KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
57. Bulan Madu


__ADS_3

"Aku berjaji." Jawab Egi yang membuat Deva tersenyum senang.


"Maafkan aku Bocil. Saat ini aku tidak bisa memenuhi janji, dan berterus terang. Tapi aku janji akan mengakhiri hubunganku dengan Leony secepatnya saat masuk kantor nanti," batin Egi.


"Oh ya. Kira-Kira kamu mau bulan madu kemana? aku akan ambil cuti selama satu minggu," tanya Egi.


"Bu-Bulan madu?" pipi Deva jadi merona.


"Kenapa? bukankah lumrah pasangan menikah melakukan bulan madu?" tanya Egi.


"Sebenarnya tidak masalah. Tapi saat ini tugas kuliahku sangat banyak Om. Aku sedang punya tugas menjahit dasar untuk dijadikan pakaian. Bagaimana kalau bulan depan? kalau bulan ini aku benar-benar tidak bisa," ujar Deva.


"Ya sudah untuk sementara kita bulan madu di rumah saja," ucap Egi yang kemudian diangguki oleh Deva.


"Sekarang kita harus apa?" tanya Deva.


"Tentu saja harus keluar. Orang tuamu masih disini, papa juga. Mungkin juga Decky dan orang tuanya ada disini. Meski mereka tidak senang dengan kita, jangan perlihatkan wajah kesal ataupun sedih kita pada mereka. Itu akan membuat mereka senang." Jawab Egi


"Sepertinya Om sangat berpengalaman dalam mengurus rasa sakit hati?" tanya Deva.


"Aku sudah mendapat kebencian mereka sejak aku berusia 10 tahun. Sejak papa membawaku dari tempat gelap itu." Jawab Egi.


"Sepertinya saat waktu sudah longgar nanti, Om harus menceritakan banyak hal padaku," ujar Deva.


"Tentu." Jawab Egi sembari melepaskan pakaiannya satu persatu karena dia ingin berpakaian santai.


Wajah Deva memerah, saat melihat Egi dengan tonjolan otot perut dan lengannya.


"Deva apa yang kamu pikirkan. Kamu itu masih bocil, jangan pikirkan hal-hal jorok," Deva menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran kotornya.


Setelah Deva dan Egi berganti pakaian, merekapun keluar kamar untuk bergabung bersama keluarga. Deva yang sudah lama tidak bertemu orang tuanya berbincang banyak hal. Sedangkan Egi bergabung bersama Hanggono dan kedua kakaknya. Sementara Decky sudah pulang lebih dulu.


"Apa sudah ada kabar dari kak Leony?" tanya Deva.


"Belum. Yang terdengar dia sudah bercerai dari suaminya. Dan...."


"Dan apa ma?" Deva penasaran.


"Kayla sudah meninggal dunia." Jawab Yasmin.


"Apa? Ka-Kayla meninggal?" tanya Deva dengan suara yang cukup keras. Dan itu membuat Egi menoleh kearah Deva yang tengah menangis. Egi kemudian mendekat kearah Deva.


"Ada apa?" tanya Egi memastikan.

__ADS_1


"Bawa Deva istirahat. Kami pamit pulang dulu," Yasmin tidak menjawab pertanyaan Egi. Wanita parubaya itu malah menyuruh Egi membawa Deva pergi beristirahat.


Deva masih terisak, saat Egi sudah membawanya ke kamar. Pria berusia 31 tahun itu jadi bingung harus melakukan apa, karena dia tidak tahu akar permasalahannya.


"Apa kamu mau berbagi kesedihanmu denganku? apa yang membuatmu sesedih ini?" tanya Egi yang membuat Deva menyeka air matanya.


"Keponakkanku meninggal Om. Dan aku tidak mengetahui itu. Sekarang kakakku juga nggak tahu ada dimana. Dia sudah bercerai dengan suaminya. Kasihan kakak, dia pasti sangat terguncang saat kehilangan Kayla," ujar Deva.


"Kamu masih punya kakak? pantas saja tidak kelihatan. Tapi kenapa kakakmu harus menjauhi keluarganya?" tanya Egi.


"Itulah yang ingin aku tanyakan. Aku sudah lama tidak bertemu dengan kakak, sejak aku menikah dengan kak Decky. Aku sangat dekat dengan kakakku, dia biasa berbagi apapun denganku. Aku tidak tahu dia punya masalah apa, hingga dia harus menjauhi keluarganya." Jawab Deva.


"Jangan bersedih, suatu saat nanti kalian pasti akan bertemu," ujar Egi.


"Ya. Aku selalu meyakinkan diriku seperti itu," Deva menerbitkan senyumnya.


Egi menatap wajah Deva. Lebih tepatnya bibir istrinya, yang sangat ingin dia cium. Namun dia tidak ingin membuat Deva takut, dia ingin melakukannya saat Deva benar-benar siap, dan sudah jatuh cinta padanya.


"Bersihkan dirimu. Setelah itu kamu bisa pergi beristirahat," ujar Egi.


"Emm." Deva mengangguk.


🌶️🌶️🌶️🌶️


"Om tua belum mau masuk kerja hari ini? ini sudah seminggu Om bermalas-malasan tidak melakukan apapaun," tanya Deva sembari menyapu kamar mereka.


"Memangnya kamu ingin aku melakukan apa?" tanya Egi sembari menaik turunkan alisnya.


"Satu lagi. Bisakah kamu tidak memanggilku Om tua lagi? panggil mas, atau minimal panggil dengan sebutan kakak," sambung Egi.


"Akan aku pikirkan panggilan yang cocok buat Om." Jawab Deva.


"Kamu nggak ngampus hari ini?" tanya Egi.


"Hari ini nggak ada kelas." Jawab Deva.


"Jalan yuk?" tanya Egi.


"Kemana?" tanya Deva.


"Bulan madu ke puncak." Jawab Egi yang membuat Deva jadi tersipu.


Egi perlahan mendekat kearah Deva. Hubungan mereka memang tambah dekat akhir-akhir ini, meskipun mereka belum menyatakan perasaan masing-masing. Egi membelai pipi Deva yang lembut, wanita itu sangat gugup saat wajah Egi semakin mendekat kearahnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan...apa dia ingin menciumku? kalau ini terjadi, itu artinya ini menjadi ciuman kedua kami. Ah...jantungku mau melompat rasanya," batin Deva.


Cup


Egi mencium puncak kepala Deva, yang membuat wanita itu jadi kecewa.


"Kok malah cium kepala sih Om tua. Padahal sebenarnya aku sudah siap menjadi wanita dewasa sepenuhnya. Dasar Om tua PHP," batin Deva.


Tring


Tring


Tring


Suara ponsel Egi berdering. Egi melihat ada panggilan dari mandor pabrik dilayar ponselnya.


"Ada apa?" tanya Egi.


"Pak. Ada seorang klien besar yang ingin bertemu dengan anda. Sekarang dia tengah berada di pabrik, apa bapak ingin menemuinya?" tanya sang mandor.


"Suruh dia datang ke kantor besok, bukan ke pabrik. Saya masih ada urusan keluarga hari ini." Jawab Egi.


"Baik pak." Jawab Mandor.


"Kenapa Om harus menolak klien itu? perusahaan Om baru berdiri, seharusnya Om lebih memperluas jaringan lagi. Iya kan?" tanya Deva.


"Iya istri bocilku. Besok akan kutemui semua kliennya," ujar Egi sembari mencubit Deva dengan lembut. Diperlakukan dengan manis, membuat Deva jadi tersipu.


🌶️🌶️🌶️


"Nggak mungkin! aku nggak mungkin hamil. Aku kan belum sempat melepas kontrasepsi IUDku sampai sekarang. Tapi kenapa aku bisa hamil? apa alat ini sudah rusak?" gumam Leony.


Leony memijat kepalanya. Dia memang sempat heran, karena sudah dua bulan, dirinya tidak mendapatkan haid. Agar tidak mengira-ngira, Leony memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan.


"Iya betul Bu Leony. Ternyata anda memang tengah hamil saat ini. Dan usia kandungan anda kurang lebih 8 minggu," ujar dokter.


Pernyataan dokter tentu saja membuat Leony syok.


"Kok bisa dok? tapi saya kan sudah memasang kontrasepsi IUD?" tanya Leony.


"Meski memakai IUD, bukan berarti tidak bisa hamil alias kebobolan. Memang kasus seperti ini banyak yang terjadi. Tapi ibu tidak usah khawatir, meski begitu IUD yg masih tertanam tidak membahayakan calon bayi ibu." Jawab dokter.


Leony tidak fokus lagi mendengarkan penjelasan dokter. Saat ini dia tengah mengingat-ingat siapa ayah dari anak yang sedang dia kandung.

__ADS_1


__ADS_2