
"Egi. Kenapa kamu jadi begini sih. Ha? papa nggak pernah lihat kamu mabok begini," Hanggono sedikit kesulitan memapah putranya yang tengah mabuk berat, dan pulang ke paviliun.
"Deva sudah pergi pa. Deva ninggalin aku, dia sudah menggugat cerai aku. Aku bahkan tidak bisa menghubungi nomor ponselnya. Sekarang dia benar-benar ninggalin aku pa. Hiks...." Egi terisak dibawah alam sadarnya.
"Aku bahkan tidak pernah melihatnya seperti ini, saat patah hati ditinggalkan Leony. Sepertinya dia benar-benar mencintai Deva," batin Hanggono.
"Pa. Bantu Egi temukan Deva Pa. Egi kangen dia, Egi nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak peluk dia," rengek Egi tanpa sadar.
Hanggono hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar curhatan Egi dibawah alam sadarnya. Pria senja itu membantu putranya berbaring di atas tempat tidur, dan melepaskan sepatu di kakinya.
"Kamu harus bisa menghadapi masalah yang kamu buat Egi. Kamu bisa sukses dalam bisnis, tapi kamu sangat payah dengan urusan wanita. Sangat berbeda denganku sewaktu muda. Aku bahkan bisa menaklukkan 10 wanita dalam sehari. Ini baru tumbuh satu benih saja, sudah lemah. Dasar pria payah," gumam Hanggono.
Hanggono mematikan lampu kamar, agar Egi segera tidur dengan tenang. Lain Egi lain pula dengan Deva. Wanita itu melampiaskan kesedihannya dengan membeli spiker blutooth dan sebuah microfon. Deva bernyanyi-nyanyi dikamar, hingga dia mendapat teguran dari tetangga.
Deva menatap layar ponselnya. Walpaper yang dia gunakan foto dirinya dan Egi yang sempat selfie sewaktu di Bali, dan dia apload di media sosial. Hanya itu kenangan yang tersisa, karena ponselnya yang lama sudah dia buang ke laut. Ponsel yang banyak menyimpan kenangan antara dirinya dan Egi.
"Deva kangen sama Om. Apa Om juga kangen sama Deva?" air mata Deva lagi-lagi meleleh.
Sudah tiga hari dia meninggalkan rumah, selama 3 hari pula dia tidak ke kampus, karena takut Egi mencarinya disana.
Tring
Tring
Tring
"Ya Ki?" Deva menjawab panggilan telpon dengan suara lesu.
"Kamu belum mau ngampus juga?" tanya Rizky
__ADS_1
Deva terdiam diseberang telpon. Dia bingung harus menjawab apa pada sahabatnya itu.
"Sampai kapan kamu mau menghindar Dev? suatu saat kamu akan ketemu dia juga kan? terus kapan jadwal mediasi dipengadilan?" tanya Rizky.
"Itulah sebabnya gue sembunyi, karena gue nggak mau datang mediasi. Gue mau segera ketok palu. Jadi sampai selesai nanti gue nggak akan datang buat sidang." Jawab Deva.
"Ya terus kenapa loe ngehindar? dia nggak mungkin nyeret-nyeret loe buat menghadiri sidang kan? loe harus keluar dari tempat persembunyian loe. Loe harusnya memperlihatkan sama dia, kalau loe baik-baik aja pisah dari dia," ujar Rizky.
"Gue nggak setegar itu Ki. Kalau ngeliat dia, air mata gue pengennya ngucur aja. Ya mau gimana lagi Ki, ini emang nggak mudah buat gue hadapi," ujar Deva.
"Maaf ya Dev. Terkadang gue juga suka lupa, kalau yang ngerasain langsung dengan nggak ngerasain langsung pasti beda banget rasanya. Tapi saran gue memang semuanya harus loe hadapi, karena masalah nggak akan pernah selesai, kalau kamu menghindar terus," ujar Rizky.
"Iya. Makasih ya Ki udah suport gue" ucap Deva.
Deva dan Rizky mengakhiri percakapan itu. Sesuai saran Rizky, keesokan harinya Deva mulai masuk kuliah kembali. Dan sesuai dengan dugaannya, Egi memang tengah mencarinya.
Deva perlahan berbalik badan, dan menatap pria yang masih berstatus suaminya itu.
"Apapun yang aku lakukan itu demi kebaikkan kita semua Om." Jawab Deva.
"Cuma kebaikkan buat kamu. Kalau untukku jelas hatiku sedang hancur saat ini," ujar Egi sembari menatap wanita yang dia cintai itu.
"Sama. Kita sama-sama hancur. Tapi bukan aku penyebab kehancuran itu terjadi Om. Om merasa hancur hanya karena aku menghindar, sementara hancur yang aku rasakan lebih parah dari itu," ujar Deva.
"Hah...kita harus saling melepaskan meskipun sulit. Percayalah semuanya pasti akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Om past bisa lupain aku, dan aku bisa lupa Om," Deva memberikan senyum hambar, sementara Egi menatap lekat wajah istrinya yang terlihat bertambah tirus itu.
"Sepertinya kamu mudah sekali ngelupain aku," ujar Egi.
"Kan harus." Jawab Deva.
__ADS_1
"Satu lagi aku minta sama Om. Jangan pernah bongkar sama kak Leony, kalau kita ini pernah jadi pasangan suami istri. Biarlah dia berpikir kalau aku ini istri dari Decky. Kalaupun dia tahu aku bercerai, dia hanya akan tahu aku bercerai dari Decky," sambung Deva.
"Aku nggak akan datang di agenda mediasi. Aku juga nggak akan datang buat sidang. Biar semuanya cepat selesai, dan kalian bisa menikah secara resmi. Aku mohon bahagiakan kak Leony Om. Dia orang yang sangat aku sayang, jangan pernah Om sakiti dia," Deva begitu banyak meminta permohonan, namun Egi meresponnya dengan kesunyian.
"Aku bahkan belum menandatangani surat cerai itu Dev. Rasanya begitu berat bagiku," batin Egi.
"Aku akan menuruti semua perkataanmu, tapi aku ingin mengajukan syarat," ujar Egi.
"Apa?" tanya Deva.
"Maukah makan malam denganku setiap hari selama kita belum ketok palu?" tanya Egi.
Deva mengerutkan dahinya saat mendengar permintaan Egi.
"Jangan memberikan syarat yang akan membuat kita akan semakin sulit untuk melepaskan. Karena sekarang ada hati yang harus Om jaga," ujar Deva.
"Hanya itulah syaratku. Kalau tidak, aku nggak akan pernah menikahi Leony untuk selamanya. Aku bisa saja kabur ke Kota lain, dan tidak bertanggung jawab atas kehamilan Leony. Jadi kalau kamu mau menuruti permintaanku, maka aku akan menuruti permintaanmu," ujar Egi, sementara Deva menatap Egi dengan lekat
"Seharusnya aku tahu pria yang aku cintai ini seorang bajingan yang tidak bertanggung jawab. Tapi bisa-bisanya aku memuja orang sepertimu, dan hampir membuatku buta mata buta hati,"
"Benar apa yang orang katakan. Cinta itu bisa membuat mata kita buta, dan cinta bisa membuat kita buta hati. Tidak perduli sejahat apapun orang yang kita cintai, kalau hati sudah memilihnya, tetap saja seolah tidak melihat keurangan itu. Dan aku jadi benci kenapa aku harus jatuh cinta sama Om," ucap Deva panjang lebar.
"Aku tidak perduli dengan apa yang kamu katakan. Karena aku sudah cacat dimata kamu, maka biarkan aku cacat sepenuhnya. Aku hanya ingin menyimpan banyak kenangan bersamamu, sebelum aku bersama orang lain," ujar Egi.
"Tidak ada kontak fisik," ujar Deva.
"Deal," Egi mengulurkan tangan yang kemudian dijabat oleh Deva.
Setelah membuat kesepakatan, Egipun pergi dari gerbang kampus, dan membiarkan Deva belajar dengan tenang.
__ADS_1