
"Kangen ya?" tanya Egi, padahal yang terjadi sebenarnya dirinyalah yang merindukan istrinya sampai kesulitan tidur di malam hari.
"Banget." Jawab Deva dengan wajah yang masih terbenam didada suaminya itu.
"Bisa nanti aja kangen-kangenannya?" tanya Decky.
"Oh iya lupa. Ada calon duda dua kali disini." Jawab Egi.
"Calon duda? siapa calon duda Om?" tanya Deva.
"Ffffttt," Decky terkekeh.
"Ya ampun Dev. Kamu masih aja panggil Om Egi dengan sebutan Om? nggak romantis banget. Kamu jadi terasa nikah ama orang yang sudah tua banget. Tapi emang iya juga sih. Om Egi kan emang sudah tua bangka," sindir Decky.
"Decky. Kalau kamu ngatain Om tua bangka lagi, kamu nggak akan Om kirim ke Surabaya, tapi ke Afrika selatan. Mau?"
"Ciyeee...yang ngerasa tua marah," ledek Deva.
"Sayang. Kamu kok malah belain Decky?" bibir Egi mengerucut.
Deva meraih kedua sisi wajah Egi, dan mencium bibir suaminya yang mengerucut.
"Om itu umurnya emang tua, tapi wajah dan jiwanya masih muda banget," ujar Deva yang membuat Decky memutar bola mata dengan malas.
"Pretttttt. Minggir! calon duda mau lewat," Decky menabrak bahu Egi dengan sengaja. Egi dan Deva jadi terkekeh melihat Decky yang sebal melihat kemesraan mereka.
Egi dan Deva kemudian naik keatas. Egi melepas pakaiannya dan segera membersihkan diri.
"Bagaimana kabar anak kita. Hem?" tanya Egi setelah dirinya selesai mandi.
"Baik-Baik aja. Cuma dia suka ikutan sedih kalau melihat mamanya kangen dengan papanya," ujar Deva sembari tersipu.
Egi meraih dagu Deva dan mulai melepaskan rasa rindunya dengan mencium istrinya itu. Deva yang memiliki rasa rindu yang sama, membalas tak kalah gesit dari suaminya itu.
"Sayang. Aku pengen, boleh tidak aku...."
"Lakukan pelan-pelan," ujar Deva lirih.
mendapat lampu hijau dari Deva, tentu saja dia tidak menyiakan kesempatan. Egi segera mengungkung istrinya itu, dan dia tidak perduli meski dia harus mandi lagi. Dan untuk selanjutnya, mulailah terdengar suara merdu mereka yang saling bersahutan satu sama lain.
"Ya ampun pasangan ini. Apa segitu rindunya, sampai baru datang udah goyang ranjang aja," Decky yang hendak berpamitan pulangpun tidak jadi, saat mendengar suara-suara aneh dari dalam sana.
Decky akhirnya pulang meski tanpa berpamitan pada Deva dan Egi. Dia hanya menitip pesan pada para pelayan rumah itu.
*****
Satu Bulan kemudian....
"Ah...lega. Akhirnya sudah resmi duda lagi," ujar Decky sembari menatap akta perceraiannya dengan Olivia.
"Decky," sapa Olivia saat keluar dari pengadilan.
Decky menoleh dan menatap Olivia yang datang bersama Marco.
"Decky. Aku minta maaf ya! selama ini aku sudah banyak salah sama kamu. Hari ini aku akan pindah ke Bandung, dan menjalani hidup dengan lebih baik disana," ujar Olivia sembari mengulurkan tangannya.
"Aku juga minta maaf padamu, karena aku juga banyak salah sama kamu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi diantara kita. Aku juga rencananya akan pergi ke Surabaya dan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi disana," ujar decky yang kemudian menjabat tangan Olivia.
__ADS_1
"Decky. Boleh aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" tanya Olivia, yang kemudian diangguki oleh Decky.
Decky dan Olivia kemudian saling berpelukkan erat. Tanpa diketahui mereka masing-masing, mereka sama-sama meneteskan air mata.
"Decky. Tentang perkataanku yang benar-benar jatuh cinta padamu itu adalah benar. Aku sangat kehilangammu saat kita memutuskan berpisah. Tapi biarlah rasa cintaku ke kamu aku pendam sampai aku mati. Mungkin di dunia ini kita tidak bisa bersatu selamanya, tapi percayalah. Kamu adalah orang yang sudah membuatmu bahagia selama 4 tahun ini," batin Olivia.
"Andai saja waktu bisa diputar kembali. Harusnya aku bisa membuatmu benar-benar mencintaiku Olivia. Tapi aku dengan bodohnya melampiaskan rasa kecewaku dengan cara tidak lazim. Aku malah membuatmu jauh dariku. Ternyata rasa cintaku padamu memang sangat besar, aku masih mencintaimu meskipun kamu sudah menyakitiku. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu," batin Decky.
Decky dan Olivia sama-sama melepaskan pelukkan mereka, setelah dengan gesit menghapus air mata mereka.
Merekapun sama-Sama berbalik badan dan melangkah dengan berat. Marco menyaksikan air mata Olivia mengucur deras merasa tidak terima. Sementara Decky yang juga menangis bergegas masuk kedalam mobilnya.
Tap
"Apa ini maksudnya? kenapa kamu menangis seperti itu? kamu nggak rela pisah sama dia? kamu harus tahu diri, aku sudah menerima kamu apa adanya, meskipun kamu sudah bekas banyak orang," ujar Marco dengan mencengkram erat bahu Olivia.
Olivia menyeka air matanya, dan melepaskan tangan Marco dari pundaknya.
"Marco. Aku ingin kita putus!" ucap Olivia.
"Heh. Jangan nggak tahu diri kamu. Siapa yang mau sama pe**cur kayak kamu. Masih untung aku mau sama kamu," hardik Marco.
"Justru itu aku sudah membayangkannya. Kalau kita memaksa hidup bersama, hal ini akan menjadi bahan ungkitan seumur hidup. Aku sudah memutuskan aku mau putus dari kamu. Aku sama kamu itu bukan cinta, tapi nafsu. Kamu dan Decky tidak ada bedanya. Kamu mau denganku karena aku bisa menghasilkan uang untukmu. Aku sudah lelah Marco, aku ingin menjalani hidupku dengan baik dan melupakan semua kenangan buruk. Aku ingin membuka lembaran hidup baru di tempat yang baru," ujar Olivia.
"Selamat tinggal Marco," ucap Olivia, dan kemudian melangkah pergi. Sementara Marco jadi bengong, karena ATM berjalannya benar-benar sudah pergi dari hidupnya.
Dua minggu kemudian....
"Pandai-Pandai membawa diri di tempat orang. Jangan lupa pulang juga. Kalau mau cari jodoh benar-benar harus di seleksi," ujar Rina.
"Iya Ma. Do'akan aku agar sukses mimpin perusahaan di Surabaya. Kalau disana memang sukses, kalian juga ikut pindah saja," ujar Decky.
Decky akhirnya merantau ke Surabaya. Selain mengadu nasib, dia ingin perpetualang mencari cinta sejatinya. Sementara Egi dan Deva tengah menunggu kelahiran buah cinta mereka yang tidak lama lagi akan segera lahir.
*****
Satu bulan kemudian....
TUSSSSS
"A-Air apa ini? perasaan aku nggak mau pipis?" gumam Deva.
Ceklek
Egi yang baru keluar dari kamar mandi tampak mengeringkan rambutnya sembari bernyanyi-nyanyi.
"Om. Aku pipis dilantai, tapi nggak kerasa," ujar Deva.
"Pipis di lantai? kamu kalau mau pipis kenapa nggak masuk aja ke kamar mandi? nggak perlu nungguin aku selesai mandi," tanya Egi.
"Aku juga nggak tahu. Tiba-Tiba aja keluar, mana banyak lagi keluarnya." Jawab Deva.
Egi menghampiri Deva dan melihat genangan air yang sangat banyak dilantai.
"Sayang. Sepertinya ini bukan air kencing, tapi ini air ketuban. Aku pernah baca buku hamil kamu, ini sangat bahaya. Ayo kita pergi ke rumah sakit," ujar Egi yang tiba-tiba mendadak panik.
Egi langsung melepaskan handuk yang melilit dipinggangnya dan melemparkannya ke lantai, agar menyerap air ketuban di lantai itu. Egi tidak mau Deva atau dirinya terpeleset.
__ADS_1
"Sayang. Cepat kamu pakai baju! nanti kamu masuk angin telanjang begitu," Deva malah merasa lucu saat melihat benda kebanggaan suaminya itu terombang ambing, ketika pria itu kesana kemari tampak sibuk sendiri. Egi menarik nafas panjang, untuk mengurangi kepanikkannya. Pria itu kemudian bergegas mengenakan pakaian, dan segera menghubungi orang tua Deva agar datang ke rumah sakit yang akan mereka tuju.
"Pak. Siapkan mobil! kita akan ke rumah sakit sekarang, istriku mau melahirkan," ujar Egi yang tengah menghubungi supir pribadinya.
Beruntung Egi saat ini tengah libur. Dan dia bisa menjadi suami siaga bagi Deva. Egi kemudian meraih baju Deva, dan mengganti daster istrjnya yang sudah basah. Pria itu bahkan mengganti kain segitiga istrinya agar Deva merasa nyaman. Namun bukannya panik, Deva malah senyum-senyum sendiri dan terlihat santai.
Grepppp
Deva mengalungkan kedua tangannya di leher Egi yang kekar.
"Sayang. Ini bukan waktunya kita mesra-mesraan. Ketuban kamu sudah pecah duluan, dan itu bukan pertanda baik," ujar Egi.
"Aku tahu, tapi aku akan baik-baik saja, selama kamu ada disisiku. Makasih ya sayang, karena kamu sudah menjadi suami terbaik buat aku," ujar Deva dengan mata berkaca-kaca.
Cup
Egi mencium bibir Deva dan sedikit me**matnya.
"Aku mencintaimu. Terima kasih juga sudah mau berjuang melahirkan keturunanku," ujar Egi.
Egi dan Deva kemudian pergi kerumah sakit. Karena ketuban Deva pecah dini dan tidak memilikki pembukaan maupun kontraksi, dokter memutuskan melakukan bedah cesar karena ditakutkan akan terjadi gawat janin. Egi setuju, meskipun Deva sedih karena sangat ingin melahirkan normal. Dan setelah dioperasi hampir satu jam, seorang bayi laki-laki akhirnya lahir. Tangis Egi pecah, karena dia sangat terharu.
"Selamat nak. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah," Hanggono yang antusias menyambut cucu barunya, minta diantar supir ke rumah sakit.
Hanggono dan Egi berpelukkan erat dan sama-sama meneteskan air mata.
"Selamat ya Gi. Sekarang kamu sudah menjadi seorang Ayah," ucap Edward.
"Iya. Mama juga sudah lega, karena Deva dan Leony sudah lahiran semua. Terlebih dapat cucu sepasang," timpal Yasmin dengan wajah semringah.
Tidak berapa lama kemudian bayi laki-laki Egi keluar dari ruang operasi, bayi berwajah sempurna itu begitu membasahi hati Egi saat melihatnya. Egipun segera mengadzani putranya itu. Setelah selesai Egi kembali ke depan ruang operasi yang ternyata Deva akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Cup
"Sayang. Makasih ya sudah berjuang melahirkan anak kita," ucap Egi setelah mengecup kening deva namun dengan lelehan air mata.
Deva tersenyum dan menghapus air mata Egi.
"Kamu pantas mendapatkannya Pa," ujar Deva.
"Pa?" tanya Egi.
"Emm. Mulai hari ini aku nggak akan panggil kamu Om lagi. Aku akan panggil kamu sama seperti anak kita memanggilmu. Papa Egi." Jawab Deva yang membuat senyum Egi mengembang.
"Ehemmm. Apa sudah mesra-mesraannya? kalian berdua ini kebiasaan. Di depan orang tua suka begini," ucap Hanggono yang membuat semua orang jadi terkekeh.
"Jadi siapa nama anak kalian?" tanya Edward yang tengah menggendong sang cucu.
"Ega Edward Hanggono." Jawab Egi.
Hanggono dan Edward saling berpandangan dan kemudian tersenyum satu sama lain.
"Kami do'akan semoga anak kalian jadi anak yang Sholeh," ucap Hanggono.
"Amiin." Jawab Semua orang yang ada di ruangan itu.
Egi dan Deva saat ini di liputi kebahagiaan. Namun ditahun berikutnya, kebahagiaan itu bertambah saat Deva kembali hamil anak perempuan. Sementara di tempat berbeda, lama tak terdengar kabar dari Decky. Ternyata pria itu tengah melakukan ta'aruf dengan seorang santri disalah satu pesantren di Surabaya. Alasan dia memilih gadis di pesantren, karena dia tidak ingin salah pilih lagi. Dan ditahun itu juga dia menikahi gadis yang baru berusia 19 tahun. Decky bisa pamer dengan bangga pada Egi, karena mendapat istri soleha sekaligus masih perawan.
__ADS_1
END
Terima kasih aku ucapkan buat teman-teman yang sudah mendukung karyaku. Jangan lupa dukung karya baruku "SUAMIKU CACAT MENTAL"