
"Ka-Kak Leony?" Deva terkejut saat melihat keberadaan Leony di kampusnya.
"Susah banget ya nyari kamu. Lebih susah nemuin kamu, dari pada nemuin istrinya presiden," ujar Leony.
"Kakak sama siapa kesini?" tanya Deva.
"Kamu maunya sama siapa?" Leony mengerti arah pembicaraan Deva.
"Apa sama Om Egi?" tanya Deva berhati-hati.
"Nggak! kakak datang sendiri. Karena kakak susah banget buat cari kamu. Kamu juga nggak kasih nomor ponsel kamu." Jawab Leony.
"Ya udah kita ngomongnya di kantin aja," ujar Deva.
Leony dan Devapun pergi menuju kantin, dan memesan sarapan.
"Kakak mau apa cari aku?" tanya Deva.
"Mau ngundang. Dua hari lagi kakak mau menikah dirumah kita." Jawab Leony.
Deg
Jantung Deva terasa berhenti seketika. Rasa sesak didadanya terasa menjalar saat itu juga.
"Ka-Kakak mau menikah dua hari lagi?" tanya Deva.
"Ya. Kakak nggak mau lama-lama lagi, nanti perut kakak keburu buncit. Kamu harus datang loh Dev. Cuma kamu saudara kakak satu-satunya. Kakak mau, kamu yang menghandle semuanya." Jawab Leony.
"A-Aku nggak janji kak. Aku banyak tugas kampus soalnya," ujar Deva.
"Kok kamu gitu sih Dev? papa, mama khawatir sama kamu yang nggak ada kabar. Jangan sampai nanti kamu di kira anak durhaka yang membuang orang tuanya," ujar Leony.
"Aku nggak gitu kak." Jawab Deva.
"Ya makanya buktikan dong. Kakak juga bakal kecewa dan nggak mau ngakuin kamu lagi sebagai saudara, kalau kamu sampai nggak hadir," ujar Leony.
"Apa papa dan mama sudah tahu tentang kak Leony akan menikah dengan Om Egi? kalau menikah dua hari lagi, itu berarti mama papa sudah merestui mereka ya! apa akta cerai kami sudah keluar" batin Deva. Deva sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak keluar.
"Dev. Kok malah ngelamun sih?" tanya Leony.
__ADS_1
"Eh? a-aku janji akan datang kak." Jawab Deva.
"Pokoknya awas saja kalau sampai nggak datang. Aku obrak abrik kampus kamu," ucap Leony.
"Ya aku janji bakalan datang," ujar Deva.
"Pokoknya sehabis pulang dari kampus, kamu harus pulang ke rumah ya!" ujar Leony.
"Aku nggak janji. Tapi aku pasti datang dihari pernikahan kakak. Apa aku boleh mengajak teman-temanku?" tanya Deva.
"Boleh dong." Jawab Leony.
"Ya udah kalau gitu kakak pulang dulu ya! pasti sudah ditungguin kakak iparmu," ujar Leony yang membuat hati Deva tambah berdenyut.
"Hati-Hati kak," ucap Deva.
Leony kemudian pergi dari kampus Deva. Egi yang menunggu dalam mobil, sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari kakak iparnya itu.
"Gimana kabar Deva? apa dia baik-baik aja? bagaimana respon Deva, saat mendengar kamu akan menikah?" tanya Egi bertubi-tubi.
"Dia baik. Ya gitu responnya wajah Deva mendung banget, dan hampir mau hujan." Jawab Leony.
"Aduh...apaan sih Gi? kelakuanmu itu kayak anak ABG. Lusa juga bakal ketemu, dan kita bakal buat kejutan untuk Deva. Sekarang dari pada loe pusing mikirin itu, mending loe beli deh tiket bulan madu ke luar negeri. Terus loe kasih hadiah, karena udah buat dia sedih." Jawab Leony.
Egi cemberut, karena dia merasa Leony tidak mengerti perasaannya saat ini. Egi pun memutuskan buat langsung mengantar Leony pulang ke rumah orang tuanya.
Sementara itu Deva yang masih berada di kantin tampak menangis, dan ditenangkan oleh Dian dan Rizky.
"Loe harus ikhlasin semuanya Dev, dan loe harus belajar nerima kenyataan kalau loe udah cerai sama Om tua," ujar Dian.
"Tapi rasanya sakit banget hati gue Di. Rasanya ini lebih sakit, saat gue tahu Decky sudah berkhianat. Sebenarnya dosa apa yang gue lakuin dimasa lalu, hingga Tuhan menghukum gue seberat ini. Hiks...." Deva terisak.
"Sudahlah Dev! Malu dilihat orang. Kamu harus belajar ngendaliin diri," timpal Rizky.
"Pokoknya kalian nanti harus nemenin gue saat pernikahan kak Leony ya! gue nggak sanggup sendirian disana. Gue takut pingsan," ujar Deva.
"Oke. Kita janji bakal datang, iya kan Ki?" tanya Dian.
"Iya." Jawab Rizky.
__ADS_1
"Makasih ya! kalian memang sahabat gue yang terbaik," ucap Deva.
"Sekarang ayo kita masuk kelas! bentar lagi kelas bakal dimulai," ujar Rizky.
Deva menyeka air matanya, dan kemudian masuk kelas untuk menimba ilmu.
🌶️🌶️🌶️🌶️
"Sial. Aku jadi susah tidur gara-gara kedatangan kak Leony tadi pagi. Hah...jadi semuanya benar-benar sudah berakhir ya! padahal aku kangen banget sama Om tua," gumam Deva.
Deva menatap foto pernikahannya yang berada dalam sebuah pigura kecil.
"Deva do'akan moga Om tua bahagia sama kak Leony. Mau tak mau jalan kita harus seperti ini Om. Meskipun mungkin kita sama-sama sakit, tapi suatu saat nanti pasti kita bisa saling melupakan,"
"Om tua harus bahagia, jangan biarin pengorbanan aku jadi sia-sia. Setelah melepas Om lusa, maka aku juga akan mulai melanjutkan hidup lagi. Aku akan menganggap Om seseorang yang pernah singgah aja,"
Deva mengajak figura itu berbicara, seolah Egi bisa mendengar keluh kesahnya saat ini. Namun tetap saja, dia masih belum bisa mengendalikan air matanya yang selalu memaksa keluar tiap kali mengenang suaminya itu.
Sementara itu ditempat berbeda. Tidak jauh berbeda dengan Deva, Egi juga tidak bisa tidur malam ini. Bahkan keadaan seperti itu sudah terjadi sejak dirinya mengalami masalah yang rumit saat Leony mengaku hamil. Meski saat ini masalahnya sudah kelar, namun kali ini dia memiliki masalah baru. Yaitu masalah tidak bisa tidur karena menahan rindu.
"Sepertinya ide buat beli tiket bulan madu juga nggak buruk. Aku juga akan membeli beberapa pakaian tempur, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Deva dan memeluk istri kecilku itu,"
"Sekarang Deva lagi apa ya? apa dia lagi menangis? saat ini dia pasti sedang mengutukku. Maafkan Om tua sayang, tapi Om tua janji. Setelah lusa, hanya akan ada kebahagiaan yang aku berikan padamu. Kita akan berdua selamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, kecuali maut."
Dan di tempat berbeda pula Leony dan Vino tengah berbicara lewat panggilan video call. Mereka tertawa bahagia diatas penderitaan Egi dan Deva.
"Sayang. Apa rencanamu itu tidak keterlaluan? kasihan adikmu," tanya Vino.
"Biarin aja mas. Sekalian aku mau memberi pelajaran sama si Egi bucin itu. Aku senang melihat mendung diwajahnya yang songong itu." Jawab Leony.
"Kamu ini. Bagaimana kalau sikap jahilmu itu menular pada anak kita? kata orang kalau lagi hamil harus berprilaku yang baik," tanya Vino.
"Aduh mas. Mentang-Mentang cetakkan zaman lama, masih aja percaya tahayul," ujar Leony.
"Maksudnya cetakkan zaman lama? kamu mau bilang mas tua?" tanya Vino.
"Emang kenyataannya udah tuwir mas." Jawab Leony sembari terkekeh. Sementara Vino hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah dirasa mengantuk, merekapun memutuskan untuk mengakhir percakapan itu. Mereka ingin segera beristirat, dan berharap bertemu dalam mimpi.
__ADS_1