
"Sayang. Kamu darimana? tadi aku kira ada orang asing yang keluar, tapi ternyata itu kamu. Itu apa yang ditanganmu?" tanya Olivia.
"Ini?" ujar Decky sembari mengacungkan map didepan Olivia.
"Iya. Apa itu berkas penting?" tanya Olivia.
"Sangat penting sayang. Ini dokumen pernikahan yang harus segera kita serahkan ke KUA. Jadi mereka butuh tanda tangan kita berdua. Besok aku akan menyerahknnya ke KUA." Jawab Decky sembari merangkul pundak Olivia.
"Oh gitu. Ya sudah kita makan malam dulu, baru tanda tangani itu," ujar Olivia.
"Jangan tunggu nanti. Sekarang saja! takutnya nanti kelupaan, soalnya malam ini aku ingin menghabiskan malam bersamamu sepuasnya," ujar Decky sembari mengedipkan mata.
Decky kemudian duduk di salah satu sofa, begitu juga Olivia.
"Tanda tangan disini!" ujar Decky sembari menyerahkan sebuah pena.
"Apa tidak perlu aku membacanya dulu?" tanya Olivia.
"Tidak perlu sayang. Aku sudah kelaparan dan ingin segera bertempur denganmu lagi. Gara-Gara nggak jadi kesini kemarin, rinduku menggebu-gebu sama kamu." Jawab Decky.
Tanpa pikir panjang Olivia langsung menandatangani surat akta jual beli itu tanpa ragu sedikitpun. Itu membuat Decky tersenyum penuh kemenangan.
"Bagus! untuk selanjutnya aku akan mencuri semua yang pernah aku berikan padamu gadis bodoh," batin Decky.
"Ayo kita makan!" ujar Olivia.
"Ayo. Aku sudah sangat lapar," ujar Decky
Decky meletakkan begitu saja berkas itu di meja ruang tamu, dan mengajak Olivia makan malam. Setelah selesai makan malam, sesuai rencana Decky. Saat mereka hendak bertempur kembali, orang suruhannya mengetuk rumah Olivia dengan keras.
"Siapa itu? ganggu aja sih?" tanya Decky.
"Bi-Biar aku yang buka sayang," Terlihat sekali Olivia gugup, karena takut Marcolah yang datang.
"Tapi kamu sedang sexy begitu. Biar aku saja yang buka," Decky berpura-pura perduli.
"Tidak apa-apa. Aku bisa memakai baju tidurku dulu. Takutnya itu tetangga atau pak Rt, jadi nggak enak kalau lihat kamu malam-malam berada di rumah ini," ujar Olivia.
__ADS_1
"Ya udah," ujar Decky.
Olivia bergegas mengenakan pakaian lagi, dan segera membukakan pintu. Namun dia sangat terkejut saat 4 orang menodongkan pistol kearahnya, yang membuatnya tidak bisa berteriak.
"Jangan berteriak! kalau tidak ingin kepalamu berlubang," ujar salah seorang pria bertopeng.
Olivia mendadak gemetar, sembari masuk kedalam. Dia tidak berani berteriak, dan Decky berpura-pura memastikan .
"Sayang. Siapa yang datang? kok lama?" tanya Decky.
"Ya Tuhan...siapa kalian? lepaskan calon istriku," Decky berpura-pura terkejut.
"Kami tidak ada urusan denganmu. Menyingkirlah! kalau tidak pistol ini akan melubangi kepalamu,"
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Olivia disela rada paniknya.
"Tentu saja hartamu. Cepat katakan! dimana kamu menyimpan semua perhiasanmu dan juga uangmu?"
"A-Ada di kamar." Jawab Olivia.
Merekapun mendorong Olivia dan Decky masuk ke dalam kamar. Dan kemudian menjarah semua uang dan perhiasan. Bahkan mereka minta kartu ATM dan pin. Hingga ponsel Oliviapun tak luput jadi sasaran.
"A-Apa lagi mau kalian! pergilah dari sin!" hardik Olivia
Tanpa bayak bicara Olivia di dorong keatas tempat tidur dan dilucuti.
"Kamu diam ditempat! jangan coba-coba menolong gadis ini,"
Decky berpura-pura tidak berdaya dan pasrah saat Keempat pria itu menggilir Olivia. Jerit ketakutan dan kesakitan Olivia sama sekali tidak dihiraukan oleh keempat pria yang menghujam kasar Olivia. Dan setelah mereka puas, merekapun meninggalkan Olivia dan Decky begitu saja.
"Maafkan aku sayang. aku tidak berdaya," ucap Decky
"Hiks...rasanya sakit sekali. Pria-Pria itu sudah seperti binatang. Sayang, kamu nggak akan ninggalin aku kan? sekarang aku tidak punya apapun lagi," ujar Olivia sembari terisak.
"Kenapa aku harus ninggalin kamu? ini bukan kemauan kita. Soal harta itu, nanti akan aku berikan lagi sebanyak yang hilang setelah kita menikah," ujar Decky.
"Pokoknya malam ini kamu harus menemaniku, aku sangat takut," ujar Olivia.
__ADS_1
"Tentu. Astaga! bagaimana dengan sertifikat butik? apa mereka mengambilnya juga?" Decky berpura-pura terkejut
Olivia yang teringat, langsung bangkit dari tempat tidur meskipun didaerah intinya masih merasakan sakit yang luar biasa. Dan gadis itu sangat terkejut, karena semua sertifikatnya hilang.
"Sayang. Mereka benar-benar mengambilnya. Bagaimana ini?" Olivia kembali mennagis.
"Sudahlah ikhlaskan saja! nanti setelah menikah aku akan membangunkan butik yang lebih banyak lagi," ujar Decky.
"Iya." Olivia mengangguk dalam dekapan Decky. Sementara Decky menyeringai penuh kepuasan.
🌶️🌶️🌶️
"Maafkan Decky kek. Decky sudah mengecewakan kakek. Sekarang HANG GROUP benar-benar runtuh," ujar Decky dengan wajah menyesal.
"Tidak masalah. Karena aku sudah menduga hal ini pasti lambat laun akan terjadi. Aku akan menganggap tugasku sudah selesai. Aku sudah memberikan warisan terakhir pada keturunan terakhirku, dan itu sudah kutunaikan. Jadi mau kamu apakan perusahaan itu, sudah bukan menjadi urusanku lagi," ujar Haggono.
Decky bisa merasakan ada kegetiran dalam nada bicara Hanggono, dan untuk pertama kalinya dia merasakan ada rasa bersalah dalam hidupnya.
"Jadi kamu masih mau meneruskan pernikahanmu dengan gadis itu?" tanya Hanggono.
"Iya kek.Tapi untuk alasan tertentu, yang belum bisa aku ceritakan pada kalian semua. Lagipula uang untuk persiapan pernikahan sudah terlanjur dikucurkan. Dengan undangan yang sudah disebar, berharap ada uang yang kembali." Jawab Decky yang membuat kening Hanggono mengerut.
Sementara Egi dan Deva hanga diam saja, sembari mengunyah makanan dihadapannya. Decky kemudian melirik kearah Deva yang tampak bahagian, dan sesekali disuapi oleh Egi. Dan sesekali pula Egi mengusap perut Deva yang masih terlihat rata.
"Andai saja waktu bisa diputar kembali, tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kamu Dev. Aku memang tidak tahu diuntung, dan Egilah yang beruntung memiliku. Entah apa yang membuatku tidak bisa melihat kearahmu, dan hanya terpaku pada Olivia. Dan setelah mataku terbuka, aku baru menyadari bahwa kamu memiliki wajah yang sempurna dan tubuh yang ideal," batin Decky.
Tanpa Decky sadari, Egi menangkap basah dirinya yang tengah menatap istrinya. Dan tentu saja dia merasa sangat cemburu.
"Lain kali kalau kamu berani menatap istriku lebih dari 3 detik, aku akan mencongkel kedua matamu itu," ujar Egi yang membuat Decky jadi salah tingkah.
"Decky. apa yang kamu lakukan? bikin malu saja," bisik Rina.
"Maaf. Aku hanya senang melihat kalian yang terlihat sangat bahagia. Deva terlihat bersinar saat tengah mengandung." Jawab Decky yang membuat Egi tambah marah.
Egi ingin bangkit dari tempat duduknya, namun ditahan oleh Deva
"Sayang. Jangan kekanakkan! meskipun dia menatapku sampai dirinya menggantikan patung Malin Kundang sekalipun, aku tidak akan menoleh kearahnya," ucap Deva.
__ADS_1
Egi tersenyum. Tanpa malu-malu dia mencium istrinya itu didepan semua orang. Dia tersadar, setelah mendengar deheman keras dari Hanggono.