KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
64. Nguntit


__ADS_3

Tring


Tring


Tring


Deva berpura-pura berbalik badan, saat mendengar suara ponsel Egi yang berdering. Deva ingin tahu siapa si penelpon itu. Sementara Egi yang ketakutan istrinya bangun, segera bangkit dari tempat tidur dan menggeser tanda panah hijau diponselnya itu.


Egi kemudian membuka pintu balkon, dan menerima panggilan disana.


"Ada apa nelpon malam-malam?" tanya Egi kesal.


"Aku pengen makan pizza." Jawab Leony.


"Kamu kan bisa pesan lewat online?" ucap Egi.


"Tapi aku maunya kamu yang belikan dan antar kesini. Ini anak kamu loh, dia lagi pengen dimanjain papanya. Kamu boro-boro mau perhatian sama aku dan anak kamu," ujar Leony dengan suara agak manja.


Egi memijat keningnya. Entah kenapa dia sama sekali tidak merasakan antusias sama sekali, saat mendengar kehamilan Leony.


"Mau pizza yang bagaimana?" tanya Egi dengan nada datar.


"Full toping. Tolong belikan saus tambahan. Aku nggak puas kalau saus sambal bawaan dari sana." Jawab Leony.


"Oke tunggu!" ucap Egi yang kemudian mengakhiri panggilan telpon.


Deva yang sengaja menguping, kembali bergegas keatas tempat tidur. Dia tidak ingin Egi tahu, kalau dirinya mendengar percakapan itu.


"Sepertinya wanita itu minta dibelikan sesuatu. Manja sekali sih. Ini Om tua, apa saking cintanya mau aja tengah malam disuruh beli yang begituan. Bikin hatiku panas aja. Ini apa dia nggak mikir? kalau terjadi sesuatu sama Om tua bagaimana?" gerutu Deva dalam hati.


Egi kemudian keluar dari kamar Deva, karena dia ingin menuruti keinginan Leony.

__ADS_1


"*A*pa aku ikuti aja ya? apa nggak usah? tapi kalau aku ikuti, bagaimana kalau aku kehilangan jejak? ini kan sudah malam," batin Deva.


"Ya sudahlah. Malam ini cukup aku tahu saja. Om Egi rela melakukan apa saja untuk wanita itu. Om tua...apa Om tua nggak tahu, aku lagi sakit hati sekarang Om," batin Deva.


Deva menatap jendela kamarnya yang menghadap gerbang rumah. Bisa Deva lihat, Egi keluar dengan menggunakan mobilnya. Tidak terasa air mata Deva jatuh mengiringi kepergian Egi yang entah kemana.


Sementara itu. Egi yang sudah mendapatkan pesanan Leony, segera mengantar makanan itu ke kontrakkan wanita itu. Senyum Leony terbit, saat melihat kedatangan Egi.


Cup


Leony mencium pipi Egi tiba-tiba, tanpa sempat Egi menghindar.


"Aku langsung pulang ya! ini sudah malam, dan besok pagi aku harus berangkat kantor," ujar Egi.


"Nginaplah disini. Lagian kamu juga bosnya, kenapa terlalu memikirkan jam berangkat kerja," ujar Leony.


"Tidak bisa. Ada istriku dirumah, aku nggak mau dia curiga sama aku. Dia nggak tahu kalau aku keluar malam," ujar Egi.


"Leony. Tidak bisakah kamu memberi pilihan yang lain? aku sangat mencintai istriku. Dia pasti hancur, kalau tahu aku punya anak dari wanita lain," tanya Egi.


"Jadi kamu mau aku bagaimana? menggugurkan anak ini?" tanya Leony.


"Tidak begitu. Maksudku biarkan kamu lahirkan anak itu, tapi kita tidak perlu menikah. Tapi aku berjanji akan menafkahi kamu dan anak kita." Jawab Egi.


"Itu artinya kamu mengakui kalau kamu itu seorang bajingan? karena aku janda, kamu mengatakan hal seenak jidat kamu? lalu apa bedanya aku dengan wanita murahan dimata kamu?" ucap Leony.


Egi terdiam. Dia benar-benar tertekan saat ini.


"Kalau menurutku sih lebih baik kamu ceraikan saja istrimu. Toh dia belum hamil juga kan?" perkataan Leony membuat wajah Egi jadi masam. Dia sangat tidak menyukai ucapan itu.


"Aku tidak menyangka ada sisi egois seperti ini dalam diri Leony. Aku akui aku salah, tapi dia juga tidak bisa membenarkan sikapnya ini. Dia terlihat senang diatas penderitaan wanita lain. Padahal dia tahu, kalau aku sangat mencintai istriku. Kenapa aku begitu bodoh, terjebak kembali dengan masa lalu. Seharusnya aku sudah bisa menilai, sejak dia pertama kali menghianatiku," batin Egi.

__ADS_1


Tanpa banyak kata Egi langsung keluar dari kontrakkan itu, tanpa Leony halangi. Egi ingin segera sampai ke rumah, dan kembali memeluk istrinya yang bisa membuat hatinya tenang. Sementara tanpa Egi tahu, Deva sejak tadi menunggu pria itu dari jendela kamarnya.


"Apa Om Egi nginap di rumah wanita itu ya? antara wanita dan pria dewasa berada didalam rumah, tengah malam lagi. Apa mereka melakukan...."


"Oh...tidak! meski aku tahu itu bukan kali pertama buat Om tua, tapi kali ini aku benar-benar tidak rela. Karena dia suamiku. akulah yang berhak atas diri suamiku," batin Deva.


Disaat Deva asik berpikiran buruk, Mobil Egi tiba-tiba datang yang membuat senyum dibibir Deva terbit.


"Dia pergi cuma 1 jam. Itu artinya dia nggak ngapa-ngapain kan dengan wanita itu?" guman Deva saat melihat jam diponselnya.


"Aku ingin lihat, apa dia akan kembali ke kamarku? kalau dia kekamarku, aku bisa ngecek apa ada wangi parfum wanita itu di tubuhnya," ucap Deva lirih.


Deva kembali berpura-pura tidur. Dan benar saja, Egi kembali kekamarnya dan tidur disebelah Deva. Egi bahkan tidak takut kalau-kalau Deva terbangun, karena dia memeluk Deva dengan erat setelah mencium kening istrinya itu.


"Maaf," kata itu memang lirih, tapi Deva masih bisa mendengarnya.


"Dia tadi bilang maaf kan? tapi untuk apa? apa karena dia pergi meninggalkan aku tadi? sebenarnya bagaimana perasaan kamu sama aku Om? kalau kamu mencintaiku, kenapa nggak bilang? aku nggak mungkin bilang lebih dulu, cuma harga diri yang aku punya saat ini. Kalau aku mengungkapkan perasaanku dan di tolak, aku akan malu," batin Deva.


"Jadi bagaimana caraku mengungkapkan perasaanku, tanpa ada rasa malu. Agar dia bisa mendengar semua isi hatiku," batin Deva.


Tiba-Tiba muncul ide begitu saja dibenak Deva, untuk berpura-pura mengigau.


"Om tua...."


Egi terkejut saat Deva memanggil namanya, namun dengan mata terpejam. Egi sempat berpikir, kalau saat ini dia sudah ketahuan oleh Deva. Namun saat Deva kembali mengulang kata-katanya, kini Egi mengerti kalau Deva tengah mengigau.


"Om tua kenapa tega nyakitin perasaan aku. Apa Om tua nggak tahu, kalau aku tuh suka sama Om tua. Tapi kenapa Om tua selingkuh? sekarang aku terancam jadi janda dua kali, kalau sampai kali ini aku patah hati lagi, aku akan pergi jauh dari Om,"


"Apa salah Deva Om? apa Deva kurang cantik? kurang sexy? apa kelebihan dia dibanding aku Om? apa Om nggak tahu, kalau saat ini aku sedang sakit hati," karena terlalu mendalami perannya, Air mata Deva mengalir bergitu saja.


Tanpa Deva tahu, air mata Egi juga ikut menetes.

__ADS_1


__ADS_2