
"De-Delapan minggu? itu artinya 2 bulan kan? kalau dua bulan, itu berarti ini bukan anak Egi. Ini anak...."
"Nanti vitaminnya jangan lupa di tebus ya bu!" ucap dokter.
"Iya dok. Makasih dok," ucap Leony.
Leonypun keluar dari ruangan dokter itu dengan perasaan campur aduk.
"Bagaimana ini? apa aku harus menemui Vino? tapi sudah jelas-jelas dia tidak menginginkan aku. Jelas-Jelas dia sudah mengatakan, kalau dia tidak mau berkomitmen. Mendatanginya cuma membuatku malu dan terhina. Bagaimana kalau dia menyuruhku menggugurkan anak ini?" batin Leony.
"Tidak! apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan anak ini. Aku sudah kehilangan Kayla, mungkin Tuhan ingin mengobati luka hatiku melalui anak ini. Meskipun pada akhirnya aku harus mengurus anak ini sendiri, itu tidak mengapa. Meski aku bukan orang suci, aku tidak mau melenyapkan darah dagingku sendiri,"
"Tapi kan ada Egi. Kalau aku mengakui anak ini adalah anaknya, tentu tidak masalah kan? dia juga mau mencoba mulai hubungan yang baru denganku. Soal anak ini kedepannya, pikirkan nanti saja. Yang penting harus ada yang menikahiku, sebelum perut ini membesar,"
"Tapi bagaimana kalau suatu saat nanti ketahuan? Egi pasti akan marah besar, karena merasa tertipu. Tapi kalau aku membuat dia benar-benar jatuh cinta padaku, itu nggak masalah kan? lambat laun dia pasti bisa menerima anak ini. Aku akan bilang, aku tidak tahu saat bercerai sedang mengandung,"
"Besok aku harus bicara dengan Egi. Lebih cepat lebih baik, sudah terlanjur basah juga jadi sekalian nyebur saja," batin Leony.
Leony bergegas pulang, setelah menebus vitamin. Namun sebelum benar-benar pulang Leony mampir terlebih dahulu ke supermarket untuk membeli susu hamil dan makanan sehat lainnya.
🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️
Deva membantu Egi memasangkan dasi. Hal yang biasa dia lakukan saat di Bali waktu itu. Namun kali ini hubungan mereka jauh lebih intim, karena Egi sembari merangkul pinggang langsing istri kecilnya itu.
"Sudah rapi, sudah tampan. Ayo kita turun bersama! aku sudah membuatkan sarapan kesukaan Om," ujar Deva.
"Kalau seperti ini mengingatkan aku saat kita berada di Bali. Kalau aku pikir-pikir, waktu itu kita seperti sedang latihan jadi suami istri," ujar Egi yang membuat Deva jadi tersipu.
Deva kemudian meraih kedua sisi wajah suaminya dan mencubit kedua pipi pria tampan itu.
"Tapi bedanya adalah, om sekarang bertambah tua. Sedangkan aku bertambah muda," ledek Deva.
"Tapi biar tua suamimu sangat jantan," ucap Egi yang kemudian langsung menyerbu bibir istrinya.
Pagi itu diawali dengan sentuhan-sentuhan manis lewat pertautan bibir mereka.
__ADS_1
"Kita cukupkan sampai disini dulu ya! aku takut kita kebablasan, dan malah membuatku mengurungmu di kamar dan tidak jadi bekerja. Aku mau bertemu klien penting pagi ini," ujar Egi.
"Iya Om." Jawab Deva dengan pipi merona.
"Ayo kita turun!" ucap Egi.
Egi dan Deva menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan. Pelayan yang menyaksikan moment romantis itu hanya bisa senyum-senyum sendiri. Deva melayani Egi dengan baik, dan tidak lupa membawakan Egi bekal makan siang.
"Makasih ya! aku benar-benar teringat saat-saat kita berada di Bali. Itulah yang membuat aku ja...."
"Aku tidak boleh mengungkapkan perasaanku lebih dulu. Nanti saat bulan madu, aku akan membuat moment romantis dan aku akan menyatakan semua isi hatiku pada istri kecilku," batin Egi.
"Ja...apa Om? kok putus-putus sinyalnya!" ledek Deva.
Cup
Egi malah tidak menjawab ucapan Deva, dan dia malah menggantinya dengan mencium kening istrinya itu.
"Hati-Hati ya Om," ucap Deva yang kemudian dibalas dengan lambaian tangan.
"Ya Tuhan...jadi begini rasanya jadi istri sungguhan. Ini sangat menyenangkan. Tidak seperti waktu bersama pria keparat itu. Menyebalkan sekali kalau mengingat itu. Bikin aku badmood aja," gerutu Deva.
"Lebih baik aku siap-siap ke kampus saja. Aku belum memberitahu Dian dan Rizky perihal pernikahanku dengan Om Egi,"
Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, Egi tiba di kantor. Seorang klien sudah menunggunya di ruang tunggu , dan kemudian Egi menyuruh Sekretarisnya buat mempersilahkan kliennya masuk ke ruangannya.
"Selamat pagi tuan Egi," sapa Vino.
"Oh...hai selamat pagi tuan...."
"Vino. Nama saya Vino Sebastian," ujar Vino.
"Apa kabar tuan Vino? mari silahkan duduk! maaf kantor saya cuma seadanya. Maklum perusahaan baru berdiri," ucap Egi.
"Ah...tuan Egi bisa saja merendah. Kalau seperti ini seadanya, lalu bagaimana dengan kantor saya? tidak penting bagaimana bentuk design kantornya, yang penting itu uang yang dihasilkan. Benar tidak?" tanya Vino.
__ADS_1
"Betul." Jawab Egi sembari terkekeh.
"Jadi apa yang bisa saya bantu tuan Vino?" tanya Egi.
"Saya kebetulan seorang pegusaha retail. Saya memiliki beberapa cabang mini market yang tersebar dikota ini, dan juga beberapa di luar kota Jadi saya ingin produk anda masuk kedalam toko saya, apa bisa?" tanya Vino.
"Astaga. Apa-Apaan ini tuan Vino. Saya jadi malu, karena ternyata yang datang seorang suhu. Seharusnya saya yang datang menemui anda buat bekerja sama. Ini malah pengusaha terkenal yang mendatangi pengusaha baru netas," ujar Egi.
"Jangan begitu. Saya tahu kalau ini perusahaan cabang anda bukan?" tanya Vino.
"Yah. Yang pusat berada di Kota Bali " Jawab Egi.
"Jadi bagaimana dengan bisnis kita ini? apa anda bersedia?" tanya Vino.
"Tentu saja. Saya malah berterima kasih, karena saya tidak perlu bersusah payah mendatangi pengusaha besar buat kerjasama." Jawab Egi.
"Jadi mau sistem seperti apa?" tanya Vino.
"Saya tidak ingin memberatkan patner kerjasama. Jadi saya akan memasukkan produk saya di tiap mini market anda. Dalam jangka waktu tertentu, tim kami akan memeriksa secara berkala, agar tidak kecolongan barang kadaluarsa dan yang lainnya. Jadi barang yang sudah mendekati kadaluarsa akan segera di tarik, dan dinganti dengan yang baru. Tuan juga tidak perlu bayar lebih dulu. Jadi mana yang laku, yang itulah yang akan anda bayarkan," ujar Egi panjang lebar.
"Luar biasa. Ini benar-benar kerjasama yang menguntungkan patner bisnis. Jadi aku tidak perlu memikirkan takut rugi, karena barang belum laku," ucap.
"Betul tuan Vino," ujar Egi.
"Kalau begitu Deal," ucap Vino sembari mengulurkan tangan.
Setelah tanda tangan kontrak kerjasama, Vinopun kembali pulang ke kantornya. Saat pria itu keluar dari tempat parkir kantor Egi, Leony datang menggunakan seragam Pabrik karena memang dirinya tidak berada satu kantor dengan pria itu.
"Pak. Ada yang ingin bertemu dengan anda. Dia seorang karyawan pabrik," ujar Sekretaris Egi.
"Siapa?" tanya Egi tanpa mengalihkan matanya kearah laptop.
"Leony." Jawaban itu membuat gerakkan tangan Egi jadi terhenti dan kemudian menyuruh Leony masuk.
"Kamu kenapa susah sekali dihubungi. Kamu juga aku dengar sudah seminggu nggak ngantor, ada apa? apa kamu sakit?" tanya Leony yang mencoba perhatian.
__ADS_1
Egi kemudian duduk satu sofa bersama Leony. Dia memutuskan untuk memutuskn hubungannya dengan Leony dan mengatakan tentang statusnya saat ini.