
"Leony. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku harap kamu tidak tersinggung dengan apa yang akan aku katakan saat ini," ucap Egi.
"Kenapa kata-katanya menyiratkan sesuatu? apa dia ingin putus dariku? nggak! ini nggak boleh terjadi. Aku harus menikah dengannya, aku ingin anakku memiliki status. Kasihan kalau dia lahir tanpa ayah," batin Leony.
"Egi. Aku juga ingin memberitahu sesuatu, dan itulah yang menyebabkan aku datang kesini menemuimu," ujar Leony yang kemudian menyodorkan sebuah alat testpack.
"Apa maksudnya ini?" Egi yang terkejut memastikan kebenaran.
"Aku hamil Gi. Perbuatan kita waktu di hotel itu ternyata membuahkan hasil. Sekarang aku sedang hamil anak kamu. Apa kamu senang?" tanya Leony.
Deg
Jantung Egi seolah dihantam dengan palu. Dadanya terasa sesak, terlebih saat dia teringat senyum Deva, dan kemesraannya dengan Deva pagi ini. Dan kini dia harus dihadapkan dengan dilema yang benar-benar berat.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? apakah terus terang dengannya perihal pernikahanku akan jadi sesuatu yang penting lagi? tapi...."
"Gi? kok ngelamun sih? kamu nggak senang ya kita mau punya anak? atau kamu nggak mau tanggung jawab dengan perbuatan kamu? yah...memang inilah resiko jadi janda, selalu dianggap murahan dan diperlakukan seenaknya," ucap Leony.
"Bu-Bukan begitu Leony. Aku sama sekali nggak berpikiran begitu. Hanya saja saat ini aku sedang berada dalam masalah besar. Entah apa yang akan kamu pikirkan tentangku, tapi aku harus jujur sama kamu Leony," ujar Egi.
"Ada apa?" tanya Leony.
"Satu minggu yang lalu aku sudah menikah. Awalnya itu memang perjodohan, dan aku menerima perjodohan itu karena ingin membahagiakan papa. Tapi ternyata orang yang dijodohkan dengan ku itu, gadis yang aku kenal dan sangat aku cintai. Kami memang pernah terpisah karena keegoisanku, tapi sekarang dia sudah menjadi istriku. Katakan padaku, aku harus apa sekarang?" tanya Egi.
Mendengar ucapan Egi, tentu saja Leony sangat terkejut. Andai saja dia tidak menghalangi Egi untuk bicara lebih dulu, tentu dia tidak akan mengatakan kalau bayi yang dia kandung adalah anak dari pria itu. Tapi sekarang dia sudah terlanjur mengatakannya, dia tidak ingin mundur lagi.
"Jadi kamu tidak mencitaiku ya? kamu ingin mencampakan aku setelah menikmati tubuhku?" tanya Leony.
"Bu-Bukan begitu Leony. Aku akui aku salah waktu itu, karena memulai hubungan rumit ini lebih dulu. Lagi pula kita hanya melakukannya satu kali, aku tidak menyangka akan secepat itu jadinya." Jawab Egi.
"Sekarang aku juga tidak tahu harus bagaimana. Aku juga nggak mau di cap sebagai perebut suami orang. Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, ya sudah tidak apa-apa. Mungkin aku akan menggugurkan anak ini saja," ujar Leony yang membuat Egi jadi bertambah merasa bersalah.
"Kamu tidak boleh melakukan itu. Bayi itu tidak bersalah, kitalah yang salah," ucap Egi.
"Ya mau bagaimana lagi? aku nggak mau jadi pelakor, aku juga tidak mau anakku lahir tanpa ayah. Jadi itulah solusi satu-satunya yang harus aku lakukan," ujar Leony.
"Bagaimana kalau kamu lahirkan saja anak itu, setelah lahir aku akan merawat anak itu," tanya Egi.
__ADS_1
"Jadi intinya kamu nggak mau bertanggung jawab ya? dan kamu membiarkan anak ini lahir tanpa status?" tanya Leony.
Egi terdiam. Dia benat-benar merasa berada dalam masalah besar kali ini.
"Berikan aku waktu untuk memikirkan solusinya," ujar Egi.
"Aku tidak bisa menunggu lama. Perutku akan membesar dan orang-orang akan menggunjingkanku," ucap Leony yang kemudian beranjak dari tempat duduk dan pergi begitu saja.
Saat keluar dari tempat parkir perusahaan itu, Leony menangis diatas motor yang dia kendarai.
"Jadi begini rasanya tidak diinginkan? bahkan aku merasakannya dua kali. Siapapun wanita yang dinikahi oleh Egi, aku benar-benar minta maaf. Kalau aku menarik kata-kataku, lalu bagaimana dengan nasib anakku? bolehkan sesekali aku bersikap egois?" batin Leony.
"Aku tidak perduli, meski egi ingin menikahiku secara siri, aku bisa mengubah status itu secara perlahan. Sepertinya aku harus jadi orang jahat, karena jadi orang baik sama sekali tidak menguntungkan buat hidupku,"
"Aku sudah pernah jadi orang baik. Didzolimi mertua dan suami. Dilecehkan pria asing, dan dianggap pe**cur. Dan hasilnya aku hamil tanpa tanggung jawab. Sekarang tidak lagi, aku tidak mau menderita sendirian,"
Sementara itu ditempat berbeda. Deva tengah ngobrol di kantin bersama Dian dan Rizky setelah kelas berakhir.
"Gue mau cerita sama kalian," ujar Leony setelah menyedot es jeruk lewat sedotan berwarna merah.
"Seminggu yang lalu gue nikah sama Om yang di Bali itu." Jawab Deva.
Uhukkkk
Uhukkkk
Rizky dan Dian yang sedang minum, terbatuk secara bersamaan.
"Yang benar aja. Loe udah nikah lagi? sama Om tua yang ada di Bali itu? kok bisa?" tanya Dian.
"Ternyata Om itu anak dari kakek Hanggono. Kebetulan yang sangat gila menurutku. Tapi aku senang, karena aku bisa menikah sama dia. Soalnya aku cinta sama dia." Jawab Deva sembari tersipu.
"Terus bagaimana sama Om itu? apa dia juga cinta sama kamu? kalau menurutku kamu terlalu buru-buru ngambil keputusan. Padahal aku baru ingin mendekatimu lagi," ujar Rizky.
"Kita lebih seru jadi sahabat Ki. Ya aku nggak tahu Om Egi cinta sama aku apa nggak. Tapi kalau melihat bahasa tubuh, dan sorot mata saat menatapku. Aku merasa dia punya rasa yang sama denganku. Terlebih kami sudah berciuman dua kali." Jawab Deva yang kembali tersipu.
"Ciyeeee...berarti udah jebol dong," ledek Dian.
__ADS_1
"Belum kalau yang itu." Jawab Deva malu-malu.
"Lah...kok belum? masih abu-abu dong. Laki-Laki normal mana bisa nahan hal yang begituan? terus kalau tidur kalian berada di kamar terpisah?" tanya Rizky.
"Satu ranjang. Kami emang nggak gituan, tapi kami selalu berpelukkan sepanjang malam." Jawab Deva.
"Aneh banget. Apa karena sudah tua anunya nggak berfungsi lagi?" tanya Dian.
"Sembarangan! gue pernah lihat...." Deva ragu untuk mengatakan hal yang menurutnya tidak pantas diceritakan.
"Lihat apa? jangan bikin penasaran dong," tanya Dian.
"Tanya Rizky deh yang berpengalaman," ucap Deva.
"Pengalaman apa? gue belum pernah nyelup. Ciuman aja belum," tanya Rizky sembari menyangkal.
"Bukan itu maksudku. Kalau bangun tidur anunya tegak, normal nggak sih?" tanya Deva malu-malu.
"Ya." Jawab Rizky sembari memutar bola mata dengan malas.
"Nah...itu maksudku. Aku pernah lihat itu. Lagian suamiku bukan orang lurus-lurus amat. Dia pernah begituan sama wanita lain sebelum nikah sama aku," ujar Deva.
"Behh...mantap. Asli dapat yang berpengalaman. Tapi aneh, kenapa dia nggak mau begituan sama Loe? loe patut curiga tuh. Jangan-jangan dia nggak selera sama bocil. Jadi dia sama kayak Decky. Atau jangan-Jangan dia ada wanita lain," ujar Dian.
"Loe kalau ngomong yang benar aja dong. Bikin kecil hati gue aja loe," ucap Deva cemberut, namun membuat Dian jadi terkekeh.
"Lagian kamu nggak boleh buka aib suami, dosa loh. Meskipun loe ceritanya sama orang yang loe percaya seperti kami," timpal Rizky.
"Ya pak Ustad." Jawab Deva dan Dian bersamaan yang kemudian terkekeh.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, saat Egi pulang ke rumah. Deva yang pulang lebih dulu menyambut Egi di depan pintu dan memeluk pria itu. Namun Deva kecewa, karena tiba-tiba Egi melepaskan pelukkannya dan memasang wajah datar.
"Om kenapa? sakit?" tanya Deva.
"Aku capek pengen istirahat." Jawab Egi yang kemudian masuk kamar mandi.
Deva diam mematung. Hatinya bertanya-tanya dengan sikap Egi yang berubah tiba-tiba. Padahal baru tadi pagi dia mendapat ciuman mesra.
__ADS_1