
Bibir Deva mengerucut saat memasuki mobil suaminya. Dia masih bertanya-tanya, apa yang sudah Riki lakukan selama dirinya pingsan.
"Sayang. Kenapa kamu diam saja?" tanya Egi.
"Tadi pas Om datang, Riki lagi ngapain aku? dia cium aku nggak? dia berhasil megang-megang aku nggak?" Deva balik bertanya.
"Nggak lakuin apa-apa. Dia baru melepas baju aja. Tapi nggak tahu kalau sampai aku datang terlambat semenit aja." Jawab Egi.
"Om yang jujur dong Om. Aku merasa nggak enak hati, pas lihat kancing baju aku kebuka dua biji," ujar Deva dengan bibir mengerucut.
"Aku akan mematahkan tangannya, kalau sampai dia berani menyentuhmu lebih dari itu. Kamu tidak usah khawatir, dia belum sempat melakukan apa-apa sama kamu. Karena punyamu hanya aku yang boleh menyentuhnya," ujar Egi.
"Putar balik lagi Om," ucap Deva.
"Mau kemana?" tanya Egi.
"Mau menghajar si Riki lagi. Rasanya aku masih belum puas memberinya pelajaran. Ayo dong Om putar balik!" rengek Deva.
"Sudahlah sayang. Dia sudah mendapatkan ganjarannya. Dan mungkin kali ini lebih parah dari yang waktu itu. Iya kan?" ujar Egi.
"Tapi darahku masih mendidih Om," ucap Deva.
"kendalikan emosi kamu sayang. Aku jadi takut loh, kalau kamu seganas ini," ujar Egi.
Deva jadi terdiam. Namun jantungnya masih berdegup kencang karena terbawa emosi.
"Aku pengen makan sesuatu yang pedas," ujar Deva.
"Apa yang pedas? bakso?" tanya Egi.
"Boleh juga." Jawab Deva.
Egi menuruti permintaan istrinya itu, agar tidak menjadi masalah buatnya. Setelah menemukan kedai bakso yang Deva mau, merekapun menyantap makanan berkuah itu.
"Sayang. Jangan berlebihan itu cabainya," ujar Egi.
"Kalau lagi marah, aku memang seperti ini. Apalagi kalau marahku tidak terlampiaskan." Jawab Deva sembari menyendokkan cabe sebanyak 5 sendok kedalam mangkok baksonya.
"Apa kamu nggak bakal sakit perut?" tanya Egi
"Nggak." Jawab Deva sembari mulai memakan baksonya.
Egi diam dan tidak berkomentar lagi. Dia tahu suasana hari Deva saat ini sedang buruk. Jadi dia tidak ingin menambah rasa kesal dihati istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang stop ya! wajahmu sudah memerah. Aku takut kamu sakit," ujar Egi.
Deva menuruti perkataan suaminya. Dia tidak ingin karena terlalu emosi, jadi memperburuk hubungannya dengan suaminya itu.
"Sudah selesai? sekarang kita pulang ya! kalau sampai rumah, enaknya berendam. Jadi kamu lebih rileks," ujar Egi yang kemudian diangguki oleh Deva.
Dan sesuai saran dari Egi, sesampai tumah Deva berendam air hangat. Dan dia sedikit merasa rileks setelahnya.
"Ada apa. Hem? masih kepikiran soal tadi?" tanya Egi.
"Emm." Deva mengangguk.
"Percaya deh. Kalau tadi itu belum sampai kejadian. Saat aku masuk ke dalam, Riki baru saja melempar celana jeansnya di lantai. Dan itu berarti dia belum melakukan aksi apapun, selain melepas dua kancing bajumu," ujar Egi.
"Om. Kalau misalnya sempat terjadi apa-apa denganku saat Om datang tadi, apa yang akan Om lakukan? ya awalnya pasti marah sama Riki. Tapi maksudku, bagaimana Om menyikapi hubungan kita selanjutnya," tanua Deva.
"Kamu tahu sendiri aku ini bukan orang suci. Aku juga seorang petualang. Dan aku tahu, kalau kamu tidak ada niat untuk berselingkuh, alias hanya menjadi korban. Maka aku akan menerima kamu apa adanya." Jawab Egi
Deva langsung berhambur kedalam pelukkan Egi. Dia sangat senang, karena Egi percaya padanya.
"Makasih karena Om sudah percaya padaku. Aku berjanji tidak akan ada orang ketiga diantara kita," ujar Deva.
"Harus. Karena aku sudah cinta mati sama kamu," ujar Egi.
Ini kali pertama Deva berinisiatif. Tentu saja dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Egi langsung menyerbu istrinya itu hingga pergumulan panas itu kembali terjadi.
*****
Dua bulan kemudian....
Hoek
Hoek
Hoek
Egi merasakan perutnya terasa ada yang mengaduk. Rasa pusing dan mual, sedang dia derita saat ini.
"Sayang. Kita ke rumah sakit aja ya! kamu pucat sekali," ujar Deva
"Tapi lemes banget sayang. Nggak sanggup jalan." Jawab Egi yang hanya bisa tergolek ditempat tidur.
"Sebenarnya Om salah makan apa sih? kok bisa mual muntah kayak gini?" tanya Deva.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu. Tapi setahuku aku makan seperti biasanya. Nggak ada yang aneh, apalagi beracun. Setahuku aku nggak punya riwayat alergi makanan ataupun obat." Jawab Egi.
"Terus kenapa sakit?" tanya Deva.
"Ya mungkin pas penyakit mau datang aja kali. Mungkin juga karena aku sering mengulur waktu makan, jadinya kena magh." Jawab Egi.
"Ya sudah. Pokoknya aku akan panggil supir, buat nyupirin kita ke rumah sakit. Aku nggak mau kamu menyepelekan penyakit, yang akan berakibat fatal jadinya," ujar Deva.
"Oke sayangku yang bawel," ucap Egi.
Egi dan Deva akhirnya pergi ke rumah sakit, diantar oleh supir pribadi mereka. Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan, dokterpun memberikan penjelasan terkait hasil diagnosa yang dia tegakkan.
"Menurut hasil pemeriksaan saya. Pak Egi nggak sakit apa-apa. Semuanya normal, dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar dokter.
"Ah...masak dok? terus kenapa dia bisa mual muntah dan pusing?" tanya Deva.
"Apa istri anda sedang hamil?" tanya dokter.
"Hamil? sepertinya nggak dok. Saya ngga punya gejala atau tanda-tanda sedang hamil. Kalau haid saya memang sering telat, kadang-kadang sering datang 3 bualan sekali." Jawab Deva.
"Kalau begitu saya akan kasih rujukkan ke dokter kandungan saja ya Bu! sebaiknya cepat pastikan, siapa tahu anda dalam keadaan hamil," ujar dokter.
Deva dan Egi kebingungan, tapi tetap saja dua sejoli itu menuruti perkataan dokter itu.
"Dokternya lucu ya! apa hubungannya kamu yang mual muntah dengan aku yang hamil," tanya Deva saat mereka menuju ruangan dokter kandungan.
"Meski aku juga bingung, tapi tidak ada salahnya dicoba. Aku juga jadi penasaran " Jawab Egi.
Tidak butuh waktu yang lama bagi kedua sejoli itu. Mereka kemudian mendapat panggilan, karena memang mereka tidak terlalu banyak antrian. Setelah masuk kedalam, Egi menceritakan keluhannya dan kenapa dokter umum menyarankan mereka berkonsultasi ke dokter kandungan.
Setelah mendengar cerita Egi, Devapun disuruh berbaring.
"Aneh sekali. Aku kesini kan mau bawa Om Egi berobat, tapi kok malah aku yang di obati," batin Deva.
Seorang perawat membantu dokter menuangkan gel. Dokter itu kemudian mulai melakukan USG.
"Sesuai dugaan. Ibu Deva memang tengah hamil saat ini. Dan usia kandungan anda sudah 8 minggu," ujar dokter.
"Ap-Apa?" Deva dan Egi terkejut bersamaan.
"Jadi terjawab sudah. Kenapa pak Egi yang mengalami mual dan muntah. Itu disebabkan anda sedang mengalami kehamilan simpatik. Dimana istri anda yang hamil, namun andalah yang mengalami ngidam," dokter dengan gamblang menjelaskan.
Egi tersenyum mendengar penjelasan dokter. Meski dia menderita karena mengalami hal itu, namun dia sangat bahagia karena bukan Deva yang mengalaminya.
__ADS_1