
Deva terlihat menuruni motor matic yang baru dibelikan oleh Hanggono. Saat akan melepaskan helm dari atas kepalanya, dia melihat sosok Rizky dari kejauhan yang sedang memperhatikan dirinya. Deva berpura-pura tidak melihat kearah pria itu. Karena semakin dia melihatnya, maka semakin besar pula rasa bersalahnya.
"Mau berpura-pura tidak melihatku?" tanya Rizky saat Deva berjalan lurus tanpa menoleh kekiri dan kekanan.
Deva memang berencana menghindar, tapi dia tidak mungkin bisa menghindar terus menerus. Karena yang dihindari adalah mahluk hidup, yang sewaktu-waktu bisa saja dipertemukan dalam keadaan tanpa disengaja.
Deva menghela nafas dan kemudian tertunduk menatap sepasang sepatunya. Entah apa yang sebenarnya dia tatap, apa itu benar sepatu atau bumi yang sedang dia pijak. Atau mungkin itu cara matanya menghindari dari tatapan Rizky yang begitu intens menatapnya.
Kali ini Rizky yang menghela nafas panjang. Dia tahu betul, apa yang Deva rasakan saat ini.
"Sebaiknya kita masuk kedalam kelas dulu buat ngambil ijazah. Sepulang dari sini, kita harus bicara," ujar Rizky.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semakin sering kita bicara, semakin tidak enak jadinya," ucap Deva.
"Kita harus bicara. Anggap ini pertemuan kita yang terakhir kalinya, setelah kita mengambil ijazah," ujar Rizky.
Deva akhirnya menyerah dan merekapun kekelas secara bersamaan. Seperti yang diketahui, Deva merupakan salah satu siswi yang berprestasi. Begitu juga dengan Rizky yang menjadi juara umum dua setelah Deva. Meski terbilang cinta monyet, tapi disekolah teman-teman sekelas mereka mengatakan mereka adalah pasangan yang sangat serasi.
Setelah melakukan cap 3 jari dan tanda tangan ijazah, Deva dan Rizky memutuskan untuk bicara disalah satu kafe dekat sekolah. Mereka hanya sekedar memesan dua gelas jus alpukat, dan juga dua porsi kentang goreng.
"Apa perjodohan itu masih berlanjut?" tanya Rizky yang kemudian menyedot jus alpukatnya dengan sebuah sedotan berwarna hitam.
"Tidak ada pilihan lain. Yang bisa menyelesaikan masalah itu hanya dengan membayar uang 200 milyar itu." Jawab Deva dengan menyeruput jus jenis yang sama.
"Maafkan aku yang tidak berdaya Dev. Andai saja aku orang kaya dan berkedudukkan, tentu aku akan menyelamatkanmu," ujar Rizky.
"Kalau kamu kaya dan berkedudukkan, tentu bukan aku selera kamu," ucap Deva dengan tersenyum hampa.
"Kamu jangan meremehkan perasaanku padamu. Meskipun perasaan seseorang cepat berubah, tapi saat ini perasaanku ke kamu itu sangat tulus. Hanya saja aku memang sedang tidak berdaya saat ini," ujar Rizky.
"Maaf aku tidak bermaksud meremehkanmu. Aku hanya tidak tahu cara menghibur diriku sendiri dalam menghadapi kepahitan ini," ucap Deva sembari menggigit kentang gorengnya dengan malas.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Aku hanya berharap meski awalnya kamu tidak terlihat bahagia, tapi pada saat sudah menjalani kamu akan hidup dengan sangat baik,' ujar Rizky sembari menatap belahan jiwanya itu.
"Terus terang. Mendengar uang segitu, aku merasa jadi manusia paling kecil di muka bumi. Terlebih aku tidak bisa melakukan apapun untuk orang yang aku sayang. Apa pria itu menyukaimu?" tanya Rizky.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya dia tidak ada masalah dengan perjodohan ini." Jawab Deva.
"Aku do'akan selalu yang terbaik untukmu. Meski kita tidak berjodoh, kita masih bisa berteman bukan?" ucap Rizky yang jelas sedang memasang senyum palsunya saat ini.
"Yah...teman selamanya," ujar Deva sembari memberikan jari kelingkingnya, namun dengan mata yang berkaca-kaca.
"Habiskan makanan dan minumanmu. setelah itu kita pulang," ujar Rizky.
"Emm." Deva mengangguk sembari menyeruput jus Alpukat untuk yang terakhir kalinya.
"Kisah pisah disini aja, atau kamu mau aku antar sampai rumah?" tanya Rizky, saat mereka sedang berada di tempat parkir.
"Tidak perlu. Kita pisah disini saja. Aku nggak mau kamu mendapat masalah." Jawab Deva, sembari mengenakan helm dikepalanya.
Deva kemudian menaikki motornya dan membunyikan klakson sebanyak satu kali srbelum akhirnya motor yang dia kendarai melaju. Masih bisa Deva lihat melalai kaca spion motornya, Rizky menatap kepergiannya hingga dirinya benar-benar menghilang ditikungan jalan. Tanpa Rizky tahu, Deva terisak dengan air mata yang sulit dia kendalikan.
🌶️🌶️🌶️🌶️
"Ya bro?" Decky memijat keningnya yang terasa pening akibat terkejut mendengar suara dering ponselnya. Decky pikir itu telpon berasal dari sang kakek, ternyata itu berasal dari sahabatnya.
"Males ah. Lagi sama Olivia nih," ujar Decky.
"Ah loe mah wadon ngadon terus otaknya. Mending sering ngadon cepet jadi. Nggak bosan loe gituan terus? ntar kecebong loe habis," ucap Riki dengan asal.
"Mulut loe Rik. Gue jejelin sendal baru tahu rasa," ujar Decky sembari beranjak dari tempat tidur.
"Makanya ayo ke klub. Banyak duit sering-sering sedekah. Dikekep aja terus, nanti lapukkan,"
"Ya gue meluncur. Siapin duit cash. Gue nggak bawa duit" ujar Decky.
"Sipp," ucap Riki.
"Mau judi lagi?" tanya Olivia sembari memeluk Decky dari belakang. Setelah percakapan antara Decky dan Riki telah berakhir.
"Buang stres. Dari pada aku ketempat pelacuran, mending aku kesana bukan?" ucap Decky.
__ADS_1
"Alibi saja terus. Bilang saja kalau kamu memang hoby," ucap Olivia dengan bibir mengerucut.
Cup
Riki mencium bibir cemberut itu sekilas dan kemudian memeluk Olivia dengan erat.
"Aku janji nggak akan macam-macam disana. Kamu itu wanita satu-satunya yang aku inginkan," ujar Decky meyakinkan.
"Aku percaya. Berjanjilah jangan kalah banyak. Lebih baik uangnya buat aku shoping," ucap Olivia.
"Kalau buat shoping tidak perlu khawatir. Harta Hanggono nggak akan habis 7 turunan," ujar Decky.
Riki memang selalu menjadi tumbal sementara di meja judi. Meski Decky mempunyai kemampuan dan hoki judi yang sangat payah, tapi itu tidak menjadi masalah. Karena Decky orang berduit. Bagi pria itu kalah ratusan juta tidak masalah baginya.
Dan seperti biasa. Dari beberapa set permainan, Decky hanya berhasil memenangkan satu kali permainan. Selebihnya Decky selalu kalah dengan jumlah fantastis.
"Berapa hutang gue kali ini?" tanya Decky sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"900 juta."Jawab Riki.
"Baru 900 juta ya? aku pikir sudah habis 2 milyar," ujar Decky.
"Sombong amat loe. Jadi kapan nih mau bayar?" tanya Riki.
"Santai bro. Kayak nggak tahu keluarga Hanggono saja. Emang kapan gue ngutang nggak pernah bayar?" tanya Decky.
"Lagian gue nggak percaya kalau loe semiskin itu nagih gue dengan utang 900 juta. Kalau loe miskin, gue nggak bakalan mau temenan sama loe. Gue paling alergi sama orang miskin," ucap Decky.
"Temen sialan. Sombong nggak kira-kira," ujar Riki yang dibalas kekehan oleh Decky.
"Tunggu pas gue kelar nikah. Gue akan kasih bonus buat loe," ucap Decky.
"Awas aja kalau bokis," ujar Riki.
"Gue nggak pernah bohong kalau nggak kepepet." Jawab Decky dengan ledakkan tawa.
__ADS_1
Dua sahabat karib itupun memutuskan pulang. Karena mereka adalah sesama pengusaha muda, jadi kesibukkan sudah menanti keesokkan harinya.