KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
80. Syarat


__ADS_3

"Apa Om ada yang ingin di jelaskan sama aku?" tanya Deva.


Bukanya menjawab pertanyaan Deva, Egi malah berbaring terlentang diatas tempat tidur.


"Om tua jangan nyebelin deh. Aku beneran nanya ini? kenapa mempelai prianya jadi orang lain? Om mau lari dari taggung jawab? Om bayar orang buat nikahin kak Leony?" tanya Deva.


"Kalau menurutmu bagaimana? kenapa bisa laki-laki lain yang nikahin kakak kamu?" tanya Egi.


Gigi Deva bergemeratuk. Dia benar-benar tidak terima Leony dipermainkan oleh pria, meskipun itu Egi.


"Udah deh Om main teka tekinya. Otakku sudah kram akhir-akhir ini karena kebanyakan mikirin hal yang nggak penting. Sekarang Om jawab aja pertanyaannu, kenapa bisa pria lain yang menikahi kak Leony?" tanya Deva.


"Kenapa? otak kamu kram karena kebanyakkan mikirin aku ya?" Egi dengan sengaja membuat Deva semakin kesal padanya.


Deva yang kesal bermaksud ingin keluar dari kamar itu, namun Egi dengan sigap menghalangi Deva dengan memeluk erat istrinya itu dari arah belakang.


"Aku mencintaimu, aku merindukanmu sayang," bisik Egi ditelinga Deva.


Namun Deva tidak ingin lemah lagu, dan segera melepaskan dekapan erat itu.


"Sudah cukup Om mempermainkan aku ya Om! jangan mentang-mentang aku suka sama Om, Om jadi seenaknya sama aku. Om mau mempermainkan kehidupanku dan kehidupan kak Leony. Om sudah nyelup kak Leony, sekarang mau ngincar aku juga! jangan harap ya Om. Aku nggak sebodoh yang Om kira, meskipun aku ini masih ingusan,"


"Kalau Om nggak mau jelasin ya nggak apa. Aku bisa cari tahu sendiri. Tapi dengan kejadian ini aku jadi tahu satu hal. Selain penjahat kelamin, brengsek, tukang tipu, Om juga pantas dijuluki Fir'aun masa kini," sambung Deva.


"Sudah kuduga. Deva sangat galak. Gimana kalau dia pas hamil nanti ya? apa galaknya akan dua kali lipat?" batin Egi.


"Sekarang biar aku tekankan sama Om ya! mau Om ngawinin kak Leony, atau Om membebaskan diri dari kak Leony, aku tetap nggak akan balikkan sama Om," ucap Deva.


"Kok gitu?" tanya Egi tidak terima.


"Kenapa emangnya? suka-suka akulah. Aku ini yang jadi janda." Jawab Deva.

__ADS_1


Deva hendak membuka pintu, namun sekali lagi digagalkan oleh Egi.


"Sayang. Kamu dengerin dulu penjelasan aku," ujar Egi.


"Nggak usahlah Om. Tadi aku minta penjelasan Om nggak mau, sekarang aku udah nggak mood lagi. Lagian aku bisa minta penjelasan sama kak Leony langsung," ujar Deva.


"Oke. Sekarang kita bicara serius ya! kamu jangan ngambek lagi, nanti hilang loh cantiknya," ujar Egi.


Mendengar gombalan receh Egi, Deva langsung memutar bola mata malas. Namun akhirnya dia setuju untuk bicara dengan Egi dari hati ke hati. Deva duduk di tepi tempat tidur, begitupun dengan Egi.


"Leony sudah menipuku. Ternyata anak yang dia kandung, itu bukan anakku. Itu anaknya dengan Vino, laki-laki yang sudah menikahinya tadi," ujar Egi.


"Omong kosong. Hati-Hati kalau ngomong Om. Kak Leony bukan wanita seperti itu," ucap Deva.


"Seperti itu atau bukan, tapi nyatanya dia memang hamil di luar nikah," ujar Egi yang membuat Deva jadi terdiam.


"Waktu itu Leony tidak berani jujur, karena takut Vino tidak mau menerima anak yang sedang dia kandung. Jadilah aku yang kena getahnya," sambung Egi.


"Sayang. Kamu kok ngomong gitu sih?" tanya Egi.


"Ya mau gimana lagi Om? emang kenyataannya begitu kan? jadi Om, keputusanku sudah bulat. Aku tetap mau cerai," ucapan Deva membuat Egi jadi panik.


"Enak aja kalian ngerjain aku. Sekarang gantian kalian yang aku kerjain," batin Deva.


"Sayang. Please jangan katakan itu! aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku sangat mencintaimu," Egi memelas.


"Tapi aku benar-benar nggak bisa Om. Selama kita pisah, aku dekat dengan pria lain dan kami berencana akan menikah setelah akta ceraiku keluar," ujar Deva.


"Nggak! kamu cuma miliku seorang. Aku akan menghabisi siapapun yang berani merebutmu dariku," ujar Egi.


"Sayang. Tidakkah kamu mengerti? kenapa bisa muncul pria ain sebagai penyelamat rumah tangga kita? itu karena Tuhanpun tidak mau kita dipisahkan. Aku janji bakal menebus semua kesalahanku, yang sudah sangat menyakiti hatimu. Tapi aku mohon jangan pergi lagi dari hidupku, aku nggak bisa hidup tanpa kamu," ujar Deva.

__ADS_1


"Tapi Om bekas banyak wanita? aku jadi nggak sanggup membayangkan, kalau Om menipuku. Pura-Pura mencintaiku, sementara di luar sana sedang main gila dengan wanita kain," ujar Deva.


"Nggak akan sayang. Aku bersumpah tidak akan pernah menduakan cintamu. Apalagi menghianatimu. Aku hanya mencintaimu, dan akan melihatmu saja," ujar Egi.


Egi kemudian mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku celananya.


"Dulu aku tidak sempat melamarmu dengan cara benar. Kali ini aku akan mengulang semuanya dari awal. Sayang, maukah kamu hidup denganku selamanya? dimana hanya akan ada kita, tidak ada yang lain," ucap Egi.


Egi berlutut di depan Deva, yang membuat Dega jadi tersipu. Namun sebisa mungkin Deva mempertahankan wibawanya.


"Om tahu sendiri aku sudah pernah gagal dan tersakiti. Dan saat aku memulai kembali membuka lembaran baru, aku hampir menemui kegagalan yang membuatku jadi benar-benar trauma. Jadi Om, katakan padaku? bagaimana caraku agar percaya, bahwa Om hanya akan melihatku saja, dan nggak akan melirik wanita lain," tanya Deva


Egi tampak terdiam, karena dia tidak ingin salah menjawab dan membuat Deva kembali mempertimbangkan keputusannya. Dia tidak ingin dipertimbangkan, karena menurutnya Deva memang miliknya.


"Aku akan mengalihkan semua perusahaan, aset atas namamu. Jadi kalau aku macam-macam kamu bisa menendangku keluar, dan aku akan jadi gembel seketika." Jawab Egi membuat Deva menahan tawanya sekuat mungkin.


"Terus bagaimana cara membersihkan barangmu yang sudah sembarangan celup-celup itu?" tanya Deva.


"Eh? a-apa tidak cukup dibersihkan dengan sabun?" tanya Egi dengan wajah memerah.


"Tentu saja tidak cukup. Pasti banyak mengandung kumam dan penyakit. Jadi harus direndam pakai disinfektan selama satu jam. Kemudian harus vaksin juga." Jawab Deva.


"Apa aku harus menuruti perkataanya ini? kalau vaksin masih masuk akal, bagaimana dengan perendaman dengan disinfektan? apa tidak akan menimbulkan masalah baru?" batin Egi.


"Kenapa? nggak mau? ya udah kalau nggak mau," tanya Deva sembari berpura-pura hendak keluar dari kamar.


Tap


Egi kembali mencekal tangan Deva dengan wajah memelas.


"Ya sudah kalau itu mau mu. Aku akan melakukannya. Biar dikira tidak berbohong, kamu sendiri yang harus mencelupkan burungku kedalam cairan disinfektan," ujar Egi.

__ADS_1


Kali ini Deva yang merona. Dia jadi membayangkan saat dirinya memegang benda keramat itu.


__ADS_2