
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Sumarni membuka pintu, dan menatap sinis kearah Leoni yang berada tepat di depannya.
"Bagus sekali kamu Leony. Kayla sudah meninggal seminggu, kamu baru ingat pulang. Kenapa tidak usah pulang saja sekalian?" sarkas Sumarni.
"Aku kesini bukan karena ingin kembali pulang ke rumah ini. Tapi aku ingin memberikan ini untuk putra kesayangan anda," sudah tidak ada rasa sopan lagi yang terkandung dalam kata-kata Leony terhadap mertuanya itu.
"Anda? kamu panggil saya dengan sebutan anda? ya Tuhan...kenapa sejak awal Ferdy tidak melihat seperti apa wanita yang dia nikahi ini. Aku pasti tidak akan merestui kalian, kalau tahu kamu sekurang ajar ini," ucap Sumarni.
"Mau sopan juga tergantung dengan lawan bicaranya siapa. Kalau orang seperti anda yang selalu mencari kesalahan menantunya, menghina menantunya, dan kejam dengan cucu mantunya. Lebih baik tidak usah sopan sama sekali." Jawaban Leony bertambah membuat Sumarni geram, dan bermaksud ingin mendorong menantunya itu.
"Sayang. Kamu sudah pulang?" tanya Ferdy yang tampak semringah, saat melihat kedatangan Leony.
Pria itu bahkan bermaksud ingin memeluk Leony, namun dengan sigap wanita itu menghindar. Leony kemudian mengeluarkan sebuah pena dari dalam tasnya, dan mengeluarkan kertas yang berada dalam amplop coklat.
"Sebaiknya cepat kamu tanda tangani ini mas," ujar Leony sembari meletakkan pena diatas kertas yang bertulisan surat perceraian.
"Apa ini?" tanya Ferdy sembari meraih kertas itu.
"Aku rasa jadi supir taksi, tidak menyebabkan kemampuan membacamu jadi berkurang. Aku yakin kamu bisa membaca, kalau itu adalah surat gugatan cerai dari aku." Jawab Leony.
"Aku tahu ini surat cerai, tapi maksudku kenapa kamu harus melakukan ini? aku akui aku salah dimasa lalu karena sudah mengabaikan kamu dan Kayla. Tapi sekarang aku sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya," ucap Ferdy.
__ADS_1
"Sudah terlambat mas. Sudah terlambat kalau kamu ingin memperbaiki semuanya. Hatiku sudah terlanjur sakit. Apa gunanya kamu berubah sekarang? karena Kayla juga sudah tidak ada. Apa kamu bisa membuat Kayla kembali?" tanya Leony dengan air mata yang sudah mengucur deras.
"Sudahlah Ferdy. Kabulkan saja permintaan cerainya. Wanita masih banyak di dunia ini, mama nggak suka kamu ngemis sama dia," timpal Sumarni.
"Tolong mama diam! jangan ikut campur lagi urusan rumah tanggaku. Aku nggak mau wanita lain, aku cuma mau Leony. Mama tolong pergi dari sini, aku mau bicara dengan tenang bersama Leony," ketus Ferdy.
"Tidak perlu begitu mas. Aku rasa mama kamu tetap disini saja. Aku ingin dia yang menjadi saksi perceraian kita. Jadi tolong kerja samanya, dan cepat tanda tangani surat ini," ucap Leony.
"Nggak! sampai matipun aku nggak mau bercerai dari kamu Leony. Sayang, aku mohon beri aku kesempatan buat memperbaiki semuanya ya? aku mohon jangan tinggalin aku, aku nggak bisa tanpa kamu Leony. Hiks...." Ferdy tiba-tiba berlutut di depan Leony.
"Maaf mas. Apapun yang kamu katakan dan kamu lakukan, aku akan tetap meminta cerai dari kamu. Keputusanku sudah bulat, terlebih aku sudah tidak mencintaimu lagi," ujar Leony sembari memalingkan wajahnya.
"Nggak! kamu pasti bohong kan? aku tahu kamu sangat mencintaiku, begitu juga denganku," Ferdy memegang kedua lengan Leony.
"Maaf mas. Selama beberapa bulan ini aku sudah bersama pria lain. Dia mencintaiku, melebihi kamu mencintaiku. Dia juga mampu memberikan apapun yang aku mau. Dan asal kamu tahu, hubunganku sudah sangat jauh sama dia. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan lagi hubungan seperti apa yang aku maksud itu," ujar Leony.
Tangan Ferdy yang semula berada dipundak Leony, mendadak luruh kebawah diiringi air mata yang jatuh menetes dipipi pria itu.
"Kalau itu pilihanmu, kalau itu yang bisa membuatmu bahagia. Aku akan ikhlas melepasmu Leony. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan selama ini," sambung Ferdy.
"Pernah mas. Kamu pernah membuatku bahagia meskipun sesaat. Aku tidak akan pernah memungkiri itu. Tapi rasa kecewaku sama kamu sudah terlampau besar, hingga aku lebih memilih pergi daripada bertahan sama kamu. Maaf, aku nggak bisa meneruskan bahtera rumah tangga kita lagi," ujar Leony.
"Yah...aku mengerti," ujar Ferdy sembari menyeka air matanya.
Ferdy dengan cepat menandatangani surat cerai itu dan menyerahkannya pada Leony.
"Aku tidak akan pernah datang kepersidangan, ataupun mediasi. Agar proses perceraian kita lebih cepat seperti yang kamu mau. Leony, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu," Ferdy mengulurkan tangannya dan dijabat oleh Leony dengan tangan bergetar.
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" tanya Ferdy yang kemudian dijawab anggukkan kepala oleh Leony.
__ADS_1
Greppppp
Ferdy dan Leony saling berpelukkan dan menangis satu sama lain. Mereka memang masih saling mencintai, tapi dinding pemisah mereka terlalu tinggi dan terjal untuk dilewati. Mereka tidak mungkin memaksa untuk bersama, karena pada akhirnya luka yang mereka rasakan akan kembali menganga.
"Pergilah! kejarlah orang yang kamu cintai," ucap Ferdy setelah pelukkan mereka terlerai.
Leony menyeka air matanya sembari mengangguk. Saat wanita itu baru berbalik badan, Ferdy segera masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Tubuh pria itu merosot dari daun pintu hingga bersarang dilantai. Tangisnya pecah, dan Leony masih bisa mendengar tangisan itu. Mendengar suara tangisan Ferdy, Leony kembali terisak. Tubuhnya perlahan menjauhi rumah itu, karena dia tidak terpikirkab untuk mengulang ke masa lalu.
🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️
"Mas. Aku sudah mendapatkan tanda tangan Ferdy. Selanjutnya bagaimana? apa aku langsung bawa saja ke pengadilan agama?" tanya Leony.
"Serahkan berkasnya padaku. Biar temanku yang mengatur semuanya. Kamu tidak perlu datang kepengadilan, kalau dia juga tidak mau datang. Biarkan temanku yang memprosesnya hingga keluar akta cerai untuk kalian." Jawab Vino.
"Makasih mas," ucap Leony.
"Kalau mengucapkan terima kasih harus yang tulus dong," ujar Vino.
Leony mengerti apa yang Vino maksud. Tidak perlu berbasa-basi, Leony melancarkan aksinya agar membuat Sugar Daddynya itu terpuaskan.
"Nggak terasa 5 bulan sudah berlalu mas. Bulan depan kontrak kita sudah berakhir," ujar Leony disela-sela pinggulnya yang meliuk-liuk diatas tubuh pria matang itu.
Tidak ada respon apapun dari pria itu. Leony bisa melihat kalau Vino saat ini tengah memejamkan matanya, sembari kedua tangannya bermain di kedua asetnya yang berharga.
"Apa yang kamu pikirkan Leony. Apa yang kamu harapkan dari laki-laki ini. Kalian hanya punya hubungan simbiosis mutualisme. Jika kontrak sudah berakhir, maka tamat pula posisimu," batin Leony.
Leony semakin mempercepat gerakkannya, karena dia tahu dirinya dan juga Vino akan mendapatkan pelepasan bersama.
"Berapa kompensasi yang kamu inginkan setelah kontrak ini berakhir?" tanya Vino setelah mencabut kepemilikkannya dan berbaring disamping sugar babynya itu.
__ADS_1
Leony tersenyum getir mendengar pertanyaan Vino. Meski dirinya tahu tidur dengan pria itu akan dibayar, tapi entah mengapa Leony masih saja merasa terhina tiap kali Vino membahas tentang pembayaran harga dirinya.