
"Nona. Bisakah Anda berhenti menangis dulu? ini sudah 3 kalinya kami memperbaiki riasan ini, takutnya kami dimarahi oleh nyonya Yasmin," ujar salah seorang MUA yang bertugas merias wajah Deva karena pada pukul 8 nanti akan diadakan acara ijab Qobul.
"Maaf," ucap Deva sembari menyeka air matanya yang sederas air terjun dari ketinggian.
Ini adalah peringatan yang ketiga kalinya dari MUA, agar dirinya menghentikan tangisnya yang tak kunjung mereda. Deva tidak tahu kenapa, air matanya tidak bisa dikendalikan. Ada rasa sesak didadanya yang tak bisa Deva ungkapkan saat ini.
Sementara itu di tempat berbeda, keluarga Hanggono akan bersiap pergi di kediaman keluarga Edward. Hanggono masih tampak sibuk membuat panggilan untuk putra keduanya yang tidak kunjung diangkat. Decky jelas mencebikkan bibirnya, saat melihat kakeknya itu sedang dilanda gelisah.
"Hallo pa?" tanya Egi diseberang telpon.
"Kamu ada dimana? ini sudah mau pergi di kediaman keluarga mempelai wanita," tanya Hanggono.
"Maaf pa. Sekarang aku sedang di bandara, aku mau bertolak ke Amerika. Maaf aku tidak bisa menghadari pernikahan Decky. Tapi aku janji, setelah selesai tanda tangan kontrak dengan 4 negara itu, aku akan pulang." Jawab Egi.
Hanggono terdiam. Jelas Egi tahu, pria berusia senja itu sangat kecewa padanya.
"Pa....maaf," ucap Egi.
Egi bisa mendengar helaan nafas berat dari Hanggono.
"Egi janji saat di Amerika atau Jepang nanti, Egi akan mencarikan alat terapi yang baik buat papa. Bukankah kaki papa sedang bermasalah? Egi akan mencari alat buat menyembuhkan kaki papa itu," bujuk Egi.
"Jangan pernah berjanji kalau kamu sulit menepatinya. Papa hanya ingin kamu pulang. Jangan sampai papa masuk kuburan, baru kamu kepikiran buat pulang," ucap Hanggono yang kemudian mengakhiri pembicaraan itu secara sepihak.
Egi hanya bisa menghela nafas panjang. Dia sadar sebagai anak mungkin sudah sangat keterlaluan. Tapi saat ini dirinya tidak mungkin bisa mundur lagi.
"Jadi begitu sikap anak kesayangan kakek itu? apa itu tidak tahu diri namanya? ngakunya satu keluarga. Tapi apa? saat acara penting keluarganya saja nggak mau datang,"
Decky sengaja memprovokasi Hanggono. Namun Hanggono sama sekali tidak menghiraukan ucapan Decky. Pria tua itu malah masuk kedalam mobilnya sendiri.
"Kamu ini. Sudah berapa kali mama bilang. Jangan dulu menyinggung kakekmu itu. Tunggu sampai semuanya kamu dapatkan. Kamu kan tahu pamanmu itu sangat disayang oleh kakekmu, kamu sendiri nanti yang rugi," ucap Rina setengah berbisik.
__ADS_1
"Maaf ma. Habisnya aku sangat kesal dengan kakek. Dia memperlakukan Egi sudah seperti anak menteri," ujar Decky.
"Ya sudah. Sebaiknya kita masuk mobil saja. Sepertinya sebentar lagi akan berangkat," ucap Rina.
Baru saja Rina berbicara, mobil Hanggono tampak perlahan maju. Decky dan Rina bergegas masuk kedalam mobil, karena mereka tidak ingin ketinggalan.
Setelah menempuh waktu hampir 25 menit, merekapun tiba di kediaman Edward. Mereka disambut dengan segala keramah tamahan. Dan acara ijab qobul segera mereka laksanakan, agar tidak membuang banyak waktu.
"Langsung mulai saja pak penghulu. Pengantin wanita biar turun setelah ijab qobul selesai saja,"
Terlihat sekali Edward tidak sabar acara ijab qobul itu terlaksana, agar dirinya cepat menjadi bagian dari keluarga Hanggono. Pak penghulupun duduk di tempat yang sudah disediakan. Begitu juga para saksi dan segelintir orang yang diundang untuk menyaksikan acara itu.
"Decky Hanggono. Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau. Dengan putriku yang bernama Deva Rachel binti Edward Subrata. Dengan maskawin sebuah rumah dibayar tunai," ucap Edward.
"Saya terima nikah dan kawinnya. Deva Rachel binti Edward Subrata dengan maskawin sebuah rumah dibayar tunai." Jawab Decky.
"Bagaimana sah?" tanya Penghulu.
Air mata Deva bertambah deras saat dirinya melihat tayangan dilayar televisi yang sudah terhubung dengan acara itu. Dirinya tidak menyangka, kalau saat ini dirinya sudah menjadi seorang istri.
"Selamat ya non. Sekarang nona sudah sah menjadi seorang istri. Nona pasti sangat terharu, sampai-sampai nangisnya gitu banget," ujar salah seorang MUA yang sama sekali tidak tahu arti air mata yang Deva keluarkan.
Tidak berapa lama kemudian Yasmin mengetuk pintu, karena ingin membawa Deva turun kebawah. Deva bergegas menyeka air matanya, dan memeluk Yasmin.
"Kamu sudah ditunggu dibawah. Pak penghulu masih ada acara lain. Jadi berkas-berkas pernikahan harus segera kamu tanda tangani," ucap Yasmin yang kemudian diangguki oleh Deva.
Yasmin membantu Deva turun, setelah merapikan riasannya terlebih dahulu.
"Cantik juga nih bocah setelah didandani. Tapi masih tidak ada apa-apanya kalau dibandingin dengan Olivia. Gadis ingusan, tetap aja gadis ingusan," batin Decky.
"Tanda tangan disini," ujar penghulu.
__ADS_1
Tanpa banyak tanya, Deva langsung menandatangani berkas-berkas pernikahan. Edward tersenyum senang, karena acara itu berjalan sesuai rencana. Setelah menandatangani berkas-berkas itu, Decky dan Deva saling memasangkan cincin kawin dijari manis mereka satu sama lain. Dan setelahnya, Deva mencium tangan suaminya itu.
Para tamu undangan sudah berangsur sepi. Yang tinggal hanya keluarga Edwar, dan keluarga Hanggono saja. Merekapun duduk di ruang tamu sembari berbincang.
"Deva. Apa kamu sungguh tidak ingin diadakan acara resepsi?" tanya Hanggono.
"Tidak perlu kakek. Seperti ini saja sudah cukup." Jawab Deva.
"Bagus. Dengan begini, pernikahanku tidak tersebar disemua kalangan. Acara seperti itu memang hanya layak saat aku menikah dengan Olivia nanti," batin Decky.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi kalau kamu berubah pikiran, bilang saja sama kakek ya?" ucap Hanggono.
"Iya kek."Jawab Deva.
"Sekarang kalian beristirat saja dulu diatas. Kami masih ada yang ingin dibicarakan," ujar Edward.
Deva menuruti apa yang Edward katakan, sementara Decky terpaksa mengekor dibelakang gadis kecil itu.
"Ini kunci rumah yang sudah aku janjikan," ujar Hanggono seraya mengeluarkan kunci rumah dari saku jasnya. Pria tua itu seolah mengerti apa yang diinginkan oleh besannya itu.
Edward dengan mata berbinar menyambut kunci rumah itu dari tangan Hanggono. Karena Deva menolak diadakan resepsi, maka semua isi perabotan rumah baru itu akan ditanggung oleh keluarga Hanggono.
"Rumah itu sudah dibuat atas nama Deva. Karena dia menolak diadakan resepsi, maka semua perabotan rumah tangga akan keluarga Hanggono belikan," ucap Hanggono.
"Lalu setelah ini mereka akan tinggal dimana?" tanya Yasmin penasaran.
"Biar mandiri, aku sudah membelikan rumah mewah sebagai hadiah pernikahan mereka. Jadi mereka bisa langsung pindah nantinya. Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya disana." Jawaban Hanggono membuat mata Edward makin bersinar, dan senyumnya makin merekah.
"Ya sudah kalau begitu kami pamit undur diri dulu. Kami titip Decky beberapa hari disini, setelah itu akan ada orang yang menjemput mereka saat akan pindah ke rumah baru," sambung Hanggono.
"Baik tuan. Selamat jalan kalau begitu," ucap Edward.
__ADS_1
Keluaraga Hanggonopun pulang setelah berpamitan. setelah menutup pintu, Yasmin yang tidak sabar langsung melihat barang-barang branded yang dibawa oleh keluarga besan. Yang pasti barang-barang itu dapat memanjakan mata Yasmin yang sudah lama tidak pernah berbelanja.