
Egi membuka matanya, saat rasa kantuk lumayan sudah menghilang. Diraihnya ponsel yang berada diatas meja, dan matanya terbelalak saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Sayang. Bangunlah! kita sudah melewatkan sarapan pagi, dan hampir melewatkan makan siang," Egi membangunkan Deva yang tampak tertidur pulas.
Pria itu menahan diri agar tidak menerkam istrinya itu. Yang tanpa sadar memperlihatkan dadanya yang besar, karena selimut yang dia kenakan turun kebawah.
"Sebentar lagi Om. Masih ngantuk nih," rengek Deva.
Egi tidak lagi fokus dengan apa tujuan utamanya. Dia sudah gagal fokus, saat melihat kedua benda yang indah sudah terpampang di depan matanya. Dengan jahil Egi membenamkan wajahnya disana, dan mempermainkannya. Mau tak mau Deva yang tengah terpejam, jadi melotot seketika.
"O-Om. Ampun Om," rengek Deva yang ingin Egi menyudahi sentuhannya itu.
"Kamu tidur aja, biar aku main sendiri," ujar Egi dengan jahil.
"Ih...Om. Mana bisa begitu? su-sudah Om," Deva sangat takut Egi memakannya lagi, karena saat ini tubuhnya masih terasa pegal dan nyeri dibawah sana.
Kaki Deva yang tidak bisa diam, membuat Egi tak kuasa menahan tawanya. Pria matang itu jadi terbahak, hingga mendapat tatapan sinis dari Deva.
"Sudah tahu enak rupanya istriku," ujar Egi.
"Kalau Om tua masih nyebelin, nggak aku kasih jatah untuk selanjutnya. Sono main sama lobang closed," ucap Deva yang membuat mulut Egi jadi senyap.
"Heh. Tahu diri juga burung kaka tua rupanya," ledek Deva sembari beranjak dari tempat tidur.
"Apa? kaka tua? bisa-bisanya kamu meledek burung suamimu, setelah menikmatinya habis-habisan tadi malam," Egi tidak terima dengan ledekkan Deva.
"Siapa yang menikmati? aku mah terpaksa. Mau bagaimana lagi, sudah masuk juga. Situ yang menang banyak karena dapat perawan legit," ucap Deva yang menahan tawanya.
"Sayang. Perkataanmu itu nggak bisa aku terima loh. Jelas-Jelas kamu juga berteriak keenakkan tadi malam," ujar Egi.
"Apaan sih Om? ngomongnya fulgar amat. Sekarang gara-gara Om, aku jadi susah jalan nih," ujar Deva yang kesulitan melangkah, saat akan ke kamar mandi.
Greppp
Tanpa basa basi Egi menggendong Deva, dan membawanya ke kamar mandi. Diperlakukan seperti itu, tentu saja Deva jadi tersipu. Dua sejoli itu akhirnya mandi bersama.
"Sayang. Aku keluar bentar cari makanan ya!" ujar Egi sembari mengenakan baju.
"Ya. Jangan lama-lama Om," ujar Deva.
"Emm." Egi mengangguk.
Setelah Egi pergi, Deva membuat panggilan video call untuk Dian.
"Eh...gila loe beneran ke Swiss?" tanya Dian.
__ADS_1
"Yap." Jawab Deva sembari terkekeh.
"Udah jebol?" tanya Dian.
"Udah dong. Nggak penasaran lagi gue " Jawab Deva yang lagi-lagi terkekeh.
"Gimana rasanya Dev? ceritain dong. Itu gimana Om tua performanya?" tanya Dian.
"Behh...jangan ditanya rasanya Di. Luar biasa pokoknya. Loe pakai nanyain performanya Om tua. Loe tahu sendiri jam terbangnya sudah tidak perlu diragukan lagi." Jawab Deva asal.
"Loe bisa aja bikin gue nyut-nyutan Dev," ujar Dian.
"Kawin gih. Aku aja kalau tahu seenak ini, sejak dalam kandungan minta dikawinin," ujar Deva sembari terkekeh.
"Sontoloyo," Dian mencebikkan bibirnya.
"Oh ya. Gimana kemajuan hubunganmu sama Rizky?" tanya Deva.
"Nggaklah Dev. Gue udah putusin bakal mundur." Jawab Dian.
"Loh kenapa?" tanya Deva.
"Dia kan udah tahu kalau gue suka sama dia, tapi nggak ada tuh tanda-tanda seperti dia nembak loe seperti waktu itu. Kalau sudah begitu, itu tandanya dia nggak ada perasaan sama gue. Jadi sebelum persahabatan kita hancur, mending aku mundur secara teratur." Jawab Dian.
"Ya udah deh. Anggap aja dia bukan jodoh loe. Masih banyak pria dimuka bumi ini. Iya kan?"
"Eh Di. Udah dulu ya! Om tua udah pulang. Gue mau isi tenaga dulu," ujar Deva.
"Oke. Gue do'ain moga cepat jadi ya!" ucap Dian.
"Amiin." Jawab Deva.
"Siapa?" tanya Egi saat melihat Deva sudah mengakhiri percakapan lewat sambungan telpon itu.
"Dian sahabat aku." Jawab Deva.
"Bukannya Rizky?" tanya Egi.
"Masih cemburu aja sama Rizky. Kalau aku mau sama dia, udah dari dulu kali Om." Jawab Deva.
"Pokoknya aku nggak mau kalau kamu dekat-dekat lagi sama dia. Ngomong sewajarnya saja saat ketemu dia. Nggak ada acara boncengan motor lagi sama dia," ujar Egi.
"Iya. Udah boleh makan belum? lapar banget ini," tanya Deva.
"Kemarilah!" ujar Egi yang menyuruh Deva duduk di sofa.
__ADS_1
Merekapun makan siang bersama sembari mengobrol banyak hal.
Malam harinya....
"Om. Boleh nanya nggak?" tanya Deva sembari berbaring dipangkuan Egi.
"Tanya aja." Jawab Egi.
"Decky selalu ngejek Om anak karbitan. Maksudnya apa ya? terus dimana Om bisa ketemu dengan kakek Hanggono. Om sama sekali belum cerita tentang orang tua Om, sama aku. Om juga belum memperkenalkan aku sama mereka," tanya Deva.
"Dulu aku bukan besar di Jakarta. Aku ketemu papa di Surabaya saat aku umur 10 tahun. Waktu itu aku bertemu beliau di tempat lokalisasian." Jawab Egi.
"Lokalisasian? itu maksudnya semacam tempat remang-remang gitu?" tanya Deva terkejut.
"Yap." Jawab Egi.
"Kok bisa? maksudku kok bisa Om masuk ke tempat itu? kan Om baru berusia 10 tahun kan?" tanya Deva.
"Aku nggak bilang kalau aku boleh masuk kedalam. Aku jualan di depan pintu tempat itu." Jawab Egi.
"Jualan? jualan apa? cangcimen?" tanya Deva.
"Bukan. Jualan pengaman." Jawab Egi.
"What? kok Om diperbolehin jualan gituan? emang Om waktu itu sudah ngerti fungsinya apaan? aku aja nggak tahu itu bagaimana cara makainya. Di Bali malah iseng aku tiupin jadi balon," tanya Deva.
"Lebih tepatnya dipaksa mengerti. Mungkin mereka kasihan sama aku, karena aku hidup sebatang kara. Makanya orang-orang disana juga bilang, kalau aku ini bocah karbitan. Dewasa sebelum waktunya. Tiap malam aku menjajakan barang itu, karena aku punya misi sendiri." Jawab Egi.
"Misi? misi apa Om?" tanya Deva.
"Misi supaya wanita di dunia ini nggak mengalami nasib seperti ibuku." Jawab Egi.
"Ibu kamu kenapa Om? sekarang Ibu kemana?" tanya Deva.
"Ibu sudah meninggal. Dan itu karena penyakit HIV." Jawab Egi.
Deg
Jantung Deva terasa berhenti berdetak, karena dia mengira penyakit itu diderita oleh ibu Egi saat mengandung suaminya itu. Yang berkemungkinan suaminya itu bisa tertular.
"Te-Terus kamu...."
"Aku nggak kena sayang. Ibu begitu karena memang pekerjaannya di lokalisasian itu." Egi sama sekali tidak menutupi siapa jati dirinya.
"Lalu Ayah...."
__ADS_1
"Aku nggak pernah tahu ayahku siapa. Karena aku terlahir dari belaian puluhan atau mungkin ratusan bapak. Kamu ngerti kan maksud aku?" pertanyaan Egi membuat Deva terdiam.
Deva kemudian bangkit dari pangkuan Egi, dan meraih wajah suaminya itu. Dan sesaat kemudian dia melabukan ciuman dibibir suaminya itu.