
Deva berpura-pura baru keluar dari kamar mandi, sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Loh. Kamu sudah pulang?" tanya Decky yang sedikit syok saat melihat keberadaan Deva di kamar itu.
"Baru pulang kak. Kakak sudah lama pulangnya? tadi aku lihat kakak lagi telponan, makannya aku langsung mandi aja. Takut ganggu kakak soalnya." Jawab Deva.
"I-Iya. Kalau kamu sudah mandi, kakak mau gantian pakai kamar mandinya," ucap Decky.
"Silahkan kak." Jawab Deva.
"Syukurlah dia tidak mendengar pembicaraanku. Kalau tidak semuanya pasti akan kacau," batin Decky.
Decky melepas pakaiannya dan mengenakan handuk dipinggangnya. Setelah yakin Decky memasuki kamar mandi, Deva mulai mondar mandir memikirkan sesuatu.
"Apa langkah pertama yang harus aku lakukan? dia ingin menggadaikanku dan menceraikanku. Dia juga ingin mengambil sertifikat butik. Yah...sepertinya aku harus mengamankan pemberian kakek dulu," ucap Deva lirih.
Deva segera menyisir rambutnya, dan mengambil sertifikat yang dia sembunyikan dibawah tempat tidur. Deva kemudian meraih tas dan ponselnya, setelah itu dia bergegas pergi keluar kamar.
"Nyonya mau kemana?" tanya pelayan.
"Kalau tuan nanya, bilang aja aku pergi ke mini market mau cari pembalut." Jawab Deva.
"Nyonya mau cari pembalut? biar saya saja nyonya. Nyonya tunggu saja di rumah," ucap pelayan.
"Nggak usah Bi. Soalnya mau ke ATM dan ngeprint tugas bentar," ujar Deva yang sebisa mungkin mencari alasan, agar bisa lolos dari pelayan yang dia yakini sebagai tangan kanan dari Decky.
"Hati-Hati nyonya," ujar Pelayan yang kemudian diangguki oleh Deva.
Deva bergegas keluar rumah dan mengeluarkan motornya dari dalam garasi. Dan tujuan utamanya saat ini adalah datang ke rumah utama Hanggono. Setelah tiba disana, Deva bergegas turun dari motor dan menemui Hanggono di paviliun.
"Deva?" Hanggono sangat terkejut, ketika dia membukakan pintu dan mendapati Deva berada di depan pintu rumahnya dengan nafas yang naik turun.
Hanggono melihat kebelakang Deva, karena dia fikir Deva datang bersama Decky. Hanggono juga melihat hari sudah mulai gelap.
"Masuklah!" Hanggono yakin kedatangan Deva pasti ada alasan. Karena dia melihat ada sebuah map coklat yang isinya tampak tebal, yang sedang Deva dekap di dadanya.
Deva duduk dislah satu kursi berbahan rotan, dan Hanggono duduk disebelah cucu menantunya itu.
"Ada apa? kamu datang kemari sudah hampir malam. Wanita hamil tidak baik pergi keluyuran hampir magrib begini," tanya Hanggono.
"Maaf kakek. Untuk sementara Deva belum bisa menjelaskan masalahnya apa. Tapi Deva ingin menitipkan sertifikat kepemilikkan butik pada kakek." Jawab Deva sembari meletakkan map coklat diatas meja.
"Ada apa? suamimu pasti bisa membelikan brankas bagus buat nyimpan berkasnya," tanya Hanggono heran.
"Selali lagi aku minta maaf, karena belum bisa menjelaskannya pada kakek. Tapi kalau nanti semua keyakinanku bisa dipertanggung jawabkan, aku akan datang menemui kakek dan menjelaskannya pada kakek."
"Satu lagi kek. Aku mohon jangan sampai kak Decky tahu kalau aku menitipkan semua sertifikat ini pada kakek," sambung Deva.
"Kenapa dia tidak boleh tahu? kalian lagi bertengkar?" tanya Hanggono.
__ADS_1
"Tidak. Tapi Deva belum bisa cerita sekarang, tunggu waktu yang pas. Yang penting kakek harus jaga kesehatan, aku nggak mau kakek kehilangan semangat hidup lagi." Jawab Deva yang sebenarnya sangat takut kalau penyakit yang Hanggono derita, akan menyebabkan pria itu mati lebih cepat.
"Kamu ngomong begitu seperti kakek kena penyakit berat saja. Meski begini, kakek itu nggak punya penyakit selain asam urat yang parah disendi lutut kakek," ujar Hanggono.
"Tapi kak Decky bilang...." Deva menghentikam kata-katanya. Sesaat dia baru menyadari tujuan Decky memperalat dirinya, itu karena ingin menguasai perusahaan dan mendapat pengakuan.
"Kini aku mengerti. Jadi dia sengaja menipuku, dengan mengatakan kakek Hanggono sakit parah. Agar kakek Hanggono cepat menobatkannya menjadi ahli waris dari HANG Group,"
"Olivia? siapa Olivia? kenapa aku tidak pernah menangkap hal yang aneh? aku bahkan tidak pernah mendengar dia telponan mesra dengan seorang wanita. Aku harus mengumpulkan banyak bukti, agar aku tidak disalahkan oleh kakek Hanggono, saat aku punya kesempatan kabur nanti," batin Deva.
"Kakek. Aku harus pulang sekarang, suatu hari nanti aku akan menjelaskannya pada kakek. Tapi tidak untuk sekarang. Sekarang aku harus pulang dulu. Aku harap rahasia ini cuma untuk kita berdua. Kakek tidak boleh menceritakan pada siapapun termasuk kak Decky," ucap Deva.
"Hah...Baiklah cucu yang cantik. Berhati-Hatilah, jaga kandunganmu dengan baik. Kakek akan menunggu cerita serumu itu," ujar Hanggono.
"Pasti kek." Jawab Deva, yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.
Deva kemudian kembali pulang ke rumah. Tidak lupa pula dia mempir membeli pembalut, dan beberapa camilan di mini market.
Ceklek
"Kamu darimana?" tanya Decky.
"Mini Market, sekalian ngeprint tugas kuliah." Jawab Deva sembari menutup pintu kamar mereka.
"Mana yang kamu print?" tanya Decky.
"Belum." Jawab Decky.
"Ya sudah kita makan malam yuk?" ajak Deva sembari meletakkan kantung plastik berisi camilan diatas nakas.
"Itu apa?" tanya Decky.
"Camilan." Jawab Deva.
Deva dan Decky kemudian turun kebawah untuk makan malam. Tidak ada gelagat aneh yang Deva perlihatkan. Dia seolah bersikap biasa saja dan mengajak Decky ngobrol seperti biasanya.
Tring
Tring
Tring
Deva melirik ponsel Decky, dan ada tertera nama Olivier disana.
"Olivier rekan bisnis Decky. Olivier...Olivia. Apa aku sudah tertipu oleh nama kontak itu? jaman sekarang banyak para pria sengaja mengganti nama perempuan di kontak ponsel, menjadi nama laki-laki. Bisa jadi kan Olivier itu adalah Olivia yang dia maksud tadi?" batin Deva.
Deva bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Sementara Decky dengan santainya menerima panggilan itu.
"Ya?"
__ADS_1
"Beib. Malam ini menginap di rumahku ya?" tanya Olivia.
"Oke." Jawab Decky singkat.
"Ada bocah ingusan itu ya?" tanya Olivie.
"Ya." Jawab Decky.
"Pokoknya aku tunggu malam ini," ucap Olivia.
"Jangan khawatir. Aku akan kesana," ujar Decky.
Decky mengakhiri pembicaraan itu, dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Siapa kak?" tanya Deva.
"Oh itu. Kamu ingatkan rekan bisnisku yang dijepang?" tanya Decky.
"Ya. Kenapa?"
"Dia datang kesini. Dan mengajakku bertemu malam ini. Dia ingin membahas kelanjutan bisnis waktu itu." Jawab Decky.
"Oh begitu. Ya sudah, kakak pergi saja. Waktu dijepang dia menjamu kakak dengan baik bukan? sekarang giliran kakak yang jangan mengecewakan dia," ujar Deva.
"Ya. Itulah tadi aku langsung menyetujuinya saat dia mengajak bertemu," ucap Decky.
"Apa kakak akan menginap diluar? besok hari libur. Kalau kakak menginap diluar, aku izin dengan kakak sekarang saja," tanya Deva.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Decky.
"Besok ada tugas kelompok membuat pakaian jadi. Sepertinya aku akan pulang terlambat." Jawab Deva.
"Oh...ya sudah tidak apa-apa. Lakukan tugasmu dengan baik, biar hasilnya baik," ujar Decky.
"Makasih kak." Jawab Deva.
"Kamu ingin menemui Olivier? baiklah Decky Hanggono. Karena kamu menganggapku anak ingusan, aku akan menunjukkan padamu bahwa anak ingusan ini bisa melakukan sesuatu di luar dugaanmu," batin Deva.
"Kamu selalu ingin mengkambing hitamkan aku bukan? tapi kali ini tidak lagi. Niat hatiku hanya ingin memisahkan diri dari pria bajingan sepertimu. Beruntung rasa cinta dalam hatiku belum ke tahap lebay, aku masih bisa membuang buaya darat sepertimu kepenangkaran,"
"Kakak duluan keatas ya? mau ambil kunci mobil sama dompet," ucap Decky.
"Iya kak." Jawab Deva.
Deva merogoh saku celananya untuk memastikan kunci motor dan ponselnya masih berada disana.
"Malam ini aku harus tahu siapa itu Olivier," batin Deva.
Deva melambaikan tangan saat Decky melambaikan tangan kearahnya. Namun setelah pria itu keluar pintu, Deva bergegas bangkit dari tempat duduk dan mulai mengikuti kepergian Decky.
__ADS_1