
"Ingat! pasang senyum semanis mungkin. Agar kakek kamu dan calon mertua kamu yakin, kalau kamu itu serius dengan perjodohan ini," bisik Rina ditelinga Decky.
Decky tidak menjawab ucapan Rina. Pria itu merapikan baju batiknya, sebelum turun dari mobil. Karena saat ini mereka baru saja tiba di kediaman Edward untuk melaksanakan acara lamaran.
Di mobil yang berbeda, Hanggono juga turun dari mobilnya dibantu oleh supir pribadinya. Langkah pria usia senja itu sedikit tertatih, karena dia memang memiliki masalah pada persendian lututnya.
"Selamat datang tuan Hang, tuan Rizwan dan Nyonya Rina," ucap Edward berbasa basi.
Decky maraih tangan Edward dan tangan Yasmin untuk dia cium. Sementara beberapa barang seserahan sudah dimasukkan kedalam rumah Edward dibantu oleh orang-orangnya Hanggono dan juga pelayannya.
Beberapa kue dan minuman sudah terhidang di ruang tamu. Acara lamaran itu memang diadakan secara sederhana sesuai permintaan dari Deva.
"Kemana cucu menantuku?" tanya Hanggono.
"Sebentar lagi dia akan turun. Dia sedang bersiap-siap." Jawab Yasmin.
Tidak berapa lama kemudian, Deva turun dengan anggun. Deva memang tidak mengenakan pakaian mewah atau berias berlebihan. Bahkan wajah itu terlihat sangat natural.
"Hadeh...bahkan menghadapi acara lamaran penting saja dandanannya masih dandanan bocah. Sangat berbeda dengan Olivia. Kalau Olivia, ketoilet saja dia tetap tampil cantik," batin Decky.
"Gadis sederhana seperti ini yang cocok bersanding dengan Decky. Mudah-Mudahan Decky bisa berubah, setelah menikah dengan Deva," batin Hanggono.
"Jadi sesuai kesepakatan kita, kita akan menjodohkan Deva dengan nak Decky. Kira-Kira kapan hari pernikahan itu akan diadakan tuan Hang?" tanya Edward.
"Setelah Deva menerima ijazah, maka seminggu kemudian pesta pernikahan bisa kita adakan." Jawab Hanggono.
"Bagaimana masalah mahar dan hutang kami?" tanya Edward dengan tidak tahu malunya.
Hanggono melirik kearah Deva yang wajahnya sudah tertunduk. Meski Deva menyetujui perjodohan ini, tapi Hanggono tahu betul perasaan gadis kecil itu.
"Hutang dianggap lunas, dan mahar sebuah rumah mewah sudah disiapkan." Jawab Hanggono.
Wajah Edward dan Yasmis merona bahagia, saat mendengar ucapan Hanggono.
"Ow...sekarang aku baru mengerti. Rupanya gadis ini cuma jadi alat pelunas hutang? heh, akan lebih mudah buatku untuk menyingkirkan gadis ingusan ini," batin Decky.
__ADS_1
"Heh. Ternyata orang tua gadis ini tipe orang tua mata duitan. Bahkan sejak tadi mata mereka tidak bisa lepas dari set perhiasan yang ada diatas meja. Sungguh menjijikkan," batin Rina.
"Deva," Hanggono memanggil nama Deva yang sejak tadi duduk diam tanpa suara.
Gadis itu bahkan sejak awal menuruni anak tangga sudah berwajah gelisah, sembari meremas jari jemarinya.
"Ya kek." Jawab Deva.
"Apa kamu merasa terpaksa menerima perjodohan ini? kamu masih bisa mundur kalau kamu mau," tanya Hanggono.
"Tidak kek. Deva ikhlas menerima perjodohan ini." Jawab Deva.
Karena percuma dia mengatakan terpaksa menerima perjodohan itu. Dia tahu betul resiko apa yang akan mereka hadapi.
"Baiklah. Kakek cukup lega setelah mendengar itu langsung darimu. Decky,"
"Ya Kek?"
"Sekarang kamu pasangkan cincin pertunangan itu dijari Deva," ucap Hanggono.
Mata Edward dan Yasmin berbinar saat melihat jenis seserahan yang keluarga Hanggono berikan untuk putrinya. Terutama satu set perhiasan berupa berlian yang mereka taksir bisa mencapai 5 milyar.
Sementara itu saat acara lamaran itu selesai, Deva langsung kembali kekamarnya tanpa menghiraukan benda-benda seserahan yang bisa ditaksir hingga milyaran itu.
"Kalian lihat itu tadi?" tanya Decky.
"Mama tahu, mama nggak buta." Jawab Rina.
"Bisa-Bisanya kakek menjodohkan aku dengan gadis pelunas hutang seperti itu. Sama sekali tidak berkelas. Dan apa kalian lihat tadi? orang tua gadis itu terlihat sekali tipe orang tua pengeruk harta. Apa kakek tidak khawatir nantinya orang itu memanfaatkan anaknya buat mengambil keuntungan dari keluarga kita?" Decky mengoceh panjang lebar.
"Aku juga tidak habis pikir kenapa papa begitu. Seharusnya papa jangan gegabah. Masih banyak anak pengusaha, dari rekan bisnis atau kolega yang bisa kita jodohkan dengan Decky. Tapi kenapa harus gadis kecil itu," timpal Rizwan.
"Kalian sudah tahu sendiri sekarang kan? jadi jangan salahkan aku kalau suatu saat nanti, aku akan menceraikan gadis itu secepatnya jika perusahaan itu sudah berada dalam genggamanku," ucap Decky.
"Mama adalah orang yang akan selalu mendukung apapun keputusanmu itu," ujar Rina.
__ADS_1
"Makasih ma. Mama tenang saja, aku tidak akan membiarkan keluarga itu memiliki kesempatan untuk memgambil keuntungan dari keluarga kita," ucap Decky.
"Mama percaya kamu mampu melakukan itu. Beruntung yang akan kamu nikahi seorang gadis ingusan. Yang pasti masih bodoh dan polos. Kamu pasti akan mudah mengendalikannya," ucap Rina, sementara Decky jadi menyeringai.
🌶️🌶️🌶️🌶️
"Bagaimana rupa gadis itu?" tanya Olivia yang penasarann ingin mendengar cerita dari Decky.
"Jangan ditanya bagaimana rupanya. Kamu pasti bisa membayangkan seorang gadis ingusan baru tamat sekolah. Sama sekali tidak berkelas, apalagi ada kesan sexy. Pokoknya antara kamu dan dia, seperti bumi dengan langit." Jawab Decky.
"Benarkah?" tanya Olivia senang.
"Kalau tadi tidak ada kakek, ingin rasanya aku mencuri foto wajahnya dan kukirimkan padaku. Aku juga nggak habis fikir, kenapa kakek bisa begitu. Dia sama sekali tidak melihat bibit bebet bobot dan kelayakkan seorang direktur utama menikahi bocah ingusan seperti itu. Memalukan!" ucap Decky.
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir Decky akan berpaling dari gadis kecil itu. Aku sangat yakin Decky cuma bisa jadi milikku seorang. Lain kali mungkin aku akan melihat sendiri bagaimana rupa gadis itu. Jika memang menjadi ancaman, bagaimanapun caranya aku akan menyingkirkannya," batin Olivia.
"Hey...apa yang sedang kamu pikirkan. Hem?" tanya Decky sembari menarik hidung mancung milik Olivia.
"Apa kamu akan menginap malam ini?" tanya Olivia.
"Aku pulang. Besok harus ngantor pagi-pagi. Untuk sementara aku harus mengambil hati kakek dulu." Jawab Decky.
"Sumpah ya nyebelin banget kakek kamu," ujar Olivia.
"Ya mau gimana lagi. Mau nggak mau kita harus sabar. Kamu nggak usah khawatir, meskipun aku sudah menikahi gadis itu, tubuh dan hatiku cuma milik kamu seorang," ujar Decky.
"Emang harus begitu. Awas aja kalau kamu berani khianatin aku," ucap Olivia.
"Nggak akan pernah sayangku."Jawab Decky sembari mencubit pipi Olivia.
"Satu ronde kalau gitu," rengek Olivia.
"Dua juga boleh." Jawab Decky.
Seperti yang sudah-sudah. Dua sejoli itu tidak akan bisa hanya mengabiskan waktu bersama hanya dengan bermain satu atau dua kali. Mereka akan berhenti, setelah mereka benar-benar merasa puas.
__ADS_1