KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
63. Gagal


__ADS_3

"Selagi Om bertahan dengan Ego Om itu, selama itu pula hubungan kita nggak akan baik. Meski belum ada cinta diantara kita, tapi aku sangat menghargai hubungan pernikahan ini. Cuma yang aku sesalkan, kenapa Om mau menikahiku dengan dalih ingin membahagiakan kakek Hanggono. Padahal jelas-jelas Om sudah punya wanita lain," ujar Deva.


"Dan Diamnya Om ini sudah menjelaskan segalanya. Aku nggak perlu banyak tanya lagi, karena aku sudah tahu jawabannya. Saranku cuma satu, hati-hati saja saat sedang jalan dengan wanita itu. Karena aku nggak akan mau ngalah dengan pelakor, selagi Om tidak menceraikan aku,"


"Tapi ingat! jangan sampai aku melihat kalian jalan di depan mataku, karena aku bisa melakukan hal-hal yang tidak Om sangka-sangka," sambung Deva.


Deva berlalu dari hadapan Egi yang mematung di depan pintu. Sementara Deva yang memasuki kamar tamu menyandarkan diri di daun pintu.


"Aku sudah bertekad ingin memperjuangkan rumah tanggaku. Aku sangat yakin Om Egi punya perasaan sama aku. Tapi sepertinya pelakor itu yang menghalangi perasaannya. Jika waktunya tiba nanti, aku akan membuat pilihan sama dia. Tapi sebelum semuanya jelas, aku tetap mau berjuang buat mendapatkan hati Om Egi sepenuhnya," batin Deva.


"Semoga saja aku belum terlambat, dan Om tua mau melepaskan pelakor itu. Aku bisa melihat, kalau dia sangat cemburu pada Rizky. Jadi aku masih punya kesempatan buat merebut suamiku dari pelakor itu," gumam Deva.


"Ayo Deva semangat! hempaskan sang pelakor itu. Jangan buat dirimu janda dua kali," ucap Deva yang mencoba memberi semangat untuk dirinya sendiri.


1 jam kemudian....


Egi menatap Deva yang tengah mengunyah sarapan. Deva terlihat cantik dan sexy dengan pakaian yang dia kenakan.


"Bisakah kamu mengganti pakaianmu?" pertanyaan Egi membuat tangan Deva yang akan menyuap jadi terhenti.


"Ada apa dengan pakaianku?" tanya Deva dengan wajah datar.


"Itu terlalu berlebihan. Kamu mau ke kampus atau mau kemana?" tanya Egi.


"Ini masih kurang sexy. Soalnya suamiku masih tertarik dengan wanita lain, daripada tertarik denganku." Jawab Deva sembari melanjutkan makan.


Sementara Egi jadi terdiam, saat mendengar kata sindiran itu.


"Ya Ki? kamu sudah OTW? aku sedang sarapan sekarang. Nanti kalau sudah sampai hubungi aku ya!" Deva berpura-pura menyambut telpon dan kemudian mengakhirinya.

__ADS_1


Jangan ditanya bagaimana ekspresi wajah Egi saat ini. Wajah pria tampan itu merah padam.


"Mulai hari ini aku melarangmu berhubungan dengan bocah ingusan itu. Awas saja kalau kamu masih naik motor sama dia, apalagi kalau sampai dia menyentuhmu," ucap Egi.


"Kenapa Om larang-larang aku? Om boleh selingkuh, kenapa aku tidak boleh? Setelah kupikir-pikir berhubungan dengan orang sebaya memang paling enak," ujar Deva.


"Devaaa!" hardik Egi yang membuat Deva terjengkit kaget.


Klontang


Deva membanting Sendok diatas piring sembari berdiri.


"Dasar egois!" Deva meraih tasnya dan pergi begitu saja.


Sementara Egi menghela nafas panjang saat melihat Deva pergi. Dirinya menyesal karena sudah membentak Deva karena cemburu. Pria itupun memutuskan untuk pergi kekantor. Namun tanpa pria itu ketahui, Deva membuntutinya hingga ke kantor. Dia sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran untuk wanita yang sudah merebut suaminya itu.


Namun seharian dia menunggu Egi keluar dari kantor, tapi sama sekali tidak menemukan tanda-tanda Egi keluar bersama wanita yang patut dia curigai.


"Sebenarnya siapa wanita itu? apa dia berada satu kantor dengan Om Egi? atau jangan-jangan dia sekretaris pribdinya? kan biasanya sang bos suka tergoda dengan sekretaris sexy," pikiran-pikiran buruk menghantui Deva.


Setelah menunggu seharian, Egi akhirnya keluar setelah waktu menunjukkan pukul 4 sore. Tapi pria itu hanya terlihat sendirian, dan Deva memutuskan hari ini dia gagal menyelidiki tentang perselingkuhan suaminya.


"Jadi gimana caraku tahu siapa pelakor itu? aku nggak mungkin memeriksa ponselnya. Selain ponselnya punya pola, akan kentara sekali kalau aku kepo dengan perselingkuhannya itu. Tapi kan itu hak aku? hissssttt...Om tua awas aja kalau aku lihat kamu jalan dengan wanita itu," gerutu Deva.


Deva kembali membuntuti Egi, yang ternyata langsung pulang kerumah. Deva yang seolah baru pulang dari kampus tampak cuek, dan memasuki kamar tamu. Sementara Egi cuma menatapnya dengan diam.


"Aku sangat merindukan dia. Rindu dengan keceriaannya, rindu masakkannya, rindu berpelukkan sepanjang malam dengannya. Tapi kebahagiaan itu nggak mungkin bisa kembali seperti dulu. Itu akibat kebodohanku sendiri," batin Egi sembari melihat pintu kamar Deva yang tertutup.


🌶️🌶️🌶️🌶️

__ADS_1


Ceklek


Egi diam-diam masuk kedalam kamar Deva saat waktu menujukkan pukul 1 malam. Namun sepertinya keputusan buat masuk kedalam kamar itu adalah keputusan yang sangat keliru. Pasalnya Deva saat ini tidur menggunakan gaun malam tipis tali spagetti tanpa menggunakan penyangga dada.


Berkali-kali Egi mengusap wajahnya, karena merasa tidak tahan saat melihat pemandangan indah itu. Namun Egi nekad, dia ingin tidur sembari memeluk istrinya itu. Pria itu perlahan naik keatas tempat tidur, dan berbaring disamping Deva.


"Sepertinya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Dia terlihat cantik malam ini aku... "


Glekkkk


Egi menelan ludahnya saat melihat bibir dan dada Deva yang tampak menggoda. Egi bergegas memalingkan wajah, dan memejamkan matanya. Namun ketenangan itu hanya bertahan sementara. Saat Tiba-tiba kaki Deva menindih salah satu pahanya, dan tangan memeluk tubuhnya. Nafas wanita itu bahkan begitu hangat menerpa wajahnya.


"Oh...God. Bagaimana ini? kalau bukan aku membuat kesalahan, aku sudah memakannya sekarang juga," batin Egi yang merasa sangat tersiksa saat ini.


Egi berkali-kali mengelus dadanya yang tengah berdegup dengan kencang. Sementara tanpa Egi ketahui, Deva menahan tawanya yang tengah merasa menang.


"Bagaimana Om tua? sudah panas belum? inilah yang dinamakan boleh melihat tapi nggak boleh meraba. Lututku bahkan bisa merasakan, kalau senjatamu itu sudah pening. Apa responnya ya? kalau aku pura-pura tidak sadar memegang anunya?" Deva terkekeh dalam hati.


Deva yang tingkat kejahilannya sudah merajalela, sesuka hati melaksanakan misinya.


Plukkkkk


Deva pura-pura tidak sadar menyentuh kejantanan suaminya itu. Kali ini tidak hanya Egi yang terkejut, Deva hampir berteriak saat memegang benda yang ukurannya tidak biasanya itu.


"Mati kamu Deva. Kamu sangka ini burung pipit, tapi ternyata seekor kaka tua. Tamatlah riwayatmu kalau dia sampai khilaf. Hiks...." batin Deva.


"Ah...Deva...." Egi melengguh frustasi saat Deva tidak sengaja sedikit me**mas kejantanan itu.


Karena ketakutan Deva segera berbalik badan. Dia ingin mengatur nafas dan ritme jantungnya yang sudah empot-empotan.

__ADS_1


Hari ini rilis novel baru" Suamiku Cacat Mental" jangan lupa mampir dukung aku ya teman-teman🤗🙏


__ADS_2