
"Sekarang silahkan kembali pada posisi kalian masing-masing. Saya akan meninjau kinerja kalian satu persatu," ujar Egi.
Barisan karyawan pabrik satu persatu membubarkan diri secara teratur. Mereka kembali ketempat sesuai dengan posisi mereka masing-masing. Semua bekerja dengan apik, teliti, dan tekun. Karena mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan dihari mereka bekerja yang masih seumur jagung.
Egi merasa puas dengan pilihan Hanggono dalam memilih karyawan di pabriknya. Semua pekerja tampak kompeten dan bisa diandalkan.
"Apa ada kesulitan?" suara Egi yang berada dibelakang punggung Leony, membuat wanita itu terkejut dan menjatuhkan beberapa kotak barang.
"Ma-Maaf pak saya kaget," ujar Leony sembari tertunduk.
"Tidak masalah. Kalau kamu kaget, artinya itu salah saya yang sudah mengagetkan kamu. Saya minta maaf," ucap Egi.
"Eh? ti-tidak begitu pak. Saya yang salah, karena tidak fokus bekerja saya malah menjatuhkan barang," ujar Leony yang merasa tidak enak hati karena Egi meminta maaf padanya di depan karyawan lain.
"Kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian!" ujar Egi.
Egi kemudian melangkah ketempat lain. Dia benar-benar meninjau seluruh bagian pabrik, tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.
"Wah...bos kita luar biasa baik ya? selain tampan, dan ramah, ternyata sangat humble. Aku jadi ngefans sama si bos," ucap salah seorang teman Leony.
"Egi sama sekali tidak berubah. Dia masih sama seperti dulu. Selalu baik dan lembut pada semua orang. Kenapa dulu aku...ah...aku tidak boleh menyesali atas semua keputusan yang aku ambil. Artinya dia memang bukan jodohku," batin Leony.
Leony kembali bekerja dengan sungguh-sungguh, sementara Egi yang selesai meninjau seluruh bagian pabrik. Kembali kedalam ruangan pribadinya.
"Kenapa dia ada disini? bukankah dia menikah dengan pengusaha sukses? kenapa suaminya membiarkan dia bekerja dipabrik, dan menjadi karyawan kecil?" batin Egi?"
"Ada apa pak? apa ada yang bisa saya bantu? karena sepertinya bapak sedang memikirkan sesuatu," tanya Rino sang sekretaris pribadi Egi.
"Tidak ada. Saya hanya mengingat-ingat urusan kantor pusat saja." Jawab Egi.
"Apa bapak butuh sesuatu?" tanya Rino.
"Saya ingin minuman dingin apa saja." Jawab Egi.
"Baik pak."
Rino bergegas memerintahkan OB, untuk memenuhi permintaan Egi. Dan tepat pada pukul 5 sore, seluruh karyawan pabrik diperbolehkan pulang. Karena Egi memang belum mengoperasikan pabriknya dimalam hari. Dia masih ingin meninjau seberapa aman didaerah sekitar pabrik, apabila mempekerjakan karyawannya pada shif malam.
__ADS_1
"Stop!" Egi menyuruh supir pribadinya menghentikan mobilnya, saat melihat Leony tengah berdiri disebuah halte.
Egi menurunkan kaca mobilnya, dan matanya langsung berseloroh dengan Leony.
"Masuklah!" ucap Egi.
"Eh? ti-tidak perlu pak. Biar saya naik angkot saja," ujar Leony.
"Melawan perintah bos, artinya siap-siap kena pecat besok!" ucapan Egi ternyata sangat ampuh membuat Leony menurut.
"Dasar Egi ego. Dari dulu emang selalu bisa membuat semua orang menuruti perintahnya," batin Leony.
Brakkk
Leony menutup pintu mobil, setelah masuk kedalam kereta besi itu. Berada didekat Egi, nafas Leony seolah ingin dia atur. Agar pria tampan itu tidak mendengar suara nafas dan detak jantungnya yang bergemuruh didadanya.
"Apa kabarmu?" tanya Egi.
"Kabar baik pak." Jawab Leony.
"Mau diantar kemana?" tanya Egi.
"Jangan seformal itu denganku saat berada di luar pabrik. Sekarang kita adalah teman. Pak, tolong antar ke Jl. Melati," ujar Egi yang memerintahkan sang supir.
"Anakmu sudah berapa?" tanya Leony tanpa canggung lagi.
"Aku bahkan belum menikah, karena seseorang sudah mematahkan hatiku." Jawab Egi dengan asal, namun ditanggapi serius oleh Leony.
"Maksudnya apa ya? apa dia masih punya perasaan sama aku?" batin Leony.
"Apa kabar suamimu dan anakmu? pasti kamu sangat bahagia sekarang," tanya Egi.
"Mungkin karena sumpah serapah seseorang, rumah tanggaku tidak bertahan lama. Dan anakku pergi meninggalkanku." Jawab Leony yang kembali sedih saat mengingat tentang Kayla.
"Apa maksudmu?" Egi yang semula bertanya tanpa menatap Leony, saat ini jadi menoleh kearah wanita yang pernah dia cintai itu.
"Aku sudah bercerai dari Ferdy, dan anakku sudah meninggal satu bulan yang lalu." Jawaban Leony membuat Egi tertegun.
__ADS_1
"Aku turut prihatin dengan rumah tanggamu, dan turut berduka atas meninggalnya anakmu," ucap Egi.
"Terima kasih. Tapi aku rasa alasan patah hati karena masa lalu bukanlah alasan sebenarnya, sehingga kamu belum menikah sampai saat ini," ujar Leony yang berusaha mengorek isi hati Egi.
"Ya benar. Hanya saja aku belum menemukan orang yang cocok." Jawab Egi.
"Bukan orang yang cocok, tapi lebih tepatnya pemilih," ujar Leony.
Mendengar ucapan Leony, Egi jadi terkekeh. Karena dia tahu betul kenapa itu bisa terjadi. Bukan karena faktor wanita, bukan karena dia pemilih. Tapi karena dia ingin sukses dan membuat Hanggono bangga padanya.
"Mungkin itu salah satunya kali ya," ujar Egi.
"Kamu sendiri kenapa bisa bercerai dengan suamimu? nggak mudah loh bisa nikah sama dia. Kamu mengorbankan banyak hal, termasuk mengorbankan aku," sindir Egi.
"Mungkin sudah tidak ada kecocokkan lagi. Aku resmi bercerai baru sekitar dua minggu yang lalu, setelah pisah ranjang hampir 6 bulan." Jawab Leony.
"Yah...itulah jodoh. Kita tidak pernah tahu bakal sepanjang atau sesingkat apa," ujar Egi.
Setelah melakukan perjalanan hampir 20 menit, merekapun tiba di Jl. Melati.
"Biar saya turun disini saja. Karena jalan setapak ini tidak bisa dimasuki mobil," ujar Leony.
"Apa kamu mengontrak disini?" tanya Egi.
"Ya." Jawab Leony.
"Kenapa tidak pulang saja ke rumah orang tuamu?" tanya Egi.
"Ada hal yabg terjadi, dan tentunya tidak bisa aku ceritakan sama kamu. Oh ya, terima kasih atas tumpangannya," ucap Leony.
"Emmm." Egi mengangguk.
Mobil Egi kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Egi menyandarkan punggungnya dikursi jok yang dia dudukki. Sembari memejamkan mata, sembari dia mengingat saat-saat bahagianya bersama Leony.
"Egi maaf. Karena kita harus mengakhiri semuanya sampai disini. Aku dijodohkan orang tuaku, aku tidak bisa membantah mereka. Terlebih kamu sekarang belum menjadi apa-apa,"
Ucapan itu memang ucapan dari gadis belia yang baru berusia 23 tahun. Tapi kata-kata itu cukup menyakitkan didengar olehnya saat itu. Tapi yang membuat Egi sakit hati saat itu adalah, Leony tidak langsung menikah dengan Ferdy. Melainkan berpacaran selama hampir 4 tahun. Setelah itu mereka baru memutuskan untuk menikah, padahal orang pertama yang akan dijodohkan dengan Leony adalah dirinya.
__ADS_1
"Sudah hampir 8 tahun berlalu ya? tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Sekarang Leony terlihat lebih cantik dan dewasa. Apa ini takdir? kenapa aku harus dipertemukan lagi dengannya? apa ini suatu pertanda baik? atau malah sebaliknya?" batin Egi.
Karena terlalu lelah, Egipun tertidur lelap saat menuju pulang ke rumahnya.