KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
37. Dipecat


__ADS_3

"Tuan. Apa anda tidak kenapa-napa?" rekan kerja pria itu tampak panik, saat melihat pengusaha alat pengaman itu sudah basah kuyup, dengan warna baju sudah warna warni akibat berbagai jus tumpah di tubuhnya.


"Saya...."


Deva dengan emosi tingkat kabupaten, langsung berdiri dan berkacak pinggang.


"Kalian punya mata tidak? yang jatuh kesakitan itu aku, bukan dia! kenapa kalian malah mengkhawatirkan dia yang hanya tersiram air. Nggak ada yang mati karena tersiram air jus. Tapi coba kalian lihat ini! tanganku lecet, kakiku terkena pecahan gelas. Kalian tahu siapa penyebabnya? ini karena ulah kaki teman anda," ucap Deva sembari menunjuk kearah pria yang sudah basah kuyup itu.


"Hei Om...ada apa dengan kakimu? kenapa kakimu menghalangi jalanku? gara-gara kakimu semua jusnya tumpah. Ini jangan mentang-mentang anda sudah tua, terus menyalahkan saya yang seorang pelayan ya? padahal Om tahu, siapa yang salah diantara kita," sambung Deva.


"Oh ya ampun...matilah aku. Pelayan itu akan membuatku kehilangan pekerjaanku," sang manager pucat pasi saat melihat keberanian Deva memarahi pria yang merupakan distributor kon*om terbesar di kota Bali.


"Pak. Sebaiknya anda cepat bereskan pelayan baru itu, kalau nanti bos datang kita bisa tamat pak," bisik Rani.


"Aduh...apes sekali. Baru pertama masuk kerja sudah sesial ini," gerutu Deva sembari meniup-niup tangannya yang lecet.


"Tuan Egi. Kami ucapkan beribu maaf, atas kelalaian pelayan kami. Sebagai bentuk permintaan maaf, kami akan menyediakan baju baru untuk anda. Pesanan anda hari ini kami akan menggratiskannya," ucap manager sembari membungkukkan tubuhnya.


"Kok bapak minta maaf. Kan dia yang salah pak. Disini ada cctv kan? coba lihat deh kalau bapak nggak percaya. Saya nggak salah pak, seharusnya dia yang minta maaf sama kita," ujar Deva ngotot.


"Oh ya? jadi maksudmu seorang pengusaha besar harus minta maaf sama kamu yang seorang pelayan rendahan?" tanya Manager.


"Ada apa dengan pelayan? pelayan juga manusia pak. Benar ya benar, salah ya salah. Nggak ada hubungannya dengan kedudukkan. Aku juga akan marahin dia kalau dia seorang president. Saya kan nggak salah pak!" Deva emosi.


"De-Va...sekarang juga kamu kemasi barang kamu, dan pergi dari kafe ini. Karena mulai hari ini kamu di-pe-cat," sang manager mengatakannya dengan penuh penekanan.


"Kok dipecat pak? saya kan nggak salah pak," Deva menyusul sang manager yang akan mengambilkan pakaian ganti untuk Egi.


"Apa anda sungguh baik-baik saja tuan Egi?" tanya salah satu rekan bisnisnya.


"Sangat baik. Kadang kejadian seperti tadi memang diperlukan, agar mata dan jantung kita melek dan terpacu." Jawab Egi sembari mengulas senyum.


Sementara itu di ruang belakang, Deva masih berusaha membujuk sang manager agar tidak memecat dirinya. Tapi manager itu tetap saja teguh dengan pendiriannya. Deva dengan kesal mengambil tasnya dalam loker penitipan barang, setelah itu dia melangkah pergi dari ruangan itu.


Namun sebelum dia benar-benar pergi, dia kembali menghampiri meja Egi saat pria itu akan berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Gara-Gara anda aku jadi pecat. Aku tidak akan pernah melupakan wajah tua anda. Aku sumpahi anda tidak akan menikah, kalau anda masih perjaka," ucapan Deva membuat teman-teman Egi jadi melongo.


"Bagaimana kalau ternyata aku sudah menikah?" tanya Egi dengan jahil.


"Aku sumpahi anda banyak keturunan seperti kurawa." Jawab Deva.


"Aku akan pakai kon*om," timpal Egi.


"Aku sumpahi kon*om anda bocor," ucapan Deva membuat Egi jadi tertawa keras. Tawa yang tidak pernah teman-temannya lihat, karena Egi terkenal pendiam dan irit bicara.


"Gggrrrr...pakai tertawa lagi. Dasar Om-Om nggak punya perasaan. Senang melihat orang kesusahan. Apa anda tahu, aku terancam tidak bisa makan bulan depan? dasar om-om menyebalkan!" gerutu Deva sembari berlalu dari hadapan Egi.


Sesaat kemudian sang manager membawa pakaian baru untuk Egi. Egi lalu mengganti pakaiannya di toilet.


"Apes bener sih hidupku? apa aku ini ditakdirkan hidup sengsara selamanya? di Jakarta punya banyak musuh, di Bali ketemu orang-orang sontoloyo. Sekarang aku harus bagaimana? aku harus mencari pekerjaan baru bukan?" gumam Deva.


"Sekarang aku harus pulang, dan membuat surat lamaran yang baru. Aku tidak bisa membuang banyak waktu, aku harus mencari pekerjaan hari ini juga,"


Deva mempercepat langkahnya agar cepat sampai ke tempat kostnya. Deva kemudian bergegas menulis sulit lamaran, dan menyiapkan berkas-berkas lainnya kedalam sebuah map coklat.


"Semangat Deva. Apapun yang terjadi, kamu harus menemukan pekerjaan baru hari ini," Deva memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Deva berjalan sembari melihat bangunan-bangunan besar. Sampailah dia pada sebuah gedung bertuliskan ' E. Sampoerna'.


"E. Sampoerna? ini perusahaan apa ya kira-kira? kalau masuk, nggak dosa kali ya hehehe," Deva dengan nekad memasuki gedung itu namun ditahan oleh security saat akan memasuki pintu utama.


"Maaf mbaknya ada keperluan apa?" tanya Security.


"Saya mau melamar kerja pak." Jawab Deva.


"Maaf nggak ada lowongan," ujar security.


Deva menghela nafas dan berbalik badan. Egi yang baru pulang dari meeting tidak sengaja melihat Deva yang berjalan lesu setelah di tolak oleh security.


"Ya tuan," tanya Security diseberang telpon.

__ADS_1


"Gadis itu mau apa?" tanya Egi yang membuat mata Security itu mencari-cari keberadaan sang bos.


"Mau cari kerja pak. Tapi kantor kita nggak ada lowongan." Jawab security.


"Kamu samperin dia. Bilang ada satu lowongan kerja dibagian Office Girl," ujar Egi.


"Baik pak." Jawab Security.


Egi segera mengakhiri panggilan itu. Dan security itu bergegas memanggil Deva kembali.


"Non. Tunggu!" Deva segera berbalik badan dan melihat Security menghampiri dirinya.


"Ada apa pak?" tanya Deva.


"Ternyata ada satu lowongan yang tersisa. Tapi bagian Office Girl. Apa nona mau?" tanya Security.


"Mau pak." Jawab Deva antusias.


"Kalau gitu cepat pergi kebagian HRD," ucap Security.


Deva kemudian mengekor dibelakang security itu dan diantar kebagian HRD. Sementara bagian HRD yang sudah di telpon oleh Egi, segera melaksanakan perintah bosnya itu.


"Jadi tugas kamu hanya membuatkan kopi dan membawa air mineral. Itu kamu antarkan ke ruang bos tepat pada pukul 8 pagi. Tugas kamu hanya melayani bos kita saja, kalau untuk yang lain ada OG lainnya. Setelah makan siang, bos biasanya minum teh dan juga air mineral. Dan pada pukul 3 sore, kamu kembali membuatkannya kopi dan juga snack sore. Apa kamu mengerti?"


"Mengerti bu." Jawab Deva.


"Sekarang kamu temui bagian seksi perlengkapan. Minta seragam untuk kamu pakai besok. Sekalian minta tunjukkan pantry yang paling dekat dengan ruangan bos,"


"Baik Bu. Permisi!" Jawab Deva.


Deva kemudian melenggang pergi dan mencari ruang perlengkapan. Setelah menemukan ruangan itu, dia kemudian diberi seragam dan juga diantar ke pantri tempat dirinya akan bekerja.


"Ah...nggak masalah jadi OG juga. Jadi ini ya ruangan bosku? bos, sampai jumpa besok ya!"


Deva senyum-senyum menatap pintu ruangan bosnya. Setelah itu beranjak pergi dari kantor itu untuk pulang beristirahat. Sementara Egi yang memperhatikan gerak gerik Deva dari ponselnya hanya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Bocil. Selamat datang di neraka!" Egi menyeringai.


Egi mematikan sambungan cctv di ponselnya. Pria 30 tahun itu tidak bisa melupakan penghinaan yang Deva lakukan terhadapnya.


__ADS_2