
"Darimana kamu? pergi kemarin, pulangnya baru pagi ini. Apa ini?" tanya Ferdy sembari menarik sweater yang Leoni kenakan untuk menutupi dadanya yang terbuka.
"Kalau melihat penampilanku yang sexy seperti ini, harusnya kamu tahu aku darimana. Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar, ataupun menyangkal semua tuduhanmu. Apapun yang kamu pikirkan tentang diriku, memang seperti itulah adanya." Jawab Leoni sembari berlalu dari hadalan Ferdy yang baru saja membukakan pintu untuknya.
"Tunggu Leoni! apa maksud dari ucapanmu itu?" tanya Ferdy sembari mengekor dibelakang Leoni yang pergi menuju kamar.
Sementara Sumarni hanya diam menguping pertengkaran anak dan menantunya itu
Brakkkk
Ferdy menutup pintu lumayan keras dan menguncinya.
Tap
Ferdy mencengkram tangan Leoni, hingga tubuh wanita itu berbalik arah.
"Katakan kamu darimana semalam! kenapa kamu memakai pakaian seperti ja**ng seperti ini?" tanya Ferdy.
Griyuuuttttt
Leoni menarik paksa tangannya yang terasa sakit di cengkram oleh Ferdy.
"Kamu mau tahu aku habis dari mana? aku habis dari nge**nte," bisik Leoni di telinga Ferdy.
Ferdy sangat berang mendengar perkataan Leoni, pria itu kemudian menjambak rambut Leoni hingga kepala wanita itu menengadah keatas. Tak ada sedikitpun jerit kesakitan dari mulut Leoni, saat menerima perlakuan itu dari Ferdy. Leoni justru menyeringai puas, melihat Ferdy yang merasa sudah dipecundangi.
"Kau menantangku Leoni?" tanya Ferdy dengan penuh penekanan.
"Jangan kira dengan kamu menyiksaku, maka aku akan berteriak kesakitan. Aku sudah merasakan lebih sakit dari ini Ferdy. Aku sangat sakit kamu mengabaikan putriku yang sedang berjuang hidup dan mati di rumah sakit,"
"Kamu lihat saja. Kalau sampai terjadi sesuatu pada putriku, aku tidak akan berpikir dua kali untuk meminta cerai dari kamu," sambung Leoni.
"Oh... kamu berani mengancamku setelah aku bangkrut? tidak ingatkah kamu saat aku bergelimang harta, kamu sangat aku manjakan? sekarang saat tidak memiliki apapun, kamu mencari kesenangan diluar sana?" tanya Ferdy yang semakin mengencangkan cengkramannya di rambut Leoni.
"Aku tidak perduli dengan hartamu brengsek! aku butuh kamu perhatian dengan anakmu saja. Aku tidak butuh kamu limpahi materi, tapi paling tidak kamu bisa usaha buat cari biaya rumah sakit anakmu, tanpa harus aku menjual diri!" hardik Leoni.
Nafas Leoni terlihat naik turun. Air mata Leoni merebak. Bukan karena sakit cengkraman di rambutnya, tapi itu karena dia teringat dengan Kayla yang ada di rumah sakit. Saat ini Leoni hanya ingin membersihkan diri. setelah itu dia akan kerumah sakit untuk menyelesaikan administrasinya.
"Kamu menjual diri? beraninya kamu melakukan itu dibelakangku?" kini cengkraman itu sudah berpindah pada mulut dan dagu Leoni.
"Aku tidak menyesal melakukannya. Bahkan jika aku diberi nyawa 9, aku akan melakukannya sebanyak 9 kali pula untuk menghianati suami yang tidak bertanggung jawab sepertimu." Jawab Leoni.
"Bagus sekali Leoni. Mela*ur cuma jadi alasanmu saja bukan? jangan kamu kira aku tidak tahu, kalau sebenarnya kamu juga haus belaian karena sudah lama tidak kusentuh. Sekarang kamu ukur sendiri siapa petarung yang lebih hebat antara aku dan pe**cur laki-lakimu itu,"
__ADS_1
Ferdy kemudian menarik baju Leoni bagian depan yang memang sudah memperlihatkan dada Leoni yang menjulang.
"Ferdy brengsek! lepaskan aku. Aku mau melihat putriku di rumah sakit," Leoni berontak sekuat tenaga.
"Beraninya kamu menolak suamimu?" Ferdy semakin brutal merobek pakaian yang Leoni kenakan.
Leoni sekuat tenaga menarik kembali bajunya, agar tidak terkoyak-koyak oleh Ferdy yang terlihat seperti orang kesurupan. Namun tentu saja itu sia-sia. Tenaga Leoni tidak sebanding dengan tenaga Ferdy. Leoni harus merelakan saat dengan ganas Ferdy menghujamnya dari belakang, tanpa pemanasan sama sekali.
"Akh...sakitt,"
Leoni meringis kesakitan saat Ferdy dengan tanpa perasaan menghujamnya dengan keras tanpa kelembutan. Leoni hanya bisa meneteskan air matanya, sembari menahan rasa perih dibawah sana. Sekilas Leoni jadi teringat akan perlakuan lembut Vino beberapa waktu yang lalu. Mengingat itu seperti menjadi obat baginya. Dan pada nalurinya yang salah, Leoni malah membayangkan yang memasukinya bukanlah Ferdy, tetapi Vino.
"Ahhh...."
Tidak berapa lama kemudian Ferdy mengerang, tapi tidak dengan Leoni. Entah mengapa untuk pertama kalinya Leoni merasa jijik disentuh oleh Ferdy.
Hosh
Hosh
Hosh
"Ini peringatan pertama dan terakhir buat kamu. Kalau sampai kamu ketahuan olehku melakukan hal yang tidak-tidak, maka aku akan membuatmu jauh dari Kayla. Camkan itu baik-baik!" ucap Ferdy yang kemudian ingin beranjak ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Leoni.
"Tidak perlu mengancamku. Karena tanpa aku melakukan itupun kamu sudah menjauhkan aku dengan anakku. Ferdy, mari kita bercerai!" ucap Leoni tanpa keraguan.
"Ingin bercerai? mimpi saja kamu!" ucap Ferdy sembari mendorong wajah Leoni.
Ferdy kemudian masuk ke kamar mandi dan membanting pintu lumayan keras. Tanpa Leoni tahu, tubuh Ferdy merosot dilantai kamar mandi sembari terisak.
"Maafkan aku Leoni. Maafkan aku," Ferdy menyembunyikan isak tangisnya.
Tring
Tring
Tring
Leoni yang tubuhnya merasa sakit, meraih ponselnya yang berdering. Leoni bergegas menyeka air matanya, dan segera menerima panggilan yang berasal dari rumah sakit itu.
"Ha-Halo," suara Leoni masih sedikit bergetar.
"Selamat pagi Ibu Leoni. Kami dari rumah sakit ingin mengabarkan. Bahwa saat ini saudari Kayla sedang mengalami koma," ujar seorang perawat diseberang telpon.
__ADS_1
"Ap-Apa?" Leoni terkejut.
"Silahkan ke rumah sakit kalau anda ingin melihat kondisi ananda Kayla,"
"Baik. Saya akan segera kesana," ucap Leoni dengan suara bergetar.
Leoni bergegas mengganti pakaiannya. Tidak ada waktu baginya untuk meratapi nasib apalagi mengeluh dengan keadaan. Bahkan dia tidak butuh membersihkan diri lagi, agar dia cepat bertemu dengan putri semata wayangnya.
Plukk
Plukkk
Plukkk
Leoni hanya menyeka bagian intinya dengan beberapa lembar tisu dan melemparnya ke lantai begitu saja. Setelah itu dia bergegas mengenakan kain segita dan celana jeans. Leoni meraih tas yang berisi uang pemberian dari Vino.
Leoni kemudian kembali pergi dengan menggunakan ojek online yang sempat dia pesan. Bagi Leoni tidak perlu mengabari siapapun tentang kondisi putrinya. Karena tidak seorangpun bisa membantu kesulitannya meskipun dia sudah mengeluhkannya sekalipun.
Drap
Drap
Drap
Langkah kaki Leoni terseok-seok, saat dirinya sudah tiba di rumah sakit. Sejujurnya dia sangat letih saat ini. Letih fisik sudah tentu, tapi lelah hati juga sudah menunggu. Dan air mata Leoni kembali merebak, saat melihat putrinya sudah dipasangi oleh beberapa alat untuk penunjang hidupnya.
"Maaf Ibu Leoni. Kondisi adinda Kayla memang semakin memburuk. Kami sudah berusaha. Mungkin Kayla lebih nyaman dengan tidur panjangnya. Banyaklah berdo'a untuk anak Ibu," ujar dokter.
Leoni menyeka air matanya. Digenggamnya tangan Kayla dan sesekali diciumnya.
"Kayla harus kuat nak. Kita sama-sama berjuang ya? mama akan melakukan apapun agar Kayla mendapat perawatan yang terbaik. Tapi Kayla juga harus berjuang untuk hidup," bisik Leoni ditelinga Kayla.
"Terima kasih atas kerja keras dokter dalam menangani anak saya dok. Saya mohon selamatkan anak saya, lakukan yang terbaik buat dia. Berapapun biayanya, akan saya bayar," ucap Leoni.
"Tentu. Kami selalu mengusahakan yang terbaik, agatlr para pasien mendapatkan perawatan yang terbaik. Kami juga ikut bahagia, kalau pasien bisa sembuh." Jawab dokter.
"Terima kasih dok," ucap Leoni.
"Sama-Sama. Saya permisi dulu," ujar dokter.
"Silahkan dok." Jawab Leoni.
"Maaf bu. Saya cuma ingin mengingatkan, bahwa anda harus menyelesaikan administrasi yang tertunda," ujar salah seorang perawat.
__ADS_1
"Baik," ucap Leoni yang kemudian mengekor dibelakang perawat itu.
Setelah menyelesaikan administrasi, Leoni kembali mendapat rincian biaya yang tentunya lebih mahal dari sebelumnya. Karena kini Kayla dibantu dengan alat penunjang kehidupan yang lebih mahal dan obat-obatan yang mahal pula.