KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
33. Resmi Bercerai


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


"Ini akta cerai kamu," Decky menyodorkan selembar akta cerai dari pengadilan setelah mereka ketuk palu beberapa jam yang lalu.


"Cepat juga ya. Tapi baguslah!" ucap Deva sembari meraih akta perceraian dari tangan Decky.


"Nanti sore Riki akan menjemputmu untuk tinggal bersamanya di apartemen," ujar Decky memberitahu Deva.


"Oke." Jawab Deva.


"Setelah 6 bulan, kita akan memberitahu kakek tentang perceraian kita. Jadi kamu nikmati saja kebersamaan kamu sama Riki. Kamu akan menjadi wanita dewasa saat bersama dia. Jadi layani di dengan baik," ucap Decky.


"Oke. Kalau gitu aku siap-siap dulu," ujar Deva sembari beranjak dari tempat duduknya.


Deva kemudian menurunkan koper dari atas lemari dan mulai memasukkan pakaiannya satu persatu. Tanpa Decky tahu, Deva menyeringai dibalik punggungnya. Setelah selesai Deva duduk di tepi tempat tidur.


Tidak berapa lama kemudian Decky menerima panggilan dari Riki.


"Oke-Oke. Kamu tunggu saja dibawah! nanti dia bakalan turun sebentar lagi," ujar Decky.


Decky kemudian mengakhiri percakapan itu dan menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celananya.


"Riki sudah menunggu kamu dibawah," ujar Decky.


"Oke. Aku pergi dulu," Deva menarik kopernya dan melenggang pergi menuju pintu. Namun sebelum dirinya benar-benar pergi, Deva menoleh kearah Decky dan memberikan senyum terbaik untuk pria itu. Setelah itu Deva berbalik badan dan wajahnya tiba-tiba berubah jadi dingin.


"Sudah siap?" tanya Riki saat melihat kedatangan Deva.


"Yap. Kita bisa pergi sekarang." Jawab Deva.


Riki membuka bagasi mobilnya dan memasukkan koper Deva kedalam bagasi itu. Tidak ada pembicaraan selama perjalanan menuju apartemen milik Riki, sampai akhirnya pria itu memberhentikan mobilnya pada salah satu apotik yang cukup terkenal di daerah itu.


"Kita mau apa kak kesini?" tanya Deva yang mulai waspada.


"Tunggu aja sebentar. Aku mau beli sesuatu yang penting buat kita malam ini." Jawab Riki sembari membuka pintu mobilnya.


"Cowok mesum ini dikira aku nggak tahu tujuannya apa. Aku pastikan malam ini kamu nangis darah," batin Deva.


Tidak berapa lama kemudian Riki kembali dengan membawa samu kantung plastik barang yang dia butuhkan.

__ADS_1


Brakkkk


Riki menutup pintu mobilnya dan meletakkan kantung plastik itu di kursi bagian belakang.


"Itu apa kak?" tanya Deva sembari meraih kantung plastik yang baru saja Riki beli.


Deva sangat terkejut saat melihat isinya beberapa kotak alat pengaman, dan juga beberapa jenis obat kuat.


"Buat persiapan malam ini. Aku nggak mau kalau sampai kamu hamil, dan juga nggak puas dengan pertempuran kita." Jawab Riki dengan tidak tahu malunya.


"Pantas aja berteman dengan Decky. Mereka ini sama-sama satu kiblat. Yaitu neraka jahanam. bisa-bisanya dia ngomong soal gituan sama bocah ingusan kayak gue. Lihat aja, setelah malam ini aku pastikan kamu nggak bisa tidur dengan nyenyak. Bolongin aja itu tembok," batin Deva.


Setelah menempuh waktu hampir 25 menit, merekapun tiba disalah satu apartemen mewah milik Riki. Pria itu bergegas membawa koper Deva masuk ke dalam apartemennya.


"Kopernya biar disini aja kak," ujar Deva sembari menujuk kearah ruang tamu.


"Loh kok disini? pokoknya selama 6 bulan bersama, kita harus tidur satu kamar. Jadi pakaian kamu juga masukin aja dalam lemari aku. Masih banyak kok muatannya," ucap Riki.


"Ya udah." Jawab Deva yang kemudian mengekor dibelakang Pria itu.


Ceklek


"Kita hanya berdua aja disini?" tanya Deva.


"Ya. Ini apartemen pribadiku. Aku tidak suka ada orang asing masuk kesini, keculi orang yang aku izinkan saja. Terlebih kita mau tinggal bersama, jadi aku nggak mau ada orang lain tinggal sama kita." Jawab Riki.


"Sayangnya aku nggak sudi tinggal sama pria mesum kayak kamu," batin Deva.


Greppp


Riki tiba-tiba memeluk Deva dari belakang, dan itu benar-benar membuat Deva terkejut.


"Eh...aku mau mandi dulu boleh kak? lagian ini hampir magrib. Nggak baik gituan saat magrib," ucap Deva asal.


"Lah. Emang kenapa? aku sering kok. Tapi nggak kenapa- napa," tanya Riki.


"Itu karena kakak lagi hoki aja. Magrib itu waktunya ibadah dan juga setan gentayangan. Kakak mau pas gituan jadi gancet? tahu gancet nggak?" tanya Deva dengan wajah serius.


"I-Itu. Ginian nggak bisa lepas kan?" ucap Riki sembari memperagakan dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Nah...itu maksudku. Sekarang aku mau mandi, habis itu kakak juga mandi. Nah...baru tuh kita makan malam biar ada tenaga buat gituan," ujar Deva.


"Benar juga. Ya udah kamu mandi gih. Biar aku pesan makan dari luar," ucap Riki.


"Oke. Aku duluan ya kak," yang kemudian dianggukki oleh Riki.


Deva mengambil handuk dari dalam kopernya dan juga baju ganti. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku harus memesan makanan yang bisa membangkitkan ga*rah nih. Kan mau bobol gawang," Riki senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya. Setelah Deva selesai mandi, kemudian giliran Riki yang ingin membersihkan diri.


"Dev. Kakak sudah pesan makanan. Sekarang kakak mau mandi sebentar. Nanti kalau ada yang pencet bel buka aja. Uangnya ada diatas meja itu. Kamu langsung siapin dimeja makan ya!" ucap Riki.


"Oke kak." Jawab Deva.


Riki kemudian masuk ke dalam kamar mandi sembari bersiul-siul. Deva kemudian pergi ke ruang tamu sembari menyiapkan segala sesuatunya. Tidak berapa lama kemudian pesanan makananpun datang. Deva bergegas menyiapkan makanan dan minuman diatas meja, sembari menunggu Riki keluar dari kamar.


Setelah menunggu hampir 20 menit, Riki keluar dengan menggunakan piyama motif kimono berwarna hitam.


"Udah nyampe ya makanannya?" tanya Riki.


"Iya kak. Yuk makan! aku laper banget ini," ucap Deva yang kemudian diangguki oleh Riki. Merekapun makan dalam diam, karena Devapun tidak ingin banyak bicara dengan pria yang sangat dia tidak sukai sifatnya itu.


Setelah mereka makan malam bersama, Riki tiba-tiba mengeluar obat dari saku bajunya.


"Itu obat apa kak?" tanya Deva.


"Obat kuat." Jawab Riki dengan santai.


"Emang itu diperlukan ya? kakak kan sudah berpengalaman. Apa kakak tidak percaya diri?" tanya Deva.


"Aku ingin kita main sampai subuh." Jawab Riki sembari meraih gelas air minum dan segera menelan dua butir obat kuat.


"Hehehe...selamat berperang tuh obatmu dan obatku. Kita lihat obat siapa yang bereaksi dengan cepat," batin Deva.


"Ayo kita ke kamar buat pemanasan," ucap Riki.


"Pemanasan apa kak? kita baru selesai makan loh. Baru juga nyampe tenggorokkan. Bisa muntah nanti. Lagian baru habis makan harus gosok gigi dulu biar percaya diri," Deva dengan sengaja mengulur banyak waktu.


"Ya udah lakuin apapun persiapan kamu. Kakak tunggu diatas tempat tidur," ujar Riki sembari beranjak dari kursi.

__ADS_1


Riki kemudian masuk ke dalam kamar, sementara Deva jadi mondar mandir karena tidak sabar ingin menunggu reaksi obatnya. Sementara itu Riki mulai menyobek salah satu kotak alat pengaman. Senyumnya terbit dari bibir, saat benda pusakanya perlahan naik dan kemudian tegak sempurna.


__ADS_2