KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
93. Kejutan Untuk Hanggono


__ADS_3

"Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu. Tapi apa keputusan menikahi Olivia adalah keputusan yang tepat? sedangkan kamu tahu sendiri apa yang sudah dia lakukan padamu. Nanti dia benar-benar akan menghabiskan semua hartamu," ujar Riki.


"Itu nggak akan terjadi. Karena apa yang pernah aku berikan padanya sudah aku ambil kembali tanpa dia tahu," ujar Decky.


"Apa maksudmu?" tanya Riki.


Decky kembali menceritakan semua apa yang dia lakukan malam itu. Riki hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar cerita itu.


"Sadis amat," ucap Riki.


"Itu belum seberapa dari apa yang dia lakukan padaku selama ini. Saat dia menjadi istriku nanti, aku akan mebalasnya berkali-kali lipat.Hah...dengan bodohnya aku percaya saat aku melakukan hal itu pertama kali dengannya. Dia bilang hilang keperawanannya karena jatuh dari sepeda. Padahal sudah puas diobok-obok pria lain," ujar Decky.


"Kamu memang bodoh. Masa iya tidak bisa membedakan mana jalan yang pernah dilalui orang atau belum," ujar Riki.


"Namanya juga waktu itu sedang cinta buta. Ditambah onderdil sahabatmu ini terlampau besar dari standar, jadi enak-enak aja saat begituan," ujar Decky sembari terkekeh.


"Semprul!" ucap Riki.


"Emangnya kamu? dua kali onderdil dibikin patah, hanya karena menghayal pengen dapat perawan," ledek Decky.


"Sialnya Om mu itu yang beruntung dapat perawannya. Kebayang tuh merem melek dia pastinya," timpal Riki yang membuat Decky jadi terkekeh.


"Hah...sudahlah bahas mereka terus. Aku mau pulang dulu, ini sudah malam," ujar Decky.


"Nggak nginap aja?" tanya Riki.


"Nggaklah. Nanti kalau burung masa depanmu sudah bisa diajak kompromi, kamu jangan lupa datang di pernikahanku. Siapa tahu disana nanti ketemu gadis yang bisa melatih burungmu itu agar bisa terbang kembali," ujar Decky sembari terkekeh.


"Sialan. Bisa-Bisanya ledekin aku. Padahal kamu juga dapat salome," timpal Riki.


Decky melambaikan tangannya, pria itu bergegas pulang ke rumahnya karena hari sudah larut malam.


*****


"Sesuai harga yang sudah kita sepakati, jadi kita langsung deal ya pak," ujar Dio orang suruhan Decky.


"Deal," Decky menjabat tangan Dio.


"Silahkan tanda tangani disini pak! sebentar lagi bos saya akan datang untuk meninjau tempat ini," ujar Dio.


"Oh. Jadi bukan anda yang beli?" tanya Decky sembari menandatangani semua berkas-berkas dari Dio.


"Iya pak. Saya ini cuma pesuruh beliau aja." Jawab Dio.


"Kalau begitu biar kita tunggu bos kamu. Siapa tahu kedepannya saya bisa bekerjasama sama dia," ujar Decky setelah selesai menandatangani semua berkas.


Setelah menunggu beberapa saat, Egi datang bersama sekrestarianya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Masuk," ujar Decky.


Ceklek


Egi masuk dengan senyum dibibirnya.


"Ada apa? kok Om datang kesini?" tanya Decky.


"Ya nggak masalah kan? aku datang ke kantorku sendiri?" tanya Egi.


"Maksudnya apa Om?" tanya Decky.


"Iya pak. Jadi bos saya ini adalah pak Egi," Dio menjelaskan.


Brukkk


Tubuh Decky tersandar dikursi kebesarannya. Dia benar-benar syok bercampur malu pada Egi yang sejak dulu selalu dia hina dan dia rendahkan.


"Dio. Atur seorang arsitek untuk mengubah nama perusahaan ini menjadi HANG SAMPOERNA. Aku ingin dalam waktu dua hari sudah selesai pengerjaannya. Karena aku ingin memberikan kejutan buat papaku," ujar Egi.


"Baik pak," ujar Dio.


"Kamu bawa semua berkas ini kembali ke kantor. Pulang bersama Dio," ujar Egi pada sekretarisnya.


"Baik pak,"


"Boleh anda berdiri dulu pak Decky? saya ingin merasakan kursi kebesaran saya disana," ujar Egi.


Decky kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dan berdiri disisi Egi.


"Bagaimana rasanya jatuh dari ketinggian? sakit?" tanya Egi dengan arogan.


"Kalau Om bertanya hanya karena ingin mengejek saya, Om memang sudah berhasil. Karena aku memang sudah jatuh sekarang. Tapi sejujurnya aku lega, karena orang yang mengambil alih perusahaan ini adalah Om. Jadi Om bisa mengembalikan senyum kakek yang hilang karena ulahku," ujar Decky.


"Eh? tumben dia nggak terprovokasi. Ada apa dengannya? apa mungkin dia bisa berubah secepat itu? berharap dia mencak-mencak karena sudah aku kalahkan, tapi responnya datar banget," batin Egi.


Egi kemudian menghela nafas panjang. Meskipun Decky selalu jahat padanya, tapi dia sudah menganggap Decky seperti adiknya sendiri.


"Aku minta maaf, karena selama ini sering jahatin Om. Dan hari ini Om sudah membuktikan dan memberiku pelajaran yang sangat berharga. Selamat ya Om," Decky mengulurkan tangannya, yang kemudian dijabat oleh Egi.


"Jadi apa rencanamu kedepannya?" tanya Egi.


"Mungkin aku akan buka usaha kecil-kecilan, seperti Om dulu. Aku yakin suatu saat nanti aku bisa sukses seperti Om." Jawab Decky.


"Good luck kalau gitu. Lusa aku mau buat kejutan buat papa. Kalau kamu mau bantu wujudin hal itu, kamu bisa mengantur semua staf kantor yang lama balik lagi kerja ke kantor ini. Papa pasti akan senang," ujar Egi.

__ADS_1


"Oke Om." Jawab Decky.


Egi kemudian bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke kantornya.


Dua hari kemudian....


"Pa. Aku ingin mengajak papa untuk melihat sesuatu," ujar Egi.


"Sesuatu? apa? kalau kamu mau ngajak papa jalan-jalan, papa sudah nggak sanggup lagi. Buat jalan beberapa meter saja, kaki rasanya gemetar," ujar Hanggono sembari terkekeh.


"Bukan jalan-jalan pa. Deva, kak Rizwan, mbak Rina, juga Decky akan ikut. Ini kejutan buat papa pokoknya," ujar Egi.


"Ya baiklah kalau begitu," ujar Hanggono.


Hanggono akhirnya mengikuti Egi untuk memberikan kejutan padanya. Hanggono mengerutkan dahinya, karena dia sangat hafal jalan itu adalah jalan menuju kantornya. Dan saat mereka berada diseberang kantor, Egi menghentikan mobilnya.


"Coba papa lihat nama kantor diseberang sana!" ujar Egi.


"Aku sudah melihatnya sejak tadi. Tapi kenapa mereka masih menggunakan nama HANG?" tanya Hanggono.


"Kita akan tahu setelah memasuki kantornya. Aku akan memberi pelajaran untuk orang yang sudah lancang memakai nama papa," ujar Egi.


"Sudahlah. Itu nggak masalah bagi papa. Papa merasa mereka menghargai papa dengan masih memakai nama itu," ujar Hanggono.


Egi kemudian melajukan mobilnya, dan memakirkan mobilnya di halaman kantor yang sudah banyak mobil berjejer.


Egi mendorong kursi roda yang sudah ada Hanggono duduk disana. Egi langsung membawa Hanggono ke ruang meeting, yang ternyata sudah banyak orang berada disana.


"Kenapa kita masuk kedalam? orang-orang tengah mengadakan syukuran," ucap Hanggono setengah berbisik. Hanggono melihat ada sebuah nasi tumpeng berukuran besar yang terletak diatas meja. Disana juga tersedia aneka kudapan lainnya.


"Selamat datang tuan besar," ucap seluruh karyawan secara bersamaan.


Hanggono yang kebingungan hanya bisa tersenyum kaku. Saat melihat Firman dan Hendri, Hanggono bertanya lewat alisnya yang hanya dijawab senyuman oleh kedua pria itu.


Egi kemudian membantu Hanggono duduk di kursi kebesaran, yang membuat Hanggono bertambah bingung.


"Selamat datang diperusahaan baru, namun dengan wajah lama pa," ucap Egi.


"A-Apa ini maksudnya?" tanya Hanggono.


"Perusahaan ini memang sudah di akuisisi, namun Egilah yang mengakuisisinya. Itulah sebabnya aku menggabungkan nama papa, dengan nama perusahaan milikku." Jawaban Egi membuat Hanggono menangis haru. Sementaraa semua orang bertepuk tangan melihat adegan haru itu.


Egi berlutut dihadapan Hanggono, dan menghapus air mata papanya itu.


"Sekarang papa potong tumpeng pertama ya? kita wajib mensyukuri pencapaian ini. Karena semua ini berkat papa, dan milik papa juga," ujar Egi.


Hanggono menarik pundak Egi, dan memeluk putranya itu dengan haru biru.


"Papa bangga punya kamu Egi. Papa sangat bangga," ujar Hanggono sembari menepuk-nepuk kepala putranya itu.

__ADS_1


Egi tersenyum dan mengeratkan pelukkannya. Sementara Decky, Rizwan dan Rina hanya bisa tertunduk malu.


__ADS_2