KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
22. Kemesraan Palsu


__ADS_3

"Kakek," sapa Deva saat Deva dan Decky tiba di kediaman utama keluarga Hanggono.


Hanggono yang tengah membaca koran pagi, tersenyum semringah saat melihat kedatangan dua cucu kesayangannya. Hanggono bisa melihat pertautan tangan Deva dan Decky saat dua sejoli itu tengah menghampirinya.


"Kakek sehat?" tanya Deva sembari mencium tangan Hanggono.


"Sehat. Bagaimana bulan madu kalian Hem? pasti menyenangkan bukan?" tanya Hanggono yang sempat melirik satu tanda merah dileher Deva yang terbuka.


"Iya kakek." Jawab Deva dengan tersipu malu.


"Kakek senang hubungan kalian sangat baik. Meskipun kakek mati sekarangpun, kakek sudah merasa tenang," ujar Hanggono.


"Kakek bicara apa. Kakek pasti berumur panjang," ucap Decky.


"Yang pasti jangan mati dulu sebelum kakek menyerahkan semua aset perusahaan Hangono," batin Decky.


"Iya kek. Kakek harus selalu sehat," timpal Deva.


"Sayangnya pamanmu nggak bisa ketemu kalian. Dia bertolak kembali ke Bali 3 hari yang lalu," ujar Hanggono.


"Paman pulang?" tanya Decky.


"Ya. Dia juga menitipkan kado buat pernikahan kalian." Jawab Hanggono.


"Nanti akan ku telpon dia untuk mengucapkan terima kasih," ujar Decky.


"Harus. Dia mendapatkan jam tangan itu sangatlah sulit. Jam tangan couple keluaran terbaru limited edition. Yang hanya di produksi 3 pasang saja di dunia," ucap Hanggono.


"Hebat juga anak kakek yang satu itu. Apa menjual sarung pisang kulit memang sangat menguntungkan seperti itu?" tanya Decky.


"Semakin banyak orang yang berotak mesum, maka permintaan akan semakin meraja lela." Jawab Hanggono dengan bangga.


Sementara Deva yang masih berotak polos, tentu saja kebingungan dengan arah pembicaraan itu.


"Sarung pisang kulit? seperti apa rupa sarung pisang kulit? apa sarung itu berfungsi agar pisangnya cepat matang? kalau bukan, buat apa pisang butuh disarungin? toh kulitnya juga nggak bisa dimakan," batin Deva.


"Kalian pasti lelah. Pergilah ke kamar atas! nanti saat makan siang, pelayan akan memanggil kalian," ucap Hanggono.

__ADS_1


"Iya kek." Jawab Decky.


"Yes berhasil. Sepertinya kakek sudah percaya dengan sandiwara yang aku mainkan. Deva si bocah ingusan ini sama sekali tidak sadar, kalau sandiwara ini sekalian menipu dia. Jadinya sekali melempar batu, dua burung tumbang," batin Decky.


Decky kemudian meraih tangan Deva, dan menggenggam tangan istrinya itu dengan erat. Dua sejoli itu sangat romantis dimata Hanggono. Tanpa pria tua itu sadari, bahwa dirinya sudah tertipu mentah-mentah.


"Sayang. Sebenarnya aku mau bercerita penting sama kamu," ujar Decky setelah mereka tiba di kamar.


"Ada apa kak?" kini Deva tidak lagi canggung, saat Decky menyebut dirinya dengan panggilan sayang. Karena sejujurnya dia juga menyukai saat Decky memanggilnya dengan sebutan demikian.


"Tapi aku ingin rahasia ini tetap terjaga. Karena kakek tidak ingin orang lain tahu tentang rahasia dirinya. Yang tahu cuma keluarga inti saja," ujar Decky.


"Rahasia? rahasia apa kak? aku berjanji akan menjaga rahasia ini. Karena walau bagaimanapun sekarang aku sudah menjadi bagian keluarga ini juga kan?"


"Itulah sebabnya kakak sangat mempercayaimu," ucap Decky.


"Terima kasih karena kakak percaya padaku. Lalu rahasia apa yang kakak maksud?" tanya Deva.


"Sebenarnya kakek saat ini dalam kondisi sekarat. Usia kakek di vonis dokter hanya tinggal 3 bulan lagi." Jawab Decky yang kemudian menghentikan ucapannya. Dia ingin melihat respon dari Deva.


"Apa? kakek sekarat? ma-mana mungkin. Tapi kakek sangat terlihat sehat," ucap Deva yang memperlihatkan wajah terkejut.


Decky kemudian meraih kedua tangan Deva, dan menciumnya. Di tatapnya wajah Deva dengan tatapan sendu.


"Sayang. Maukah kamu bersandiwara sekali lagi? ini demi kakek. Aku sangat ingin membahagiakan kakek sebelum beliau meninggal," tanya Decky.


"Apa yang bisa aku lakukan kak? aku juga ingin bisa membuat kakek bahagia," tanya Deva dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi aku tidak yakin kalau kamu mau melakukannya. Karena ide ini terdengar gila." Jawab Decky yang kemudian memalingkan wajahnya.


Deva meraih kedua sisi wajah Decky yang tampak berwajah mendung. Ditatapnya netra Decky yang terlihat berkaca-kaca.


"Katakan kak! katakan jangan ragu. Sekalipun itu mustahil, aku akan melakukannya," ucap Deva.


"Benarkah?" tanya Decky dengan mata berbinar.


"Ya." Jawab Deva.

__ADS_1


"Aku ingin bulan depan kita mengklaim, bahwa kamu sedang mengandung," ujar Decky.


"Ap-Apa? tapi kan kita belum...."


"Kakak tahu kita belum melakukannya. Kita sudah sepakat akan melakukannya saat kita sudah sama-sama memiliki perasaan. Tapi sayang, bulan depan atau kapanpun itu sama saja bukan? toh umur kakek cuma tinggal 3 bulan lagi. Kakak cuma ingin membahagiakan dia sebelum dia meninggal," ujar Decky.


"Tapi itu artinya kita akan membohonginya kak. Bagaimana kalau ketahuan? dia pasti sangat sedih," ujar Deva.


"Siapa yang akan tahu? kan yang tahu rahasia ini cuma kita berdua," ucap Decky.


Deva terdiam. Wanita itu tampak menibang baik dan buruknya sandiwara beresiko itu. Decky kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Deva dengan wajah yang sedikit murung.


"Sudah kuduga kamu tidak akan setuju. Maaf ya kakak sudah memberikan ide gila itu. Kakak cuma ingin harapan kakek terwujud. Dia sangat ingin menyuruh kita berbulan madu. Itu karena dia sangat ingin mendengar kabar baik," ucap Decky yang mulai menebar racun dipikiran Deva.


"Kenapa kita harus pura-pura kak? kita bisa mewujudkan hal itu menjadi berita sungguhan," ucap Deva.


"Ma-Maksudmu?" tanya Decky.


"Meski kita belum saling mencintai, tapi aku yakin seiring berjalannya waktu, perasaan itu akan tumbuh. Aku rasa tiga bulan waktu yang cukup buat tumbuh seorang janin di rahimku." Jawab Deva tersipu.


Sejujurnya dia sudah jatuh cinta pada Decky, karena Decky sangat baik padanya. Tapi dia tidak mungkin mengakui perasaannya lebih dulu.


"Apa bocah ingusan ini sudah gila? mana selera aku menyentuhnya. Bagaimana ini? aku harus mencari alasan apa?" batin Decky.


"Apa yang kamu lakukan Deva? bagaimana kalau dia menganggapmu wanita murahan. Haduh tapi sudah terlanjur ngomong," batin Deva.


"Bagaimana kalau setelah kita bercocok tanam tapi ternyata belum berhasil? karena terkadang setelah melakukan, belum tentu langsung berhasil. Bahkan ada yang sampai bertahun-tahun. Kalau menunggu selama itu, kakek keburu...."


"Aku setuju kak. Maaf aku tidak berpikir sejauh itu. Baiklah, apapun rencana kakak aku akan mengikutinya," ucap Deva yang langsung memotong ucapan Decky.


Deva tidak ingin terlalu ngotot. Deva tidak ingin membuat Decky illfeel padanya.


"Dasar bodoh. Kalau rencana ini berhasil, maka kakek tidak punya alasan lagi buat menunda menjadikan aku direktur utama di Hang Group secara resmi," batin Decky.


"Makasih ya sayang. Semoga rencana kita ini berhasil. Aku ingin kakek selalu tersenyum setiap hari sebelum beliau meninggal," ucap Decky.


"Sama-Sama kak. Aku juga ingin melihat senyum kakek," ujar Deva.

__ADS_1


Decky kemudian memeluk Deva. Tanpa Deva tahu, pria itu menyeringai dibelakang punggungnya.


__ADS_2