan senyum cerianya.
"Ya udah aku pulang dulu ya kak! soalnya aku masih ada urusan di kampus," ujar Deva.
"Oh ya udah barengan aja kalau gitu. Soalnya Om juga mau balik kantor. Masih ada urusan," ujar Egi.
"Sayang. Kamu gimana sih? kita kan mau makan siang bareng, ini kan permintaan anak kita. Ntar dia ngences loh," tanya Leony.
Deva hanya bisa menarik nafas dalam-dalam saat melihat Leony yang bergelendot manja di pelukkan suaminya.
"Nggak usah Om. Aku bawa motor soalnya. Aku duluan ya kak! kapan-kapan aku kesini lagi, tapi lebih baik kakak pulang ke rumah. Mama papa pasti senang melihat kakak pulang," ucap Deva.
"Oke ntar aku kabarin kamu. Kita sudah lama nggak jalan bareng," ujar Leony.
"Duluan Om," ujar Deva sembari mengangguk dan berlalu pergi.
"Ayo kita makan!" ucap Leony sembari menggandeng Egi masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Deva beneran adik kandung kamu?" tanya Egi memastikan.
"Iya. Kamu masih ingat nggak sih waktu main ke rumahku dulu, kamu kan pernah gendong dia sewaktu bayi. Terus aku foto-foto kalian," ujar Leony.
"Aku sama Deva emang beda usia 12 tahun. Jadi memang jauh," sambung Leony.
Mendengar jawaban Leony, membuat Egi jadi lesu. Karena dia tahu, itu artinya dia tidak mungkin memiliki Deva dan Leony secara bersamaan.
Egi bergegas menghabiskan makanannya, karena dia sudah tidak sabar ingin menemui Deva dan meminta maaf pada istri kecilnya itu. Sementara itu Deva yang berada dijalan raya tidak bisa membendung isak tangisnya lagi.
"Ya Tuhan...kenapa Engkau mempermainkan takdirku? apa salahku? aku hanya ingin bahagia. Tapi kenapa aku harus mengalami hal yang menyakitkan ini lagi. Hiks...." Deva terisak.
Air mata wanita itu bahkan sudah masuk kecelah dadanya. Karena pikirannya sedang kalut, dia memutuskan pergi ke dermaga. Dia ingin meluapkan perasaannya dengan melihat laut.
"Akkkhhh...aaaaakkkhhhh...aaakkhhh"
Suara teriakkan Deva yang menghadap laut lepas menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada tidak jauh dari sekitarnya. Deva bahkan bisa mendengar, orang-orang mengatai dirinya gadis setres. Sesaat kemudian ponselnya berdering, dan itu berasal dari Egi yang panik karena Deva belum pulang ke rumah.
Hah
Hah
Hah
Puas rasanya Deva melampiaskan amarah dan sakit hatinya pada ponsel yang tidak bersalah. Setelahnya Deva kembali menangis terisak sembari terduduk di atas pasir.
"Loh. Kok malah nggak aktif sih?" Egi terlihat kesal bercampur khawatir.
"Kenapa semuanya jadi rumit begini. Aku benar-benar tidak punya muka lagi di depan Deva. Bisa-Bisanya aku menghamili kakaknya. Egi, kamu ini memang bajingan tengik!" geram Egi.
Egi kemudian bergegas ke paviliun karena dia ingin melihat sesuatu. Semua album foto lawas.
__ADS_1
"Apa yang kamu cari?" tanya Hanggono.
"Tamat sudah riwayatku pa. Aku sudah ketahuan Deva kalau aku sudah menghamili wanita lain." Jawab Egi.
"Ap-Apa? kok bisa? tapi tidak masalah juga kalau dia tahu. Kamu kan bisa menceraikan wanita itu setelah anak itu lahir. Papa akan bantu kamu buat bujukkin Deva agar dia mau bersabar sama kamu," ucap Hanggono.
"Andai itu bisa pa," ujar Egi lesu.
"Kenapa tidak bisa? papa yang akan mengurus semuanya," tanya Hanggono.
"Masalahnya wanita yang aku hamili itu adalah Leony, kakak kandung Deva." Jawaban Egi seperti sambaran petir bagi Hanggono. Pria senja itu tersandar di sofa dengan lemas.
"Tadi dia bahkan dengan suka rela menyerahkan aku untuk Leony. Dia begitu menyayangi Leony, hingga mau berkorban apa saja untuk kakaknya itu," sambung Egi.
"Maafin aku pa. Seharusnya aku mendengarkan ucapan papa agar tidak terlibat dengan masa lalu lagi. Tapi dengan bodohnya aku terjatuh dan terjebak begini. Aku merasa sangat bersalah sama Deva. Sekarang aku nggak tahu dia berada dimana. Dia tidak mengaktifkan ponselnya," Egi tertunduk sedih.
Tanpa sengaja Egi membuka lembaran foto album yang berisi fotonya saat memangku Deva sewaktu masih bayi. Deva terlihat lucu dan menggemaskan.
"Lihatlah dia. Bahkan kami sudah dijodohkan Tuhan, sejak dia masih kecil. Tapi Aku orang yang tidak pandai menjaga jodohku sendiri," Egi terlihat kembali menangis, sementara Hanggono jadi diam membisu.
"Papa benar-benar kecewa sama kamu. Bisa-Bisanya kamu berhubungan dengan wanita itu lagi. Padahal papa selalu memperingatkan kamu, agar menjauhi wanita itu. Sekarang kamu sudah sukses, kamu bahkan melupakan penghinaan yang dia berikan sewaktu kamu belum jadi apa-apa,"
"Maaf saja. Kalau kamu menikah sama dia, kamu nikah saja sendiri. Karena papa pastikan, papa nggak akan pernah hadir kepernikahan kamu," ucap Hanggono yang kemudian berlalu dari hadapan Egi.
Egi benar-benar merasa terpuruk saat ini. Pria itu kemudian meraih foto kenangannya bersama Deva, dan kembali ke rumah utama. Sesampai disana ternyata Deva belum juga pulang.
"Sayang. Kamu dimana sih? moga aja kamu nggak berbuat yang nekad. Aku nggak bisa memaafkan diri aku sendiri, kalau kamu sampai kenapa-kenapa," gumam Egi sembari mondar mandir di kamar Deva.
Setelah menunggu hampir 3 jam, Deva akhirnya pulang setelah waktu menunjukkan pukul 9 malam. Egi mendekat kearah Deva yang berantakan dan basah kuyup. Baju Deva bahkan kotor terkena gerusan tanah dan aspal.
"Sayang. Kamu kenapa? apa yang terjadi sama kamu?" tanya Egi panik.
__ADS_1
Deva menatap tajam kearah Egi. Mungkin sebelum dia tahu Egi memiliki wanita lain, dia akan bahagia mendengar kata-kata Sayang dari mulut suaminya itu. Namun kata-kata itu tidak lagi terdengar indah, dan malah terdengar menjijikkan ditelinganya.