KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
24. Mencari Tempat Ternyaman


__ADS_3

Ferdy mondar mandir di dalam kamar, saat dia tidak menemukan keberadaan Leoni. Dia hanya melihat onggokkan tisu bekas pakai yang sedikit ada sisa lendir disana, dan juga pakaian robek yang Leoni kenakan saat pulang.


Brukk


Ferdy terduduk di tepi tempat tidur. Dan meremas rambutnya dengan kedua tangannya.


"Dia pasti merasa sudah sangat kulecehkan. Aku tidak bisa terus begini, aku harus mencari kerja apa saja. Aku nggak mau Leoni meminta cerai dariku, terlebih aku tidak ingin dia ditiduri oleh pria lain. Aku harus minta maaf padanya, dan bicara dengannya dari hati ke hati," ucap Ferdy dengan lirih.


Ferdy kemudian mencari-cari lowongan kerja di berbagai artikel, namun tidak menemukannya. Ferdy hanya bisa menghela nafas dengan berat.


"Bahkan untuk mencari lowongan yang tidak sesuai dengan ijazah saja sangat sulit di dapatkan. Kenapa selama ini aku tidak berpikiran jauh? Leoni pasti sangat kecewa padaku selama ini. Aku sudah sangat menyakiti hatinya. Ah...kenapa aku jadi sangat merindukannya hari ini," ujar Ferdy sembari tersenyum.


Ferdy bergegas berganti pakaian. Ini adalah kali pertama dia ingin menemui putrinya di rumah sakit. Karena selama Kayla di rawat, dirinya masih terlalu gensi dikarenakan tidak memiliki uang dalam genggamannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Sumarni.


""Mau jenguk Kayla ma. Mama mau ikut?" tanya Ferdy.


"Kamu saja. Sayang uangnya kalau buat naik taksi. Mending kamu naik ojek saja. Lumayankan uangnya buat uang dapur. Lagian kenapa mesti kamu repot, mending kamu konsen buat cari kerjaan yang bagus. Kayla biar Leoni saja yang mengurus. Paling sebentar lagi Kayla juga sudah diperbolehkan pulang." Jawab Sumarni.


"Ya sudah kalau mama nggak mau ikut," ucap Ferdy yang kemudian berlalu dari hadapan Sumarni.


Sesuai saran Sumarni, Ferdy menaiki ojek online untuk menghemat biaya ke rumah sakit. Setelah sampai disana, dia menanyakan ruangan Kayla pada bagian pendaftaran. Setelah mengetahui kamar Kayla, diapun bergegas untuk menjenguk putrinya itu.


"Kamar ananda Kayla di nomor 7 pak." Jawab suster.


"Apa ibu Leoni juga ada di dalam sana?" tanya Ferdy.


"Wah. Ibu Leoni baru pulang 15 menit yang lalu setelah menyelesaikan administrasi sebesar 20 juta."


"20 juta?" tanya Ferdy yang sangat terkejut saat mendengar jumlah nominal tagihan rumah sakit.


Yang membuat Ferdy terkejut bukan mendengar biaya rumah sakit, tapi darimana Leoni mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.


"Darimana Leoni mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat? apa papa dan mama mertua yang memberikannya? atau perkataan Leoni tadi pagi sungguh-sungguh?" batin Ferdy.


"Nggak! nggak mungkin Leoni menghianatiku. Dia sangat mencintaiku, dia wanita sabar yang pernah aku kenal. Aku nggak mau kehilangan dia," batin Ferdy.


"Bagaimana keadaan putri saya suster?" tanya Ferdy.

__ADS_1


"Ananda Kayla masih belum sadar dari komanya pak." Jawab suster.


"Ap-Apa? Kayla koma?" Ferdy tentu saja sangat syok mendengar ucapan sang perawat.


"Loh. Bapak belum tahu keadaan putri bapak? apa bapak dan ibu Leoni hidup terpisah? tapi pantas saja sih. Kasihan ibu Leoni, dia seperti kebingungan tiap kali melihat rincian biaya dari rumah sakit. Sekarang Kayla koma, rincian biaya jadi bertambah lebih besar. Dia...."


Belum sempat suster itu menjelaskan sampai selesai, Ferdy sudah berlari ke ruangan tempat Kayla berbaring.


"Ka-Kayla. Kayla bangun nak! maafin papa. Maafin papa nak," ucap Ferdy dengan tetesan air mata.


Pria itu bahkan terisak. Kini dia bisa merasakan kesedihan Leoni selama ini.


"Bangunlah nak. Papa janji kalau kamu sembuh nanti, kita akan pergi jalan-jalan. Papa akan membawamu ke taman bermain. Dan kita akan pergi ke kolam renang yang besar. Papa mohon bangunlah. Hiks...." Ferdy terisak sembari mencium tangan Kayla.


Ferdy kemudian kembali menemui perawat untuk menanyakan rincian biaya yang harus mereka bayar.


"50 juta pak." Jawab suster itu sembari menyodorkan selebar kertas rincian biaya.


"Li-Lima puluh juta? darimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak ini? aku harus berembuk dengan Leoni secepatnya. Kayla harus sembuh, aku nggak mau kehilangan istri dan anakku," batin Ferdy.


"Saya titip anak saya ya sus. Saya harus mencari uangnya," ucap Ferdy.


Ferdy bergegas pulang dengan membawa rincian biaya tersebut. Sementara itu ditempat berbeda Leoni bingung harus kemana. Dia sedang mencari, tempat ternyaman untuknya berlindung. Karena dia sudah memutuskan untuk tidak mau lagi kembali ke rumah Ferdy. Dia sudah memutuskan akan meminta cerai, setelah keadaan Kayla membaik.


Dan Leoni malah memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Vino. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, dia malah menganggap rumah Vino adalah rumah paling nyaman untuk dirinya saat ini.


Leoni menatap pintu rumah Vino, dan sedikit ragu untuk menekan bel rumah itu. Namun saat dia akan menekan bel rumah itu, sebuah mobil hitam mewah datang dari arah gerbang utama. Dan tentu saja itu adalah mobil Vino.


Vino mengerutkan dahinya saat dia melihat kedatangan Leoni. Padahal seingatnya dia sudah memperingatkan Leoni, agar tidak datang menemuinya sebelum dia menyuruhnya.


"M-Mas a-aku...."


"Masuklah! jangan biarkan orang lain melihatmu," ucap Vino.


Leoni mengekor dibelakang Vino, dengan jari jemari yang saling bertautan. Vino menghentikan langkahnya, saat melihat Leoni berhenti di ruang tamu.


"Ikutlah naik keatas!" ucap Vino.


Leonipun menuruti perkataan Vino, dan ikut pria itu naik ke kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu kemari? bukankah sudah aku katakan jangan kesini kalau aku tidak menyuruhmu?" tanya Vino sembari melepas dasi di lehernya.


"Maaf mas saya lupa. Kalau begitu permisi," ucap Leoni yang kemudian berbalik badan menuju pintu.


Tap


Greppp


Vino mencekal tangannya dan kemudian membawa Leoni kedalam pelukkannya.


"Hiks...hiks...hiks," Leoni langsung terisak. Leoni tidak bisa lagi membendung kesedihannya. Dan entah mengapa dia begitu percaya pelukkan Vino bisa melenyapkan semua kesedihannya saat ini.


"Ada apa. Hem?" tanya Vino.


"Anakku dinyatakan koma mas. Aku nggak mau hidup lagi kalau dia sampai tiada. Hiks," Leoni semakin terisak.


"Sepertinya dia sangat menyayangi anaknya. Dia sangat keibuan. Bagaimana bisa suaminya mengabaikan istri seperti ini, hingga dia jatuh ke lobang hitam demi bisa menyelamatkan putrinya," batin Vino.


"Bersabarlah! ini ujian buat kamu," ucap Vino.


"Mas," Leoni mendongak.


"Aku memutuskan akan tinggal disini selama 6 bulan. Sesuai isi kontrak kita. Apa mas tidak keberatan?" tanya Leoni.


Vino tertegun mendengar ucapan Leoni. Tentu saja dia masih takut, karena Leoni masih berstatus istri orang lain.


"Jangan gegabah. Kamu masih memiliki suami. Aku nggak mau suamimu membuat keributan di rumahku, dan menyebarkan skandal diantara kita." Jawab Vino.


"Aku sudah memutuskan ingin bercerai dari dia mas. Aku sudah nggak sanggup lagi menjalin rumah tangga dengan dia. Ada dia, dengan tidak ada dia, sama saja. Aku seperti tidak memiliki suami," ucap Leoni.


"Kalau begitu sebaiknya kamu tinggal di rumah orang tuamu saja selama proses perceraian. Jangan membuat masalah. Walau bagaimanapun posisiku tidak menguntungkan kalau suamimu sampai tahu," ujar Vino.


"Maaf. Tapi itu lebih tidak mungkin lagi Mas. Aku tidak bisa menjelaskannya. Maaf seharusnya aku tidak merepotkan mas, aku pergi ketempat lain saja kalau begitu," ucap Leoni sembari melepaskan pelukkannya dari Vino.


Tap


Vino kembali mencekal tangan Leoni dan kembali membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukkannya.


"Jangan pernah keluar rumah tanpa seizinku. Saat kamu mengambil berkas perceraian nanti, usahakan jangan suamimu tahu. Aku nggak mau dia membuntutimu, dan akhirnya dia tahu istrinya ada affair denganku," ucap Vino.

__ADS_1


Meski perkataan Vino benar, tapi tetap saja perasaan rendah diri masih terasa. Namun dia tidak perduli lagi dengan harga dirinya. Saat dia memutuskan menanda tangani kontrak itu, maka saat itu juga harga dirinya sudah terjual. Dan Leonipun menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


__ADS_2