KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
61. Menjalankan Misi


__ADS_3

"Dev. Loe ada dimana?" tanya Dian.


"Di rumah nyokap. Kenapa?" tanya Deva.


"Coba loe buka chat gue. Gue sama Rizky lagi jalan ke supermarket nih," ujar Dian.


"Ciyeee...kayaknya ada yang PDKT nih," ledek Deva.


"Apaan sih? sempat-sempatnya ledekin gue. Setelah lihat tuh chat, baru nggak bisa senyum lagi loe. Cepetan lihat," ucap Dian.


Deva kemudian memutuskan panggilan telpon itu, dan melihat chat yang berasal dari Dian.


"Iya betul itu Om tua. Kok loe bisa tahu kalau itu Om tua? kalian kan belum pernah ketemu," tanya Deva.


"Kan waktu itu kamu pernah kasih lihat foto kalian. Aku cuma nebak aja, ternyata emang benar suami loe." Jawab Dian.


"Terus ngapain dia di supermarket?" tanya Deva.


"Lah kok tanya gue? kan dia suami loe, bukan suami gue," ujar Dian.


Deva jadi teringat dengan ucapan Egi yang ingin meeting bersama klien sore ini.


"Oh...tadi dia sempat bilang, kalau dia mau meeting sama klien besar." Jawab Deva.


"Apa klien itu seorang wanita sexy?" tanya Deva.


"Maksudnya apa nih?" tanya Deva.


"Aku sama Rizky nggak bisa lihat wajah wanita itu. Soalnya disini sangat ramai, dan kami kehilangan jejak. Tapi aku sempat memotret mereka dari belakang." Jawab Dian.


"Cepat kirim! biar gue cek," ujar Deva yang kemudian mengakhiri percakapan itu sejenak.


Mata Deva terbelalak, saat melihat foto yang Dian kirim. Foto itu jelas bukan Egi pergi meeting dengan klien, tapi seolah mereka tengah berkencan saat ini. Wanita itu menggandeng mesra tangan suaminya.


"Kamu sudah membohongiku Om. Pantas saja kamu berubah. Atau sejak awal kamu memang sudah punya wanita lain? tapi kenapa kamu mau nikahin aku? ah...Deva bodoh, dia kan sudah bilang kalau dia ingin membahagiakan kakek Hanggono. Tapi bisa-bisanya kamu berharap lebih dengan pria tua itu," guman Deva dengan air mata meleleh dipipinya.


Tring


Tring

__ADS_1


Tring


Dian menghubungi Deva kembali. Sahabatnya itu seolah tahu, kalau Deva saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Dev. Loe baik-baik aja kan? sekarang apa yang mau loe lakuin?" tanya Dian dengan berhati-hati.


"Apa menurut kalian gue masih bisa berjuang?" tanya Deva.


Rizky merebut ponsel dari tangan Dian yang semula dibuat dengan pengeras suara.


"Deva dengar! itu hak loe buat mempertahankan rumah tangga loe. Dia suami sah loe. Jadi kamu lebih berhak dari wanita itu. Ujilah suamimu untuk yang terakhir kalinya. Buat dia menyatakan perasaannya sama kamu, dan dia bersedia meninggalkan wanita selingkuhannya itu. Karena gue percaya, loe lebih baik dari wanita itu," ucap Rizky yang membuat Deva jadi terharu.


"Tapi bagaimana kalau gue tetap kalah dari wanita itu? dan Om tua lebih memilih wanita itu," tanya Deva.


"Setidaknya kamu pernah berjuang. Tidak masalah kalau dia memilih wanita lain. Tapi bagiku kamu wanita sempurna, cuma pria bodoh yang mau nyia-nyiain kamu. Ingatlah kalau sampai dia mencampakkanmu, aku bersedia menikahimu kapan saja." Jawaban Rizky membuat Dian berwajah murung.


"Hati-Hati kalau ngomong. Apa kamu tidak tahu, kalau Dian itu suka sama kamu?" tanya Deva.


Kali ini Rizky yang terdiam, dan melirik kearah Dian yang tertunduk. Beruntung dia tidak membuat mode pengeras suara, jadi Dian tidak bisa mendengar ucapan Deva.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Deva.


"Makasih ya! kalian memang sahabat terbaikku. Entah apa jadinya kalau aku nggak punya kalian. Mungkin aku sudah bunuh diri di pohon cabe," ucap Deva sembari terkekeh.


"Ya sudah pergilah belanja pakaian. Jangan lupa beli beberapa pakaian tempur ala orang dewasa," ujar Rizky.


"Siap laksanakan." Jawab Deva.


Perbincangan itu kemudian berakhir, meskipun sedikit terhibur tapi tetap saja setelahnya dia merasakan sedih.


"Aku nggak mungkin menceritakan masalah ini pada kakek Hanggono. Dia pasti sangat sedih. Lebih baik aku diam, sampai perjuanganku dititik berhasil atau dititik kegagalan," batin Deva.


Deva kemudian pergi kebutik lebih dulu, dan mencari pakaian yang sesuai dengan misinya. Setelah itu dia pergi kesalon untuk merubah penampilannya.


Egi pulang ke rumah tepat pada pukul 4 sore. Kamar mereka terasa sunyi, karena Deva belum pulang. Ingin rasanya pria itu menghubungi Deva, namun sebisa mungkin dia tahan.


"Deva pasti masih marah sama aku. Dia memang tidak mengatakannya, tapi aku tahu dia sedang kesal padaku. Ah...ya Tuhan.. kenapa jadi seperti ini sih," gumam Egi yang merasa pusing sendiri dengan masalahnya.


Ceklek

__ADS_1


Deva menekan handle pintu, dan tampak cuek saat masuk ke dalam. Namun tidak dengan Egi, mata pria itu terpanah saat melihat perubahan pada istrinya itu. Deva tampil sangat cantik dan sexy, hingga mata Egi tidak bisa berkedip.


"Kalau melihat reaksinya sih dia tertarik padaku. Aku mau lihat, apa yang akan dia katakan setelah melihat aksiku selanjutnya," batin Deva.


"Ka-Kamu baru pulang?" Egi yang biasa berbicara tegas, mendadak gagap saat melihat perubahan Deva.


"Ya." Jawab Deva singkat.


Deva kemudian melepas pakaiannya satu persatu, hal yang tidak pernah dia lakukan di depan Egi. Sementara itu Egi hanya bisa menahan nafas, saat melihat Deva hanya mengenakan penyangga dada dan kain segitiga.


"Oh...sial. Ada apa dengannya hari ini? kenapa dia sangat menggoda? rasanya aku benar-benar tidak tahan lagi," batin Egi.


Deva dengan santai meraih handuk, dan baju yang baru dia beli ke dalam kamar mandi. Egi baru bisa bernafas lega, saat Deva sudah menghilang dari pandangan matanya. Namun hal itu berlaku hanya sejenak saja. Karena saat Deva keluar dari kamar mandi, tidak hanya mata pria itu serasa hendak keluar. Kini jantungnya ikut-ikutan ingin melompat.


"Ada apa dengannya hari ini? si bocil sudah tahu menyiksaku rupanya. Sial...si otong pakai acara bangun lagi," batin Egi.


Deva dengan santai melewati Egi yang diam mematung. Deva kemudian melepas handuk dari atas kepalanya, dan gerakkan itu terasa lambat bagi Egi. Deva bisa melihat dari pantulan cermin, kalau saat ini Egi tengah memejamkan matanya untuk meredakan hasratnya yang bergejolak.


"Rasakan kau Om tua. Berani selingkuh dibelakangku, padahal istri di rumah belum di obok-obok. Lihat saja, aku akan menangkap basah kamu dan kujambak-jambak rambut selingkuhanmu itu," batin Deva.


Egi melihat Deva dari pantukan cermin, sementara Deva berpura-pura tidak tahu dan sibuk mengoles handbody di tubuhnya.


"Diluar dugaan, kalau dia punya tubuh seindah ini. Bahkan tubuhnya jauh lebih indah dibanding Leony. Sekarang aku benar-benar dihadapkan dengan dilema yang besar. Tuhan...tolonglah aku. Aku nggak mau berpisah dengan istriku," batin Egi.


Setelah selesai dengan aktifitasnya Deva beranjak keatas tempat tidur. Wanita itu bermain ponsel, meski dia tahu Egi tengah menatapnya dengan Intens.


🌶️🌶️🌶️🌶️


"Bantu aku pasang dasi," ujar Egi yang mulai mencari perhatian Deva.


Deva beranjak dari tempat tidur dan membantu Egi memasang dasi. Sementara selama Deva memasangkan dasi, Egi menatap wajah cantik istrinya dan juga dada Deva yang menggoda. Egi dengan gerakkan lembut ingin menyentuh wajah Deva, namun Deva membuat pria itu mengurungkan niatnya.


"Sudah selesai," ujar Deva.


"Apa kamu tidak membuatkan aku sarapan dan bekal untukku?" tanya Deva.


"Apa Om masih mau aku melakukan itu? karena aku pikir Om sama sekali nggak perduli lagi dengan hubungan kita. Karena itu aku sudah memutuskan, kalau akan tidak mau melakukan itu lagi sampai Om sadar seberapa berartinya status kita saat ini,"


"Satu lagi. Aku tetap berkeyakinan kalau Om saat ini sedang menyimpan rahasia besar. Selagi om tidak membuka rahasia itu, jangan harap kita bisa kembali seperti dulu," sambung Deva yang kemudian beranjak ke kamar mandi dan membanting pintu itu dengan cukup keras.

__ADS_1


Egi memejamkan matanya. Dia ingin jujur dengan Deva, karena mereka pernah berjanji akan selalu terbuka. Tapi dia tidak ingin menyakiti perasaan Deva, saat istrinya itu tahu kalau wanita lain sedang mengandung benihnya.


__ADS_2