KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
56. Om Tua?


__ADS_3

Yasmin kemudian membawa mempelai wanita keluar dari kamar setelah dirias. Deva kemudian duduk disebelah suaminya yang baru sah beberapa detik yang lalu. Deva dan Egi tampak cuek satu sama lain, sembari menandatangani dokumen pernikahan. Setelah itu Deva mencium tangan Egi. Namun mereka sama-sama terkejut, saat melihat wajah mereka satu sama lain.


"Bo-Bocil?" ucap Egi lirih.


"O-Om tua?" ucap Deva dengan nada suara yang sama.


Entah kenapa, tanpa mereka sadari mereka menerbitkan senyum nyaris tak terlihat. Ada letupan bahagia, setelah mengetahui pasangan yang mereka nikahi, adalah orang yang mereka rindukan secara diam-diam. Hilang sudah rasa marah, kecewa, ataupun lesu saat pernikahan terjadi beberapa waktu yang lalu. Saat ini telah digantikan rasa bahagia, yang hanya diri mereka sendiri yang merasakannya.


Deva dan Egi kemudian melakukan sungkem pada kedua orang tua Deva, dan juga pada Hanggono. Mata Deva berseloroh dengan Decky, saat pria itu perlahan mendekati dirinya dan juga suaminya.


"Selamat aku ucapkan buat kalian. Aku tidak menyangka Om suka dengan barang bekas. Kalau tahu Om suka dengan barang bekas, mungkin aku akan membuangnya jauh lebih cepat," sindir Decky.


"Ternyata selera Om sudah membuktikan darimana Om berasal. Apa Om tahu? selain dia bekasku, dia juga bekas temanku. Apa kamu ingat saat aku membuat tanda merah dilehermu saat kita bulan madu ke jepang?" tanya Decky yang sengaja membuat Egi panas.


Dada Egi bergemuruh mendengar ucapan Decky, sementara Deva mengepalkan tangan dengan erat. Tangan Deva bahkan gemetar, karena ingin memberi Decky sebuah tamparan keras. Namun Egi yang memiliki usia Dewasa, tentu dia bisa mengendalikan diri dan seolah tidak perduli dengan ucapan Decky.


"Tidak masalah meski dia bekas siapa saja. Om akan anggap kamu tidak mampu membahagiakannya, karena usiamu belum matang untuk berumah tangga."


"Lagi pula selera Om memang daun muda, Om tidak suka wanita yang jauh lebih tua. Karena diusia tertentu, wanita tidak bisa menghasilkan keturunan lebih banyak. Sementara bersama Deva, aku bisa mencetak anak sebanyak yang aku mau," sindiran Egi membuat pipi Deva merona.


"Sialan Om tua. Bisa aja membuat aku jadi salah tingkah. Belum apa-apa udah ngomong soal anak. Dikobok aja belum Om," Deva menyembunyikan senyumnya.


"Hanya disayangkan saja. Om itu kan seorang pengusaha, tapi kok nikahin janda? apa om nggak jijik dapat bekasan?" tanya Decky.


"Dia janda tapi statusnya jelas. Daripada status gadis, tapi rasanya seperti janda. Om tidak perlu menjelaskannya bukan?" sindir Egi.


Decky mengepalkan tangannya. Dia tidak suka Egi menyindir Olivia meskipun tidak secara langsung didepan kekasihnya itu.


"Sekarang aku sudah menjabat sebagai direktur utama di HANG GROUP di usia muda. Bagaimana bisnis Om di Bali? apa semakin berkembang? atau hanya menawarkan produk pada orang-orang di pantai?" ejek Decky.


"Sejak awal perusahaan Om berdiri, Om tidak pernah mendistribusikan barang dengan cara seperti itu. Sekarang bisnis Om sudah merambah keluar negeri. Kamu mungkin belum tahu, kalau saat ini Om sudah membangun pabrik sendiri di kota ini." Jawab Egi.


"Om kamu benar. Rencananya besok adalah acara peresmiannya. Kalau kamu bersedia, datanglah ke perusahaan Om mu. Kamu juga bisa bekerjasama dengan Om mu," timpal Hanggono.


"Aku rasa tidak perlu kek. Lagi pula perusahaan Om Egi bisa dibilang baru menetas. HANG GROUP hanya akan bekerjasama dengan perusahaan yang benar-benar bonafit," ujar Decky dengan sombongnya.


Greppp


Deva menggenggam tangan suaminya, dia ingin menunjukkan pada semua orang, kalau dia dan Egi akan kompak dalam segala hal.

__ADS_1


"Kakek. Kami masuk kamar dulu ya! lelah mendengar ucapan orang sombong. Apalagi sombong yang belum terlihat prestasinya apa," sindir Deva sembari menyeret Egi kedalam kamar.


Sementara Decky hanya bisa menatap kepergian Egi dan Deva dengan gigi bergemeratuk.


Ceklek


Ceklek


Egi menutup pintu dan mengunci pintu kamarnya. Egi menatap Deva yang tengah sibuk melepas aksesoris dikepalanya. Sementara Egi melihat apa yang dilakukan istrinya sembari menatap wajah Deva dari pantulan cermin.


Setelah selesai, Deva duduk ditepi tempat tidur, sama seperti yang Egi lakukan sekarang ini.


"Apa kamu keberatan dengan pernikahan ini? maaf kalau papaku memaksamu menikah denganku," tanya Egi.


"Tidak. Terlebih saat aku tahu, yang menjadi suamiku itu adalah Om." Jawab Deva.


"Bagaimana dengan Om sendiri?" tanya Deva.


"Sama. Karena niat awal memang ingin membahagiakan papa. Terlebih aku mengenal cukup baik selama kita tinggal dibali. Nggak nyangka ya, kita akan bertemu lagi disuasana yang berbeda seperti ini," ujar Egi.


"Tapi apa yang dikatakan kak Decky memang ada benarnya. Kenapa Om mau dengan barang bekas?" tanya Deva.


"Aku juga bukan barang bagus. Jika aku seorang wanita, aku juga sudah tidak perawan lagi. Aku tidak ingin menutupinya darimu, aku sudah pernah melakukan hal itu beberapa kali dengan wanita yang berbeda. Sekarang aku sudah menikah, tentu aku tidak bisa melakukan hal itu lagi dengan wanita lain. Jadi Bocil, menurutmu pernikahan kita ini mau yang seperti apa?" tanya Egi.


"Tentu. Apa kamu tidak keberatan jika kita tinggal di kediaman utama? papa tidak memperbolehkan kita pindah alias punya rumah sendiri," tanya Egi.


"Kemanapun Om pergi, aku akan selalu berada disisi Om. Termasuk jika kita tidak pindah dari sini. Tapi kalau soal urusan ranjang, bolehkah aku meminta sedikit waktu?" tanya Deva


"Sampai kapan? bagaimana jika aku tidak bisa menahannya?" usil Egi yang membuat Deva jadi merona.


"Lagipula hal seperti itu adalah naluri, mana bisa dikendalikan jika memang sudah tidak tahan lagi," sambung Egi.


"Ya baiklah. Terserah Om saja." Jawab Deva menyerah.


"Kalau sekarang boleh?" tanya Egi dengan jahil, yang membuat jantung Deva jadi berdebar.


Deva kemudian mengangguk dengan kaku.


Egi perlahan mendekat, yang membuat Deva jadi semakin berdebar.

__ADS_1


Cup


Egi mencium kening Deva dengan penuh perasaan.


Greppp


Egi membawa Deva dalam pelukkannya.


"Aku merindukanmu bocil," ucap Egi


Deg


Deg


Deg


Dapat Deva dengar jantung Egi berdebar dengan kencang, sama seperti jantungnya saat ini.


"Aku juga merindukan Om." Jawab Deva yang membuat Egi menyembunyikan senyumnya.


"Aku bahkan lebih dari merindukanmu Bocil. Pria bodoh ini baru menyadari kalau aku sudah jatuh cinta padamu, setelah kamu pergi dariku," batin Egi.


"Sebenarnya aku nggak cuma rindu, aku juga cinta sama Om. Tapi aku nggak mungkin bilang duluan kan? bagaimana kalau dia nggak punya perasaan sama aku, dan hanya menganggapku adik kecilnya," batin Deva.


"Buatlah aku jatuh cinta padamu bocil," ujar Egi yang masih gengsi.


"Kok aku Om?" tanya Deva sembari menatap suami tampannya itu.


"Emang aku harus membuat wanita lain jatuh cinta?" tanya Egi.


"Om,"


"Hem?"


"Aku pernah gagal dan patah hati. Sejujurnya aku takut memberikan hatiku kembali, namun pada akhirnya aku tersakiti lagi. Apa Om bisa berjanji padaku? jangan pernah kecewakan aku, jangan pernah duakan aku meskipun tidak ada cinta diantara kita," tanya Deva.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Pertanyaan Deva membuat jantung Egi berdetak dengan kencang. Dia jadi teringat dengan sosok Leony, yang dia hindari saat ini.


__ADS_2