
"Bagaimana? bagaimana rasanya Om?" tanya Deva dengan antusias, saat menyuruh Egi mencicipi hasil masakkannya setelah 3 hari mendatangkan ahli tataboga untuk mengajarinya memasak.
"Jadi kamu memutuskan tetap memanggilku Om?" tanya Egi.
"Ya mau bagaimana lagi. Om tidak mau dipanggil bapak, kata Om nggak nitipin benih sama ibuku. Mau kupanggil kakak, rasanya kurang pantas. Umur Om sudah 30 tahun, bahkan hampir 31. Mau kupanggil kakek, Om malah tersinggung. Jadi aku rasa panggilan Om emang paling cocok." Jawab Deva.
"Terserah kamu saja keponakkanku," ujar Egi dengan senyum kaku sedunia.
"Ayo Om cicipi. Pulang kerja pasti Om sangat lapar kan? aku sudah tidak sabar mendengar komentar dari Om. Hari ini judulnya masakkan Padang," ucap Deva.
Deva memang sudah tidak sabar ingin Egi mengomentari hasil masakkannya. Karena dihari pertama dan kedua dia kursus memasak, Egi sepertinya kurang puas dengan hasil masakkannya. Jadilah Deva menunggu Egi pulang, dan menyeret tangan pria itu ketika Egi baru saja memasuki rumah.
Deva tidak perduli meski Egi sudah makan diluar. Dia ingin pria itu juga mencicipi makanannya. Egi menatap semua hidangan yang ada diatas meja, dan tampak menggiurkan.
"Bagaimana rasanya Om?" tanya Deva yang sangat penasaran, saat Egi mulai menyuapkan daging rendang kedalam mulutnya.
Egi diam sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya. Egi juga menambah sambal, sayur, juga gulai tunjang khas minang itu. Karena tidak dijawab oleh Egi, Deva hanya menatap Egi yang tengah makan dengan lahap sembari berpangku tangan.
Drrrrttt
Egi mendorong kursinya ke belakang saat akan berdiri. Pria itu berjalan dengan santai menaiki anak tangga tanpa berkata apapun.
"Apa-Apaan Om tua? sama sekali tidak berkomentar. Apa aku gagal lagi kali ini? tapi dia makannya lumayan banyak," gerutu Deva.
"Devaaaa..." teriak Egi dari atas.
"Sekarang manggil aku. Tadi aku nanya nggak dijawab. Sekarang rasakan, bagaimana rasanya kalau nggak disahuti," Deva pura-pura sibuk membereskan meja makan.
Egi terlihat menuruni anak tangga, dan melihat Deva tengah mengelap meja.
"Kamu tuli ya?" tanya Egi.
"Aku nggak tuli Om. Aku dengar Om manggil." Jawab Deva.
"Terus kenapa nggak nyahut?" tanya Rgi.
"Nggak enak ya kalau kita ngomong nggak digubris? makannya aku tadi nanya soal rasa makanan, kenapa nggak dijawab?"
__ADS_1
"Dasar bodoh. Seharusnya kamu lihat aja caraku makan tadi. Itu sudah menjawab, kalau masakkanmu itu lezat." Jawab Egi.
"Yang benar Om? yey...berhasil...berhasil ..berhasil. Yes...yes...yes," Deva jingkrak-jingkrak kesenangan yang membuat Egi mengulum senyumnya.
Namun sesaat kemudian Egi kembali berwajah datar.
"Buatkan aku es jeruk nipis. Makananmu itu memang enak, tapi semuanya berminyak dan bersantan. Aku nggak mau kolesterolku naik, juga tubuh idealku jadi gendut. Lain kali perhatikan juga kesehatan tuanmu," perkataan Egi membuat senyum Deva lenyap dari bibirnya.
Sementara Egi dengan santai naik keatas setelah memesan minuman yang dia mau.
"Apa-Apaan Om tua. Sudah membuatku melambung tinggi, terus dihempaskan gitu aja dari ketinggian. Hem, mau makanan sehat ya? biar aku tunjukkan besok, apa itu makanan sehat," Deva tersenyum penuh arti.
🌶️🌶️🌶️🌶️
Egi menatap menu diatas meja yang membuat matanya terbelalak.
"Apa ini?" tanya Egi sembari menunjuk kearah meja.
"Tentu saja sayuran." Jawab Deva.
"Aku tahu ini sayuran. Tapi kenapa menunya cuma sayur dan sambal?" tanya Egi.
"Nggak ada begituan. Kamu mau nyuruh aku jadi kambing ya?" tanya Egi.
"Lah kok salah lagi sih Om? nggak konsisten nih si Om nya." Jawab Deva.
"Sekarang kamu harus habisin ini sayur. Kalau nggak habis, potong gaji separuh," ucap Egi sembari beranjak dari tenpat duduknya.
"Om tua sialan. Selalu aja aku yang kena. Ini jangan-jangan nenek moyang dia sama nenek moyangku, emang dari dulu sudah jadi musuh bebuyutan," gerutu Deva.
Deva mengambil kantung plastik, dan memasukkan semua sayuran kedalam sana untuk dia buang kedalam tong sampah. Menyuruh Deva memakan sayur, tentu saja itu tidak mungkin. Karena wanita itu sangat tidak menyukai semua jenis sayur.
"Sekarang aku harus membuat makan malam yang lezat. Kasihan juga kalau si Om tua nggak makan, nanti dia masuk angin. Kita lihat, ada bahan apa yang tersisa di kulkas," ucap Deva.
Deva kemudian memasak ulang untuk Egi. Setelah selesai, Deva bergegas mandi. Dan tepat pada pakul 7 malam, Deva mengetuk kamar Egi untuk mengajak pria itu makan malam.
Celekkk
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Egi.
"Om. Ayo kita makan malam," Deva mengajak pria matang itu untuk menikmati makan malam yang sudah dia buat.
"Pesan makan diluar saja. Aku nggak mau makan sayur mayur itu," ujar Egi.
"Om lihat dulu, baru berkomentar." Jawab Deva sembari menarik jari telunjuk Egi, hingga mereka menuruni anak tangga bersama.
"Taraaaaa..." Deva memperlihatkan isi makanan dibawa tutup makanan.
"Kamu masak lagi?" tanya Egi.
"Ya. Aku tahu om sedih karena hari ini aku memasak banyak sayur. Padahal Om sudah lapar kan? jadi sekarang om makan ini. aku sudah membuatkan sup buntut untuk om." Jawab Deva.
"Kemampuan memasak bocah ini lumayan juga. Dia juga gadis yang gigih belajar," batin Egi.
Egi mulai menyantap makanan lezat itu. Deva sangat suka melihat Egi makan dengan lahap.
"Om tua sangat menyukai masakkanku. Nanti saat aku menikah lagi, aku tidak akan khawatir suamiku kelaparan. Siapakah gerangan pria beruntung yang mempersunting janda kembang jago masak sepertiku hehehe," Deva tertawa dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan dengan otak kecilmu itu. Jangan mentang-mentang masakkanmu sudah enak, terus kamu sudah kepikiran mau menikah dini. Sebaiknya kamu menikah di usia 25 saja, biar pikiranmu itu agak matang sedikit," ucap Egi saat melihat Deva senyum-senyum sendiri sembari menatap dirinya.
"Aku nggak mau menikah, kalau nggak sama Om." Jawab Deva asal, yang membuat Egi jadi terbatuk.
"Sialan. Apa aku baru saja ditembak oleh bocah ingusan?" batin Egi.
"Aku nggak selera dengan bocah ingusan sepertimu. Mengetahui umurmu yang baru 18 tahun, pasti dibagian tertentu masih ingin tumbuh dengan sempurna sebelum semuanya siap. Jadi sebaiknya besarkan itu semua, baru mikirin nikah," ucap Egi asal.
"Kenapa perkataannya mengingatkan aku dengan Decky sialan itu? ternyata semua pria sama saja. Emangnya mereka mau buah dada sebesar apa? mau yang 5 kg sebelah? menyebalkan!" batin Deva.
"Bercanda kali om. Aku juga maunya yang fresh, bukan jomblo karatan kayak om. Lagian onderdil om juga belum tentu oke. Siapa tahu karena lama tidak digunakan malah sudah lapukkan," Deva tidak kalah sengit menyerang Egi dengan kata-kata yang pedas.
Sementara Egi matanya terbelalak, saat mendengar ucapan Deva. Seumur hidupnya, baru kali ini ada yang berani mengolok-olok dirinya.
"Sepertinya kamu sudah tidak asing lagi dengan onderdil pria?" tanya Egi yang ingin menguji keberanian Deva.
"Jaman sekarang. Bocah SD pun juga tahu tentang perburungan. Om nggak usah meremehkan bocah ingusan ini. Bocah ingusan ini juga bisa menghasilkan anak." Jawab Deva.
__ADS_1
"Meladeni bocah ini, bisa-bisa aku sakit jantung. Aku pikir cuma aku yang jadi bocah karbitan di usia 10 tahun. Tapi sepertinya bocah ini sudah jadi bocah karbitan sejak dalam kandungan," batin Egi.
Setelah itu Deva mendadak diam. Sesekali Egi mendengar gadis itu menarik ingus didalam hidungnya. Dan dia sudah bisa menebak, kalau Deva sedang tidak enak badan saat ini.