KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
54. Cari Kandidat Lain


__ADS_3

"Kenapa harus mantan istri Decky pa? apa tidak cari kandidat lain saja?" tanya Egi yang berusaha menolak secara halus.


"Papa tidak mau wanita lainnya. Papa cuma mau dia! papa tahu papa kelewatan. Tapi terus terang saja, papa merasa bersalah dengan anak itu. Mungkin kamu akan mengira, papa ingin menjadikanmu tumbal keluarga. Tapi percayalah, dia anak baik dan cerdas. Andai papa tahu Decky akan menyia-nyiakan anak itu, tentu sejak awal dia akan papa jodohkan denganmu," ujar Hanggono panjang lebar.


"Tapi kalau kamu menolak, tidak apa-apa. Mungkin dimasa tua papa memng harus merasakan rasanya dikecewakan oleh orang-orang yang papa sayang," sambung Hanggono.


Egi menghela nafas panjang. Hanggono seolah memberikan dirinya kebebasan untuk memilih jodohnya, tapi disisi lain Hanggono seolah memberikan ultimatum.


"Baiklah. Atur saja kalau begitu," ujar Egi yang membuat senyum diwajah keriput Hanggono mengembang sempurna.


"Papa tahu kamu memang putra kesayanganku. Besok aku akan memanggil anak itu kemari untuk membicarakan masalah ini dengannya. Papa ingin kalian menikah secepatnya. Tidak masalah jika kamu belum mau mempublish pernikahanmu. Yang penting kalian sah menikah dulu," ucap Hanggono.


"Tapi papa jangan menekan anak itu kalau memang dia tidak mau melakukan pernikahan ini. Aku tidak mau hasilnya berakhir buruk, dan dia akan kabur setelah mengetahui aku ini pria yang cukup dewasa. Kalau boleh tahu, berapa usia anak itu?" tanya Egi.


"19 tahun. Dia baru saja berulang tahun." Jawaban Hanggono membuat Egi jadi terkejut.


"19 tahun?" tanya Egi.


"Ya. Jadi kamu nggak rugi dapat daun muda." Jawab Hanggono terkekeh.


"Daun muda tapi tetap aja bekas. Bisa-Bisanya memberikan aku sisa anak bajingan itu," ucap Egi.


"Seperti kamu tidak bajingan saja. Kita ini sama-sama pengusaha. Apa kamu pikir seorang pengusaha tidak pernah lepas dari skandal dengan seorang wanita cantik? Papa yakin kamu juga sudah pernah melakukannya. Ya walaupun tidak semua pengusaha seperti itu, tapi papa yakin kamu sama bajingannya dengan papa," ujar Hanggono sembari terkekeh, sementara Egi hanya menggelengkan kepalanya.


"Tapi meski bajingan, kamu juga harus tahu batasan. Jika ada kesalahan saat sedang berpetualang, kamu harus berani bertanggung jawab dengan perbuatanmu," sambung Hanggono.


Kata-Kata Hanggono mengingatkannya dengan sosok Leony. Ingin rasanya dia bercerita tentang sosok Leony tapi dia yakin Hanggono tidak akan menyukai hal itu. Terlebih Leony sudah pernah menikah dan punya anak. Bukan status yang mungkin Hanggono beratkan, tapi kisah masa lalu mereka yang pahit membuat Hanggono memblacklist Leony jadi calon menantu.


"Bisa-Bisanya aku melakukan kesalahan itu bersama Leony. Kalau papa sampai tahu, papa pasti akan kecewa. Tapi apa salah Leony? akulah yang memulai lebih dulu. Lebih baik aku ikuti saja dulu perjodohan ini, mungkin anak itu bisa aku ajak kompromi kedepannya," batin Egi.


"Kamu harus percaya. Kalau papa nggak salah memilihkan jodoh untukmu. Papa hanya tidak ingin dia jatuh pada laki-laki yang tidak tepat lagi," ucap Hanggono.


"Apa menurut papa aku pria yang pantas untuk dia?" tanya Egi.


"Sangat." Jawab Hanggono.

__ADS_1


"Kalau menurut papa dia wanita yang pantas untukku, dan aku pantas untuk dia. Aku akan mengabulkan keinginan papa," ujar Egi.


"Anak baik," ujar Hanggono sembari menepuk-nepuk bahu putranya itu.


Sementara itu di tempat berbeda Decky tengah berbincang hangat dengan Riki. Suasana hati Decky memang sedang tidak baik saat ini, karena sudah satu minggu Olivia berada si Singapura untuk jalan-jalan. Ditambah lagi dia tidak bisa menemukan keberadaan Deva, untuk menanyakan perihal sertifikat palsu yang ada padanya.


"Kamu janji pulang besok ya!" ucap Decky diseberang telpon.


"Pokoknya aku akan tunggu kamu di bandara besok pagi, titik."


"Ya sudah. Hati-Hati! love you,"


Decky mengakhiri perbincangan lewat sambungan telpon itu.


"Lebay banget sih kalian. Nggak bosan apa ketemu terus? biarinlah dia ngeluangin waktu sendiri. Dia juga butuh enjoy, nggak ngelayanin kamu di ranjang terus," ledek Riki.


"Hanya perkataan orang jomblo yang begitu," ujar Decky sembari terkekeh.


"Oh ya ngomong-ngomong sepertinya Deva sudah menemui kakekku," sambung Decky.


"Karena kakek sudah tahu, kalau aku dan Deva sudah bercerai. Aku sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran sama bocah kurang ajar itu. Berani-Beraninya dia menipuku," ucap Decky.


"Sebelum kamu memberinya pelajaran, serahkan dia padaku dulu. Pokoknya jatah perawannya harus tetap jadi milikku. Aku ingin dia merasakan rasanya sakit dibagian miliknya yang berharga akibat perlakuan kasarnya," ujar Riki.


"Kami tenang saja. Aku masih ingat penderitaanmu yang disebabkan oleh ulahnya itu," ucap Decky.


"Jadi kapan rencana pernikahanmu dengan Olivia?" tanya Riki.


"Aku belum tahu. Olivia ingin mengundurnya sebentar lagi. Aku tidak tahu kenapa dia ingin seperti itu. Padahal gadis lain kalau diajak menikah olehku, pasti tidak mikir dua kali. Bagiku Olivia memang istimewa." Jawab Decky.


"Oh ya. Olivia ke Singapura sama siapa?" tanya Riki.


"Sama teman-temannya." Jawab Decky.


"Teman? teman yang mana ya? perasaan selama kalian 3 tahun pacaran, nggak pernah melihat Olivia bergaul dengan teman perempuan. Kita kan selalu main bertiga?" tanya Riki.

__ADS_1


Decky terdiam. Pria itu seolah-olah mengingat kebenaran dari ucapan sahabatnya itu.


"Benar juga. Sahabat Olivia siapa ya? aku tidak pernah dia kenalkan dengan sahabatnya. Bisa dibilang, akulah pacar sekaligus temannya," batin Decky.


"Nanti akan aku pastikan. Mungkin saja itu temannya satu sekolah, atau temannya di agensi model dulu," ujar Decky.


"Ya udahlah gue cabut dulu kalau gitu. Udah larut waktunya istirahat," ucap Riki.


"Oke. Hati-Hati ya!" ucap Decky.


🌶️🌶️🌶️🌶️


"Ada apa kakek Hanggono menghubungiku?" ucap Deva lirih.


Deva menggeser tanda panah hijau, dan menerima panggilan itu.


"Ya kek?" tanya Deva sembari menautkan tas berisi laptop di motor maticnya.


"Apa kamu kuliah hari ini?" tanya Hanggono


"Iya kek." Jawab Deva.


"Kamu pulang jam berapa?" tanya Hanggono.


"Hari ini pulang jam 2. Ada apa kek? apa kakek ingin sesuatu?" tanya Deva.


"Kakek ingin membicarakan hal penting denganmu. Apa kamu bisa mampir ke paviliun?" tanya Hanggono.


"Bisa kek. Nanti setelah pulang aku pasti akan mampir kesana. Kakek mau dibawain apa?" tanya Deva.


"Nggak usah. Kakek cuma pengen ketemu kamu aja," ujar Hanggono.


"Oke kek. Sampai nanti ya!" ucap Deva.


Deva dan Hanggono mengakhiri percakapan itu. Hanggono bisa bernafas lega, karena Deva setuju untuk menemuinya. Dia sangat berharap, Deva menyetujui usulnya untuk menikah dengan Egi.

__ADS_1


__ADS_2