
"Om tua juga mencintaimu sayang," bisikkan Egi ditelinga Deva membuat wanita itu terdiam seketika.
Egi menyeka air mata Deva, namun wanita itu senantiasa berpura-pura tidur.
"Aku nggak salah dengar kan? tadi dia mengatakan, kalau dia juga mencintaiku. Tapi kalau dia benar-benar mencintaiku, kenapa dia tidak mengatakannya? kenapa dia masih bersama wanita itu? ada apa dengan Om tua sebenarnya?" batin Deva.
Deva berbalik badan, dan membelakangi suaminya. Egipun memeluk istrinya itu dengan erat. Dan merekapun tertidur lelap.
๐ถ๏ธ๐ถ๏ธ๐ถ๏ธ๐ถ๏ธ
Suara alarm ponsel Deva memaksa wanita itu terbangun dari tidurnya. Deva menoleh kearah samping tempat tidurnya, tapi sama sekali tidak menemukan keberadaan Egi. Deva kemudian duduk, dan kembali merenungi apa yang dia dengar tadi malam.
"Semuanya masih jadi teka teki, kenapa Om tua nggak mau mengungkapkan perasaannya. Apa dia bingung mau menentukan pilihan, antara aku dengan wanita itu? aku jadi penasaran, seperti apa parasnya," gumam Deva.
"Om tua pasti sudah ke kantor. Aku juga harus bersiap ke kampus nih," ujar Deva yang kemudian bergegas masuk kedalam kamar mandi.
Setelah selesai Deva bergegas berpakaian dan pergi ke kampus.
"Gimana misi loe? berhasil nggak?" tanya Rizky.
Deva kemudian menceritakan apa yang
dia dengar tadi malam. Rizky dan Dian manggut-manggut menelaah semua yang Deva ceritakan.
"Aneh juga sih menurutku. Dia cinta tapi nggak pernah bilang. Tapi dia masih jalan dengan wanita lain. Kalau menurutku dia saat ini sedang dilema menentukan pilihan. Tapi kalau suamimu pria normal, masak iya nggak mau ngajak kamu begituan? atau jangan-jangan dia sudah dapat jatah dari wanita itu? mungkin dia pikir wanita itu asetnya jauh lebih menarik," ujar Dian.
"Dian. Kalau ngomong jangan terlalu jujur kenapa? aku sakit hati mendengarnya. Aku ngerasa usahaku buat dandan lebih cantik, lebih sexy, jadi sia-sia tahu nggak?" ucap Deva dengan bibir mengerucut.
"Ya kan aku cuma menyuarakan apa yang ada dalam pikiranku," ujar Dian.
"Tapi setelah aku pikir-pikir ucapan Dian ada benarnya juga. Suamimu itu seolah menjadikanmu tameng, dan cuma menjadikanmu status sebagai pria beristri. Padahal dibelakangmu dia berselingkuh," ucap Rizky.
"Aku benar-benar penasaran dengan selingkuhan suamiku itu, apa dia benar-benar sangat cantik dan sexy lebih dari aku? Rizky, nanti sore kamu mampir ke rumahku ya? aku mau manas-manasin dia lagi," ujar Deva.
"Oke. Kali ini harus lebih mesra," ujar Rizky.
"Awas aja kalau kamu cari kesempatan dalam kesempitan," ucap Deva yang dijawab kekehan oleh Rizky.
__ADS_1
Sesuai yang Deva dan Rizky rencanakan, Rizky mengatar Deva pulang, dan mampir ke rumah sahabatnya itu. Setelah 30 menit menunggu, Egi pulang dan melihat Deva tengah menyandarkan kepala pada pundak pria lain. Tentu saja hati Egi menjadi panas dan bergemuruh.
"Apa-Apaan ini?" hardik Egi.
"Oh...Om sudah datang. Kami lagi pacaran Om. Hari ini kami resmi jadian," ujar Rizky yang dijawab senyum kaku oleh Deva saat Rizky meminta persetujuannya.
"Pergi dari rumahku!" usir Egi.
"Ya nggak bisa gitu dong Om. Statusku memang sudah menikah, tapi aku tidak bahagia dengan pernikahanku. Suamiku nggak cinta sama aku, dan malah berselingkuh dibelakangku. Aku sudah putuskan, aku akan mengajukan perceraian secepatnya. Buat apa punya suami, tapi sama sekali nggak berasa punya suami," ucap Deva.
Deg
Jantung Egi terasa berhenti berdetak, saat Deva mengatakan ingin bercerai darinya. Bayang-Bayang kehilangan Deva, membuatnya sangat takut.
Tap
Egi mencengkram tangan Deva, dan menyeret istrinya itu naik keatas. Sementara Deva dan Rizky diam-diam saling mengacungkan jempol satu sama lain.
"Om lepas! aku mau pacaran dulu. Om nggak bisa Egois seperti ini. Aku benci sama Om," Deva berpura-pura berontak, dan marah.
Ceklekkk
Egi membawa Deva ke kamar, dan mengunci kamarnya itu.
"Aku sudah memperingatkan kamu untuk menjauhi bocah ingusan itu. Apa kamu tidak mengerti apa yang aku katakan?" ucap Egi.
"Aku emang nggak ngerti, dan nggak akan pernah mengerti dengan sikap Om ini. Om tidak cinta dama aku, selingkuh dibelakangku, tapi kenapa Om melarangku buat dekat dengan pria lain? itu egois namanya Om," ucap Deva.
"Aku nggak perduli kamu mau ngomong apa. Pokoknya aku tidak mau kamu disentuh pria sembarangan. Cuma aku yang boleh melakukan itu," ujar Egi.
"Kapan Om pernah melakukan tugas Om sebagai suami? hingga pria lain yang menggantikan tugas itu," ucap Deva.
"Apa maksudmu?" tanya Egi.
"Aku rasa Om sudah dewasa. Tidak perlu lagi aku menjelaskannya. Aku ini seorang janda, jadi nggak perlu ada yang dijaga lagi. Jadi aku bisa melakukan hal itu sepuasnya bersama pria lain." Jawab Deva.
"Devaaa!"
__ADS_1
Plakkkkkk
Egi yang cemburu sudah sampai ke ubun-ubun, tanpa sadar memberi tamparan keras. Setelahnya dia menyesali apa yang sudah dia lakukan, kemudian cerminlah yang menjadi sasaran tinjunya.
Praaaangggg
Cermin besar di kamar itu hancur berantakan. Darah mengucur dari tangan Egi, hingga membuat Deva jadi panik.
"O-Om tangan Om berdarah," ujar Deva sembari meraih tangan Egi dengan tangan bergetar.
"Tidak usah perdulikan aku. Tanganku pantas mendapatkannya, karena sudah berani memukulmu," ucap Egi sembari menepis tangan Deva dan kemudian pergi dari kamar itu. Deva jadi terisak, karena dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Egi.
Karena lama menunggu Egi yang tak kunjung kembali, Deva memutuskan pergi untuk mencari suaminya itu. Tapi dia sama sekali tidak menemukan keberadaan pria itu.
"Apa dia di Paviliun kakek ya?" gumam Deva. Diapun bergegas pergi mencari Egi disana.
Sementara di Paviliun Egi sudah memutuskan meminta pendapat Hanggono tentang masalahnya. Meskipun dia tahu akan mendapat amukkan pria berusia senja itu.
"Kamu bertengkar dengan Deva?" tanya Hanggono setelah membantu putranya itu membalut luka ditangannya.
"Pa. Aku sudah melakukan kesalah besar. Aku sudah tidak tahu lagi cara mengatasinya. Aku tahu setelah mendengar ceritaku ini pasti papa akan sangat marah padaku," ujar Egi.
"Ada apa? tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan," tanya Hanggono.
"Sebelum menikah dengan Deva aku sedang dekat dengan seorang wanita. Bahkan kami pernah melakukan hubungan intim. Tapi saat papa menjodohkan aku dengan Deva, aku sangat bahagia, karena aku pernah bertemu dengan dia di Bali. Aku jatuh cinta padanya meskipun nggak pernah mengatakannya. Namun saat aku akan mengungkapkan perasaanku sama dia, masalah lain tiba-tiba muncul. Padahal aku sudah berniat memutuskan hubunganku dengan wanita itu," ujar Egi.
"Apa masalahnya?" tanya Hanggono.
"Wanita itu mengandung anakku saat ini." Jawab Egi tertunduk. Sementara Hanggono sangat syok.
"Sekarang aku bingung harus apa Pa. Aku tidak ingin dipisahkan dengan Deva, tapi aku nggak berdaya. Aku sudah mengajak wanita itu berdiskusi, agar dia melahirkan anak itu tapi aku tidak bisa menikahinya. Namun dia menolak, dia ingin dinikahi meskipun siri. Kalau aku menolak, dia akan menggugurkan bayi itu. Aku nggak mungkin kan membunuh darah dagingku pa?"
"Sekarang aku bingung harus apa. Disisi lain aku nggak mau kehilangan Deva, tapi sisi lain wanita itu mendesakku agar segera menikahinya," sambung Egi.
Deva yang tidak sengaja mendengar percakapan itu hanya bisa menutup mulutnya, agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Egi dan Hanggono. Dia benar-benar syok dengan apa yang baru saja dia dengar. Karena tidak kuat, Devapun bergegas pergi dari tempat itu.
Jangan lupa mampir di karya baruku teman-teman. "Suamiku Cacat Mental"๐
__ADS_1