KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
92. Kesedihan Hanggono


__ADS_3

"Jadi kakek setuju kalau ada orang yang mengakuisisi perusahaan kita?" tanya Decky.


"Apa boleh buat, daripada tidak jadi uang sama sekali." Jawab Hanggono.


"Aku tahu aku sudah mengecewakan kakek, dan sudah membuat kakek sangat sedih karena perbuatanku. Tapi suatu saat nanti aku pasti akan membuat kakek bangga. Aku sudah menyadari kesalahanku kek," ujar Decky.


"Kamu tidak akan pernah belajar dan menyadari kesalahanmu, kalau kamu masih ingin menikahi gadis itu. Dialah sumber dari kehancuranmu itu," ujar Hanggono.


"Aku tahu. Tapi aku harus tetap menikahi dia. Aku belum bisa memberikan alasannya saat ini, tapi aku juga tidak menyalahkan ucapan kakek," ujar Decky yang membuat Hanggono kembali mengerutkan dahinya.


"Sebenarnya apa yang anak ini pikirkan? kenapa aku merasa dia tidak lagi menyukai Olivia. Tapi kalau dia tidak suka, kenapa dia tetap ingin menikahinya? ah...terserah saja. Yang penting aku harus fokus pada tujuanku. Aku ingin mengambil alih HANG GROUP demi kebahagiaan papa," batin Egi.


"Tapi untuk sementara berikan restu kalian untukku dan Olivia," sambung Decky.


"Lalu kapan perusahaan akan di akuisisi?" tanya Hanggono.


"Besok orang yang menawarkan hal itu akan menghubungiku. Jadi mungkin besok saja aku serahkan perusahaan kita pada mereka." Jawab Decky yang membuat wajah Hanggono kembali mendung.


"Terlihat sekali kalau papa lagi sedih. Meski dimulut dia menyatakan rela, tapi wajahnya menunjukkan berbeda," bati Egi.


"Tunggu sampai perusahaan itu menjadi milikku, aku akan memberikan beliau kejutan,"


Setelah makan bersama, Decky dan kedua orang tuanya berpamitan pulang.


"Papa baik-baik aja kan pa?" tanya Egi.


"Papa baik-baik aja. Mungkin karena sudah drop dua kali, sekarang papa jadi kebal. Tolong antarkan papa kembali ke paviliun," ujar Hanggono.


"Papa nginap disini aja malam ini pa," ujar Egi.


"Tidak. Papa ingin kembali ke paviliun saja," ucap Hanggono.


Deva memberikan kode pada suaminya, agar mengantar Hanggono kembali ke paviliun.


"Malam ini Om temani kakek tidur. Aku takut terjadi sesuatu kalau dia dibiarkan sendirian," ujar Deva setengah berbisik.


"Kamu nggak apa-apa ditinggal sendirian?" tanya Egi.


"Nggak apa. disini kan banyak pelayan." Jawab Deva.

__ADS_1


"Oke. Hubungi aku kalau terjadi apa-apa, atau kamu butuh apa-apa," ujar Egi.


"Emmm." Deva mengangguk.


Egipun mengantar Hanggo kembali ke paviliun. Egi tahu, memang tempat itu yang mampu membuat Hanggono tenang.


"Egi tahu papa sedih kehilangan HANG GROUP. Tapi bukankah kita sudah memiliki E. Sampoerna? itu punya papa juga. Bahkan kalau papa mau, aku bisa merubah nama kepemilikkan perusahaan jadi atas nama papa," ujar Egi sembari menggenggam erat tangan Hanggono setibanya di paviliun.


"Tidak perlu. Papa sudah tua, tidak memikirkan hal itu lagi. Hanya saja papa merasa sayang dengan perusahaan yang sudah papa bangun lebih dari 50 tahun itu. Papa pikir semakin lama nama perusahaan itu, maka semakin melambung pula usahanya. Tapi ternyata harus rapuh seiring dengan usia pendirinya," ujar Hanggono dengan lelehan air mata.


"Sepertinya papa sangat terluka kehilangan HANG GROUP. Rasanya aku ingin memberitahunya tentang rencanaku, tapi kalau begitu kejutanku jadi gagal," batin Egi.


"Ya sudahlah pa. Lebih baik papa istirahat sekarang ya! semua juga sudah terjadi. Apapun yang terjadi dalam hidup kita, semua sudah diatur oleh yang maha kuasa. Tapi percayalah, semua pasti ada hikmahnya dibalik kejadian ini," ujar Egi.


Hanggono menganggukkan kepalanya dan kemudian berbaring diatas tempat tidur.


"Malam ini aku akan menemani papa tidur," ujar Egi.


"Tidak usah. Kasihan Deva kamu tinggal sendiri. Sekarang dia sedang hamil, takutnya dia butuh apa-apa," ujar Hanggono.


"Dia yang menyuruhku menemani papa. Jadi papa nggak usah khawatirkan itu." Jawab Egi.


"Ya sudah kalau begitu," ujar Hanggono.


"Tunggulah sebentar lagi Pa. Nggak akan lama lagi, papa akan kembali tersenyum bahagia," batin Egi.


Egi kemudian ikut berbaring disamping Hanggono, dan kemudian meraih ponselnya.


"Sayang. Sudah tidur belum?" Chat Egi.


"Belum." Balas Deva


"Kangen kamu,"


Deva tersenyum saat membaca chat dari suaminya itu.


"Dasar suami bucin," balas Deva.


"Beneran deh. Nggak enak tidur nggak peluk kamu. Rasanya seperti ada yang kurang,"

__ADS_1


"Gombal," balas Deva.


"Ya sudah. Bobok gih! jangan tidur malam-malam, kasihan anak kita,"


"Siap," balas Deva.


Deva meletakkan ponselnya diatas meja, setelah berbalas chat dengan Egi. Wanita hamil itu kemudian berbaring diatas tempat tidur dan kemudian memejamkan matanya. Sementara itu di tempat berbeda, Decky sepulangnya dari rumah Hanggono langsung pergi ke rumah Riki untuk melihat keadaan sahabatnya itu.


"Belum sembuh juga?" tanya Decky.


"Belum sepenuhnya. Masih suka nyeri saat dia bangun pagi-pagi." Jawab Riki.


"Waduh. Lama juga puasanya ya?" tanya Decky sembari terkekeh.


"Ini semua karena Deva sialan itu. Sudah dua kali dia membuat milikku seperti ini. Kalau ada kesempatan lagi, aku akan menghujamnya dengan ganas. Seganas dia mematahkan milikku." Jawab Riki dengan kilatan amarah dimata pria itu.


"Sudahlah Rik. Simpan saja dendammu itu. Sekarang dia sudah bahagia, terlebih dia sedang mengandung saat ini," ujar Decky.


"Apa? dia hamil?" tanya Riki.


"Ya. Sekarang dia bukan lagi Deva yang lugu seperti dulu. Dia sudah menjelma menjadi wanita berkelas, sejak menikah dengan Om Egi. Dia juga terlihat memancarkan aura kecantikkan yang luar biasa." Jawab Decky.


"Wait! kenapa aku merasa, dari nada bicara dan ekspresimu itu, kamu sedang menyesali semua perbuatanmu pada bocah itu?" tanya Riki.


"Ya. Aku memang menyesalinya, karena aku memang bodoh sudah menyia-nyiakan berlian demi batu kali." Jawab Decky dengan wajah murung.


"Apa maksudmu?" tanya Riki.


Decky kemudian menceritakan semua kejadian yang dia alami. Termasuk tentang Olivia yang sudah mengkhianatinya.


"Apa? HANG GROUP bangkrut?" tanya Riki dengan mulut menganga.


"Dan Olivia yang menyebabkan ini semua terjadi? jadi Om Rizwan...."


"Ya. Ternyata aku cuma bagian dari rencananya dengan kekasihnya yang bernama Marco itu. Kamu pasti bisa membayangkan gimana hancurnya hatiku saat ini Rik. Orang yang aku cintai, ternyata dialah penyebab dari kehancuran hidupku." Jawab Decky.


"Lalu apa rencanamu? kalian kan akan menikah akhir pekan nanti?" tanya Riki.


"Tentu saja aku akan tetap menikahinya. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya. Aku akan mengikatnya dan menjadikannya mesin pencetak uang untukku. Aku ingin dia menanggung semua kerugian yang aku alami selama 4 tahun ini." Jawab Decky.

__ADS_1


"Ya ampun. Aku tidak menyangka kalau hubungan kalian yang bucin akut akan jadi seperti ini," ujar Decky.


Decky hanya terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia jadi mengingat moment-moment bahagianya bersama Olivia yang banyak mereka habiskan diatas tempat tidur.


__ADS_2