KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
46. Menyerahlah


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Leony menatap Kayla yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Tubuh anak kecil itu tampak semakin kurus dan seolah tidak bernyawa lagi.


"Maafin mama sayang. Mama selama ini menahanmu. Mama sayang sama Kayla, tapi mama tidak tega melihat Kayla kesakitan terus," air mata Leony meleleh dipipinya.


"Kayla. Kalau Kayla ingin menyerah, menyerahlah nak! mama ikhlas melepas Kayla, mama ingin kamu bahagia," Leony terisak.


Leony terkejut, saat tiba-tiba tangan Kayla bergerak. Mata gadis kecil itu juga terbuka, dengan tangan gemetar Kayla ingin meraih wajah Leony. Namun belum tangan itu sampai diwajah wanita itu, tangan Kayla jatuh diatas tempat tidur dengan mata yang terpejam kembali.


Tiiiiiiiitttttttttt


Suara dari layar monitor terdengar nyaring dan membentuk garis lurus. Tubuh Leony limbung dan tersungkur dilantai. Meski dia bukan ahli medis, tapi dia cukup mengerti kalau Kayla saat ini sudah pergi meninggalkannya.


"Aaaakkkhh...Kaylaaa...." Leony berteriak histeris dengan air mata yang membasahi wajahnya.


Suara Leony yang cukup keras mengundang perhatian dokter, dan juga perawat yang segera memastikan kedalam ruangan itu. Dokter dan perawat dengan sigap mengecek keadaan Kayla, namun sesaat kemudian kepala mereka menggeleng.


"Bu Leony. Dengan berat hati saya harus sampaikan, bahwa ananda Kayla sudah tiada," ucap dokter.


Leony semakin tergugu mendengar ucapan dokter. Bahkan sesekali wanita itu menangis histeris.


Ceklek Ferdy yang ingin menjenguk putrinya, merasa bingung karena ruangan Kayla jadi ramai. Ditambah Leony yang sedang menangis histeris.


"Ini ada apa ya dok?" tanya Ferdy yang kini tengah menggunakan seragam supir taksi.


"Maaf pak Ferdy. Ananda Kayla sudah berpulang." Jawab dokter.


Plukkkkk


Boneka hello kitty yang baru dibeli oleh Ferdy, terlerai dari tangan pria itu. Bahkan air mata Ferdy tanpa sadar jatuh dari pelupuk matanya.


"Ka-Kayla," bibir Ferdy bergetar, saat menyebut nama putrinya. Langkahnya tertatih saat menghampiri Kayla yang kulitnya sudah pucat itu.

__ADS_1


Namun hal tak terdugapun terjadi. Leony tiba-tiba mendorong tubuh Ferdy, hingga pria itu tersungkur di lantai.


"Jangan sentuh anakku! ja-ngan sentuh a-nakku!" Leony menuding Ferdy dengan jarinya. Mata wanita itu terlihat penuh amarah.


"Le-Leony. A-aku...."


"Aku haramkan kamu menyentuh anakku Ferdy! bahkan Kayla lebih memilih pergi, daripada bertahan dan melihat ayahnya yang tidak bertanggung jawab. Puas kamu melihat dia pergi ha? pasti puas banget kamu kan? kamu nggak perlu lagi bertanggung jawab sama dia. Aku benci kamu Ferdy!" emosi Leony sangat berapi-api.


"Maaf ibu Leony tolong kendalikan emosi anda. Jangan sampai emosi anda mengganggu kenyamanan pasien lain ya bu!" dokter mengingatkan Leony.


"Sayang. Kita urus pemakaman Kayla ya! aku tahu kamu sedang emosi saat ini, tapi tolong kendalikan emosi kamu sementara waktu. Setelah itu kamu boleh memukulku, memarahiku atau apapun yang kamu mau," Ferdy mencoba berusaha meraih tangan Leony, namun langsung ditepis oleh wanita itu.


"Kamu ingin mengurus pemakamannya kan? kamu uruslah! semoga dengan mengurus pemakamannya untuk yang terakhir kali, Kayla bisa maafin dosa-dosa kamu," ucap Leony yang kemudian keluar dari ruangan itu.


Ferdy hendak menyusul Leony, istrinya yang sudah lama tidak dia temui beberapa bulan ini. Namun saat dia akan menyusul, dokter menghalanginya.


"Maaf pak. Sebaiknya anda urus dulu jenazah ananda Kayla. Kasihan kalau jenazahnya tidak cepat dikebumikan," ucap dokter yang kemudian diangguki oleh Ferdy.


Air mata Ferdy kembali jatuh, saat satu persatu alat bantu kehidupan Kayla dilepas. Ferdypun bergegas menghubungi ibunya untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah. Dan tepat pada pukul 4 sore, jenazah Kaylapun di kebumikan.


"Kayla. Kamu sudah nggak sakit lagi kan? suatu saat nanti kita pasti bisa sama-sama lagi. Kayla bahagia terus disana ya nak? mama pasti akan selalu do'ain kamu disini. Hiks...." Leony terisak sembari *******-***** tanah pusara Kayla.


Terlihat sekali Leony sangat terpukul sekali dengan kepergian putrinya. Dan setelah puas menangis, Leonypun memutuskan pulang.


Ceklek


Vino yang baru saja pulang bekerja membuka pintu kamarnya. Dan dia bisa mendengar, kalau saat ini Leony tengah menangis terisak.


"Baby. Kamu kenapa?" tanya Vino yang langsung melepaskan tas kantornya.


Mendengar suara Vino, Leony langsung beranjak dari tempat tidur dan berhambur kepelukkan pria matang itu.


"Mas. Hiks...." Leony terisak dipelukkan Vino.

__ADS_1


"Kenapa? suami kamu nyakitin kamu?" tanya Vino yang dijawab gelengan kepala oleh Leony.


"Terus kenapa kamu nangis?" tanya Vino.


"Ka-Kayla mas. Kayla meninggal. Hiks...."


Tubuh Vino mematung. Dia tahu betul Leony sangat menyayangi putrinya. Dan Dengan kepergian putrinya itu, sudah bisa Vino pastikan jiwa sugar babynya itu pasti tengah terguncang.


Vino mengeratkan pelukkannya pada Leony. Seolah dia ingin menyalurkan kekuatan untuk wanita itu.


"Aku turut berduka ya! semoga anakmu ditempatkan di tempat yang layak. Kamu harus sabar dengan cobaan ini Leony. Percayalah, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya," ucap Vino.


"Mas,"


"Hem?"


"Bantu aku buat cerai dari Ferdy. Sekarang sudah tidak ada lagi alasan buat aku bertahan sama dia. Aku sudah nggak bisa sama dia lagi mas," ujar Leony.


"Apapun keputusan kamu, akan aku dukung. Kamu siapkan saja berkas perceraiannya, nanti akan aku kasih sama teman aku yang kerja di pengadilan agama. Aku jamin perceraian kamu akan cepat kelar," ujar Vino.


"Makasih mas," ucap Leony.


"Kamu sudah makan?" tanya Vino yang dijawab gelengan kepala oleh Leony.


"Aku mandi bentar, setelah itu kita makan sama-sama," ujar Vino.


"Iya mas." Jawab Leony.


Sementara ditempat berbeda, di rumah Ferdy tengah sibuk menyiapkan tahlillan untuk Kayla.


"Ini istri kamu kelewatan banget loh Ferdy. Maunya apa sih? anaknya meninggal tapi mau lepas tanggung jawab gitu aja," ujar Sumarni.


"Sudahlah ma. Nggak baik marah-marah ditahlillan pertama Kayla. Selama ini Leony yang sudah membiayai rumah sakit Kayla, yang seharusnya itu adalah tanggung jawabku. Aku mohon mama jangan menyudutkan Leony terus menerus. Saat ini Leony pasti butuh sendiri," ujar Ferdy.

__ADS_1


"Bagus juga kalau dia nggak usah pulang sekalian. Soalnya nggak guna juga dia di rumah ini. Mama takutnya dia pulang cuma bawa utang dari rentenir, buat ngobatin anak kamu. Awas aja kalau itu sampai terjadi, mama akan usir dia dari rumah ini," ucap Sumarni.


Ferdy terdiam. Dia tidak perduli dengan apa yang Sumarni ucapkan. Karena yang terpenting adalah, dia ingin memperbaiki rumah tangganya yang tengah berada di ujung tanduk.


__ADS_2