KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
38. Ulang


__ADS_3

"Ini hari pertamaku bekerja di kantor itu. Aku tidak boleh terlambat, kalau nggak aku pasti akan dipecat lagi.," gumam Deva.


Deva bergegas memasang tali sepatunya, kemudian keluar dari kost untuk pergi bekerja. Memang jarak kost dan perusahaan tempat dirinya bekerja tidak terlalu jauh, itulah sebabnya Deva bisa menempuhnya dengan berjalan kaki. Namun kendati demikian, Deva ingin datang lebih cepat dari waktu yang sudah di tentukan.


"Pagi pak," sapa Deva pada Security yang juga baru datang.


Masih ada waktu 30 menit bagi Deva untuk menyiapkan kopi dan air mineral bagi sang bos. Dia bergegas menuju pantry, dan tepat pada pukul 8 pagi, Deva menghantarkan kopi dan air mineral itu ke ruangan bosnya.


"Tuan. Ini kopinya," Egi yang duduk membelakangi Deva, memutar kursi kebesarannya.


"Om tua? kenapa Om tua ada disini? jangan kira aku nggak ingat wajah om ya? sampai mati aku akan selalu mengingat wajah om yang menyebalkan. Gara-Gara om aku jadi hilang pekerjaan. Sekarang ngapain om duduk disini? cepat berdiri! ini kursi bos ku, bukan kursi Om tua,"


Deva menarik-narik tangan Egi, agar pria itu segera bangkit dari tempat duduknya. Mendengar ada keributan, sekretaris Egi segera memasuki ruangan untuk melihat apa yang terjadi.


Bruukkkk


Intan sang sekretaris mendorong Deva cukup keras, hingga wanita malang itu tersungkur ke lantai.


"Apa yang kamu lakukan? tidak sopan kamu! apa kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Intan sangat takut kehilangan pekerjaan, karena dia sudah lalai dan membuat bosnya itu kena serang.


"Kenapa kakak marah? aku justru mau membereskan orang yang tidak sopan ini dari kursi bos. Apa kakak tahu? dia ini orang yang sangat menyebalkan!" Deva yang bangkit dari lantai langsung memaki Egi.


"Ya Tuhan...apa anak ini punya nyawa sembilan? rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke laut saat ini," batin Intan.


"Yang pertama aku bukan kakakmu. Dan yang kedua, orang yang kamu bilang menyebalkan ini adalah bos kita. Pemilik dari perusahaan ini." Jawab Intan.


"Mana mung...apa? bos?" Deva terkejut dan langsung menatap Egi dengan rasa takut. Sementara pria itu menaikkan sebelah alisnya, dengan tangan menyilang didadanya.


"Intan. Keluarlah!" ucap Egi.


Intan tidak berpikir dua kali untuk keluar dari ruangan itu. Itu akan lebih baik baginya, karena tetap berada diruangan itu pasti akan membuat nafasnya menjadi sesak.


"Pa-Pak. Hehehe..." Deva tersenyum kaku.


"Om tua, Menyebalkan, perjaka tua, kalau sudah menikah anaknya banyak seperti kurawa, kalau pakai kon*om, kon*omnya bocor. Tidak sopan, dan ingin mengusirku dari ruanganku," Egi menghitung kata-kata Deva dengan jarinya.

__ADS_1


"Maaf Om. Om juga harusnya minta maaf sama aku. Kemarin kan om yang salah, karena kaki om sengaja menghalangi jalanku. Gara-Gara om aku jadi dipecat. Kan nggak adil Om. Mentang-Mentang om pengusaha, sementara saya cuma pelayan,"


"Apa mulutmu itu tidak bisa diam? dasar bocah cerewet. Kenapa masih saja memanggilku Om? aku bukan Om mu. Sekarang pergilah! kamu tidak perlu bekerja disini lagi," ucap Egi dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Di-Dipecat lagi? tidak bisa! aku tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Kalau tidak, aku tidak bisa makan bulan depan," gumam Deva.


"Saya minta maaf pak. Tapi saya mohon jangan pecat saya. Bapak memang bukan om saya, saya cuma asal bicara. Saya berjanji tidak akan cerewet lagi. Tapi saya mohon jangan pecat saya ya pak?" Deva berusaha membujuk Egi agar tidak memecatnya.


"Saya sudah buat kopi buat bapak, saya juga bawa air mineral. Jadi jangan pecat saya ya pak? atau begini saja, untuk gaji pertama saya. Bapak boleh membayar saya separuh saja. Itu sebagai tanda perminta maafan saya," sambung Deva dengan tatapan memelas.


Egi tampak terdiam, dan menatap Deva dengan berbagai ekspresi.


"Emm...tawaran yang cukup menarik. Kalau begitu aku terima niat tulusmu. Aku akan memaafkanmu dengan memotong separuh gajimu. Baiklah, kamu bisa lanjut bekerja." Jawab Egi sembari mengelus-elus dagu tanpa jenggotnya.


"Deva tersenyum kaku, dan kemudian berbalik badan dengan menggigit handuk kecil ditangannya.


"Habislah uangku. Hiks...."


Bruuuaaarrr


"Ada apa pak?" tanya Deva sembari menghampiri Egi yang tengah mengelap mulutnya dengan selembar tisu.


"Ada apa? berapa sendok kamu masukkan gula kedalam kopinya?" tanya Egi.


"Tiga sendok pak." Jawab Deva.


"Tiga sendok? bawa kopi ini ke pantry, dab buat ulang kembali," ucap Egi dengan emosi.


Deva yang takut kehilangan pekerjaan, bergegas membawa cangkir kopi keluar.


"Ada apa dengan kopinya? aku sudah mencicipinya, dan itu sudah manis," gumam Deva saat dirinya tiba di pantry.


Sruuupp


Deva kembali menyesap sisa kopi di cangkir itu.

__ADS_1


"Tuh kan...sudah manis. Apa om tua sangat suka manis, hingga ini masih kurang? tapi ya sudahlah, yang penting aku buat saja. Mungkin dia memang pencinta makanan manis, jadi aku tambahkan saja satu sendok lagi," gerutu Deva.


Setelah selesai membuat kopi, Deva kembali mengantarkannya ke ruang Egi. Pria itu tampak fokus dengan laptop di depannya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Deva memasuki ruang kerja Egi dan meletakkan secangkir kopi diatas meja.


"Berapa sendok kamu campurkan gula kedalam kopinya?" tanya Egi tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Empat sendok pak." Jawab Deva dengan penuh percaya diri. Namun jawaban Deva malah membuat jari-jari Egi berhenti menekan tombol-tombol di laptopnya.


"Apa gadis ini bodoh? jangan-jangan dia ingin balas dendam padaku, dengan cara membuatku terkena diabetes. Mau mengerjaiku rupanya. Biar kamu rasakan senjata makan nona," batin Egi.


"Tugasmu sekarang adalah menghabiskan kopi itu sendiri. Setiap kamu mematuhi perintahku, maka gajimu akan naik 50 ribu. Jadi berjuanglah membuatku senang, agar gajimu kembali utuh," ucap Egi.


"Yang benar pak? oke aku akan menghabiskan kopinya," Deva bergegas meraih cangkir kopi dan mulai menyesap kopi yang dia buat.


"Astaga ini mah bukan kopi, tapi kolak. Apa selera pengusaha besar memang seaneh ini?" Deva memejamkan matanya, karena dia sendiri merasa tidak sanggup menelan air gula itu.


"Mau mengerjaiku. Rasakan itu bocil!" batin Egi.


Setelah Deva menghabiskan kopi itu, wanita itu ingin beranjak pergi dari situ.


"Lain kali buatkan kopi dengan satu setengah sendok gula untukku," ujar Egi sebelum Deva benar-benar mencapai pintu keluar.


"Bos kurang ajar! jadi dia sengaja menyuruhku minum kopi itu? sabar Deva, dia bosmu. Tunggu sampai 3 bulan, kamu boleh memaki dia sepuasnya setelah kamu tidak lagi bekerja di tempat ini," batin Deva.


"Iya pak." Jawab Deva yang kemudian bergegas kembali ke pantry.

__ADS_1


Sementara itu Egi tertawa keras, saat pintu ruangannya tertutup. Tawa yang masih bisa Deva dengar meskipun sayup-sayup.


__ADS_2