
"Apa kamu tahu Dian temannya Deva?" tanya Leony.
"Dian? maaf, aku akui aku kurang perhatian sama Deva soal itu. Aku bahkan nggak tahu siapa nama teman-temannya, dimana tempat dia biasa nongkrong, dan...."
"Kamu gimana sih Gi? katanya cinta sama Deva. Tapi kenapa hal kecil aja nggak kamu perhatikan? sekarang giliran ada apa-apa, bingung sendiri kan nyarinya?" tanya Leony yang sedikit tersulut emosi.
Vino lagi-lagi mengedipkan matanya kearah Egi, sembari menggelengkan kepalanya. Vino tidak ingin Egi meladeni Leony yang tengah hamil.
"Ya mau gimana lagi. Kami memang belum kenal lama. Tapi dengan kejadian ini aku baru sadar, itu memang sangat penting. Tapi tempo hari ada seorang bocah ingusan laki-laki yang pernah ngantar Deva ke rumah. Kata Deva sih itu temannya," ujar Egi.
"Siapa? Rizky?" tanya Leony.
"Yap benar. Kamu kenal?" tanya Egi
"Kalau kenal baget sih enggak, tapi dia pernah curhat lagi dekat sama Rizky. Semacam PDKT gitu." Jawab Leony keceplosan.
Vino mencolek pinggang Leony, saat melihat perubahan ekspresi di wajah mantan kekasih calon istrinya itu.
"Ya ampun Gi. Loe cemburu ama bocah? inget umur udah tuwir," tanya Leony sembari terkekeh.
"Yang namanya cemburu nggak kenal yang namanya usia. Sekarang kita harus nemuin yang namanya Rizky dan Dian," ujar Egi.
"Aku nggak tahu rumah mereka. Apa mereka kuliah disatu tempat dengan Deva?" tanya Leony.
"Ya." Jawab Egi.
"Ya udah kalau gitu kita tinggal nemuin mereka ke kampus kan? atau minta alamat mereka dari pihak kampus," ujar Leony
"Apa mungkin dia pulang ke rumah mama ya?" tanya Egi.
"Aku rasa nggak mungkin. Tujuannya dia sembunyi, pasti nggak mau ditemuin. Kalau dia lari ke rumah mama, sama aja bohong dong. Tapi biar kamu tenang, aku akan pulang ke rumah mama sekalin ngenalin mas Vino ke mereka." Jawab Leony.
"Oke. Aku tunggu kabar dari kamu kalau gitu. Besok aku juga akan mencarinya ke kampus," ujar Egi.
"Emm. Ya udah, kalau gitu kami pulang dulu ya!" ujar Leony.
"Oke. Makasih ya tuan Vino," ucap Egi.
__ADS_1
"Aku rasa kita tidak perlu menyebut nama seresmi itu. Walau bagaimanapun sebentar lagi kita akan menjadi keluarga. Kamu boleh panggil aku kakak atau mas," ujar Vino.
"Bener tuh Gi. Kamu adik ipar nggak ada ahlak! sekarang aku sudah jadi kakak ipar kamu, jadi kamu harus panggil aku kakak," ujar Leony.
"Baiklah kakak ipar Leony." Jawab Egi dengan ekspresi yang lucu.
Leony dan Vino kemudian pergi dari rumah Egi. Merekapun memutuskan pergi ke rumah orang tua Leony, karena ingin meminta restu.
Sementara itu di tempat berbeda Decky dan Olivia sedang bertengkar hebat.
"Ya mau gimana lagi. Bocah ingusan itu sudah nipu kita mentah-mentah. Dan lebih gilanya lagi, dia menikah sama Om Egi. Dia sengaja pastinya ngelakuin itu, karena ingin mencari perlindungan," ujar Decky.
"Tapi aku maunya butik itu, gimanapun caranya." Jawab Olivia.
"Sayang. Sekarang aku sudah kaya raya. Kamu nggak usah perduliin masalah butik itu lagi. Ya udah begini aja, aku akan bangun butik buat kamu kelolah bagaimana?" tanya Decky.
"Males kalau cuma satu. Jelas aja nggak sebanding dengan butik mantan istri kamu yang totalnya 25." Jawab Olivia.
"Oke. Aku akan bangun 25 butik buat kamu, bagaimana? apa kamu senang?" tanya Decky.
Senyum langsung terbit dari bibir Olivia.
"Kok gitu?" tanya Olivia, yang membuat Decky jadi menghela nafas berat.
"Kamu sebenarnya kenapa sih? para gadis berbondong-bondong cari perhatian aku agar bisa aku nikahi. Tapi aku sama sekali tidak tertarik. Aku hanya mencintai kamu dan ingin kamu menjadi istriku sepenuhnya. Kita ini sudah berpacaran hampir 4 tahun, buat apalagi main-main terus?" tanya Decky.
"Oke. Kalau gitu aku akan menikah dengan kamu, tapi aku yang harus ngajuin syarat dan tantangan buat kamu," ujar Olivia.
"Tantangan apa?" tanya Decky.
"Kamu harus buat dulu 25 butik atas namaku, baru kita akan melangsungkan pernikahan. Bagaimana?" tanya Olivia.
"Oke deal." Jawab Decky.
"Hah...coba kamu kasih syarat begitu setelah aku dan Deva bercerai, sekarang kita pasti sudah jadi suami istri," ujar Decky.
"Sebenarnya apa pentingnya juga status itu. Toh kita saling mencintai, dan hidup seperti sudah menjadi suami istri," tanya Olivia.
__ADS_1
"Tentu saja berbeda sayang. Setiap hari kita bisa tinggal satu atap, dan bebas ngelakuin apa saja. Kalau hubungan kita yang sekarang tentu saja nggak terlalu sehat dan banyak resiko," ujar Decky.
"Iya Oke calon suamiku. Pokoknya semakin cepat kamu menuhin keinginanku, maka makin cepat pula kita menikah," ujar Olivia.
"Iya. Aku juga sudah nggak sabar pengen punya anak. Anak kita pasti akan berwajah sempurna banget," ujar Decky.
"Waduh gimana nih. Angan-Angan Decky tinggi sekali," batin Olivia.
"Sayang. Kok kamu ngelamun sih? kamu nggak suka kita cepat punya anak?" tanya Decky.
"Tentu aja suka. Kita kan sudah berumur juga. Makannya kamu cepat-cepat bangun butiknya. Oh ya, kapan kamu mau ngajak aku ngomong ke orang tua kamu tentang rencana pernikahan kita?" tanya Olivia yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku rasa biar lebih tepat, pas pembangunan butik selesai aja." Jawab Decky.
"Oke setuju." Jawab Olivia.
Dan seperti biasa. Pertemuan dua sejoli itu pasti diakhiri dengan percintaan panas. Sementara ditempat berbeda, Vino sedikit lumayan gugup saat melihat Edward dan Yasmin menuruni anak tangga secara bersamaan.
"Leony? kemana saja kamu?" tanya Yasmin sembari memeluk putrinya itu.
"Iya Leony. Papa sama mama minta maaf kalau kamu merasa marah soal kejadian yang lalu," ujar Edward.
"Sudahlah pa. Leony juga sudah mengikhlaskan semuanya, dan sudah mau menjalani lembaran hidup yang baru. Oh ya pa, kenalin ini mas Vino calon suami Leony yang baru," ujar Leony.
Vino dengan gugup menyalami Edward dan Yasmin. Lebih tepatnya Vino merasa minder, karena usianya dan calon mertuanya mungkin tidak jauh berbeda. Dan sesuai dugaan Leony, Yasmin menarik lengannya untuk meminta penjelasan.
"Leony. Apa kamu yakin mau sama laki-laki ini? dia kaya nggak? takutnya kamu sengsara lagi seperti sama Ferdy waktu itu. Terus sepertinya dia beda umur jauh ya sama kamu?" tanya Yasmin setengah berbisik.
"Aku nggak perduli dengan umur dan hartanya. Aku mencintainya ma. Yang terpenting, saat ini aku sedang mengandung anaknya." Jawaban Leony mengejutkan bagi Yasmin. Wanita itu tidak bisa berkutik lagi.
"Iya Pa. Kalau diperkenankan, saya datang kemari ingin silahturahmi sekaligus berencana akan melamar secara pribadi. Kebetulan saya sudah tidak memiliki orang tua lagi," ujar Vino.
"Sepertinya kamu beda usia jauh dari Leony," sindir Yasmin.
"Ya. Saya merasa beruntung. Dengan beda usia 15 tahun, Saya bisa mendapatkan wanita muda dan secantik Leony." Jawab Vino yang membuat Leony jadi tersipu.
"Lalu mahar apa yang mau kamu berikan buat Leony?" tanya Yasmin.
__ADS_1
Mata Leony langsung terbelalak saat mendengar pertanyaan Yasmin. Dia sangat malu pada Vino, dan memasang wajah memelas pada pria itu. Sementara Vino yang sudah paham, dan pernah diberitahu perangai calon mertuanya itu, hanya bisa tersenyum saat melihat bibir Leony yang mengerucut.