KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
81. Damai


__ADS_3

"Ya sudahlah nanti kita bahas lagi. Sekarang aku mau nemuin kak Leony dulu," ujar Deva yang mengalihkan pembicaraan.


Egi tahu Deva saat ini sedang malu-malu. Dan dia membiarkan istrinya itu meloloskan diri. Pria itu kemudian menyusul Deva, dan bergabung dengan keluarga istrinya itu


"Selamat ya kak. Aku turut bahagia untukmu," ucap Deva saat Leony tengah berbincang dengan Vino.


"Kamu kemana saja? nggak cuma kamu, Egi juga menghilang. Jangan-Jangan kalian...."


"Deva penasaran kenapa yang menikah denganmu malah kak Vino, bukannya aku. Jadi aku harus menjelaskan itu semua." Jawab Egi yang muncul dari belakang punggung Deva.


"Deva. Maafkan kakak ya! kamu dan Egi bertengkar gara-gara kakak. Dan kalian hampir saja bercerai. Untunglah Egi tidak pernah menandatangani surat cerai itu. Kamu tidak tahu saja, dia mencarimu seperti orang gila," ucap Leony.


"Jadi anak itu...."


"Iya Dev. Ini anakku dengan mas Vino. Kakak memang pernah melakukan kesalahan dimasa lalu, demi menyelamatkan hidup Kayla. Tapi pada akhirnya kakak tetap kehilangan dia juga. Sekarang kakak diberikan anugrah lagi, meskipun caranya tidak benar. Tapi kakak tidak menyesali semua yang terjadi pada kakak, karena mungkin ini memang bagian hidup kakak yang harus kakak jalani. Sekali lagi kakak minta maaf ya!" ujar Leony.


"Kamu harus maafin Egi, dia nggak salah. Kakaklah yang salah disini," sambung Leony.


"Enak banget kak Leony ngomong. Mungkin kalau dia nyelup wanita yang nggak pernah aku kenal, aku bisa melupakan begitu saja. Tapi dia pernah berbagi ranjang dengan kakak kandungku sendiri, aku pasti akan terus membayangkan hal itu," batin Deva.


"Pokoknya kalian harus bicara baik-baik dan dengan kepala dingin. Jangan bertengkar lagi, kalau memang kalian mau bersatu selamanya," ujar Leony.


"Leony enak sekali kamu bicara seperti itu, setelah menciptakan masalah besar untukku. Kamu pikir mudah meluluhkan hati adikmu yang keras kepala ini?" batin Dev.


"Malam ini akan diadakan resepsi pernikahan. Kalian harus hadir," ujar Vino.


"Sepertinya kami tidak bisa menghadiri acara itu kak Vino," ujar Egi.


"Kenapa?" tanya Vino.


"Karena kami akan melakukan Bulan madu dadakkan." Jawab Egi yang membuat mata Deva terbelalak.


"Ini maksudnya Om tua apa sih? bisa-bisanya dia ngambil keputusan sendiri tanpa diskusi dulu sama aku," batin Deva.


"Oh ya? kalian mau kemana?" tanya Leony.


"Aku sudah memesan dua tiket ke Swiss untuk sore nanti." Jawab Egi.

__ADS_1


Deva hanya diam saja. Dia tidak ingin mempermalukan Egi di depan iparnya.


"Deva. Kami pulang dulu ya!" ujar Rizky yang sempat hadir di pernikahan Leony.


"Makasih ya sudah datang," ucap Deva.


Rizky melirik kearah Egi dengan tatapan tidak bersahabat. Deva yang mengerti kekhawatiran sahabatnya itu berusaha meyakinkan Rizky bahwa dirinya baik-baik saja.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Kalian berdua bisa pulang tanpa perlu khawatir," ujar Deva.


Rizky dan Dian kemudian pulang, setelah Deva berhasil meyakinkan mereka berdua.


"Ya sudah kami beristirahat dulu ya! kalian bisa ngobrol berdua. Ingat! selesaikan masalah kalian dengan baik-baik," ujar Leony.


Leony dan Vino meninggalkan Egi dan Deva di ruang tamu. Egi perlahan mendekati Deva dan menggenggam tangan istrinya itu.


"Kita pulang yuk? kita harus siap-siap berangkat ke Swiss nanti sore," ujar Egi.


"Om kebiasaan deh. Apa mentang-mentang aku ini dianggap anak kecil, Om seenaknya aja ngambil keputusan sendiri? masalah kita belum selesai loh Om, kok Om buat kesalahan baru lagi?" tanya Deva.


"Ckk...sombong. Mentang-Mentang kaya, seenaknya saja menghamburkan uang. Kalau dibatalkan tiketnya jadi mubazir." Jawab Deva.


"Ya jadinya gimana?" tanya Egi.


"Ya mau bagaimana lagi. Terpaksa kita pergi saja." Jawaban Deva membuat Egi tersenyum.


"Kalau begitu ayo kita pulang! kita harus mempersiapkan semuanya," ujar Egi.


Deva terpaksa menuruti kemauan Egi. Meskipun sebenarnya dia masih ingin memberikan suaminya itu pelajaran.


"Sebenarnya kenapa Om pesan tiket bulan madu dadakkan ke Swiss? itu kan nggak perlu Om. Om kepedean, seolah aku mau aja Om ajak kesana," tanya Deva saat mereka berada dalam mobil.


"Aku pikir kita bisa menjernihkan pikiran disana. Kita bisa menyelesaikan masalah kita dengan bicara dari hati kehati." Jawab Egi.


"Kelihatan sekali modusnya. Om pikir aku nggak tahu apa yang ada dalam otak Om itu?" tanya Deva.


"Ya kan sekalian sayang." Jawab Egi dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Emangnya kamu mau kita benar-benar pisah? kalau aku sih nggak sanggup pisah dari kamu. Makanya surat cerai itu langsung ku robek, saat tahu Leony bukan mengandung anakku," ujar Egi.


"Berapa kali?" tanya Deva.


"Berapa kali apanya?" tanya Egi.


"Berapa kali nyelup kak Leony?" tanya Deva dengan wajah masam.


"Eh? sa-sayang. Kita nggak usah bahas itu lagi ya? semuanya kan sudah lewat. Aku nggak mau kamu...."


"Kalau nggak mau jawab, turunin aku disini," ancam Deva.


"Sa-Satu kali." Jawab Egi.


"Pembohong!" ucap Deva.


"Sumpah. Maaf, waktu itu aku khilaf dan hanya ingin memastikan perasaanku sama dia. Tapi ternyata aku memang nggak menyukai dia lagi. Maaf ya!" ucap Egi.


"Kalau ngomong emang gampang Om. Tapi Om nggak merasa jadi aku. Kalau wanita itu orang lain, mungkin aku bisa menutup mata dan telinga. Tapi ini kakak kandungku sendiri, apa aku sanggup dibayang-bayangi hal itu seumur hidup aku?" tanya Deva.


Egi menghentikan mobilnya dijalan sedikit sepi. Pria itu kemudian menggenggam tangan Deva dan menatap mata istrnya itu.


"Aku tahu kesalahan yang aku lakukan dimasa lalu akan selalu menjadi hantu untuk hubungan kita. Tapi aku bersyukur, karena aku melakukan kesalahan itu sebelum kita menikah. Tapi sayang, aku berani bersumpah demi apapun. Tidak ada wanita yang aku cintai selain kamu. Aku minta maaf kalau sudah menyakiti hatimu, tapi aku tidak berdaya karena tidak bisa mengembalikan waktu,"


"Aku mohon maafkan aku ya? kita mulai semuanya dari awal lagi," tanya Egi.


Deva menghela nafas panjang. Mau tak mau dirinya memang harus memaafkan Egi. Karena selain dia mencintainya, Egi memang tidak melakukan kesalahan pada saat menikah dengannya.


"Baiklah. Aku akan kasih Om satu kali kesempatan lagi. Tapi kalau Om berani menghianatiku, maaf saja. Aku nggak bisa memberikan kesempatan selanjutnya. Aku harap Om pikirkan perkataanku baik-baik," ujar Deva.


Grepppp


Egi langsung memeluk Deva dengan erat. Hatinya sangat lega dan berbunga-bunga saat ini.


"Aku tidak akan membiarkan kamu mengeluh lagi tentang orang ketiga diantara kita. Karena aku hanya ingin kamu yang menjadi istriku seumur hidup," ujar Egi.


Deva mengeratkan pelukkannya pada Egi. Egi meraih wajah istrinya itu, dan sesaat kemudian mereka kembali berpagut mesra.

__ADS_1


__ADS_2