
"Tumben dia nggak nyambut aku, terus nggak menyeret aku ke meja makan buat nyicipin masakkan dia? sudah hampir seminggu aku jadi kelinci percobaannya, dan hari ini sepertinya dia nggak masak," gumam Egi yang melihat meja makan tanpa ada makanan apapun.
"Apa dia pergi keluar ya? tapi kok nggak bilang?"
Karena tidak ingin menerka-nerka, Egi bergegas naik keatas untuk memastikan keberadaan Deva di kamarnya.
"Dev...Deva,"
Tok
Tok
Tok
Ceklek
Karena tidak ada jawaban, Egi menekan handle pintu untuk memastikan keberadaan Deva. Dan Egi bisa melihat, ada sesuatu yang bergetar dari balik selimut.
"Deva," Egi menarik selimut Deva, dan mendapati wanita itu tengah menggigil kedinginan.
"Deva? kamu sakit?" tanya Egi sembari meraba kening pelayannya itu.
"Suhu tubuh kamu tinggi sekali. Ayo kita pergi ke rumah sakit," ujar Egi.
"N-Nggak mau Om. Aku minta tolong dibelikan obat demam aja," ucap Deva.
"Kamu sudah makan?" tanya Egi.
"Belum Om." Jawab Deva.
Egi kemudian menelpon supirnya yang ternyata belum jauh pergi dari rumahnya. Egi nitip minta dibelikan obat demam, dan juga makanan untuk Deva dan dirinya.
"Kamu tunggu sebentar. Pak Made sebentar lagi datang bawain obat sama makanan. Aku mau mandi dan ganti baju dulu," ujar Egi yang dijawab tanpa kata oleh Deva.
Egi kembali masuk kedalam kamar Deva, dan melihat makanan dan juga obat masih utuh. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Pendingin ruangan juga Deva matikan, karena wanita itu merasa sangat kedinginan. Egi bisa melihat, ada banyak keringat di dahi pelayannya yang tengah terpejam itu.
"Dev. Bangun Dev! ini kamu belum makan ya? wajah kamu pucat sekali," Egi berusaha membujuk Deva untuk bangun.
Namun mata Deva terlihat sekali sangat sulit terbuka. Egi kemudian kembali menatap kening wanita itu, yang ternyata suhu tubuhnya masih sangat tinggi.
"Kamu makan dulu ya! setelah itu minum obat. Habis itu kalau mau lanjut tidur silahkan aja," ujar Egi sembari meraih makanan untuk menyuapi Deva.
__ADS_1
Deva menoleh kearah Egi, dan memaksakan diri untuk duduk.
"Buka mulutnya!" ujar Egi.
Deva yang tidak ingin membantah, langsung membuka mulutnya. Namun disuapan ke 5, Deva menolak karena perutnya terasa sangat mual.
"Cukup Om. Aku pusing dan mual banget. Aku mau lanjut tidur aja," ujar Deva yang tubuhnya mulai merosot kembali.
"Jangan baring dulu! ini minum dulu obatnya," ujar Egi yang kemudian meraih obat dan air minum.
Deva menurut saja, karena dia ingin segera tidur kembali. Egi kemudian keluar dari kamar Deva, dan turun kebawah untuk mengambil baskom berisi air hangat dan juga handuk kecil untuk kompresan.
Hampir semalaman Egi mengompres kening Deva. Dan pada pukul 4 dini hari, barulah dia menyerah dan tidur disamping Deva.
🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️
Tubuh Deva menggeliat saat dirasa tubuhnya sedikit mulai membaik. Deva meraba keningnya, saat merasa sesuatu yang dingin menempel dikeningnya itu.
"Handuk kecil? siapa yang ngompres aku?" batin Deva.
Deva menoleh kesamping tempat tidurnya, dan melihat wajah tampan Egi yang lelah.
"Jadi dia yang jagain aku semalaman? baik juga Om tua. Sepertinya dia kelelahan, sekarang sudah jam 5. aku akan buatin dia sarapan spesial sebagai ucapan terima kasih," batin Deva.
"Kira-Kira Om tua kerja nggak ya hari ini? aku kasihan mau bangunin dia. Dia terlihat masih ngantuk banget," Deva menatap wajah tampan Egi yang berkeringat, karena Deva lupa menyalakan pendingin ruangan.
Deva kemudian meraih remote Ac. Dan tidak membangunkan Egi yang tertidur lelap.
"Pak Made?" Deva berpapasan dengan supir Egi ditangga, saat dirinya akan turun.
"Saya mau jemput tuan Egi non. Apa beliau masih di kamar?" tanya Made.
"Dia masih tidur. Kayaknya dia masih kecapek'an deh pak." Jawab Deva.
"Masih tidur? apa beliau sakit? soalnya hari ini beliau ingin saya jemput pagi-pagi, karena akan ada meeting penting dengan klien," ujar Made.
"Ap-Apa?" Deva terkejut.
"Pak Made tunggu di ruang tamu, nanti saya yang akan bangunin pak Egi," Deva bergegas balik badan, dan kembali ke kamarnya.
"Om. Bangun Om! om kerja nggak hari ini? kata pak Made, Om ada meeting penting pagi ini?" Deva menggoyang-goyangkan tubuh Egi.
__ADS_1
Blammmmmm
Mata Egi langsung terbuka sempurna. Pria itu manatap Deva yang jauh lebih Baikkan dari semalam.
"Jam berapa sekarang?" tanya Egi.
"Hampir jam 7." Jawab Deva.
"Apa?" Egi segera bangkit dari tempat tidur, dan berlari kedalam kamarnya sendiri.
Deva yang merasa bersalah langsung turun ke bawah, dan menyiapkan bekal sendwich untuk Egi. Setelah selesai, dia kembali keatas untuk memastikan persiapan Egi. Dapat Deva dengar, Egi tengah membersihkan diri di kamar mandi. Deva dengan inisiatif menyiapkan pakaian, sepatu, kaos kaki, dan juga dasi. Deva bahkan tidak malu menyiapkan pakaian dalam untuk Egi.
Ceklek
Egi keluar dari kamar mandi, sementara Deva kembali turun kebawah. Pria itu cukup terkejut, karena semua pakaian yang dia inginkan sudah tersedia diatas tempat tidur.
"Bagus juga selera si bocil. Baiklah, untuk menghargainya aku akan pakai baju pilihan dia. Oh astaga, dia bahkan menyiapkan pakaian dalam untukku. Benar-Benar deh si bocil ini," gumam Egi.
Egi yang tidak ingin banyak berfikir, bergegas mengenakan pakaian. Karena dia tidak ingin terlambat. Setelah selesai, dia bergegas turun kebawah.
"Ayo pak! saya sudah hampir terlambat," ujar Egi.
Egi berjalan lebih dulu, namun langkahnya terhenti saat Deva memanggilnya.
"Om. Ini bekal sarapan buat Om. Om jangan sampai nggak sarapan. Ini air mineral buat minum Om. Nanti dimakan didalam mobil saja," Deva menyodorkan kotak makanan berwarna biru, dan juga sebotol air mineral di hadapan Egi.
Tanpa bayak bicara Egi meraih kedua benda itu dan beranjak pergi. Namun sesaat kemudian langkahnya kembali terhenti, dan kembali mendekati Deva secara perlahan.
"Makasih bocil," ucap Egi sembari mengusap puncak kepala Deva.
Deg
Deg
Deg
Jantung Deva berdebar tiba-tiba. Tidak hanya itu, pipi wanita itu jadi merona. Egi yang tidak terlalu memperhatikan, kembali berbalik badan, dan pergi bekerja.
"Omegot...Om tua bisa aja buat jantungku berdebar. Bisa bahaya kalau sampai aku beneran suka sama Om tua. Aku nggak boleh membiarkan itu terjadi. Sudah cukup perasaan halusku dimanfaatkan oleh orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab. Dan aku harus membentengi diri, juga stop suka sama orang yang sudah tuwirnya kebangetan."
"Apalagi sama Om Egi. Dia mah bukan cuma tuwir buat aku, tapi ibarat makanan dia itu sudah kadaluarsa. Jadi otomatis harus aku coret dari daftar calon suami dimasa depan," sambung Deva.
__ADS_1
Deva yang tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak, dia kemudian menyibukkan diri dengan beberes rumah. Tanpa dia tahu, beberapa jam kedepan akan ada orang lain yang mengusik ketenangan hatinya.