
"Apa kakak sangat cantik hari ini?" tanya Leony saat berada di depan cermin.
Leony memang terlihat cantik saat ini. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Vino. Dengan balutan baju kebaya berwarna ungu, Leony didandani sedemikian rupa.
"Kakak sangat cantik, dan akan selalu cantik." Jawab Deva.
"Deva. Kenapa wajahmu pucat sekali? apa kamu kurang tidur atau kurang makan?" tanya Leony.
"Tidak kak! aku baik-baik saja." Jawab Deva.
"Hah. Rasanya berat sekali hari ini. Aku harus melepaskan orang yang aku cintai demi bisa membahagiakan kakakku. Tapi tidak apa-apa, yang penting keponakkanku mendapat kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh," batin Deva.
"Leony. Ayo kita turun! mempelai pria sudah datang," ujar Yasmin yang tiba-tiba nongol di depan pintu.
"Mama bantu kak Leony turun duluan. perutku tiba-tiba sakit. Aku mau ke toilet dulu," ujar Deva.
"Baiklah." Jawab Yasmin.
Deva bergegas masuk kedalan kamar mandi dan bersandar di daun pintu setelah pintu itu tertutup.
"Menurutmu apa dia benar-benar sedang sakit perut?" tanya Yasmin.
"Menurutku dia saat ini sedang menangis " Jawab Leony sembari terkekeh.
Dan benar saja. Saat ini Deva memang tengah menangis tersedu-sedu. Dirinya merasa sangat tidak sanggup turun kebawah untuk bertemu dengan Egi. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Deva bergegas menyeka air matanya dan keluar dari kamar mandi. Deva juga mengoles sedikit bedak dan lipstik, agar tidak terlalu kentara kalau dirinya saat ini tengah menangis. Namun saat dia membuka pintu kamar itu, dia dikejutkan dengan kehadiran Egi.
"O-Om tua. Eh? ma-maksudku kakak ipar," ucap Deva terbata.
"Om tua terlihat tampan dengan jas ini. Dia pasti sangat tidak sabar menikah dengan kak Leony dan sengaja menyusul keatas," batin Deva.
"Kak Leony baru saja turun kebawah. Apa kakak ipar tidak melihatnya?" tanya Deva yang berusaha bersikap tegar.
"Aku tahu, dan aku sudah lihat. Aku kesini sengaja ingin menemuimu." Jawab Egi.
Egi kemudian mendorong Deva masuk kedalam kamar, dan menguncinya. Egi kemudian memeluk erat istrinya itu. Merasa hal itu tidak benar, Deva berusaha mendorong tubuh Egi sekuat yang dia bisa.
"Kak. Kakak tidak boleh begini. Sebentar lagi kakak akan menikah," ujar Deva.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu sayang," Egi seolah tuli dan tidak menggubris apa yang Deva katakan.
"Kak...kakak cepatlah turun! nanti semua or...."
Cup
Bukannya melepaskan Deva, Egi malah mencium bibir istrinya itu. Deva yang terkejut, berusaha berontak karena dia merasa sudah mengkhianati Leony. Namun Egi sama sekali tidak ingin melepaskan Deva, karena dia sudah terbawa suasana. Lambat laun pertahanan Deva melemah, dan mulai terena dengan cumbuan Egi.
"Tuhan. Salahkah aku bersikap egois? untuk terakhir kalinya, biarkan aku bersamanya untuk sesaat sebelum aku benar-benar melepaskannya untuk kakakku," batin Deva.
Deva kumudian mengalungkan kedua tangannya dileher Egi yang kokoh. Merasa diberi akses, tentu saja Egi semakin menggila. Rasa rindu yang menggebu, dan hasrat yang sudah tidak terbendung lagi. Membuat Egi semakin memperdalam dan menuntut ciuman itu.
Brukkk
Tubuh Egi dan Deva jatuh diatas tempat tidur. Kini tidak banya bibir mereka yang saling bertaut. Tangan Egi yang nakal sudah menjalar kemana-mana. Sementara Deva yang sudah terbuai, hanya bisa pasrah saat pria yang mengungkungnya itu me**ba pahanya yang mulus. Namun saat Egi akan melepaskan kain segitiga miliknya, Deva tiba-tiba tersadar dan mendorong Egi sekuat mungkin.
"Astaga. Apa yang sudah aku lakukan? aku hampir kehilangan akal dan melakukan kesalahan. Bisa-Bisanya aku terbuai, dan kami hampir saja melakukan hal yang gila," batin Deva.
"Apa yang kakak lakukan! kita tidak boleh seperti ini kak. Kakak sebentar lagi akan menikah, jadi turunlah! kak Leony sudah menunggumu," ucap Deva sembari merapikan pakaiannya yang sudah berantakan.
"Oh rencana sialan. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Benda kebanggaanku sudah sesak dibawah sana," batin Egi.
"Cukup kak! jangan membuatku merasa bersalah pada kak Leony," hardik Deva.
Deva kemudian keluar kamar dengan mata berkaca-kaca. sementara Egi yang tengah kesal meninju-ninju tempat tidur pengantin baru.
"Hah. Aku memang konyol. Aku hampir saja menghancurkan kamar pengantin," gumam Egi.
Egi kemudian meraih ponselnya dan segera menghubungi orang suruhannya agar mempersiapkan keberangkatannya sore ini ke Swiss.
"Aku pastikan aku akan menyentuhmu sepuasku setelah sampai di Swiss," guman Egi.
Dia tersenyum sendiri saat membayangkan kebersamaannya dengan Deva nanti. Pria itupun bergegas turun kebawah, dan melihat Deva bersembunyi dibalik tiang.
"Dia pasti merasa tidak sanggup melihat pernikahan itu, dan mengira aku yang akan menikah dengan Leony. Kasihan Deva," batin Egi.
Egi melihat Deva sesekali menyeka air matanya, dan itu membuat hati Egi juga ikut berdenyut sakit.
__ADS_1
"Baiklah. Apa acaranya bisa dimulai?" tanya penghulu.
"Silahkan pak." Jawab Edward.
Edward kemudian menjabat tangan Vino, sementara Deva yang tidak sanggup melihat memejamkan mata sembari bersembunyi dibelakang tembok dengan cara membelakangi acara itu.
"Vino Subrata. Aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan anakku yang bernama Leony binti Edward dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu buah mobil Lambourgini dibayar tunai," ucap Edward.
"Saya terima nikah dan kawinnya Leony binti Edward dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai," ucap Vino.
"Bagaimana Sah?" tanya penghulu.
"Sah." Jawab para saksi.
"Alhamdulilah," semua orang mengucap syukur.
Deva mencerna kata-kata penghulu dengan mata terbuka namun ekspresi kebingungan. Egi yang melihat Deva dari kejauhan hanya bisa senyum-senyum sendiri karena menurutnya Deva terlihat sangat menggemaskan.
"Vino? apa aku salah dengar atau gimana sih? Om tua ganti nama?" gumam Deva.
Deva kemudian berdiri dan melihat kearah mempelai. Matanya terbelalak, saat melihat Leony bersanding dengan pria lain yang pastinya sangat asing dimatanya.
"Kok mempelainya orang itu? terus Om tua kemana?" gumam Deva.
Mata Deva melirik kesana kemari untuk mencari keberadaan Egi. Namun sama sekali tidak dia temukan.
Greppppp
Egi tiba-tiba memeluknya dari belakang, dan itu sangat mengejutkan bagi Deva. Deva segera berbalik badan, dan matanya bertatapan dengan mata Egi.
"O-Om tua?" Deva terbata.
Sementara Egi menaik turunkan alisnya dan itu sama sekali tidak menjawab rasa penasaran wanita itu.
"Ini sebenarnya ada apa sih? aku kok jadi bingung? kalau Om tua yang menghamili kak Leony, kenapa pria lain yang menikah dengannya? atau jangan-jangan Om tua menolak menikahi kak Leony dan membayar orang itu buat mengakui anak yang berada dalam kandungan kak Leony? sumpah! kalau itu benar-benar terjadi, itu artinya Om tua manusia paling jahat yang pernah aku kenal," batin Deva.
"Ikut aku!" Deva menyeret tangan Egi dan memasuki salah satu kamar tamu, dan kemudian menguncinya.
__ADS_1
Deva kemudian menatap Egi dengan nafas naik turun, dan Egi tahu betul apa yang sedang difikirkan istrinya itu tentang dirinya.