
"Hiks...pantas saja dia nggak mau mengungkapkan perasaannya. Ternyata dia sudah terikat dengan wanita itu. Sekarang aku sadar, dia nggak mungkin memilihku. Seandainya tidak ada anak diantara mereka, mungkin saja aku bisa merebut Om tua dari wanita itu. Bayi itu nggak berdosa, tapi kenapa Om Egi harus sembarangan bercocok tanam dengan wanita lain? kenapa semua pria yang aku sukai seperti itu? aku benar-benar trauma kalau begini. Hiks...."
Deva terisak didalam kamarnya. Sementara Egi yang masih mengobrol dengan Hanggono masih belum menemukan solusi yang pas.
"Siapa wanita itu?" tanya Hanggono.
Egi benar-benar takut untuk berterus terang, karena dia tahu. Hanggono sangat tidak menyukai Leony.
"Nanti juga papa akan tahu setelah aku menikahinya." Jawab Egi berteka-teki.
"Jadi kamu akan menikahinya dan mengorbankan Deva?" tanya Hanggono.
"Ya aku harus bagaimana Pa? aku tidak punya pilihan lain." Jawab Egi.
"Seharusnya kamu tidak menikahi Deva, kalau memang kamu punya wanita lain sebelum aku menjodohkanmu. Kalau papa tahu kamu sudah memiliki calon, papa nggak akan menjodohkanmu dengan Deva. Kasihan anak itu. Sudah dua kali keluarga kita menghianatinya. Padahal papa menjanjikan kebahagiaan padanya, dengan menyanjungmu setinggi lagit. Tapi...."
"Maafkan aku pa. Maaf sudah mengecewakan papa. Tapi aku juga tidak menyangka akan jadi seperti ini. Aku juga cuma sekali melakukan hal itu dengannya, tapi aku pikir nggak secepat itu jadi calon bayi," ucap Egi.
"Bodoh. Lalu apa gunanya kamu jadi distributor alat pengaman terbesar dikota ini, bahkan digadang-gadang menjadi produsen terbesar di Asia. Kenapa kamu ceroboh? apa kamu yakin itu benar-benar anak kamu?" tanya Hanggono.
"Dia memang janda, tapi aku yakin dia bukan wanita murahan." Jawab Egi.
"Ap-Apa? kamu menghamili janda? ya Tuhan Egi...kelakuan Decky sudah membuat papa hampir kena serangan jantung Sekarang giliran kamu yang membuat papa akan terkena struk. Papa nggak tahu lagi mesti harus bagaimana," ucap Hanggono dengan raut wajah kecewa.
"Pa. Maafin Egi pa. Egi benar-benar khilaf," Egi meneteskan air mata sembari mencium tangan Hanggono.
"Sekarang kita harus bagaimana menghadapi Deva?" tanya Hanggono.
Egi terdiam, karena dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Apa menurut papa kalau aku jujur dengan Deva, dia tidak bisa menerima hal ini?" tanya Egi.
"Menurutmu, kalau istrimu mengaku dihamili pria lain, apa kamu bisa menerima?" Hanggono membalikkan pertanyaan.
"Aku akan membunuh pria itu kalau berani menyentuh Deva." Jawab Egi.
"Sana! akui perbuatanmu pada Deva, kalau kamu memang ingin berumur pendek," ujar Hanggono.
__ADS_1
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Egi.
"Kalau wanita itu memang minta dinikahi secara siri, ya nikahi saja. Setelah anak itu lahir, kamu bisa menceraikannya." Jawab Hanggono.
Egi terdiam. Dia mulai memikirkan saran Hanggono.
"Beri dia uang tutup mulut, agar tidak mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian. Sebab kalau Deva sampai tahu hal ini, siap-Siap kamu akan dicampakkan oleh Deva," sambung Hanggono.
"Dan ingat! ada hal yang bisa diucapkan, dan ada yang tidak pantas diucapkan. Rencanamu yang ingin menceraikannya setelah melahirkan anakmu, tidak perlu kamu katakan pada wanita itu," ujar Hanggono.
"Iya pa." Jawab Egi.
"Sekarang pulanglah ke rumah utama. Jangan biarkan masalahmu dan Deva berlarut-larut. Kalau dia melakukan kesalahan, maklumi saja. Usianya masih sangat muda. Kamu sebagai pria dewasa harus lebih mengayomi. Dibandingkan dia, kesalahanmu itu lebih fatal," ujar Hanggono.
"Iya pa. Ya sudah, Egi pulang dulu ya Pa! papa kalau kesepian disini, tinggal saja di rumah utama," ujar Egi.
"Ya. Nanti kapan-kapan papa akan menginap kesana," ucap Hanggono.
Egi kemudian pulang ke rumah Utama. Setelah membersihkan diri, pria itu berniat masuk ke kamar Deva untuk meminta maaf.
Tok
Tok
Tok
Egi yang ingin masuk, terhalang karena Deva menguncinya dari dalam.
"Dev. Deva, buka pintunya. Aku mau bicara," ujar Egi.
"Apa dia ingin membicarakan soal hubungannya dengan wanita itu? dia pasti ingin membahas tentang perceraian kami. Ya Tuhan...rasanya aku tidak sanggup mendengar hal itu dari mulutnya. Rasanya sakit sekali," batin Deva dengan lelehan air mata.
"Dev. Aku mohon buka pintunya. Aku minta maaf karena sudah menyakitimu. Kamu bisa memotong tanganku karena sudah berbuat kasar," ucap Egi.
"Oh...jadi dia mau minta maaf soal tamparan tadi? tapi apa gunanya dia minta maaf soal itu. Lambat laun dia pasti akan membahas masalah perceraian juga. Ini hanya bicara soal waktu saja," Batin Deva.
Deva membiarkan Egi mengetuk hingga lelah. Namun tekadnya sudah bulat, kalau dia sama sekali tidak tertarik untuk membukakan pintu untuk pria itu. Karena tangannya mulai sakit, Egi menghentikan usahanya itu dan kembali ke kamar.
__ADS_1
🌶️🌶️🌶️🌶️
Tok
Tok
Tok
"Dev. Kamu nggak ke kampus? ayo sarapan bersama!" bujuk Egi, namun tetap tak ada jawaban, dan pintu kamar dalam keadaan terkunci.
"Tuan. Tuan cari Nyonya?" tanya Pelayan.
"Iya. Kemana dia?" tanya Egi.
"Nyonya sudah keluar dari jam 6 pagi. Katanya ada kelas pagi." Jawab Pelayan.
"Apa dia sudah sarapan?" tanya Egi.
"Beliau langsung pergi tanpa sarapan." Jawab Pelayan.
Egi menjadi lesu setelah mendengar ucapan Pelayan. Diapun pergi tanpa sarapan. Dan kejadian seperti itu berlangsung hampir satu minggu. Sebisa mungkin Deva selalu menghindari Egi.
"Sampai kapan kamu mau menghindari suamimu. Daripada menghindar, lebih baik kamu hadapi dengan cara terhormat. Temui wanita itu," ujar Rizky.
"Berkata memang lebih mudah diucapkan. Tapi kamu tidak tahu beban dihatiku saat ini. Dadaku terasa sesak, membayangkan suamiku akan menceraikan aku, dan menikahi wanita lain. Kami saling mencintai, tapi cinta kami terhalang oleh anak itu," ucap Deva.
"Kalau kamu memang mencintai suamimu, dan tidak mau dipisahkan. Kamu terima saja dia sebagai madumu, dan anggap anak itu sebagai anakmu juga. Bereskan?" ujar Rizky.
"Rasanya ingin sekali kujejali mulutmu pakai kaos kaki. Enak aja kalau ngomong. Meski aku mencintai suamiku, aku nggak akan pernah mau dimadu. Ini hanya masalah waktu. Kalau aku bercerai dari dia, suatu saat aku pasti akan menemukan pasangan yang baru. Sudahlah Ki, kamu benar juga. Aku akan menemui wanita itu, dan membiarkan mereka bersatu. Aku juga sudah lelah main kucing-kucingan seperti ini," ujar Deva.
"Nah...begitu dong," ucap Rizky.
Egi melihat Deva yang mengobrol serius di kantin. Diapun mengurungkan niatnya untuk menemui Deva.
"Mungkin ini akan menyakitkan bagi kami berdua. Tapi kalau memang anak ingusan itu bisa membuat Deva bahagia, mau tak mau aku harus melepaskannya. Aku harus ikhlas, dan tidak boleh egois," batin Egi.
Egipun memutuskan pulang ke rumah. Meskipun Deva berubah sikap padanya, Egi akan menerima semua itu.
__ADS_1