
Satu bulan telah berlalu. Namun Ferdy sama sekali belum mengetahui keberadaan Leoni. Tanpa pria itu tahu, Leoni menyuruh seseorang untuk memata-matai keberadaan Ferdy saat pria itu tengah berada di rumah sakit. Karena Leoni tidak ingin mengunjungi Kayla, jika Ferdy masih berada disana.
Sementara itu di tempat berbeda, Deva dan Decky mulai melancarkan aksi sandiwara mereka. Saat ini mereka tengah menuju kediaman utama Hanggono. Dan hal pertama yang mereka lakukan saat melancarkan aksi itu adalah dengan saling berpegangan tangan dengan erat.
"Sepertinya hubungan kalian semakin baik. Kakek sangat bahagia melihatnya," ujar Hanggono.
"Iya kek. Aku juga minta maaf karena dulu sempat menentang kakek soal perjodohan kami. Tapi ternyata benar, perjodohan tidak selamanya buruk. Sekarang aku merasa sangat bahagia. Terima kasih kek," ucap Decky.
"Baguslah. Kakek juga turut bahagia, kalau kalian juga bahagia." Jawab Hanggono.
"Sebenarnya kami datang kesini karena ingin menyampaikan kabar bahagia untuk kakek," ujar Decky.
"Kabar bahagia? apa itu?" tanya Hanggono penasaran.
"Sebentar lagi kakek akan mendapatkan seorang cicit." Jawab Decky.
Hanggono menutup mulutnya karena terkejut. Namun mata pria itu langsung berkaca-kaca karena terharu.
"Ya Tuhan...ampuni dosaku karena sudah membohongi kakek Hanggono. Tapi aku sangat bahagia, saat melihat senyumnya yang tengah bahagia saat ini. Semoga dengan kabar bahagia ini, kakek bisa mendapatkan mujizat dan segera sembuh," batin Deva.
"Benarkah? secepat ini?" tanya Hanggono yang masih tidak percaya. Namun saat Deva menganggukkan kepalanya, Hanggono langsung memberikan pelukkan untuk Deva
"Ah...Ya Tuhan...kakek sangat bahagia sekali. Akhirnya kakek bisa diberi kesempatan buat gendong seorang cicit," ucap Hanggono.
"Kakek harus semangat, biar cepat sembuh," ujar Deva.
"Eh? apa maksud Deva adalah kakiku? karena selain asam urat, aku tidak punya penyakit lain," batin Hanggono. Tapi Hanggono senang, karena Deva sangat memperhatikannya.
"Kakek janji akan sehat. Kakek bahkan ingin hidup 1000 tahun lagi." Jawab Hanggono.
Decky menghela nafas lega. Dia sempat takut kalau-kalau Lensi membahas tentang penyakit mematikan yang sempat dikarang olehnya.
"Kalau begitu kakek mau kasih Deva hadiah apa? tidak mudah menjadi calon ibu muda di usia 18 tahun," tanya Decky.
"Tentu saja kakek akan memberikan hadiah yang sepadan untuk perjuangan ibu muda seperti dia." Jawab Hanggono.
"Aduh itu nggak perlu kek. Kakak jangan begitu. Lagian menjadi seorang ibu adalah kodrat setiap wanita bukan? Kakek tidak perlu repot menyiapkan hadiah untukku," ucap Deva.
__ADS_1
"Tidak masalah. Kamu itu masih terlalu muda untuk menyandang status sebagai seorang ibu. Tapi mau bagaimana lagi. Keluarga Hanggono juga butuh penerus," ujar Hanggono.
"Tapi karena kamu sudah berkorban besar, kakek akan memberikanmu hadiah yang setimpal. Kakek akan menghadiahkanmu butik peninggalan nenekmu. Total butiknya ada 25 di kota ini. Nanti akan kakek balik nama atas namamu," ucap Hanggono.
"Ka-Kakek itu terlalu berlebihan. Lagipula aku tidak mengerti sama sekali tentang bisnis," ujar Deva.
"Kamu tidak usah khawatir. Setiap butik memiliki orang kepercayaan kakek. Kamu bisa belajar dari mereka. Tapi yang terpenting adalah, kamu harus melanjutkan sekolah. Agar kamu mengerti tentang dunia fashion," ucap Hanggono.
"Sebenarnya waktu lulus sekolah aku memang pengen menjadi seorang designer. Tapi...."
"Itu bagus. Kamu tidak usah khawatir. Meski sudah menikah dan hamil, bukan jadi halangan untuk menjadi sukses dan produktif. Decky,"
"Ya kek." Jawab Decky.
"Daftarkan Deva kuliah dibagian yang dia mau. Kalian berdua harus sukses bersama. Seperti kakek dan nenekmu dulu," ujar Hanggono.
"Baik kek." Jawab Decky.
"Sial. Tadinya aku mengincar butik itu untuk Olivia. Tapi kenapa malah bocah ingusan ini yang beruntung. Tapi tidak masalah, bocah ini juga sangat bodoh. Aku bisa memperdayanya nanti. Butik itu pasti akan bisa aku dapatkan dan aku buat atas nama Olivia," batin Decky.
"Nanti setelah balik nama butik dan pendaftaran kuliahmu selesai, kakek akan membuat pengumuman untuk orang-orang dikantor. Bahwa kamu resmi menjabat sebagai presiden direktur dari HANG GROUP," ujar Hanggono.
"Yah...sudah saatnya kakek mundur secara resmi dari perusahaan. Kakek lihat kamu juga sudah membuktikan kesungguhanmu. Sekarang Deva sedang hamil, jadi kamu harus mencari nafkah dengan benar. Kakek harap kamu bisa mengelolah HANG Group lebih baik lagi. Buat HANG Group lebih berjaya lagi." Jawab Hanggono.
"Decky janji kek. Decky janji nggak akan mengecewakan kakek." Jawab Decky dengan perasaan meletup-letup.
"Yes. Akhirnya HANG Group akan resmi jadi milikku. Sebentar lagi aku akan menjadi orang yang berkuasa. Aku harus cepat menyelesaikam balik nama dan mendaftarkan Deva kuliah. Dengan begitu aku akan cepat pula di nobatkan sebagai presiden direktur di HANG Group," batin Decky.
"Aku senang karena semuanya bahagia. Nanti setelah kak Decky di nobatkan sebagai presiden direktur, dan aku sudah mendaftar kuliah. Aku akan mengungkapkan perasaanku pada kak Decky sesuai saran Dian. Aku ingin menjalankan rumah tanggaku dengan normal, seperti rumah tangga orang-orang," batin Deva.
Deva sudah tidak sabar ingin mengungkapkan perasaanmya dengan Decky. Dia sudah bertekad akan melakukannya setelah Decky resmi di nobatkan menjadi presiden direktur di HANG Group dan juga dirinya sudah mendaftar kuliah. Dan hal itu tentu saja dia bagi dengan kedua orang tuanya.
Setelah menemui Hanggono, Decky bergerak cepat mendaftarkan Deva kuliah dan juga membantu Hanggono untuk membalik nama kepemilikkan butik atas nama Deva.
"Ugghh...kesel deh sama kakek kamu. Kenapa dia harus menyerahkan butik itu sama bocah ingusan itu. Mana mengerti dia soal bisnis dan fashion. Aku berani bertaruh butik itu akan bangkrut nantinya," ujar Olivia sembari menahan selimut yang tengah menutupi bagian dadanya.
"Kamu tenang aja sayang. Bocah itu sangat bodoh. Aku akan membuat surat-surat itu akan menjadi atas namamu. Kamu tunggu saja sampai saat aku di nobatkan nanti. Cuma kamu yang pantas mendapatkan itu semua. Tidak ada gunanya dia kuliah ngambil jurusan Designer, dengan penampilannya yang seperti itu, dia sama sekali nggak pantas," ujar Decky.
__ADS_1
"Kamu janji ya Beib. Pokoknya kalau bisnis perempuan semuanya kamu akan kasih ke aku nantinya," tanya Olivia.
"Iya sayangku." Jawab Decky sembari mengusap punggung Olivia.
Sementara itu di tempat berbeda, Deva kini tengah berada di rumah orang tuanya. Deva baru saja pulang dari mendaftar ulang kuliahnya dan mampir ke rumah orang tuanya.
"Masih belum ada kabar juga dari kak Leoni ma?" tanya Deva saat baru duduk diatas sofa.
"Belum." Jawab Yasmin.
"Ini sebenarnya kak Leoni kenapa ya? nggak biasanya dia bersikap seperti ini. Aku tahu betul dia ini selalu bersikap demokratis. Tapi sekarang dia nggak menghubungi keluarga sama sekali, ini seperti bukan diri kak Leoni yang aku kenal," ucap Deva.
"Terus dia seolah menghindari keluarga dan juga suaminya. Dia selalu datang menjenguk Kayla disaat kita tidak berada disana. Kenapa dia melakukan itu?" tanya Deva.
"Sudahlah nggak usah terlalu dipikirkan. Mungkin dia lagi ingin sendiri saat ini. Nanti kalau suasana hatinya sudah membaik, dia pasti akan pulang." Jawab Yasmin.
"Ngomong-Ngomong kenapa kamu berpakaian rapi seperti ini? kayak orang mau melamar kerja aja," tanya Yasmin.
"Bukan melamar kerja, tapi ingin melamar kuliah." Jawab Deva dengan mata berbinar.
"Kuliah? kamu didaftarkan kuliah?" tanya Yasmin.
"Iya ma. Soalnya kakek menyerahkan kepemilikkan butik sama aku. Jadi aku harus kuliah designer dulu biar lebih mengerti urusan bisnis." Jawab Deva.
"Ka-Kamu dikasih butik?" tanya Yasmin terkejut.
"Iya ma. Semuanya ada 25. Aku harus sungguh-sungguh belajar, biar tidak mengecewakan harapan kakek Hanggono." Jawab Deva.
"Du-Dua puluh lima?" mata Yasmin berbinar saat mendengar jawaban Deva.
"Bagus. Melalui Deva keluargaku bisa berjaya kembali. Deva benar-benar bisa diandalkan. Dengan begini aku bisa bergelimang harta lagi," batin Yasmin.
"Mama akan selalu mendukungmu nak. Nanti kalau kamu ada kesulitan di bisnis butik kamu, kamu bisa hubungin mama. Walau bagaimanapun mama juga pernah berbisnis perhiasan. Mama sedikit banyak mengerti tentang penjualan," ujar Yasmin.
"Iya ma. Aku pulang dulu ya ma? aku nggak mau keduluan kak Decky pulangnya," ucap Deva.
"Baiklah." Jawab Yasmin.
__ADS_1
Yasmin kemudian mengantar Deva hingga ke depan pintu. Setelah pintu tertutup, Yasmin berjingkrak kesenangan. Dirinya seolah tengah menemukan gunungan emas.