KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
60. Merasa Aneh


__ADS_3

Malam ini terasa sunyi bagi Deva. Tidak ada obrolan seperti yang biasa Deva dan Egi lakukan. Bahkan mereka sering bercanda satu sama lain. Saat ini yang terjadi malah sebaliknya, Egi mendiamkan Deva. Bahkan tubuh pria itu membelakangi wanita itu.


Ingin rasanya Deva bertanya, tapi Deva tidak ingin mengganggu Egi. Dia masih berpikiran positif seperti yang dikatakan pria itu, bahwa Egi tengah lelah setelah bekerja seharian.


Namun hal itu berlanjut pada keesokkan harinya. Tidak ada kegiatan rutin memasang dasi dan sarapan bersama seperti yang sering mereka lakukan.


"Ada apa dengan Om Egi? apa aku ada berbuat salah? kenapa sikapnya jadi berubah drastis seperti ini," batin Deva.


"Woy...." Dian mengagetkan Deva yang tengah asyik melamun dibawah pohon.


"Kemarin cengar cengir, kok sekarang manyun?" tanya Rizky.


"Nanti kalau aku cerita dikira buka aib suami. Lebih baik aku pendam sendiri saja."Jawab Deva.


"Tanpa kamu sadari, kamu sudah membuka aibnya barusan. Kami jadi tahu, kalau yang membuatmu begini adalah suamimu," ujar Rizky.


"Ada apa sih Dev?" tanya Dian.


"Saat pulang kerja kemarin Om Egi mendadak berubah dingin sama aku. Aku pikir itu karena efek lelah kerja. Tapi itu berlanjut sampai malam, hingga pagi ini. Menurut kalian dia kenapa ya?" tanya Deva.


"Mungkin dia banyak kerjaan dikantornya. Berpikirlah positif." Jawab Rizky.


"Tapi dia nggak pernah begitu. Setiap mau pergi kerja, dia selalu pamitan. Waktu di Bali juga dia nggak gitu. Aku jadi kepikiran nih," ujar Deva.


"Maaf ya Dev. Kalau kayak disinetron-sinetron, kalau suami sudah berubah sikap. Pasti sudah ada wanita lain yang lebih dari loe," timpal Dian.


"Kamu gimana sih Di. Bukannya menghibur, malah nakutin Deva. Lagian nggak mungkinlah suaminya gitu, orang malam pertama aja belum. Kecuali dia sudah bosan setelah berhubungan intim dengan Deva, itu baru masuk akal," ujar Rizky.


"Hehehe maaf ya Dev. Mungkin karena aku terlalu banyak nonton sinetron nih," ucap Dian.


"Terus dia kenapa ya?" tanya Deva.


"Gini aja. Kamu lihat sikap dia dalam satu minggu ini. Kalau masih tidak ada perubahan, berarti emang ada yang tidak beres. Aku setuju dengan pendapat Dian." Jawab Rizky.


"Pendapat yang mana nih?" tanya Deva.


"Suamimu ada wanita lain." Jawab Rizky dengan gamblang. Sementara Deva jadi terdiam.


"Maaf ya Dev. Logikanya, nggak mungkinlah kalian berada dalam satu kamar nggak saling ngobrol, nggak saling setuh. Jelas itu hubungan nggak normal namanya. Sesibuk apa sih kerjaan di kantor? sampai pas pulang ke rumah nggak sempat ngomong sama istri,"

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Dia itu pria matang, sementara kamu masih tergolong ingusan. Dia itu pengusaha hebat, sementara kamu anak kuliahan. Godaan wanita di dunia kerja jauh lebih menggiurkan daripada istri kecil dirumah," sambung Rizky.


"Kalau memang benar seperti yang kamu bilang kemarin, dia punya perasaan sama kamu. Kamu harus mengujinya Dev," ujar Dian.


"Bagaimana caranya?" tanya Deva.


"Buat dia cemburu sama kamu. Kalau dia cemburu sama kamu, itu artinya dia punya perasaan sama kamu. Terus pas berada dalam kamar kamu harus berpakaian sexy." Jawab Dian.


"Pakaian sexy? buat apa? nggak ah, malu!" ucap Deva.


"Kok malu sih? dia kan suamimu Dev. Bahkan kamu telanjang didepan dia aja sah-sah aja kok," ujar Dian.


Deva terdiam. Namun apa yang Dian katakan dia akui benar semua.


"Terus. Bagaimana cara membuat dia cemburu?" tanya Deva.


"Nih. Kandidat yang cocok buat Om tua cemburu," ujar Dian sembari menunjuk Rizky


"Kok gue?" tanya Rizky yang merasa dikambing hitamkan.


"Soalnya kalau sama loe chamistrynya lebih dapet. Kalian pasti nggak canggung lagi." Jawab Dian.


"Oke gue setuju," ujar Rizky yang membuat Deva kembali tersenyum.


"Jadi intinya gue lihat dalam seminggu dulu ya?" tanya Deva.


"Betul." Jawab Rizky yang membuat Deva jadi manggut-mangut


🌶️🌶️🌶️🌶️


Seminggu kemudian....


"Sepertinya apa yang Dian dan Rizky bilang ada benarnya juga. Tapi kenapa aku masih nggak percaya kalau Om tua punya wanita lain?" batin Deva sembari menatap Egi yang tengah mengenakan pakaian santai.


Hari ini adalah hari libur. Deva memang menunggu moment ini agar bisa bicara serius dengan Egi.


"Om. Aku mau ngomong," ujar Deva.


Egi memejamkan mata, dan kemudian berbalik menatap Deva.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Egi dengan wajah datar.


Deva perlahan mendekat kearah Egi, dan memeluk tubuh kekar pria itu.


"Deva kangen om," ucap Deva sembari meneteskan air mata.


Egi menelan ludahnya yang terasa tercekat ditenggorokkannya. Ingin rasanya dia membalas pelukkan itu, tapi dia sudah bertekad akan menjauhi Deva secara perlahan.


"Apa Aku punya salah sama Om? kalau ada, Om tolong bilang sama aku. Aku nggk bisa Om diamkan seperti ini," tanya Deva.


"Kamu nggak punya salah. Pekerjaan kantor sangat banyak, permintaan produk membludak saat ini." Jawab Egi.


"Apa pekerjaan kantor membuat Om nggak bisa ngobrol sama aku? sampai-sampai pamit kerjapun nggak sempat?" tanya Deva sembari menatap mata suaminya itu.


Dapat Egi lihat, ada cairan bening yang mengumpul di sudut mata Deva. Dan itu membuat Egi sama sakitnya.


"Cuma satu pertanyaan yang ada dibenakku saat ini. Dan Om harus jawab dengan jujur. Apa Om punya wanita lain diluar sana?" tanya Deva.


Deg


Pertanyaan Deva begitu mengena dihati Egi. Bahkan sore ini Leony dan dirinya akan pergi mengantar wanita itu untuk membeli kebutuhan Leony selama hamil.


"Jangan membuat spekulasi yang tidak-tidak. Aku benar-benar sibuk. Bahkan sore ini aku masih punya janji dengan klien buat meeting darurat." Jawab Egi.


"Maafkan aku sayang. Aku masih berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan rumah tangga kita. Aku benar-benar belum sanggup memberitahumu kebenaran ini. Itulah sebabnya aku menjauhimu secara perlahan. Kalau kita ditakdirkan berpisah, aku ingin kamu melupakan aku dengan cepat. Tapi percayalah, cuma kamu yang aku cintai," batin Egi.


"Oke. Cuma itu aja yang mau aku tanyakan," bagi Deva tidak ada gunanya berdebat panjang. Dia lebih memilih mencari bukti.


"Aku izin ke rumah mama ya Om!" ucap Deva dengan wajah datar.


"Biar aku antar," ujar Egi.


"Tidak perlu. Om urus saja pekerjaan Om, dan aku mengurus keperluanku sendiri," ucap Deva yang kemudian meraih tas selempangnya dan keluar dari kamar itu.


Brakkkk


Deva membanting pintu sedikit agak keras. Egi masih mematung ditempatnya berdiri. Pria itu benar-benar merasa bersalah pada Deva.


"Dasar Om tua sialan. Awas aja kalau sampai ketahuan selingkuh. Jangan dikira aku mau ngalah ama pelakor itu, dan membiarkan pelakor itu merebut kamu dari aku. Kalau sampai aku kalah dari pelakor itu, aku akan menghajar burung kamu," gerutu Deva sembari menaiki motor maticnya.

__ADS_1


Deva memang ingin mengunjungi rumah orang tuanya, karena dia ingin mengajak mereka ziarah di pusara Kayla.


__ADS_2