KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
21. Pulang


__ADS_3

Leoni menatap Vino yang tengah menempelkan dua buah materai sembari duduk dikursi kebesarannya. Saat ini Leoni dan Vino tengah berada di ruang kerja pria itu.


"Tanda tangani kontraknya!" ucap Vino sembari meletakkan sebuah pena bertinta hitam diatas selembar kertas.


Leoni melirik sekilas judul besar yang dibuat pria itu.


"Kenapa langsung di kontrak om? om kan belum...."


"Aku sudah memutuskannya. Jadi sebaiknya tidak usah bertanya." Jawab Vino dengan wajah datar.


Leoni menelan air ludahnya yang terasa sudah mengumpul di tenggorokkannya. Dengan tangan sedikit bergetar, dia membubuhkan tanda tangan diatas materai sebagai pihak kedua. Setelah selesai, Vino mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam laci.


"Ikut aku!" ucap Vino.


Leoni mengekor dibelakang pria itu, yang ternyata dia dibawa oleh pria itu ke kamar pribadinya. Terus terang lutut Leoni jadi bergetar saat ini. Saat mendebarkan begitu dia rasakan, ketika pria itu terlihat melepaskan pakaian tidurnya dan berbaring dengan hanya meninggalkan kain segitiga ditubuhnya.


"Tanggalkan pakaianmu, dan naiklah ke atas ranjang!" ucap Vino.


Dengan tangan gemetar, Leoni menanggalkan pakaiannya satu persatu.


"Stop! kemarilah," ujar Vino yang membiarkan Leoni masih mengenakan penyangga dada dan kain segitiga berenda miliknya.


Leoni perlahan mendekat kearah Vino, yang terlihat berbaring telungkup. Leoni gugup setengah mati saat ini.


"Tolong pijat! tubuhku rasanya pegal," ujar Vino.


"Eh?" Leoni jadi kebingungan.


Namun Leoni menuruti apa kemauan Vino. Setelah hampir 1 jam memberikan pijatan ditubuh pria itu, pria itu malah menyuruhnya berbaring di sampingnya.


"Tidurlah!" ucap Vino.


"Eh?" lagi-lagi Leoni kebingungan.


Vino menepak lengannya sebanyak dua kali, agar Leoni berbaring disana. Leoni menuruti perintah Vino dengan jantung yang berdebar. Vino membawa Leoni dalam pelukkannya dan tidak melakukan apapun semalaman. Leoni yang kelelahan, tanpa sadar diapun ikut tertidur.

__ADS_1


🌶️🌶️🌶️🌶️


Waktu menunjukkan pukul 4 pagi, saat Leoni merasakan sesuatu membelai kulitnya. Leoni tentu saja ingat, saat ini dirinya tengah berada di rumah pria lain. Mata Leoni membuka seketika saat tangan kekar milik Vino melepaskan pengait penyangga dadanya. Posisi dirinya dan Vino saat ini memang sangat intim. Leoni yang tidur, tanpa sadar memasukkan salah satu kakinya diantara kaki Vino. Dan saat ini dia bisa merasakan lututnya menyentuh benda tumpul yang sudah mengeras entah sejak kapan.


"Apa kamu mau melayaniku pagi ini?" tanya Vino.


"Kenapa dia masih bertanya? bukankah dia pengalaman soal ini? seharusnya tanpa bertanyapun, aku memang sudah menjadi budak ranjangnya setelah aku menanda tangani kontrak itu," batin Leoni.


"Leoni sudah menjadi milik Om. Jadi apapun yang om mau, om lakukan saja." Jawab Leoni.


"Aku tidak mau bercinta dengan patung. Aku tahu kamu terpaksa melakukan semua ini. Dan karena terpaksa, kamu pasti setengah hati melayaniku. Dan tentunya aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin kamu melayaniku, seperti kamu melayani suamimu," ucap Vino.


"Bukankah sebagai bajingan, dia terlalu sopan? saat posisi seperti ini, dia malah bertanya padaku. Dan bukan malah memperkosaku. Aku jadi ingin tertawa," batin Leoni.


"Sejujurnya aku kurang ahli dalam hal ini. Bahkan hampir 6 bulan ini aku tidak pernah lagi berhubungan dengan suamiku. Jadi mohon bimbingannya," ucap Leoni.


"Itu bagus," ujar Vino yang kemudian menarik penyangga dada milik Leoni dan melemparkan kesembarang arah.


"Jangan menangis," bisik Vino yang membuat Leoni jadi terharu. Leoni merasa pria yang mencumbunya saat ini, sangat mengerti dirinya dibandingkan suaminya sendiri.


"Apa kamu menggunakan kontrasepsi?" tanya Vino di sela-sela hujaman manisnya.


"IUD." Jawab Leoni singkat dengan mata terpejam.


Dia tidak mau menatap wajah Vino saat ini, karena dia terlalu malu mengakui kalau dia sangat menikmati kegiatan itu. Tubuhnya terlalu jujur. Bahkan kegiatan panas itu bisa membuatnya lupa sejenak tentang masalah yang dia hadapi.


"Apa kamu tidak merasa bersalah pada suamimu saat melakukan ini dibelakangnya?" tanya Vino yang kemudian memberikan gigitan kecil didaun telinga Leoni.


"Ketimbang merasa bersalah dengannya, aku lebih merasa bersalah pada putriku. Aku ingin bercerai dengannya, ini hanya masalah waktu." Jawab Leoni.


"Kenapa? apa kamu tidak mencintainya lagi?" Vino memperlambat laju hujamannya, agar bisa mendengar jawaban Leoni dengan sempurna.


"Dia sudah mematahkan hatiku berkali-kali. Hidup sendiri lebih baik, daripada berdua tapi makan hati. Aku ingin seperti Om, hidup bebas tanpa terbebani." Jawab Leoni.


"Kamu tidak akan tahu rasanya jadi aku," ucap Vino yang ditanggapi diam oleh Leoni.

__ADS_1


Vino kemudian bergerak semakin gencar dari arah belakang Leoni. Leoni menyadari pria itu dan dirinya sama-sama ingin menyudahi percintaan itu. Hingga dibeberapa detik kemudian merekapun sama-sama mengerang panjang.


Cup


"Terima kasih," ucap Vino setelah mencium kening Leoni.


Ucapan itu sejenak menyentuh perasaan Leoni. Karena Ferdy tidak pernah melakukan itu selama mereka menikah. Apalagi ingin mengucapkan terima kasih.


Leoni menatap disekeliling ranjang yang sudah sangat berantakan oleh ulah mereka berdua. Sementara Vino sudah masuk ke kamar mandi. Leoni kemudian bangun, dan segera mengenakan pakaiannya kembali. Leoni juga merapikan tempat tidur itu menjadi rapi seperti semula.


Ceklek


Vino keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Tubuh pria berusia 45 tahun itu sangat indah dan terawat. Dan Leoni akui, itu jauh lebih gagah dari suaminya.


Vino kemudian berpakaian rapi. Karena pria itu ingin pergi ke kantor. Vino kemudian menekan beberapa digit angka disebuah brankas, dan mengeluarkan uang 20 juta yang kemudian dia berikan pada Leoni.


"Pergilah! aku akan menghubungimu jika aku menginginkanmu. Kalau aku tidak ingin, maka tidak perlu datang kerumah," ucap Vino.


"Makasih Om," ujar Leoni.


"Aku tidak suka kamu memanggilku Om," ucap Vino.


Cup


Leoni mencium pipi Vino dan kemudian tersenyum kearah pria itu.


"Makasih mas," ucap Leoni yang kemudian meraih tasnya dan melenggang pergi menuju pintu.


"Tunggu!" ujar Vino.


Vino kemudian meraih sweater dalam lemarinya dan memberikannya pada Leoni.


"Pakai ini untuk menutupi pakaianmu yang terbuka. Lain kali saat datang kesini jangan memakai pakain seperti ini. Aku tahu ini bukan fashion kamu," ujar Vino.


"Makasih mas," ucap Leoni yang kemudian meraih sweater dari tangan Vino dan melenggang pergi.

__ADS_1


Sementara itu di tempat berbeda. Decky dan Deva baru tiba di tanah air. Mereka ikut penerbangan pagi dan saat ini baru tiba di bandara. Decky memutuskan untuk langsung menuju rumah Hanggono. Dia ingin memamerkan kemesraan pada orang tua itu, yang tentu saja itu kemesraan palsu. Decky dengan segala tipu dayanya bahkan sengaja membuat tanda merah pada leher Deva, agar Hanggono percaya mereka disana sedang berbulan madu. Sementara Deva yang polos, hanya mengikuti saja perkataan Decky seperti orang bodoh.


__ADS_2