
"Aku tidak perduli Om mau lahir dari rahim siapa, anak siapa, dimana Om lahir, ataupun bagaimana Om dilahirkan. Aku cinta sama Om dengan ketulusan, dan cintaku tanpa syarat apapun," ujar Deva setelah kecupan dibibir suaminya itu berakhir.
"Makasih sayang. Aku memang tidak akan menutupi jati diriku sama kamu. Karena meski aku berusaha menutupi, tapi itu tidak membuatku bisa menghilangkan kenyataan yang sebenarnya," ujar Egi sembari menggenggam erat tangan Deva.
"Berjanjilah kamu akan selalu setia hingga maut memisahkan kita. Mungkin sebelum bertemu denganmu, aku memang sering berpetualang, tapi aku tidak melabuhkan hatiku pada sembarang wanita. Hanya denganmu hatiku benar-benar bisa luluh," sambung Egi.
"Aku akan selalu setia sama Om. Aku juga ingin Om setia sama aku. Aku mungkin memang masih labil dan mudah jatuh cinta. Tapi disaat cintaku itu terbalaskan, aku tidak bisa melepaskan orang itu lagi. Jadi aku mohon jangan pernah sakiti aku dengan orang ketiga diantara kita," ujar Deva.
"Tidak akan." Jawab Egi yang kemudian kembali mencumbu Deva.
Pertautan itu makin lama kian menuntut. Hingga percintaan panas itu kembali terjadi. Egi tidak membiarkan Deva banyak beristirahat, karena dia benar-benar sudah ketagihan bermain dengan istri kecilnya itu.
🌶️🌶️🌶️🌶️
Dua minggu kemudian....
Deva dan Egi sudah kembali ke tanah air. Pekerjaan Egi membuat mereka tidak bisa terlalu berlama-lama berada di Swiss. Tidak hanya Egi, Deva juga demikian. Tugas kuliah yang dia tinggalkan selama dua minggu sudah menumpuk, hingga dia harus merapel semuanya.
"Keenakkan dua minggu di Swiss sih. Sekarang tinggal pusingnya kan?" tanya Dian
"Lagian lama amat dua minggu bulan madunya. Padahal seminggu juga cukup," timpal Rizky.
"Kalau kalian sudah menikah, kalian akan tahu rasanya berbulan madu. Waktu sebulan atau setahunpun akan terasa kurang." Jawab Deva sembari menyalin tugas pada bukunya.
"Jadi benar-benar yahud ya Dev?" tanya Dian dengan konyol.
"Kamu jangan mancing-mancing aku buat ngomong ya? nanti tugasku nggak selesai-selesai. Pada intinya dari awal malam pertama, Om tua tidak melewatkan satu malampun bercinta denganku. Nggak cuma malam, pagi, siang, sore, tiada hari tanpa bercinta dengannya. Tapi anehnya aku juga nggak bosan." Jawab Deva terkekeh.
"Aduh...kalian ini benar-benar. Bisa bahas yang lain nggak? lagian Deva kurang kerjaan bahas yang begituan, nggak malu-malu lagi," ujar Rizky.
"Aku bilang sesuai kenyataan Ki. Ya mau gimana lagi, memang benar-benar enak soalnya." Jawaban Deva membuat Rizky jadi geleng-geleng kepala.
Tring
Tring
Tring
__ADS_1
Ponsel Deva berdering. Deva tersenyum, saat tahu itu adalah panggilan dari suaminya.
"Ya Om?"
"Ada dimana? aku ada diseberang gerbang kampus kamu," tanya Egi.
"Oke aku keluar sekadang." Jawab Deva.
"Eh aku duluan pulang ya! Om tua udah jemput aku nih," ujar Deva sembari menyimpan semua buku ke dalam tasnya.
"Hati-Hati," ucap Dian.
"Sip." Jawab Deva.
Deva bergegas berlari kearah gerbang, tanpa dia tahu beberapa orang sudah mengintainya sejak tadi. Saat dia baru keluar dari gerbang, dua orang bertubuh besar memaksanya masuk kedalam sebuah mobil jip. Egi yang melihat kejadian itu bergegas mengikuti mobil yang menculik istrinya.
"Orang sialan darimana yang mau mencari masalah denganku," gumam Egi sembari terus berkonsentrasi menyetir.
Sementara itu Deva yang berada didalam mobil orang asing itu berusah untuk tenang, dia tahu Egi saat ini tengah membuntuti dirinya yang dalam penculikkan.
"Siapa kalian? siapa yang menyuruh kalian?" tanya Deva.
"Riki sialan. Ternyata dia masih ingin membuat perhitungan sama aku," batin Deva.
Egi yang terus membuntuti, tampak berpikir keras. Dan dia memutuskan akan melibatkan polisi dalam hal ini. Pria itu kemudian menghubungi kantor polisi, dan memberikan lokasinya saat ini. Dan Egi cukup terkejut, saat melihat Deva sudah dalam keadaan pingsan dan digendong oleh salah seorang pria bertubuh besar.
"Mereka mau membawa istriku kemana? ini kan gudang cat? mau apa mereka membawanya kesini?" batin Egi.
"Ternyata ini gudang bekas pakai. Sekarang malah beralih fungsi jadi sarang penyamun," gumam Egi saat melihat seseorang membuka pintu utama gudang itu.
Egi bergegas turun, dan mengetuk pintu itu dengan kasar.
"Siapa kamu? ini bukan kawasan yang bisa kamu masuki sembarangan?" tanya seorang pria bertubuh besar, setelah membuka pintu.
"Aku tahu ini bukan wilayahku, tapi sepertinya kalian salah membawa seseorang. Wanita yang kalian culik itu istriku, bukan istri kalian. Jadi segera kembalikan, sebelum kalian dapat masalah dan berurusan dengan polisi. Polisi sudah menuju kemari, kalau kamu tidak ingin jadi orang bodoh, cepatlah melarikn diri," ujar Egi yang membuat pria dihadapannya itu jadi gentar.
Egi masuk begitu saja tanpa hambatan lagi dari pria itu. Pria itu malah segera memberitahu teman-temannya agar segera kabur, tanpa Riki sadari. Dan disalah satu ruangan khusus, Riki sedang menyeringai puas karena sudah berhasil menculik wanita yamg membuat burung masa depannya itu hampir binasa.
__ADS_1
"Sekarang tidak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu dari cengkramanku. Setelah aku puas menodaimu, aku akan menyuruh para anak buahku untuk menggilirmu dan di rekam. kemudian aku akan menyebarkannya di media sosial. Aku akan membuatmu malu, hingga suamimupun tidak sudi menerimamu lagi," ucap Riki.
Riki bergegas melepas pakaiannya dan hanya meninggalkan boxer saja. Namun baru saja dia ingin mengungkung Deva, sebuah ketukan nyaring terdengar dari luar.
"Ckk...siapa sih yang ganggu? padahal aku sudah bilang jangan menggangguku sampai besok pagi. Aku ingin bermain sepuasnya," gerutu Riki.
Rikipun segera membuka pintu, dengan perasaan dongkol.
Ceklek
"Ada a...."
Bugh...
Sebuah pukulan keras melayang di wajah pria itu. Riki terjerembab ke lantai, dan bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Bisa-Bisanya kamu masih berpikiran kotor tentang istriku? kamu ingin menodai istriku ha?" hardik Egi. Pria itu bahkan bisa melihat, kalau benda pusaka Egi masih mengacung dibalik celananya.
Sementara kondisi pakaian atas Deva sudah sedikit terbuka dua kancing bagian atas.
"Percaya atau tidak aku akan membunuhmu, kalau kamu berani menyentuh istriku lagi," geram Egi.
Deva yang mendengar percakapan, perlahan membuka matanya. Matanya terbelalak, saat melihat Riki tidak mengenakan baju dan hanya menyisakan celana boxer. Deva kemudian memeriksa bajunya, yang ternyata dua kancing bajunya sudah lepas dua buah. Merasa dilecehkan, nafas Deva naik turun. Rasa pusing dikepalanya tak lagi di rasa. Deva bergegas mengahampiri Riki dan menjambak-jambak rambut pria itu.
"Awww...awww sakit Dev," teriak Riki.
"Kamu apakan aku bajingan! kamu mau mati ya?" hardik Deva dan semakin mencengkram rambut pria itu dengan kuat.
"Sayang. Sudahlah! biar aku yang bereskan," ujar Egi.
"Nggak bisa Om! ini urusan aku sama dia mana burungmu yang mesum itu ha?"
Deva yang kalap menginjak-injak kembali burung masa depan Riki. Deva bisa merasakan, kalau dia sudah merusak burung itu kembali.
"Devaaa...hiks...dia patah lagi Dev...ahhkkkhh..." Riki berteriak kesakitan.
Egi yang melihat hal itu jadi resfleks menutup pusakanya sendiri, karena dia jadi ikut merasa sakit dan ngilu.
__ADS_1
"Ya ampun istriku ganas sekali. Kalau burungmu ingin selamat, jangan pernah main gila dengan wanita lain Egi. Alamat burungmu patah menjadi beberapa bagian. Ugggghhh sakit banget itu pasti," batin Egi.
Setelah puas dengan aksinya, Deva seperti tanpa dosa menarik tangan Egi dan mengajak suaminya itu pulang.