KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
50. Resmi Bercerai


__ADS_3

"Apa ini mas?" tanya Leony saat Vino menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.


"Akta ceraimu." Jawab Vino.


"Makasih mas," ucap Leony sembari meraih amplop coklat itu dengan wajah datar.


Leony menatap akta cerai ditangannya, entah mengapa dia tidak merasakan lega sama sekali meski sudah bercerai dari Ferdy.


"Mau pergi keluar?" tanya Vino.


"Kemana?" tanya Leony.


"Merayakan kebebasanmu. Aku ingin mengajakmu dinner." Jawab Vino.


"Baiklah. Tapi aku ingin menikmatinya dengan ala rakyat biasa, bukan dengan cara orang kaya," ujar Leony.


"Maksudnya?" tanya Vino.


"Aku ingin kita pergi dengan motor, bukan dengan mobil mewah. Aku juga ingin makan di lesehan biasa, bukan makan di retaurant ataupun kafe." Jawab Leony.


"Dan aku tidak menerima penolakkan malam ini. Anggap saja ini kado perpisahan kita. Bukankah kontrak kita akan berakhir 2 minggu lagi?" tanya Leony.


Vino terdiam. Namun sesaat kemudian dia menyetujui permintaan Leony. Tepat pada pukul 7 malam mereka pergi dengan menggunakan motor matic milik pelayan rumahnya. Leony memekuk Vino dengan mesra, seolah mereka adalah pasangan yang tak mungkin terpisahkan.


"Kita mau makan apa?" tanya Vino.


Suara pria itu nyaris tak terdengar, karena disapu oleh terpaan angin.


"Aku pengen makan bakso yang pedas mas." Jawab Leony.


"Yang lain saja. Aku tidak suka makanan itu," ujar Vino.


Leony terdiam mendengar ucapan Vino. Namun akhirnya Vino mengalah, dan menuruti keinginan Leony.


"Apa itu bakso?" tanya Vino yang merasa heran, karena melihat jenis bakso dengan ukuran tidak biasa.


"Iya mas. Biasanya kalau ukuran sebesar itu, lebih cocok dimakan untuk satu keluarga atau beramai-ramai." Jawab Leony.


"Jadi mas mau pesan apa? disini cuma ada menu bakso dan mie ayam saja," tanya Leony.

__ADS_1


"Bakso saja tapi ukuran yang kecil saja. Tidak usah pakai mie." Jawab Vino.


Leony makan dengan lahap, sementara Vino makan sekedarnya saja. Setelah selesai makan malam, merekapun berkeliling-keliling dan berhenti saat bertemu sebuah pasar malam.


"Mau apa kita kesini?" tanya Vino.


"Aku ingat Kayla mas. Kita naik bianglala yuk mas?" tanya Leony yang kemudian mendapat tanda setuju dengan anggukkan kepala.


Leony tersenyum semringah, karena Vino tidak membantah apapun yang dia inginkan. Wanita itu kemudian menggandeng tangan Vino untuk naik bianglala bersama. Setelahnya Leony mengajak Vino bermain apapun yang ada di tempat itu.


"Sudah hampir jam 11 malam. Apa kita pulang sekarang?" tanya Vino.


"Ya mas. Makasih ya? malam ini adalah malam yang paling membahagiakan buat aku. Aku senang, karena setelah perpisahan kita nanti aku sudah banyak menyimpan kenangan kita berdua mas." Jawab Leony.


Vino menatap wajah cantik Leony, namun sesaat kemudian pria itu memalingkan wajah dan berjalan lebih dulu di depan Leony.


"Ayo kita pulang!" ucap Vino.


Leony tersenyum getir, dan kemudian mengekor dibelakang pria itu. Tak ada pembicaraan disepanjang perjalanan pulang. mereka seolah larut dalam pemikiran masing-masing.


🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️


Hosh


Hosh


Hosh


"Aku harap mas menyukai serviceku yang terakhir ini. Ini sudah jam 4 subuh, pagi ini aku akan pergi karena kontrak kita sudah berakhir hari ini," ujar Leony disela nafasnya yang memburu.


Vino yang lupa, tubuhnya mendadak tegang. Namun dia bersikap biasa saja dihadapan Leony.


"Uangmu sudah aku siapkan. Kamu bisa menggunakannya untuk membuka usaha, dan jangan pernah terjebak dengan hubungan kontrak lagi. Kamu harus hidup lebih baik lagi" ujar Vino.


"Pasti. Aku ucapkan banyak terima kasih, karena mas sudah baik sama aku selama ini. Mas juga banyak membantuku dari segi apapun itu," ucap Leony.


"Dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi, agar kita tidak merasa canggung. Terlebih saat aku mendapatkan suasana yang baru," ujar Vino.


Nyuuutttt

__ADS_1


Hati Leony terasa dicubit dan di remas. Sekuat mungkin dia menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan pria itu.


"Mas tenang saja. Meskipun suatu saat kita bertemu, dan mas sedang bersama pasangan yang baru. Kita bersikap saja seolah-olah tidak saling mengenal," ujar Leony.


"Aku membersihkan diri dulu mas," sambung Leony sembari beranjak dari tempat tidur dengan langkah gemetar.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, Leony menutup mulutnya rapat-rapat, agar tangisnya yang pecah tidak sampai terdengar keluar.


"Jadi begini rasanya jadi pe**cur. Aku tidak pernah merasa sehina dan serendah ini. Dasar hati sialan tidak tahu diri. Kenapa kamu mudah sekali jatuh cinta. Apa yang kamu lihat dari pria cuek dan dingin itu. Dia hanya punya uang, tapi tidak punya hati," batin Leony.


Leony kemudian berendam air hangat dalam bathup. Setelah selesai membersihkan diri, Leony tidak ingin membuang banyak waktu. Wanita itu segera berpakaian, dan berpamitan dengan Vino yang masih tertidur lelap.


"Mas. Aku pergi dulu," ujar Leony yang membuat mata Vino terbuka seketika.


Vino kemudian meraih ponselnya, dan waktu baru menunjukkan pukul 5.30 pagi.


"Mau kemana kamu sepagi ini? apa kamu mau pulang ke rumah orang tuamu?" tanya Vino.


"Kemana saja mas. Asal tidak ada seorangpun yang bisa menemukanku, termasuk kamu," sindir Leony.


Vino berdiri dengan tubuhnya yang telanjang. Pria itu kemudian menekan beberapa digit pada brankas mininya, dan mengambil amplop coklat berisi uang yang sudah dia siapkan.


"Ini ada 300 juta untukmu. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaan di luar sana nanti. Terima kasih atas kerjasamanya selama ini," ucap Vino yang semakin membuat hati Leony terluka.


"Sama-Sama mas. Senang juga bekerjasama dengan mas selama 6 bulan ini," ujar Leony dengan tersenyum pahit.


"Aku pamit ya mas!" setelah meraih uang dari tangan Vino.


Leony segera berbalik badan, diiringi air matanya yang jatuh membasahi pipi. Dan air mata itu bertambah deras, karena Vino sama sekali tidak ada niat menahannya.


Seiring langkah kaki Leony berjalan menuju gerbang rumah itu. Leony meraih ponsel dalam tasnya, dan membuang sim card dihalaman rumah itu.


"Selamat tinggal mas Vino. Selamat tinggal dunia gelap," gumam Leony.


Leony bergegas menyetop sebuah taksi, dan pergi dari rumah itu. Sementara itu, Vino yang tengah berada dikamar merasa bingung sendiri saat Leony sudah pergi.


"Ada apa denganku? kenapa dadaku terasa sesak?" gumam Vino sembari mengurut dadanya.


"Aku tidak mungkin menyukai Leony kan? ini bukan hal pertama bagiku, dan aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Lagian kenapa harus dia?" gerutu Vino.

__ADS_1


Vino kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Tanpa dia sadar, dia menyeru nama Leony berkali-kali karena ingin diambilkan handuk. Kebiasaan yang sering dia lakukan, karena selalu lupa membawa handuk saat sedang mandi.


"Leony. Kamu kemana sih? aku kedinginan ini," tanya Vino sembari membuka pintu kamar mandi. Dan setelah pria itu tersadar, tubuhnya mendadak kaku, diiringi dengan bibirnya yang kelu.


__ADS_2