
"Aduh...gegara bangun kesiangan, jadi panas banget pergi ke pantainya. Untung tadi beli topi berdaun lebar, lumayan buat menghindari panas," Deva yang tengah mengenakan gaun putih bertali spagetti, serta kain pantai yang dia letakkan di lehernya, tampak cantik dilengkapi dengan topi berdaun lebar.
Cekrekk
Cekrekk
Cekrekkk
Tanpa Deva tahu, seseorang mencuri fotonya yang tengah merendamkan kaki kedalam air laut.
"Cantik," ucap pria yang tengah asyik memfoto semua objek yang dianggapnya menarik.
Deva kemudian menjatuhkan bokongnya diatas pasir. Dia tidak perduli meski air laut membuat bajunya basah, karena dia memang belum mandi. Wanita itu tampak menatap bebas kearah laut lepas, pikirannya menerawang memikirkan masa depannya kelak.
"Aku harus kemana sekarang? harusnya hari ini aku mencari kontrakkan. Meskipun Guest house itu hanya 129 ribu semalam, tapi itu cukup boros. Aku harus mencari kontrakkan bulanan. Tapi dimana aku harus mencarinya? aku tidak kenal siapapun disini," batin Deva.
Saat matahari dirasa sudah mencapai puncak kepalanya, Deva memutuskan kembali ke penginapan untuk membersihkan diri. Hari ini dia memutuskan untuk mencari kontrakkan murah dan juga pekerjaan.
"Hari ini minimal aku harus mendapatkan kontrakkan murah. Setelah itu aku harus cari pekerjaan. Untung aku membawa ijazah SMAku. Kalau aku nggak bekerja, takutnya uangku nggak akan cukup buat kabur selama 3 bulan. Aku memang membawa ATM buat penghasilan butik, tapi aku tidak bisa menggunakannya. Kalau aku gunakan, aku akan terlacak disini," ucap Deva lirih.
Deva kemudian keluar dari penginapan, dengan menenteng sebuah map coklat ditangannya.
"Sekarang aku mau ke arah mana ya! kanan, atau kiri?" Deva berbicara dengan dirinya sendiri saat keluar dari simpang penginapannya. Dan Deva memutuskan berjalan kearah kiri sembari melihat-lihat kearah kiri dan kanan jalan.
Setelah berjalan kurang lebih 300 meter, Deva akhirnya menemukan kost yang terbilang lumayan murah.
"Mendinglah, daripada aku membayar 129 ribu permalam. Lebih baik membayar 1 juta sebulan. Lagian aku cuma 3 bulan juga disini," batin Deva.
"Nanti sore saya akan pindah. Sekarang saya kasih DP dulu ya bu!" ucap Deva.
"Boleh." Jawab ibu kost.
Devapun membayar separuh uang kost, setelah itu dia pergi untuk mencari pekerjaan.
"Aku harus kerja apa ya? aku nggak punya pengalaman apapun. Aku juga tidak pandai memasak," gumam Deva.
__ADS_1
"Ah...lapar. Sebaiknya aku makan siang dulu. Tapi sejak aku berjalan sejauh ini, aku tidak melihat satupun warteg. Kalau makan di restauran, itu akan boros. Tapi untuk hari ini nggak apalah, nanti aku akan tanya-tanya ibu kost tempat makan yang murah disekitar sini,"
Deva terus berjalan semampu kakinya. Sampai wanita itu menemukan sebuah kafe yang lumayan sangat ramai pengunjung.
"Kalau ramai, pasti rasanya enak kan?" ucap Deva. Kakinya mulai melangkah masuk, dan mencari tempat duduk dibagian atas. Pemandangan dari atas sangatlah indah, karena pantai Kuta bisa terlihat dari sana.
Setelah Deva memesan sepiring nasi goreng, dan satu gelas es jeruk nipis. Deva duduk dengan santai sembari bemain ponselnya.
Cekrekkkk
Seorang pria kembali memotret dirinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Deva. Setelah menunggu hampir 15 menit, makanan yang dia pesanpun datang. Deva tidak ingin membuang-buang waktu, karena dia berniat ingin mencari pekerjaan.
Setelah makan, dia bergegas membayar makanannya dan dia akan melangkah keluar sampai kakinya terhenti saat membaca lowongan pekerjaan yang tertempel di salah satu tiang kafe.
"Dibutuhkan waitress. Apa aku harus melamar dibagian ini? oh ya ampun, di Jakarta aku jadi bos butik. Disini aku malah jadi pelayan, yang benar saja. Tapi...."
"Ya sudahlah. Aku jalani ini saja dulu. Daripada aku menganggur? alamat bulan depan aku nggak bisa makan," gumam Deva.
"Permisi pak," sapa Deva pada seorang pria berkemeja rapi.
"Apa bapak manager di kafe ini?" tanya Deva.
"Betul. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya lihat di tiang itu ada loker dibagian Waitress. Apa lowongan itu masih ada?" tanya Deva.
Manager itu menatap Deva dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seolah dia tidak yakin dengan kemampuan Deva menjadi seorang waitress handal.
"Apa kamu yakin bisa kerja? penampilanmu seperti anak orang kaya. Saya nggak mau piring, gelas disini hancur karena kamu nggak becus kerja," tanya sang manager.
"Saya bisa kok pak." Jawab Deva.
"Kalau begitu hari ini kamu saya training dulu tanpa di gaji. Kalau hari ini lolos, besok kamu bisa mulai bekerja dari jam 9 pagi," ucap sang manager.
"Yang bener pak? saya setuju kok," tanya Deva.
__ADS_1
"Oke. Reni...." seru manager.
"Ya pak!"
"Bimbing pelayan baru ini. Apa itu Cv kamu?" tanya Manager.
"Ya pak. Silahkan simpan Cv saya pak." Jawab Deva sembari memberikan map coklat pada manager itu.
Deva kemudian dibawa Reni kebelakang, untuk mempelajari tugas apa saja yang harus dia lakukan. Deva yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, tentu tidak kesulitan baginya untuk memahami pekerjaan apa saja yang akan dia lakukan nanti. Bahkan dia terbilang cukup cekatan, hingga manager langsung menyetujui dia bekerja keesokkan harinya.
🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️
"Aduh...tulang-tulangku terasa remuk semua. Apa tiap hari tuh kafe seramai itu?" gerutu Deva yang terpaksa masih menginap di guest house, karena dia kemalaman pulang dari kafe.
Keesokkan harinya pagi-pagi sekali Deva malakukan check out dari guest house itu, dan mulai pindah di kostnya yang baru. Setelah membersihkan diri, Deva bergegas pergi ke kafe itu untuk kembali bekerja.
"Sepertinya hari ini tidak begitu ramai seperti hari kemarin. Apa karena kemarin hari minggu, jadi orang-orang banyak liburan," batin Deva.
"Deva. Di meja nomor 7 ada tamu penting yang sedang melakukan meeting. Kamu antar minuman ke meja itu lebih dulu ya! setelah itu kembaki kemari buat antar makanannya," ujar sang manager.
"Baik pak." Jawab Deva.
Deva kemudian meraih nampan yang berisi 4 gelas jus, dan membawanya ke meja nomor 7. Dengan percaya diri Deva melangkah menuju meja itu, karena dia yakin tempat itu belum ramai pengunjung sehingga kecelakaan kerja akan minim menurut pikirannya.
Namun tentu saja harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kejadian yang tidak seharusnya terjadi, akhirnya tetap terjadi juga. Saat akan sampai di meja itu, salah satu kaki pria yang duduk di meja itu memblokir jalan Deva. Sehingga Deva jatuh terjerembab, dan minuman itu tumpah semua di tubuh pria itu.
Prakkkk
Prakkk
Prakkk
Prakkk
Klontangggg
__ADS_1
Semua pecahan gelas berhamburan ke lantai, setelah mampir di tubuh pria yang memblokir jalan Deva lebih dulu. Keributan itu mengundang semua karyawan kafe keluar untuk melihat apa yang terjadi, termasuk sang manager yang kini tengah berwajah pucat pasi.