KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
39. Pingsan


__ADS_3

Sudah satu minggu Deva bekerja di perusahaan Egi. Kini wanita itu sudah bisa menghafal semua kebiasaan bosnya itu. Kini Deva juga sudah tahu, perusahan apa tempatnya bekerja. Bahkan dirinya juga kebagian beberapa kotak alat pengaman, yang Devapun tidak mengerti untuk apa dirinya diberikan itu, dan bagaimana cara penggunaannya.


Setelah dia selidiki. Ternyata bukan dirinya saja yang memperoleh benda itu, tapi seluruh karyawan mendapatkan jatah 5 kotak kecil setiap bulannya.


"Ini kan balon ya? tapi kenapa fungsinya bisa buat pengaman?" Deva dengan iseng meniup semua kon*om itu menjadi balon dan mengikatnya dipaku kamar kostnya


"Bulan depan adalah hari ulang tahunku. Jadi anggap saja balon-balon ini sebagai hadiahnya," ucap Deva.


"Ah...nggak terasa sudah hampir 10 hari aku di kota Bali. Sedikit banyak aku juga sudah mulai hafal jalan. Saat libur nanti, aku akan coba jalan-jalan sedikit lebih jauh. Bukankah di Bali sangat banyak pantai? aku akan mengunjunginya satu persatu selama 3 bulan disini,"


Deva menghayal banyak hal, hingga tanpa sadar dirinyapun terlelap.


🌶️🌶️🌶️🌶️


"Ah... hari libur memamg hari yang menyenangkan. Aku bisa bangun siang, dan menikmati hariku tanpa melihat wajah bosku yang menyebalkan itu. Dia selalu seenaknya sama aku. Deva lakukan ini, Deva lakukan itu. Deva buat yang ini, Deva buat yang itu."


"Meskipun aku ini OG, tapi aku diperlakukan kurang manusiawi. Apa dia nggak tahu? kalau di Jakarta aku ini seorang bos Butik?" gerutu Deva.


Deva meraih ponselnya, dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Deva bergegas mandi, dan segera berpakaian.


"Hari ini aku harus happy. Aku akan mengunjungi pantai sanur yang cukup terkenal disini. Bulan depan setelah gajian, baru aku akan mengunjungi pantai nusa dua, dan di bulan ke 3 aku akan mengunjungi pantai di GWK. Aku sudah mendapatkan nama-nama itu di internet. Jadi jangan sia-siakan selama aku berada disini,"


Deva meraih topi merah muda berdaun lebar. Hari ini dia terlihat cantik dengan gaun pink, dan juga membawa kain pantai yang dia lilitkan di lehernya. Dengan memberanikan diri dia menyewa tukang ojek, untuk mengantarnya ke pantai sanur.


"Ini baru surga dunia. Mustahil kan dari ratusan pengunjung pantai ini, ada si bos yang menyebalkan itu? sepertinya ke pantai adalah solusi yang bagus, buat menghilangkan rasa jengkel dan kesal karena bertemu tiap hari dengan si Om tua itu," gerutu Deva.


Cekrekkkk


Cekrekkkk


Tanpa Deva tahu, dirinya sudah di potret secara diam-diam oleh seseorang. Deva dengan gembira bermain di tepi pantai. Dia tidak perduli meskipun bajunya basah semua.


"Ckk...harusnya tadi aku bawa baju ganti. Ternyata lama-lama dingin juga tertiup angin. Mana suasana agak mendung lagi," gumam Deva.


"Tuan. Wajah anda agak pucat, apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya sang supir pribadi.

__ADS_1


"Ayo kita pulang," ucap Egi sembari memberikan kamera yang menggantung di lehernya pada sang supir.


Namun baru berjalan beberapa langkah, tubuh Egi limbung dan tidak sadarkan diri.


"Tuan. Bangun tuan, tuan kenapa?" tanya sang supir panik.


"Tolong...tolong...supir itu berteriak dan mengundang perhatian Deva yang tidak jauh berada dari tempat itu.


Karena disana banyak orang asing, tentu mereka kurang perduli. Mereka terlihat ingin membantu, tapi bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Deva kemudian bergegas mendekati supir itu dan melihat apa yang sudah terjadi.


"Pak Egi?" Deva terkejut, karena tetap saja dia bertemu dengan orang yang sama sekali tidak ingin dia lihat.


"Nona mengenal majikan saya?" tanya sang supir.


"Ya. Pak Egi bos saya di kantor. Ada apa dengan pak Egi pak?" tanya Deva.


"Beliau pingsan non. Mungkin dia kelelahan. Tolong bantu saya memapah dia kedalam mobil non," ujar Supir.


"Haruskah aku membantu manusia menyebalkan ini? kan bagus juga kalau dia sakitnya lama. Jadi aku nggak perlu melihat dia setiap hari," batin Deva.


"Tapi...."


Brakkk


Deva menutup pintu mobil itu dan segera beranjak pergi.


"Tunggu non!" Langkah kaki Deva terhenti, saat supir itu menahannya pergi.


"Ada apa pak?" tanya Deva.


"Maaf non. Bisakah nona ikut saya mengantar tuan Egi ke rumah sakit? dia tidak punya keluarga disini. Dirumah dia hanya tinggal sendirian. Pembantu hanya datang cuma buat bersih-bersih, setelah itu langsung pulang." Jawab Supir.


"Tapi pak saya...."


"Bapak mohon non. Kasihan tuan Egi kalau nggak ada yang nungguin dia. Saya nggak mungkin nungguin dia 24 jam, karena saya juga punya keluarga. Nanti kita bisa bergantian saja," bujuk pria parubaya itu.

__ADS_1


"Tapi saya tidak punya pakaian ganti pak. Saya..."


"Nona tenang saja. Saya akan belikan nona beberapa pakaian. Jadi tolong ya non,"


Deva lagi-lagi menghela nafas berat, dan terpaksa mengikuti perkataan sang supir. Deva meletakkan kepala Egi dipangkuannya. Wajah pria itu memang terlihat pucat, dan lemah. Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, mereka akhirnya tiba di rumah sakit Sanglah. Egi segera di tangani oleh dokter, dan terpaksa harus di opname untuk sementara waktu.


"Ini pakaian ganti buat nona. Bapak mohon nona malam ini tungguin tuan Egi dulu ya!"


"Tapi pak...."


"Tidak ada orang yang bisa diandalkan non. Dan entah mengapa saya cuma bisa percaya sama nona saja," ujar supir.


"Baiklah pak. Tapi untuk malam ini saja ya? besok bapak harus mencari solusinya sendiri. Saya harus bekerja pak," ucap Deva.


"Ya baiklah. Nanti akan bapak pikirkan," ujar Supir.


Supir itu kemudian pulang ke rumah, sementara Deva masuk kedalam toilet untuk berganti pakaian.


Egi mengerutkan dahinya, saat pria itu mulai sadarkan diri. Matanya perlahan membuka dan melihat suasana sekitarnya yang tampak serba putih. Bertepatan dengan itu, Deva keluar dari kamar mandi dan menenteng baju basah yang dia kenakan beberapa waktu yang lalu.


"Bapak sudah sadar?" tanya Deva.


"Saya ada di rumah sakit?" tanya Egi.


"Ya. Bapak pingsan di pantai Sanur." Jawab Deva.


"Saya baik-baik saja. Kemana pak Made? suruh dia urus kepulangan saya. Saya nggak mau berada di rumah sakit," ucap Egi.


"Jangan keras kepala. Bapak itu sedang sakit, bapak harus nurut apa kata saya," ujar Deva.


"Kenapa saya harus nurut sama kamu? siapa bosnya disini?" tanya Egi.


"Eh...pak. Ini rumah sakit ya? bukan kantor! jadi disini saya yang bosnya. Kalau tahu bapak akan bandel, seharusnya aku tenggelamkan saja ke laut biar dimakan hiu sekalian." Jawab Deva dengan kesal.


"Kamu berani melakukannya?" tanya Egi.

__ADS_1


"Kenapa saya nggak berani? saya sudah berbaik hati mau menjaga bapak di rumah sakit. Jadi jangan bandel ya, ntar aku suruh susternya buat nyuntik pakai suntikkan gajah. Mau?"


Egi terdiam. Alasan utama dirinya tidak ingin berada di rumah sakit tentu saja karena dia trauma melihat jarum suntik. Melihat Egi terdiam, Deva mendekati pria matang itu dan meraih piring makanan untuk menyuapinya.


__ADS_2