KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
45. Merindukan Dia


__ADS_3

"Tuan terlihat sedih non Deva pergi," ucap Made.


"Anak itu sudah menemani hari-hariku selama hampir 3 bulan. Dia juga sangat baik, meskipun cerewet. Tidak ada dia, pasti aku merasa sepi di rumah." Jawab Egi.


"Selain itu dia juga pandai memasak. Aku suka dengan hasil masakkan dia.


Sekarang dia tidak ada, aku pasti tidak bisa mendengar suaranya lagi," sambung Egi.


"Kenapa tidak bisa mendengar suaranya? telpon saja. Atau video call," tanya Made.


"Benar juga. Telpon ya! apa? telpon?" Egi terkejut.


"Kenapa tuan?" tanya Made yang terkejut mendengar suara Egi yang lumayan besar.


"Ini memang terdengar aneh. Tapi apa bapak tahu? selama hampir tiga bulan bersama, kami tidak pernah bertukar nomor ponsel." Jawab Egi.


Made terdiam. Karena dia juga mengakui, kalau hal itu memang terdengar aneh. Made mulai membawa mobilnya meluncur dengan kecepatan sedang. Dia melihat Egi dari kaca mobilnya, yang terlihat murung.


"Tuan tenang saja, kalau jodoh pasti nggak lari kemana," ujar Made.


"Dia masih bocah. Masa depannya masih panjang, aku hanya menganggapnya seperti adikku sendiri," ucap Egi.


"Apa benar tuan hanya menganggapnya begitu? tapi wajahnya menunjukkan lain," batin Made.


Sementara itu, Deva yang menunggu di ruang tunggu. Membuat panggilan untuk Rizky dan Dian sahabatnya.


"Hallo. Ini siapa?" tanya Rizky diseberang telpon.


"Ky. Ini Deva." Jawab Deva.


"Deva? kamu ganti nomor ponsel?" tanya Rizky


"Ceritanya panjang. Nanti akan aku ceritakan. Tapi kali ini aku butuh bantuanmu Ky,"ujar Deva.


"Bantuan apa?" tanya Rizky.


"Aku sudah menghubungi Dian, dan dia setuju buat temani kamu untuk cari kontrakan." Jawab Deva.


"Kontrakkan? siapa yang butuh kontrakkan?" tanya Rizky.

__ADS_1


"Aku. Pokoknya aku akan cerita nanti ya Ky, aku benar-benar minta tolong sama kamu. Sekarang aku lagi di Bandara Ngurah Rai, mau menuju Jakarta. Perjalanan kurang lebih satu jam 50 menit. Aku sangat menunggu kabar baik dari kalian, biar aku bisa langsung nempatin kontrakkan itu." Jawab Deva.


"Ya udah ntar aku hubungi kamu kalau sudah dapat tempatnya. Ntar aku kasih lokasinya lewat WA ya!"


"Makasih ya Ky," ucap Deva.


Deva bisa bernafas lega, saat perbincangan itu berakhir. Setelah menunggu beberapa saat, pesawat yang akan Deva tumpangi akan segera mengudara. Deva bergegas menaiki pesawat, dan duduk tenang didalam sana.


Dan setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 50 menit, burung besi itu akhirnya tiba di Bandara Soekarno Hatta. Deva kemudian segera mengaktifkan ponselnya, yang sempat dia nonaktifkan saat berada dipesawat.


Deva tersenyum, saat dirinya mendapat Wa dari Rizky. Pria itu sudah mengirimkan lokasi kontrakkan barunya. Deva membalas chat itu, dan merekapun bertemu disana.


Grepppp


Deva memeluk Dian, saat mereka bertemu di tempat itu. Deva bahkan menangis, untuk menumpahkan kesedihan yang dia alami selama ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu bisa berada di Bali?" tanya Rizky.


Deva kemudian menceritakan tentang masalahnya dari awal pernikahan, sampai dirinya kabur ke Bali. Rizky dan Dian sangat terkejut saat mendengar semua cerita Deva.


"Gila. Ini benar-benar gila. Apa si Decky itu tidak waras?" tanya Rizky.


"Untungnya Deva cerdas dan tidak mudah di tindas. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu sampai jatuh ke tangan pria yang sudah membelimu itu." Jawab Dian.


"Sudahlah Ky. Aku tidak mau berurusan dengan orang-orang itu untuk sementara," ucap Deva.


"Kenapa? kamu nggak mau membalas para pria mesum itu?" tanya Rizky.


"Bukan aku tidak mau membalas, tapi untuk sekarang aku belum bisa. Aku tidak punya apapun untuk aku banggakan. Sekarang kalian harus membantuku pindah dari tempat kuliah itu, aku takut mereka akan mencariku," ujar Deva.


"Kenapa kamu harus takut? kamu kan sudah bercerai dengannya," tanya Risky.


"Karena sepertinya aku sudah membuat masalah baru dalam hidupku." Jawab Deva.


"Masalah apa?" tanya Dian.


"Saat kabur. Sepertinya aku tidak sengaja mematahkan burung masa depan pria itu. Rizky, apa menurutmu burung itu masih bisa digunakan?" tanya Deva.


Mendengar pertanyaan konyol itu, tentu saja wajah Rizky jadi merona.

__ADS_1


"Kamu sudah gila. Kenapa kamu bisa melakukan itu?" tanya Rizky.


"Ya mau bagaimana lagi. Aku tidak sengaja melakukannya. Kalau tidak begitu, maka aku yang akan di mangsa oleh bajingan mesum itu." Jawab Deva.


"Kamu sangat keren Deva. Beri tahu aku bagaimana cara kamu melakukannya? apa kamu memegang burungnya, terus mematahkannya? atau bagaimana? beri tahu aku sebesar apa burung orang dewasa," tanya Dian konyol.


Pukkkk


Deva memukul lengan Dian cukup keras. Sementara Rizky jadi tersipu mendengar pertanyaan konyol itu.


"Kamu ini benar-benar ya. Apa disituasi begini masih sempat bertanya hal seperti itu? aku menginjaknya dengan kakiku berkali-kali. Kamu tidak tahu saja aku sangat geram saat itu," ucap Deva.


"Nggak tahu nih Dian. Emang kenapa kalau burungnya sudah dewasa? sudah Dewasa juga belum tentu besar, banyak juga yang pertumbuhannya kerdil," ucap Rizky asal yang langsung mendapat pelototan mata dari Deva.


"Sekarang apa yang mau kamu lakukan kedepannya?" tanya Rizky.


"Aku mau nemuin kakek Hanggono setelah dapat kampus baru. Aku nggak mau disalahkan. Aku juga butuh perlindungan dari beliau, agar cucunya yang brengsek itu nggak cari masalah lagi sama aku." Jawab Deva.


"Lagi pula kakek Hanggono memberikan butik itu sama aku. Aku akan menyerahkannya kembali, agar aku tidak merasa terbebani. Aku hanya ingin menyelamatkan peninggalan nenek dari wanita gatal itu," sambung Deva.


"Aku akan dukung apapun keputusanmu Dev. Nanti aku yang akan urus kepindahan kampusmu. Di kampusku juga ada kok jurusan designer," ujar Rizky.


"Baguslah. Kalau begitu disana saja, aku harus sukses dengan kemampuanku sendiri," ucap Deva.


"Terus kamu kapan akan menceritakan hal ini pada orang tuamu?" tanya Dian.


"Belum untuk sekarang. Aku harus sembunyi dulu, Decky pasti mencariku juga saat ini. Karena aku sudah memalsukan sertifikat itu." Jawab Deva.


"Ya sudah. Lebih baik kamu istirahat dulu. Aku harus pulang, karena aku ada kelas siang ini," ujar Rizky.


"Makasih ya buat kalian berdua, karena sudah nolongin aku," ucap Deva.


"Sama-Sama."Jawab Rizky dan Dian serentak.


Rizky dan Dian kemudian pulang. Sementara Deva tinggal sendiri di kontrakkan sederhana itu. Dan saat malam menjelang, Deva tersenyum hambar dibibirnya saat mengenang kebersamaannya dengan Egi.


"Bagus juga kalau aku tidak pernah perduli dengan nomor ponsel laki-laki itu. Soalnya dia juga tidak pernah menanyakan nomor ponselku. Dan itu artinya dia tidak perduli bukan?"


"Lagian kenapa aku harus memikirkan dia. Dia itu orang besar dan dewasa. Mana mungkin dia tertarik berhubungan dengan bocah ingusan seperti aku. Sekarang aku sudah jauh, dan kami tidak mungkin bertemu lagi. Aku hanya berharap dia selalu sehat dan bahagia," ujar Deva lirih.

__ADS_1


"Tapi...kenapa aku sangat merindukan dia malam ini,"


Air mata Deva tanpa sadar meleleh begitu saja.


__ADS_2