KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
17. Menantu Pengangguran


__ADS_3

"Mas. Kayla sakit, badannya panas banget. Aku juga sudah beli obat di warung, tapi panasnya nggak turun-turun," ujar Leoni sembari menggendong putrinya yang tengah rewel.


"Kamu kompres aja sering-sering. Lama-Lama juga turun panasnya." Jawab Ferdy tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Tapi aku khawatir mas. Kita harus bawa Kayla ke dokter. Aku takut terjadi sesuatu sama Kayla mas," ucap Leoni dengan wajah memelas dan dengan keringat yang mengucur di dahinya.


Sudah berjam-jam dia menggendong putrinya yang tengah rewel itu. Kayla sama sekali tidak mau lepas dari gendongannya. Bahkan Leoni terpaksa makan sembari berdiri.


"Kamu kalau ngomong jangan asal ngebacot aja. Ke dokter emangnya bayar pakai daun? atau kamu punya sanak familly yang kerja di rumah sakit? sudahlah, Kayla itu cuma demam biasa aja, nggak usah berlebihan deh," mata Ferdy sudah seperti hampir keluar dari kelopaknya.


"Makannya kamu kerja dong mas. Jangan pilih-pilih kerjaan. Kerja apa saja, yang penting bisa menuhin kebutuhan hari-hari itu sudah cukup," mata Leoni sudah berkaca-kaca.


"Apa? kerja? kamu pikir aku megang ponsel tujuannya apa? cari kerja! kamu nyuruh aku cari kerja sembarangan, enak aja kalau ngomong," hardik Ferdy.


"Ya itu akibatnya kalau kamu nyariin mama menantu pengangguran. Coba kalau istri kamu kariernya bagus, jadi meski kamu bangkrut istri kamu bisa menafkahi kebutuhan kalian," timpal Sumarni.


Leoni hanya bisa mengepalkan tangannya dibalik kain gendongan yang dia pakai buat menggendong Kayla.


"Lagian kamu nggak bisa ya maksa Ferdy buat nyari kerja sembarangan. Dia itu mantan direktur utama. Kalau dia kerja serabutan, terus mantan karyawannya melihat dia. Kan gensi tuh," sambung Sumarni.


"Tapi rasa gensi nggak bisa membuat perut jadi kenyang. Dan gengsi bahkan tidak bisa berobat gratis ke dokter," ucap Leoni sembari berlalu dari hadapan mertua dan suaminya. Air mata Leoni merebak membasahi wajah kusamnya.


Brakkk


Leoni menutup pintu kamarnya dengan lumayan keras. Membuat Kayla terjengkit kaget dan menangis bertambah keras.

__ADS_1


"Kamu lihat itu. Betapa kurang ajarnya istri kamu itu. Enak aja nyuruh kamu kerja sembarangan. Mama nggak mau ya kamu kerja asal. Mau diletakkan dimana muka mama kalau teman-teman mama sampai tahu. Istri kamu tu malas, banyak diluar sana orang punya anak kecil tapi bisa cari duit. Hu...bikin mama darah tinggi aja punya menantu seperti dia," gerutu Sumarni sembari berlalu ke dapur.


Leoni mendengar semua apa yang Sumarni ucapkan, karena wanita parubaya itu seakan dengan sengaja membesarkan suaranya, agar dirinya mendengar semua sindirannya. Dulu sewaktu Ferdy masih menjabat sebagai direktur utama sebuah perusahaan, Ferdy melarang Leoni bekerja. Ferdy hanya ingin Leoni mengurus rumah, dirinya, dan juga putri mereka Kayla.


Sekarang putri mereka sudah sangat aktif, rasa percaya pada orang lain untuk mengurus putrinya juga semakin berkurang. Termasuk menitipkan anaknya pada sang mertua atau orang tuanya sendiri.


Leoni secepat kilat menyeka air matanya dan meraih ponselnya. Leoni segera menghubungi Yasmin untuk meminjam uang berobat kayla.


"Mama mana punya duit. Sudahlah anakmu jangan terlalu dimanja. Dari kecil harus diajari hidup prihatin. Lagian biaya rumah sakit pasti sangat mahal. Kamu mau bayar pakai apa?" tanya Yasmin sembari mencoba set perhiasan yang diberikan keluarga Hanggono saat acara lamaran Deva.


"Tapi aku khawatir Kayla kenapa-kenapa ma. Demamnya tinggi banget," ujar Leoni dari seberang telpon.


"Kamu kompres aja terus. Ya sudah dulu ya? mama sibuk mau masak," ucap Yasmin yang kemudian mengakhiri percakapan itu secara sepihak.


"Maafkan mama nak. Maafkan mama. Hiks...." Leoni terisak.


Leoni bergegas mengganti air kompresan dan kembali mengompres tubuh Kayla. Dan keadaan seperti itu kembali berlanjut hingga malam harinya. Hingga sampai fajar menyingsingpun, suhu tubuh Kayla tidak turun juga.


"Mas. Ayo dong mas cari pinjaman uang. Ini Kayla panasnya nggak turun juga. Aku sangat khawatir mas," Leoni menggoyang-goyangkan tubuh Ferdy.


Ferdy yang tidurnya merasa terganggu langsung melemparkan bantal tepat di wajah Leoni.


"Duit, duit, duit aja yang ada di otak kamu itu. Sudah tahu suami lagi nganggur, malah nuntut yang aneh-aneh," hardik Ferdy.


"Kamu tuh yang aneh tahu nggak? anak sakit tapi kamu kamu bisa tidur nyenyak disini. Nurani kamu dimana mas? ini juga darah daging kamu," Leoni sudah benar-benar emosi.

__ADS_1


"Kamu saja yang terlalu lebay. Kamu juga harus sadar diri dong. Aku ini sudah nggak jadi direktur lagi. Seharusnya sebagai istri harus lebih bijak bantuin suami, bukan malah tambah pusing suami,"


"Kamu pusing dibikin sendiri mas. Kamu nggak usah nyalah-nyalahin aku. Kalau hudup kamu nggak mentingin gengsi, nggak mungkin anak istri kamu dikasih makan tahu tempe tiap hari. Itupun hasil ngemis dari orang tua kamu," ucap Leoni berapi-api.


"Mending kamu pergi deh dari depan muka aku. Lama-Lama aku bisa emosi jiwa, terus khilaf, dan mukulin kamu sampai mati," ujar Ferdy dengan wajah merah padam.


"Dasar gila kamu mas. Aku nggak akan maafin kamu kalau sampai terjadi apa-apa sama kayla. Kamu makan saja gengsi kamu itu," ucap Leoni.


Leoni bergegas masuk ke dalam kamar, dan meraih tubuh lemah Kayla. Leoni juga memasukkan beberapa lembar baju Kayla kedalam tas, dan kemudian kembali keluar dari kamar.


"Mau kemana kamu?" tanya Ferdy saat melihat Leoni bersiap pergi.


"Paling tidak aku mau berusaha mengobati anakku. Aku mau membawa Kayla ke rumah sakit. Kalau kamu memang masih punya nurani , seharusnya kamu pikirkan biaya rumah sakit anak kamu." Jawab Leoni.


"Jangan gila kamu. Mau bayarnya pakai apa?" tanya Ferdy dengan murka.


"Aku nggak perduli. Yang penting aku bawa dulu Kayla ke rumah sakit." Jawab Leoni yang tidak kalah teriakkannya.


"Istri pembangkang kamu! kamu mau mempermalukan suami kamu ya? pagi-pagi sudah ribut hal sepele. Anak demam biasa aja udah seperti kena penyakit liver aja. Lebay kamu!" timpal Sumarni.


"Mama sebaiknya diam. Jangan terus-terusan ikut campur urusan rumah tanggaku, kalau mama sama sekali nggak bisa memberikan solusi untuk masalah kayla," hardik Leoni yang sudah hilang kendali.


"Leoniiiii...." gigi Ferdy bergemeratuk saat melihat Leoni yang begitu kurang ajar dengan orang tuanya.


Leoni sama sekali tidak perduli dengan kemarahan Ferdy. Dia kembali melanjutkan pergi membawa Kayla ke rumah sakit. Air mata Leoni seperti enggan berhenti mengalir disepanjang jalan menuju rumah sakit. Leoni benar-benar merasa sedih saat melihat kondisi tubuh Kayla yang semakin layu.

__ADS_1


__ADS_2