KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
19. Tawaran


__ADS_3

"Mana Kayla?" tanya Ferdy saat melihat Leoni pulang tanpa menggendong Kayla.


"Kayla di opname di rumah sakit." Jawab Leoni.


"Leoniiiiii...apa telingamu itu nggak mau lagi berada dikepalamu? apa kamu sudah gila ha? darimana kita harus membayar biaya rumah sakit ha?" mata Ferdy memperlihatkan kilatan amarah yang meledak-ledak.


"Kamu itu yang sudah gila mas. Kamu malah khawatirin masalah duit, tapi kamu nggak nanya sama sekali Kayla sakit apa. Kayla itu bukan deman biasa mas. Dia kena Pneumonia, alias paru-paru basah. Dia kritis sekarang. Kamu khawatir nggak sih dengan nyawa anak kamu?" tanya Leoni dengan berapi-api.


"Alah...paling itu bisa-bisanya dokter aja. Dikeluarga kita nggak punya keturunan sakit paru-pari basah," timpal Sumarni.


"Mama bisa diam tidak? jangan selalu ikut campur urusan rumah tanggaku ma!" hardik Leoni.


"Leoni!" hardik Ferdy.


"Nggak usah lagi bentak-bentak aku mas.Aku nggak butuh kamu marahin aku terus-terusan. Sekarang mending kamu cari uang. Aku nggak perduli kamu mau mencuri, ngerampok, yang penting Kaylaku tetap hidup," Leoni tak kalah emosi.


"Lihat itu istri kamu. Gilanya sudah nggak ada obatnya lagi," ucap Sumarni.


"Bu. Aku pinjam sertifikat rumah ini ya? buat aku gadaikan untuk biaya rumah sakit Kayla," ucap Ferdy.


"Kamu belum apa-apa sudah ketularan gilanya. Kalau kamu gadaikan rumah ini, terus kamu bayar cicilannya pakai apa? yang ada rumah ini disita, dan kita tinggal dijalanan." Jawab Sumirah.


"Kok Mama malah mikir kesana dulu sih ma? emang nyawa Kayla bisa nunggu sampai kita jadi kaya? kalian seperti membiarkan Kayla mati kalau begini," tanya Leoni.


"Kalau Kayla mati kalian bisa buat lagi, tapi kalau rumah ini disita, bisa-bisa mama juga bisa cepat mati." Jawab Sumarni dengan tanpa perasaan.


Leoni tertawa sedih. Leoni menyeka air matanya yang terlanjur menetes.


"Ternyata Aku menikahi keluarga yang sifatnya seperti babi. Tamak, rakus, egois, mementingkan diri sendiri," ucap Leoni sarkas.


"Leoniii...."


Plakkkk


Ferdy melayangkan sebuah tamparan keras dipipi Leoni, hingga kepala wanita itu tertoleh kesamping.

__ADS_1


"Jangan pernah melewati batasanmu. Jangan kira aku tidak perduli sama Kayla. Ini akibat karena kamu tidak becus ngurusin anak, hingga Kayla bisa terkena penyakit serius seperti itu,"


Ucapan Ferdy terasa berdenging-denging di telinga Leoni.


"Perduli? yang mana kamu bisa mengatakan kalau kamu perduli sama dia mas? sejak kecil hingga dia berusia 2 tahun, kamu bahkan tidak pernah menggendongnya lebih dari 5 menit. Saat dia sakit akulah yang begadang. Kamu itu sama sekali nggak perduli sama dia. Kamu bahkan tidak pernah menyaksikan atau tahu makanan apa yang dia sukai. Kamu tidak tahu kapan dia mulai berjalan, kamu tidak pernah mengajaknya pergi liburan. Kamu itu cuma nitipin spe*ma kamu yang nggak seberapa itu di rahim aku. Jadi nggak usah deh kamu bilang kalau kamu perduli sama dia,"


"Sekarang dia sedang sekarat dirumah sakit. Kamu bahkan nggak bergegas buat lihat keadaan dia setelah mendengar penyakit yang dia derita. Kamu malah meributkan soal uang. Sebenarnya kamu punya hati nggak sih mas? kamu cuma dengerin omongan mama kamu terus. Aku sebagai istri kamu nggak pernah kamu anggap. Jadi fungsi aku disini apa mas? cuma status di buku nikah aja?" tanya Leoni. Air mata Leoni kembali merebak.


"Diam aja terus mas. Diam aja seperti patung dan tidak usah melakukan usaha apapun. Tapi ingat satu hal! kalau sampai terjadi sesuatu sama Kayla, aku nggak akan pernah maafin kamu mas. Nggak a-kan per-nah," ucap Leoni dengan penuh penekanan.


Leoni kemudian berlalu dari hadapan Ferdy, dan memasuki kamarnya.


Brakkkkk


Leoni membanting pintu kamar dengan lumayan keras. Tubuh wanita itu merosot sari daun pintu yang ia sandari. Tubuhnya bergetar karena terisak. Begitu sakit dan perih yang dia rasakan saat ini. Dia bingung harus melakukan apa.


Tring


Tring


Tring


"Hallo Dit? ada apa?" tanya Leoni.


"Gue tadi nggak sengaja liat loe di rumah sakit. Gue pengen nyapa loe, tapi gue keburu dipanggil karena sudah waktunya gue di vaksin. Loe kelihatan nangis, ada apa?" tanya Dita.


"Anak gue masuk rumah sakit. Gue bingung nggak punya duit buat biaya berobat anak gue. Loe tahu sendiri suami gue pengangguran sekarang." Jawab Leoni.


"Lagian loe betah amat nungguin suami pengangguran. Mau mati karena makan hati? loe tu cantik, sexy. Sayang banget keriput gegara laki nggak guna," ucap Dita.


"Kasihan anak gue kalau gue minta cerai. Dia masih kecil, masih butuh bapaknya," ujar Leoni.


"Terlalu naif loe say. Dia aja nggak mikirin anak loe. Perasaan udah lama banget laki loe nganggur. Masih milih-milih kerjaankan dia?" tanya Dita.


"Ya gitulah. Nggak bisa ngomong apa-apa lagi gue. Sekarang gue nggak tahu harus nyari dua juta perhari kemana. Rasanya nafasku sesak membayangkan hal itu." Jawab Leoni.

__ADS_1


"Kalau loe mau kerja sambilan kayak gue, gue akan kasih loe om yang tajir. Kebetulan dia lagi nyari sugar baby gitu. Royal banget orangnya. Gue masih terikat kontrak sama om Jason, kalau nggak gue yang bakal ngembat tu om-om,"


"Gila loe. Mana mau gue kerja gituan. Nggaklah, nggak tertarik gue!" ucap Leoni.


"Ya terserah loe aja sih. Gue cuma kasih jalan buat loe dapat duit cepat aja. Lagian kerjanya juga enak. Cuma modal cantik sama ngangkang doang. Dapat duit, dapat enak lagi," ujar Dita sembari terkekeh.


"Gue pikir-pikir dulu deh. Masih usaha yang baek-baek dulu nih," ucap Leoni.


"Kabarin gue aja kalau loe mau," ujar Dita.


"Emm." Leoni mengiyakan.


Leoni menghela nafas setelah panggilan itu terputus. Kepala Leoni tersandar dipintu dengan mata yang terpejam. Karena terlalu lelah dan kurang tidur, tanpa sadar Leoni tertidur dengan posisi demikian.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Ceklek


Tok


Tok


Tok


"Leoni buka pintunya. Leoni...."


Ferdy yang hilang kesabaran menggedor pintu kamar itu. Sudah hampir 3 jam Leoni tidak keluar kamar, sementara Ferdy butuh kamar mandi karena waktu sudah sore.


Ceklek

__ADS_1


Leoni membuka pintu dengan mata sembab. Dia melihat Ferdy dengan wajah malas, dan kembali pergi keatas tempat tidur. Leoni kemudian membuka-buka artikel di ponselnya untuk mencari lowongan pekerjaan. Diapun bergegas membuat lamaran kerja tanpa memperdulikan Ferdy yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, saat Leoni menyelesaikan 10 surat lamaran yang akan dia bawa keesokan harinya. Dia sudah bertekad untuk tidak mengandalkan siapapun. Dia ingin berjuang sendiri untuk mencari biaya pengobatan putrinya.


__ADS_2