KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
43. Mengecewakan


__ADS_3

Ting tong


Ting tong


Ting tong


Ceklek


Deva menatap kedatangan seorang wanita yang berdiri di depan pintu rumah. Gadis itu terlihat cantik dan sexy, dengan menenteng sebuah koper ditangan kanannya.


"Maaf mau cari siapa ya mbak?" tanya Deva sesopan mungkin.


"Kamu siapa?" tanya Raya, karena seingat gadis itu Egi hanya tinggal sendiri di rumahnya.


"Saya...."


"Kalau saya mengaku pelayan, takutnya akan jadi masalah. Sepertinya wanita ini ada hubungan dengan Om tua," batin Deva.


"Saya keponakkan Om Egi." Jawab Deva.


"Keponakkan? sejak kapan Egi punya keponakkan perempuan? setahuku dia cuma punya keponakkan laki-laki," gumam Raya, yang masih bisa di dengar oleh Deva.


Raya kemudian menatap Deva dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Aku pikir kamu sugar baby si Egi. Tapi kalau melihat penampilanmu, tentu saja itu nggak mungkin. Egi itu nggak suka gadis ingusan, dia suka yang cantik dan sexy," ujar Raya.


"Cantik dan sexy kayak tante ya?" sindir Deva.


"What? tante?" Raya syok.


"Aku salah ya tan? lah tante umurnya berapa? sebaya Om Egi kah?" tanya Deva yang menahan tawanya.


"Aku emang seumuran Egi. Tapi emang harus ya kamu manggil aku tante?" tanya Raya dengan emosi.


"Minggir!" Raya menabrak bahu Deva sembari masuk ke dalam rumah.


Deva membiarkan Raya masuk begitu saja, karena dia pikir gadis itu sudah biasa bertemu dengan Egi.


"Apa aku harus menghubungi Om Egi? tapi aku kan belum minta nomor ponselnya?" gumam Deva.


Deva mengerutkan dahinya, saat melihat Raya menaiki anak tangga dan langsung masuk me dalam kamar Egi.


"Jadi gadis itu sudah biasa masuk kesana rupannya. Aku nggak mungkin salah mengira. Ternyata benar, kalau menyangkut pria dewasa. Tidak jauh urusannya dengan ************. Ini sudah jadi bukti, kalau Om Egi sama aja dengan pria lainnya. Sungguh mengecewakan!" batin Deva.

__ADS_1


"Heh kamu!" Raya memanggil Deva yang tengah berbalik badan ingin kembali menuruni anak tangga.


"Ada apa?" tanya Deva.


"Aku lapar. Jadi masakkin makanan yang enak buat aku. Ingat! nggak pake lama." Jawab Raya.


"Dia pikir karena aku masih ingusan, jadi aku mudah ditindas. Kamu akan tahu sedang berhadapan dengan siapa," batin Deva.


"Aku bukan pembantu disini. Kalau situ lapar, masak aja sendiri. Lagian apa hubunganmu dengan Om Egi? kamu bukan istrinya kan? jadi nggak usah sok bossy disini," ucap Deva.


"Aku calon istrinya. Dia pasti akan menghukummu karena berani kurang ajar denganku," ujar Raya.


Deva tidak menggubris ucapan Raya. Dia turun kebawah karena ingin menonton tv di ruang tamu. Namun tidak berapa lama kemudian suara bel rumah berbunyi. Devapun membuka pintu dan terkejut melihat Egi pulang cepat dengan mata sayu.


"Om pulang cepat?" tanya Deva.


"Ya. Habis meeting langsung pulang. Ngantuk banget soalnya." Jawab Egi.


"Om sudah makan?" tanya Deva.


"Sudah." Jawab Egi yang kemudian menaiki anak tangga.


"Om. Makasih ya sudah jagain aku semalaman. Maaf sudah merepotkan, dan buat om jadi mengantuk," ujar Deva sembari mensejajarkan langkahnya dengan Egi.


"Om tua sialan. Jadi dia nganggapnya hutang budi? ya sudahlah...mau bagaimana lagi, emang dia orang yang tidak waras. Buktinya dia sudah biasa bawa masuk wanita lain kedalam kamarnya," batin Deva.


"Itu Om. Ada calon istri Om di kamar," ujar Deva yang membuat langkah kaki pria matang itu jadi terhenti.


"Calon istri? siapa?" tanya Egi.


"Mana aku tahu Om. Seharusnya Om yang lebih tahu. Dia juga langsung masuk kamar Om, itu artinya dia sudah terbiasa kan?" ucapan Deva membuat wajah Egi bersemu merah.


"Melihat ekspresi om, berarti memang benar. Bagus juga sih, paling tidak aku jadi tahu kalau Om itu nggak homo," sambung Deva yang membuat mata Egi jadi terbelalak.


Tidak ingin meladeni ucapan Deva, Egi bergegas memastikan sendiri. Namun belum sempat dirinya membuka pintu, Raya keluar lebih dulu dari kamar.


"Egi? ah...aku sangat merindukanmu," Raya langsung berhambur kepelukkan Egi.


Deva yang belum sempat masuk ke kamar, melihat pemandangan itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Egi melirik kearah Deva, namun Deva bersikap cuek dan masuk kedalam kamarnya.


Egi bergegas melepas pelukkan Raya, dan sedikit mendorong tubuh gadis sexy itu.


"Mau apa kamu kesini? sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah temui aku lagi. Hubungan kita sudah selesai!" tanya Egi.

__ADS_1


"Sampai kapanpun aku nggak mau putus dari kamu. Egi, sudah banyak waktu yang kita habiskan bersama. Dan ranjang ini cukup menjadi saksi untuk kita berdua." Jawab Raya.


"Tapi kita sudah sepakat mengakhiri hubungan itu hanya 6 bulan. Kamu yang paling tahu kita memiliki hubungan seperti apa. Yang pasti bukan hubungan pasangan kekasih. Kamu membutuhkan bantuanku, aku juga membutuhkan bantuanmu," ucap Egi.


"Tapi sayangnya aku terjebak dalam permainanku sendiri. Aku tidak bisa lepas darimu, aku jatuh cinta sama kamu Egi. Sudah hampir 1 bulan aku mencoba melupakanmu dan pergi ke Amerika. Tapi tetap saja aku nggak bisa," ujar Raya.


"Maaf Ray. Aku nggak bisa, sekarang aku sudah punya calon istri," ucap Egi.


"Omong kosong! aku sama sekali tidak percaya," ucap Raya.


"Devaaa...." Egi berteriak memanggil Deva.


"Ya Om." Jawab Deva sembari berlari menghampiri Egi, setelah pintu kamarnya terbuka.


"Kok Om sih sayang? kamu malu sama temanku? Raya, kenalkan ini calon istriku. Kami memang di jodohkan, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia," ujar Egi yang membuat Deva jadi terkejut.


"Sudahlah kamu nggak usah bohong sama aku. Bocah ini sendiri yang bilang, kalau dia itu cuma keponakkan kamu," ucap Raya sembari mengibaskan tangannya.


"Dia memang selalu begitu saat bertemu orang asing. Dia belum percaya diri, karena merasa masih muda dibawah kita. Iya kan sayang?" tanya Egi sembari membenahi anak rambut Deva yang menjuntai.


"Apa-Apaan Om tua. Mau manfaatin aku? nggak pakai kode-kode lagi," batin Deva.


Deva menjawab ucapan Egi dengan sebuah anggukkan.


"Aku sama sekali nggak percaya. Itu sama sekali tidak membuktikan apapun," ujar Raya yang bersikeras.


Egi tanpa basa basi meraih kedua sisi wajah Deva, dan mencium wanita itu. Tentu saja mata Deva jadi terbelalak.


"Sayang. Sudah berapa kali aku bilang, tutup matamu saat sedang berciuman," ucap Egi dengan tidak tahu malu. Sementara Deva jadi refleks menutup matanya, saat Egi mulai menciumnya kembali.


Raya yang kesal menghentakkan kakinya dan masuk ke kamar untuk mengambil kopernya.


"Egi. Aku sama sekali tidak percaya kalau dia itu calon istrimu. Setelah bosan, kamu pasti akan mencampakkannya seperti kamu mencampakkan aku," Raya pergi sembari meninggalkan racun dipikiran Deva.


Sementara Egi tidak perduli dengan ucapan itu, dan masih saja mencium Deva. Namun sesaat kemudian Deva mendorong dada pria matang itu, dan kembali masuk ke kamarnya.


Brakkkk


Deva menutup pintu kamarnya dengan lumayan keras. Wanita itu mengelus-elus dadanya yang berdebar kencang sembari meraba bibirnya yang terasa kebas.


"Sial. Bisa-Bisanya aku terlena saat berciuman dengan gadis ingusan itu. Sekarang dia pasti sedang marah padaku, ckk...hilang satu masalah, muncul lagi masalah baru," Egi membiarkan Deva sendiri dan kemudian masuk ke kamarnya.


"Om tua sialan. Ciuman pertamaku hilang gitu aja. Hiks....bibirku tidak perawan lagi. Bisa-Bisanya aku menikmati pula ciuman dengan om tua. Ternyata pria dewasa memang sangat berbahaya. Aku tidak boleh jatuh cinta sama dia, nanti aku dicampakkan seperti gadis itu," gerutu Deva.

__ADS_1


Sejak kejadian itu Deva jadi menghindari Egi. Dia hanya bicara seperlunya dengan pria itu. Ditambah Deva sangat kesal, karena Egi sama sekali tidak meminta maaf padanya.


__ADS_2